Mencari Data di Blog Ini :

Friday, January 27, 2012

Walau Sedikit, yang Penting Ikhlas?! (2 of 4)

Kadang kita keliru memahami makna ikhlas. Misal kita sebenarnya bisa sedekah Rp 20.000,-. Tapi, kita berpikir, “Ah Rp 5.000,- saja cukup. Kan yang penting ikhlas.”
Peristiwa ini sebenarnya bukan tentang keikhlasan. Kejadian ini menunjukkan kita pelit tapi dengan dalih keikhlasan. Ini menunjukkan kita belum mengerti apa yang disebut ikhlas.
Berbeda kasus bila memang karena keperluan sehingga kita bisanya Rp 5.000,-. Maka, menyumbang Rp 5.000,- sudah cukup dan tidak perlu berkata apa-apa lagi. Bila ada yang menyindir kita kok hanya menyumbang sedikit, tak perlu ditanggapi apalagi membela diri, “Yang penting kan ikhlas!”
Komentar seperti ini justru menunjukkan kita masih terpengaruh adanya pujian atau sindiran dalam kebajikan. Ini berarti kita belum ikhlas beramal.
Lantas, bagaimana dengan kasus kita bisa sedekah Rp 20.000,- tapi hanya sedekah Rp 5.000,-?
Yang harus kita lakukan adalah menyadari kelemahan kita, yaitu kita masih memiliki sifat kikir. Ini penting, karena kesadaran akan membawa kita menuju kebaikan.
Langkah selanjutnya, kita tetap sedekah Rp 5.000,- tanpa berdalih apa pun, sambil senantiasa memohon kepada Allah agar menerima amal kita dan menjauhkan kita dari sifat pelit.
Dengan istiqamah beramal walau sedikit disertai doa, insya Allah akan membuat diri kita semakin hari semakin banyak beramal.
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap ragu-ragu untuk bertindak dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lemah bertindak (pesimis/putus asa) dan malas. Dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan (tindak semena-mena) orang-orang kepadaku.
(HR Abu Daud)
Lebih lanjut tentang ikhlas, Imam Nawawi al-Bantani membagi keikhlasan menjadi tiga tingkatan:

a. Beribadah Agar Terhindar dari Neraka

Di kitab “Qa‘id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm” pasal “Penjelasan Ikhlas dalam Ibadah dan Jenis-Jenis Ketaatan” Imam ‘Izzuddin bin Abdus Salam juga menerangkan bahwa tingkatan pertama orang beribadah adalah karena takut siksa.
مِنْهَا أَنْ يَفْعَلَهَا خَوْفًا مِنْ عَذَابٍ
Di tingkat ini kita diibaratkan seperti budak yang bekerja demi menjalankan perintah tuannya agar tidak dihukum. Untuk diketahui, di zaman Jahiliah, yang dimaksud budak adalah seseorang yang tidak memiliki apa pun. Ia hak milik mutlak tuannya. Bila ia punya uang, otomatis menjadi milik tuannya. Bahkan dirinya sendiri dimiliki tuannya.
Dengan kondisi ini, seorang budak tidak mendapat upah atas kerja keras yang dilakukan. Ia melaksanakan semua pekerjaan demi menghindari hukuman dari sang pemilik.
Bila kita beramal/beribadah semata-mata agar terhindar dari neraka, kemungkinansekali lagi kemungkinan, karena pada prinsipnya tergantung pribadi masing-masingibadah yang kita lakukan sebatas memenuhi syarat dan rukun sehingga gugur kewajiban (tidak berdosa). Ini terlihat dari enggannya kita memperbaiki kualitas ibadah wajib. Kita merasa yang penting sudah shalat walau sendirian (tidak berjamaah). Kita juga kurang gairah memperbanyak ibadah-ibadah sunnah.
Di buku “Ushul Fiqih” Prof. Muhammad Abu Zahrah mengutip pendapat Imam Syathibi bahwa ibadah-ibadah sunnah merupakan latihan jiwa yang dapat mendorong melaksanakan ibadah fardhu.
Siapa mau mengerjakan ibadah sunnah secara kontinyu, pasti ia akan mau menjalankan ibadah fardhu yang wajib dikerjakan secara kontinyu. Sebaliknya, orang yang malas mengerjakan ibadah sunnah, hal itu menunjukkan kemalasan dalam menjalankan ibadah fardhu.
Beberapa pertanyaan sederhana berikut ini bisa dijadikan salah satu tolok ukur apakah kita termasuk di level ini atau tidak:
“Apakah kita sudah fasih membaca Al-Qur’an? Bila belum, apa kita masih tetap mengaji saat ini guna mencapai kefasihan dalam membaca kalam Ilahi?”
“Apakah kita berusaha semampu kita menjalankan shalat sunnah rawatib (Qabliyah/Ba’diyah) serta shalat sunnah lainnya?”
“Apakah kita senantiasa mengikuti pengajian rutin dalam rangka memperdalam keilmuan? Dan di pengajian tersebut, kita bukan hanya mendengar pasif, tapi juga membawa kitab dan mencatat layaknya seorang santri di pesantren atau siswa di sekolah?”

b. Beribadah Supaya Masuk Surga

Di posisi ini kita berlaku bak seorang pegawai yang bekerja demi mendapat gaji/upah. Mari kita perhatikan bagaimana sikap pegawai.
Seorang pegawai mau diperintah melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan karena ada imbalan (gaji) yang sudah disepakati. Apabila ada hal-hal lain yang harus dikerjakan di luar kebiasaan, misalnya lembur, harus ada upah tambahan.
“Kalau tidak ada uang lembur, itu namanya kerja bakti!” Demikian ungkapan yang sering kita dengar.
Jika kita beramal/beribadah semata-mata supaya masuk surga, biasanyasekali lagi biasanya, karena pada prinsipnya tergantung pribadi masing-masingibadah wajib telah kita lakukan dengan lebih baik, misalnya dengan shalat berjamaah. Begitu pula dengan ibadah sunnah, kita sudah melaksanakan shalat-shalat nafilah dan lainnya.
Hanya saja ibadah sunnah yang kita lakukan mengikuti prinsip “secukupnya”. Misal kita sudah baca Al-Qur’an satu/dua maqra’ setiap hari. Kita merasa sudah cukup baik dengan kondisi ini sehingga semangat untuk meningkatkan kurang bahkan mungkin tidak ada. Alasan kita toh itu sudah baik apalagi dibandingkan orang lain dan kita juga telah bersedekah serta ibadah-ibadah sunnah lainnya.

Daftar Pustaka

Achmad Faisol, “Muhâsabah (Introspeksi Diri)Apakah Implementasi Keberagamaan (Islam) Kita Ada yang Kurang?!”, Ebook, April 2011/ Jumadal Ula 1432 H
Misbahus Surur, “Dahsyatnya Shalat Tasbih”, Qultum Media, 2009
M. Ma’shum Zainy Al-Hasyimiy, Drs. MA, “Pengantar Memahami Nadzom Al-Faroidul Bahiyyah—Juz 1”, Penerbit Darul Hikmah, Cetakan Pertama: Januari 2010

Software:
Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Friday, January 20, 2012

Walau Sedikit, yang Penting Ikhlas?! (1 of 4)

Terkadang kita berdalih, “Walau sedikit, yang penting kan ikhlas!” Entah apa maksud kita berkata seperti itu, apa sebagai penegasan bahwa kita memang sangat ikhlas ataukah cuma pembelaan diri karena ada orang menyindir kita.
Sejatinya, ikhlas tidak membutuhkan penegasan lisan, misalnya dengan ucapan,
“Saya ikhlas banget kok!”
“Bener, saya lakukan ini dari hati yang paling dalam!”
“Suwer, ngga ada udang di balik batu!”
“Sungguh, saya tak mengharap imbalan apa pun!”
“Saya tulus setulus-tulusnya!”
Semua ungkapan/ucapan di atas sama sekali tidak membuktikan keikhlasan kita.


Indah nian mawar merekah
Harum semerbak menggoda indra
Kalau memang niat sedekah
Jangan lagi hal itu dikata
Ikhlas itu antara kita dan Allah.
Ikhlas mengandung pengertian kita melupakan amal baik yang telah kita lakukan.
Ikhlas berarti tak ada perbedaan antara pujian dan makian.
Kalau kita masih bersilat lidah menjawab sindiran orang karena kita sedekah atau beramal sedikit, bisa jadi hal itu justru menunjukkan ketidakikhlasan kita. Kita masih terpengaruh adanya sindiran atau cacian.
Seharusnya, apa pun kata orang, tak perlu ditanggapi. Kita sedekah karena Allah, bukan untuk menyenangkan orang lain, agar terpandang di mata masyarakat, mendapat pujian, menghindari sindiran atau yang lain.
Timbul pertanyaan yang lazim dikemukakan, “Lebih baik mana, sedekah banyak tapi tidak ikhlas ataukah sedikit tapi ikhlas?”
Ada jawaban guyonan, “Banyak dan ikhlas lebih baik lagi.” J Tapi bukan ini jawaban yang diinginkan.
Mari kita ingat lagi hakikat hidup ini. Hidup ini antara kita dan Allah, antara hamba (âbid) dan Yang Disembah (Ma‘bûd). Allah memerintahkan kita agar ikhlas dalam pengabdian kepada-Nya.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS al-Bayyinah [98]: 5)
Penulis kitab Bahjatun Nâzhirîn–syarah Riyadhush Shalihin–Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilaly menguraikan:
اْلإِخْلاَصُ هُوَ أَنْ يُرَادَ بِاْلعَمَلِ وَجْهَ اللهِ تَعَالىَ لاَ غَيْرَهُ، وَذَلِكَ أَحَدُ شُرُوْطِ قَبُوْلِ اْلعَمَلِ
Ikhlas itu melaksanakan amal semata-mata mencari ridha Allah, bukan lainnya. Ikhlas termasuk salah satu syarat diterimanya amal.
Di kamus Lisânul ‘Arab karya Ibnu Manzhur dijelaskan:
وَاْلإِخْلاَصُ فِي الطَّاعَةِ تَرْكُ الرِّيَاءِ
Ikhlas dalam ketaatan yaitu meninggalkan riya
Ikhlas adalah ruh amal, karena itu harus terbebas dari penyakit-penyakit amal, yaitu riya’ & sumah. Riya’ berasal dari kata raa, yaitu menampakkan amal shaleh agar dilihat orang lain supaya mendapat penghargaan atau kedudukan. Adapun sum‘ah berasal dari kata sami‘a, artinya menceritakan amal shaleh agar didengar orang lain supaya dipuji.
Dengan demikian ikhlas harus diutamakan, bukan banyaknya uang sedekah. Tentu hal ini berbeda dengan zakat yang memang sudah ada prosentase perhitungannya.
Mungkin kita akan berargumen, “Misal kampung kita sedang membangun masjid. Kalau setiap orang berprinsip yang penting ikhlas, kapan dong selesainya? Yang penting masjid jadi dulu, masalah ikhlas atau tidak, itu urusan masing-masing.”
Mari kita kaji lagi tentang ikhlas.
Dzun Nun al-Mishri menerangkan, “Ada tiga alamat yang menunjukkan keikhlasan seseorang, yaitu ketiadaan perbedaan antara pujian dan celaan, lupa memandang amal perbuatannya, dan lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya—bahkan di kampung akhirat nanti.”
Ibnu Juraij menasihatkan, “Apabila kamu telah mengerjakan perbuatan baik, janganlah kamu katakan telah mengerjakannya.”
“Saya tidak pernah menganggap baik pada amal ibadah saya,” kata Abu Sulaiman, “saya cukup dengan berbuat saja.”
Ada pula sebagian ustadz yang menjelaskan bahwa ikhlas mirip seperti buang hajat. Adakah selesai buang hajat kita merasa menyesal? Senantiasa menyebut di setiap waktu atau saat berjumpa orang bahwa kita telah buang hajat? Tentu kita akan segera melupakan dan tak pernah mengingat-ingat lagi.
Dengan demikian, ikhlas berarti melupakan bahwa diri pernah beramal. Hal ini yang akan menjadi energi positif untuk terus beramal. Keikhlasan akan membimbing kita untuk malu kepada Allah kalau punya uang berlebih tapi sedikit sedekah.

Daftar Pustaka

Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, Riyâdhush Shâlihîn” 
Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
Achmad Faisol, “Muhâsabah (Introspeksi Diri)Apakah Implementasi Keberagamaan (Islam) Kita Ada yang Kurang?!”, Ebook, April 2011/ Jumadal Ula 1432 H
Salim bin ‘Id al-Hilaly, asy-Syaikh, Bahjatun Nâzhirîn fî Syarhi Riyâdhish Shâlihîn”

Software:
Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Friday, January 13, 2012

Renungan Awal Tahun (2 of 2)

Dunia maya berkembang pesat
Tua-muda memanfaatkannya
Jangan biarkan waktu melesat
Tanpa diisi hal-hal berguna

Perlu kita renungkan juga bahwa pergantian tahun juga pertanda bertambahnya usia kita. Akankah pertambahan usia kita tak diiringi peningkatan ketaatan kepada Allah?

Di kitab “Al-Hikam” terdapat nasihat yang begitu dalam dari Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandary.


اَلْخُذْلاَنُ كُلُّ الْخُذْلاَنِ أَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّوَاغِلِ ثُمَّ لاَتَتَوَجَّهُ إِلَيْهِ وَتَقِلُّ عَوَائِقُكَ ثُمَّ لاَتَرْحَلُ إِلَيْهِ



Kekecewaan dari semua kekecewaan adalah ketika engkau mempunyai kesempatan tapi engkau tidak menghadap Allah. Ketika engkau ada halangan, engkau juga tidak menghadap Allah.

Petuah bijak Syaikh Ibnu Athaillah ini mengingatkan agar waktu lapang atau sempit kita pergunakan secara cerdik untuk menghadap Allah, memohon hidayah, inayah dan ampunan-Nya.

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS at-Taubah [9]: 41)
Yang menjadi kewajiban kita adalah kita harus menghadapi segala rintangan dan menyelesaikannya, lalu menghadap Allah SWT dengan melakukan berbagai macam ibadah demi mendekatkan diri kepada-Nya. Telah dinasihatkan oleh banyak ulama:

سِيْرُوْا إِلىَ اللهِ عَرْجًا وَمَكاَسِيْرًا وَلاَتَنْظِرُوْا الصِّحَّةَ فَإِنَّ انْتِظَارَ الصِّحَّةِ بِطَالَةٌ

Berjalanlah (menghadap) menuju Allah dengan segera di waktu luang dan merangkak secara perlahan di waktu sibuk sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jangan menunggu waktu sehat dan waktu luang, karena menunggu waktu sehat adalah kesalahan besar.

Perjalanan panjang telah kita tempuh di alam dunia ini. Banyak yang kita alami dalam masalah duniawi, namun pengalaman hidup baru berarti bagi kehidupan dunia dan akhirat jika dipersembahkan untuk Allah dan rasul-Nya, serta untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Terkadang kita tidak mempergunakan kesempatan, atau kesempatan yang ada disia-siakan sehingga hilang begitu saja. Kita lalai dengan alasan kesibukan duniawi atau biar lebih keren dengan argumentasi kesibukan perjuangan. Alasan-alasan ini sebenarnya tak perlu dikemukakan, karena Allah Maha Tahu tentang kemalasan dan keengganan diri kita. Allah lebih tahu bahwa kita lebih mementingkan diri sendiri serta hawa nafsu kita, daripada ingin mendapat ridha Allah dengan pertemuan dengan Allah dalam bentuk ibadah.

Jika kita mengaku sebagai hamba Allah, maka kita seharusnya benar-benar tunduk dan patuh kepada-Nya dalam segala hal. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang dianugerahkan Allah untuk datang kepada-Nya dalam waktu-waktu yang ditentukan (shalat fardhu) atau melaksanakan ibadah-ibadah sunnah setiap saat.

Pertambahan usia bila tak dibarengi baiknya ibadah juga bukan hal yang baik. Orang baik itu bila panjang usia dan bagus amal ibadahnya.


أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ. قِيلَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ


Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, mana di antara manusia yang termasuk baik?” Rasulullah saw menjawab, “Orang yang panjang usianya dan bagus amalnya.” Ditanyakan lagi, “Lalu, mana di antara manusia yang termasuk orang tidak baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang panjang usianya dan jelek amalnya.” (HR Baihaqi)

Tentang usia yang bermanfaat, Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandary menasihati kita:


رُبَّ عُمْرٍ ِاتَّسَعَتْ آمَادُهُ وَقَلَّتْ أَمْدَادُهُ وَرُبَّ عُمْرٍ قَلِيْلَةٍ آمَادُهُ كَثِيْرَةٍ أَمْدَادُهُ


Terkadang usia itu panjang masanya tetapi sedikit manfaatnya (naiknya keimanan dan tambah kuatnya keyakinan). Terkadang usia itu pendek masanya tetapi lebih banyak manfaatnya.
Ada pepatah berbunyi, “Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai.”

Apabila kita panjang usia, seharusnya kita telah banyak mengalami susah/senangnya kehidupan serta pahit/manisnya perjalanan. Semua perjalanan kita baru berarti bila usia yang kita jalani memberi manfaat.

Usia itu sebenarnya bukan karena panjang atau pendek, tetapi karena manfaat dan mudharatnya. Betapa banyak orang yang dikaruniai panjang usia tapi malah mengumbar hawa nafsu dan syahwat. Namun, tak sedikit pula orang yang usianya kurang panjang tapi mendapat manfaat yang banyak, sebagaimana umur orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah. Syaikh Ibnu Athaillah menegaskan:


مَنْ بُوْرِكَ لَهُ فِيْ عُمْرِهِ أَدْرَكَ فِيْ يَسِيْرٍ مِنَ الزَّمَنِ مِنْ مِنَنِ اللهِ تَعَالَى مَالاَ يَدْخُلُ تَحْتَ دَوَائِرِ الْعِبَارَةِ وَلاَتَلْحَقُهُ اْلإِشَارَةُ


Siapa diberkati usianya, dalam masa singkat dari usia itu ia akan mencapai karunia Allah yang tidak dapat dihitung dengan kata-kata dan tak dapat dikejar dengan isyarat.
Yang dicari oleh seorang muslim shaleh adalah usia barakah. Yang dimaksud adalah usia yang selalu membawa dan mengajak kepada kemanfaatan dunia dan akhirat. Usia yang barakah ini selalu diberi kesempatan oleh Allah menjalankan kebaikan. Waktu yang ada tak akan tersia-sia dalam hidup.

Jangan sampai waktu yang kita dapat ibarat air disiramkan ke atas pasir panas. Airnya menguap, pasirnya tidak basah. Usia hilang begitu saja dilalui, tapi mengecewakan kita di hari Kiamat nanti.

Contoh lain yang termasuk usia barakah adalah mendapat karunia Allah berupa Lailatul Qadar. Di waktu yang singkat ini ternyata terdapat karunia yang melebihi seribu bulan. Semoga Allah memberikan usia yang penuh barakah kepada kita semua, amin.


Daftar Pustaka

  • Ahmad Daerobiy, “Terjemah Al-Hikam Ibnu ‘Atho dan Penjelasan Abdullah Asy-Syarqowiy”, Darul Ulum Press, Cetakan I: Mei 2009

  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000

  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Abbad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”

  • Musa Turoichan Al-Qudsy, “Shufi dan Waliyullah (Terjemah Syarah Al-Hikam)”, Ampel Mulia Surabaya, Cetakan Pertama : 1425 H/Agustus 2005


Tulisan ini lanjutan dari : Renungan Awal Tahun (1 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, January 6, 2012

Renungan Awal Tahun (1 of 2)

Sebagaimana konvensi tahun baru, kita berlomba-lomba membuat janji/resolusi untuk perbaikan atau peningkatan diri. Hal ini dilakukan dengan dalih sesuai nasihat agar hari ini harus lebih baik daripada kemarin dan esok harus lebih baik daripada hari ini.
Seperti pepatah “Bisa Karena Biasa”, kita pun menjadi sangat ahli dalam menyusun rencana kerja. Berbagai resolusi kita buat demi menyongsong datangnya tahun baru, fajar baru, harapan baru de-el-el yang baru-baru.
Namun, keahlian kita dalam membuat program kerja terkalahkan oleh keahlian kita yang lain, yaitu keahlian dalam menunda pelaksanaannya serta keahlian dalam membuat beribu alasan sebagai pembenaran kita tidak mengerjakan program/resolusi kita.
Entah sudah berapa banyak resolusi yang kita buat di tahun-tahun sebelumnya. Entah sudah berapa resolusi yang kita laksanakan sesuai agenda. Entah sudah berapa banyak pula penundaan yang kita lakukan dengan berbagai argumentasi. Apakah resolusi dan semacamnya hanya sebuah seremonial belaka?
Haruskah tahun ini kita membuat resolusi baru? Haruskah tahun ini kita muhasabah lagi? Apakah poin-poin muhasabah tahun lalu sudah terlaksana? Apakah muhasabah tahun lalu sudah berbuah?
Bila melihat hasil muhasabah tahun-tahun yang telah lewat, bisa jadi kita belum melihat buahnya, bahkan kembang pun mungkin belum mekar. Namun demikian, menjelang tahun baru ini muhasabah tetap harus dilakukan dengan memperbaiki lagi cara kita, agar ke depan kita bisa melaksanakan sebagian besar resolusi yang kita buat, bahkan jika bisa seluruhnya, amin.
Kita memang diperintahkan untuk Muhâsabah (audit, evaluasi atau introspeksi) diri. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (QS al-Hasyr [59]: 18)
Ini adalah isyarat agar kita melakukan muhâsabah terhadap amal perbuatan yang telah kita lakukan. Umar bin Khaththab ra. menasihatkan,
حَاسِـبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَـبُوْا
“Hitunglah dirimu (amal perbuatanmu), sebelum engkau di hitung (kelak di akhirat)!”
Diriwayatkan bahwa Maimun bin Mahran berkata, “Seorang hamba tidak termasuk golongan orang-orang yang bertakwa hingga ia menghisab dirinya lebih keras ketimbang penghisabannya terhadap mitra usahanya; sedangkan dua orang yang bersekutu dalam suatu usaha saling menghisab setelah bekerja.”
“Seorang mukmin bertanggung jawab terhadap dirinya. Ia harus menghisab dirinya karena Allah. Sesungguhnya proses hisab di akhirat menjadi ringan bagi orang-orang yang telah menghisab diri mereka di dunia, dan sebaliknya—menjadi berat bagi orang-orang yang mengambil perkara ini tanpa muhâsabah,” pesan al-Hasan.
Di akhirat kelak, kita akan ditanya dengan serentetan pertanyaan yang diajukan oleh Allah dan kita menjawabnya sendirian, tak seorang pun bisa mewakili. Di hadapan pertanyaan-pertanyaan itu, setiap manusia dibuat lemah, fakir dan hina.
كَفٰى بِنَفْسِكَ ٱلْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِـيْبًا
Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu. (QS al-Isrâ’ [17]: 14)
Berkaitan dengan muhasabah, Al-Ghazali menasihatkan agar setiap hari kita meluangkan waktu sesaat—misalnya selesai shalat Subuh—untuk menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa (musyârathah). Pada kondisi itu, katakanlah kepada jiwa,
“Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memperpanjang usiaku dan memberi nikmat.
Seandainya aku diwafatkan oleh-Nya, niscaya aku berharap untuk dikembalikan ke dunia satu hari saja sehingga aku bisa beramal shaleh. Anggaplah wahai jiwa, bahwa engkau telah wafat, kemudian engkau dikembalikan ke dunia lagi, maka jangan sampai engkau menyia-yiakan hari ini karena setiap nafas merupakan mutiara yang sangat berharga.
Ketahuilah wahai jiwa bahwa sehari-semalam adalah dua puluh empat jam, maka bersungguh-sungguhlah pada hari ini untuk mengisi lemarimu. Jangan kau biarkan dia kosong tanpa barang-barang simpanan. Janganlah engkau cenderung kepada kemalasan, kelesuan dan kesantaian sehingga engkau tidak dapat meraih derajat tinggi (‘illiyyîn) yang dapat diraih orang lain, lalu engkau penuh sesal.”
Sebelum terlambat, marilah kita bersama-sama melakukan introspeksi dan perhitungan terhadap diri sendiri. Dengannya, kita bermohon kepada Allah agar di akhirat kelak, kita dimudahkan dalam segala perhitungan yang dilakukan atas diri kita, amin.

Daftar Pustaka

Achmad Faisol, “Muhâsabah (Introspeksi Diri)Apakah Implementasi Keberagamaan (Islam) Kita Ada yang Kurang?!”, Ebook, April 2011/ Jumadal Ula 1432 H
 Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan ini berlanjut ke : Renungan Awal Tahun (2 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Sunday, January 1, 2012

DAFTAR ISI Muhasabah Jilid 2

Pedoman Transliterasi (Arab—Indonesia)

1. Renungan Awal Tahun (2 artikel) 12

2. Walau Sedikit, yang Penting Ikhlas?! (4 artikel) 1234
3. Provokasi dan Emosi (3 artikel) 123
4. Perkelahian/Tawuran, Bukti Kehebatankah?! (2 artikel) 12
5. Setiap Kita Penyabar (Ketika Belum ada Masalah) (3 artikel) 123


6. Setia Kawan Janganlah Menabrak Tatanan (3 artikel) 123
7. Muslim Keturunan "vs" Muslim Pencarian (4 artikel) 12, 3, 4
8. Bicara Baik atau Diam (2 artikel) 12
9. Agar (Tetap) Fasih Membaca Al-Qur'an (3 artikel) 1, 2, 3

10. Memberi Makanan Berbuka=Puasa (3 artikel) 1, 2, 3

11. Menjumpai Lailatul Qadar (3 artikel) 1, 2, 3