Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label sabar. Show all posts
Showing posts with label sabar. Show all posts

Friday, April 6, 2012

Setiap Kita Penyabar (Ketika Belum Ada Masalah) (3 of 3)

Menelaah karya sastra yang begitu “memukau” di atas, mungkin akan muncul komentar-komentar berikut ini:
“Sungguh membosankan!”
“Baru baca tiga alenia (paragraf) saja, saya sudah mengantuk.”
“Tidak realistis.”
“Karya sastra ngawur! Tak mengikuti kaidah yang berlaku, tak ada klimaks, anti klimaks dan lainnya.”
Too good to be true. Lebih khayal dari dongeng anak-anak. Dongeng anak saja masih ada unsur usaha mengatasi berbagai rintangan, tapi cerita tersebut tak tampak perjuangan sedikit pun. Benar-benar cerita di alam mimpi.”
Mari merenung sejenak.
Mengapa tatkala membaca cerpen atau novel yang pelaku-pelakunya tak ada konflik, tak ada yang menderita sakit, tak mengalami kesedihan, tak harus bersusah payah meraih kesuksesan dan tak usah berjuang menggapai harapan, kita malah protes?
Bukankah dalam kenyataan hidup kita sedih mendapat cobaan?
Bukankah dalam kenyataan hidup kita ingin jadi orang kaya, bukan orang miskin papa?
Bukankah dalam kenyataan hidup kita ingin sehat selalu, bahkan flu saja kalau bisa tidak pernah?
Mengapa saat kita sendiri membuat drama kehidupan dalam bentuk cerita, justru kita yang menginginkan sebagian pelakunya mendapat ujian dan cobaan?
Mengapa justru kita yang membuat sebagian pelakunya harus menderita, misalnya sakit parah, kecelakaan atau kehilangan orang yang dicintai seperti ayah, ibu, anak atau istri?
Mengapa justru kita yang menjadikan sebagian pelakunya harus berperan sebagai orang melarat?
Mengapa…?! Mengapa…?! Mengapa…?!
Kira-kira, apa jawaban kita seandainya para pelaku cerita itu protes kepada kita karena peran yang dimainkan tak mengenakkan? Apa kita akan menjawab sudah demikianlah sewajarnya yang disebut cerita? Apa kita akan berargumen bahwa kehidupan memang berjalan seperti itu?
Jika memang demikian adanya, bukankah itu berarti kita tidak perlu protes kepada Allah bila mengalami kesulitan?
Jika memang demikian adanya, bukankah itu berarti kita tak boleh sedih berkepanjangan tatkala mendapat cobaan?
Jika memang demikian adanya, bukankah sabar ketika mendapat musibah tidak perlu lagi dipertanyakan?
Ada ungkapan salah kaprah yang kadang kita ucapkan ketika mendapat rintangan, baik berupa kesulitan hidup, cemoohan, gangguan orang lain atau lainnya, “Sabar itu ada batasnya. Sekarang saya sudah tidak bisa lagi bersabar lagi.”
Sebenarnya sabar itu tak terbatas dan tak bertepi, kita sendirilah yang membatasi. Di kitab “Bahjatul Majâlis wa-Ansul Majâlis Imam Ibnu ‘Abdil Barr menulis:
قاَلَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَلصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ
Sahabat Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi tubuh. Tidak sempurna iman seseorang bila tidak punya kesabaran.”

Senada dengan nasihat tersebut, Ibnul Qayyim menuturkan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi tubuh. Apabila kepala terpotong maka tak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”

Mencari kata di kamus besar
Supaya makna menjadi jelas
Pahamilah hakikat sabar
Ia tak bertepi maupun berbatas
Lantas, bagaimana kiat agar bisa bersabar? Sekian banyak tips dan trik telah dikemukakan. Salah satunya sebagaimana nasihat bijak berikut ini,
Masalah dalam hidup seperti garam.
Rasa asin(pedih, stres, sakit, penat, pening, lelah dsb.) yang dialami sangat tergantung dari besarnya kalbu yang menampung. Supaya tidak terlalu menderita, janganlah jadi segelas air. Segelas air bila diberi segenggam garam akan terasa sangat asin. Oleh karena itu, jadikan kalbu di dalam dada sebesar danau. Berlapang dadalah, niscaya memanggul masalah apa pun tidak akan terasa berat. ”
Inti nasihat tersebut yaitu semua hal tergantung kepada diri kita sendiri, bukan pada masalah yang terjadi. Masalah sama akan berbeda hasilnya bila disikapi dengan cara berbeda.
Tentang kesabaran, Al-Qur’an bahkan dua kali berpesan agar menjadikan kesabaran (dan shalat) sebagai sarana untuk memperoleh segala yang dikehendaki.
وَاسْتَعِْينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan (melalui) sabar dan (mengerjakan) shalat. (QS al-Baqarah [2] : 45)
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُواْ اسْتَعِْينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan (melalui) sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS al-Baqarah [2]: 153)
M. Quraish Shihab menerangkan bahwa di ayat-ayat tersebut terlihat yang didahulukan adalah kesabaran, baru shalat. Hal ini bukan saja karena shalat pun membutuhkan kesabaran, tetapi juga karena syarat utama tercapainya yang dikehendaki adalah kesabaran dan ketabahan dalam memperjuangkannya. Kebajikan dan kedudukan tertinggi diperoleh seseorang karena kesabarannya.
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. (QS as-Sajadah [32]: 24)
Orang sabar diberi keberkahan, rahmat dan petunjuk. Ganjaran pahala bagi penyabar juga sangat besar. Sekian banyak ayat berbicara tentang kemuliaan sifat sabar.
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ (157)
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali)”.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS al-Baqarah [2]: 156-157)
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS az-Zumar [39]: 10)
Sabar biasanya pahit di awal, namun manis di akhir. Semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan menolong kita sehingga bisa menjadi penyabar, amin.

Daftar Pustaka


Achmad Faisol, “Muhâsabah (Introspeksi Diri)Apakah Implementasi Keberagamaan (Islam) Kita Ada yang Kurang?!”, Ebook, April 2011/ Jumadal Ula 1432 H
M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007

Software:
Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Friday, March 30, 2012

Setiap Kita Penyabar (Ketika Belum Ada Masalah) (2 of 3)

b. Sabar Meninggalkan Maksiat

Syaikh Sa‘id Hawwa menerangkan bahwa Allah telah menghimpun macam-macam kemaksiatan di dalam firman-Nya:
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (QS an-Nahl [16]: 90)
Rasulullah saw. bersabda:
اَلْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِيْ طَاعَةِ اللهِ  وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوْبَ
Orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan ketidakbaikan dan dosa. (HR Baihaqi  dan Hakim)
Banyak imam meriwayatkan hadits sejenis tapi per bagian, yaitu definisi orang berjihad di sebuah hadits dan definisi orang berhijrah di hadits lain.  Hadits riwayat Imam Baihaqi dan Imam Hakim di atas langsung menyebutkan dua definisi. Adapun lafazh hadits tersebut menurut riwayat Imam Baihaqi di kitab “Syu‘bul Îmân”.
Kemaksiatan merupakan dorongan hawa nafsu. Berikut ini contoh kesabaran atas perbuatan maksiat:
  • Sabar atas kemaksiatan yang telah dianggap lumrah oleh lingkungan. Misal kita bergaul dengan teman/orang yang menganggap taruhan adalah penyemangat menonton sepak bola. Tanpa taruhan dianggap tidak seru, menonton bola menjadi hambar.
  • Sabar atas kemaksiatan yang mudah dikerjakan sendiri, misalnya menggunjing, berbohong, memuji diri sendiri (‘ujub) dan riya’.
Secara umum dapat dikatakan bahwa tinggi/rendahnya kesabaran berkaitan dengan kuat/lemahnya kemaksiatan itu sendiri. Apabila kita merasa berat apalagi tidak mampu bersabar atas meninggalkan perbuatan maksiat, maka hendaknya kita ‘uzlah (mengasingkan diri) atau sering menyendiri. Bersabar ketika dalam kesendirian lebih mudah daripada saat berkumpul dengan banyak orang.

c. Sabar Mendapat Cobaan

Dunia ini memang tempat ujian dan cobaan, bahkan para nabi dan rasul pun tak luput dari cobaan.
إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءَ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
Sesungguhnya manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang mengikuti para nabi, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka. (HR Ahmad, Baihaqi, Hakim, Ibnu Abi Syaibah, Nasa’i dan Thabrani)
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُوْنَ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, kemudian yang seperti mereka lalu yang seperti mereka. (HR Thabrani)
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian ulama, kemudian yang seperti mereka lalu yang seperti mereka (HR Hakim)
Kalau para nabi dan rasul saja mendapat cobaan, masa kita tak mau mendapat cobaan? Kalau manusia yang paling dekat kepada Allah saja mengalami ujian hidup, masa kita merasa tak ingin mengalami ujian dalam kehidupan ini?
Semasa pelajar penulis pernah berkhayal, “Apa yang akan terjadi bila dalam hidup tidak ada kesulitan apalagi cobaan?”
Cara termudah mengimplementasikannya adalah dengan membuat sebuah cerpen atau novel. Sejak SD kita dibiasakan oleh guru kita membuat karangan, misalnya tentang liburan sekolah. Saat SMA/SMU, bahkan mungkin ada yang sejak SMP, sudah ada tugas membuat cerpen.
Berikut ini sebuah cerpen ala kadarnya yang penulis karang untuk mewujudkan khayalan bagaimana bila dalam hidup tidak ada cobaan, ujian dan kesulitan.
Di sebuah rumah mewah nan megah, sepasang suami-istri muda sedang berbahagia menimang-nimang buah hati mereka yang baru berumur seminggu.
Hari demi hari mereka lalui penuh kebahagiaan. Sang buah hati sehat selalu, sehingga tak perlu repot-repot ke dokter. Kala malam tiba, tidur mereka pun pulas tak pernah diganggu tangisan bayi. Maklumlah, ruang tidur senantiasa sejuk karena ber-AC serta popok bayi merek mahal senantiasa membalut si kecil.
Tahun demi tahun silih berganti, tak terasa sang buah hati sudah usia sekolah. Karena kecerdasan yang begitu hebat, walau bermain setiap saat dan tanpa perlu susah payah belajar, sang anak senantiasa menjadi juara kelas bahkan juara umum antar kelas.
Setiap mata pelajaran dilahapnya dengan ringan, tak satu pun yang tak dikuasainya. Tak hanya pandai di pelajaran sekolah, sang buah hati juga sering menjadi juara lomba antar sekolah, baik yang berhubungan dengan keilmuan maupun olah raga. Bermain voli, basket, soft ball, sepak bola bahkan bela diri adalah bidang keahliannya. Ia pun sangat super bergaul sehingga setiap orang menyukainya.
Menjadi juara seperti membalikkan tangan baginya, tak butuh usaha keras. Juara lomba level sekolah hingga internasional senantiasa didapatnya.
Kondisi ini berlangsung terus hingga lulus kuliah. Dengan pertimbangan berbagai prestasi yang diraih, IPK sempurna 4.0 skala 4 dengan waktu kuliah tercepat mengalahkan semua mahasiswa sejak kampus berdiri menjadikannya wisudawan terbaik dengan predikat “Summa Cumlaude Berpenghargaan”. Sungguh super!!!
Orang tua mana yang tidak bahagia melihat sang anak menjadi wisudawan terbaik sejak kampus berdiri?
Setelah wisuda, mulailah sang anak diberi kepercayaan memimpin perusahaan sang ayah. Berbekal kecerdasan yang dimiliki, tanpa ada halangan sedikit pun usaha ayahnya meraih laba 100x lebih besar hanya dalam tempo sebulan.
Bisa dibayangkan dalam setahun berapa kali untung yang didapat. Dalam dua tahun saja, sang anak berhasil meraih predikat orang terkaya nomor 1 di dunia versi Majalah Forbes. Wow, dahsyat!!!
Berkat kepiawaian, kecerdasan, kecanggihan dan kehebatan sang anak, kondisi ini tak pernah tergantikan oleh orang terkaya manapun di jagad ini. Luarrr biasa!!!
Meski tampan, berbadan atletis serta menjadi orang terkaya sejagad, sang anak tak punya sifat sombong, tak pernah menjadi play boy atau hal-hal negatif lainnya.
Karena tabiat yang begitu mengagumkan, ia bertemu dengan wanita rupawan bak rembulan di pertengahan bulan dengan kepribadian yang sungguh memesona. Si jelita inilah yang menjadi pendamping hidup dirinya dan mereka pun berbahagia selamanya.
Setelah membaca adi karya “fenomenal” tersebut, kira-kira apa komentar kita? Mari berpikir sejenak.

*******#######*******

 Daftar Pustaka


Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fî Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
Salim Bahreisy, “Tarjamah Riadhus Shalihin I dan II (karya Syaikh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi)”, PT Alma‘arif

Software:
Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Friday, March 23, 2012

Setiap Kita Penyabar (Ketika Belum Ada Masalah) (1 of 3)

Ketika musim hujan, di suatu Senin sore mendung tebal memayungi sebagian wilayah Surabaya. Sunnatullah pun berlaku, hujan akhirnya turun begitu lebat, bak ribuan anak kecil berkejar-kejaran dengan riangnya. Alhamdulillâh, saat pulang kerja curah hujan berkurang, hanya rintik-rintik sehingga hawa sejuk menyelimuti tubuh. Demi melindungi pakaian, penulis berkendara menggunakan jas hujan model lowo yang terbuka di kedua sisinya.
Ketika penulis melewati area Rungkut Industri, air menggenang di tepi sungai yang memisahkan jalur ke arah Rungkut Kidul dan Kutisari. Melihat air tergenang cukup banyak, penulis naik motor perlahan-lahan serta senantiasa berada di sisi kiri menuju Rungkut Kidul.
Tak disangka, sebuah taxi melaju cukup kencang. Byor..., sekawanan air merangkul penulis tanpa permisi. Pakaian basah di sisi kanan. “Yok opo, rek… Pelan-pelan po’o…,” gumam penulis perlahan. Bibir tersenyum kecut dibuatnya, tapi bagaimana pun semua t'lah terjadi. Ternyata, bersabar membutuhkan latihan secara konsisten dan persisten.

*******#######*******

Dalam keseharian, biasanya tutur kata kita mencerminkan bahwa kita seorang penyabar, apalagi ditunjang “keahlian” kita menasihati orang lain. Sayang beribu sayang, sifat dan sikap tersebut kita miliki hanya ketika kita sendiri belum mengalami masalah.
Bagaimana diri kita sebenarnya tercermin tatkala bertemu masalah. Saat muncul masalah, maka masalah itulah yang akan memisahkan dan menggolongkan tingkatan kita—apakah kita berada di level TK, SD, SMP, SMA atau yang lain.
Manusia secara alami memang mempunyai kemampuan bersabar. Hal ini telah diakui oleh para pakar ilmu jiwa. Freud berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan memikul sesuatu yang tidak disenangi.
Lalu, bilamana kita bisa disebut penyabar? Penilaian sabar atau tidak dilakukan saat kita pertama kali menerima masalah. Jadi ketika ada masalah, reaksi pertama kitalah sebagai penentu sabar/tidaknya kita.
إنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُوْلىَ
Sesungguhnya sabaryang sangat terpujiitu pada pukulan pertama (di kala mendadaknya kedatangan musibah). (Muttafaq ‘alayh)
Bila setelah beberapa lama kemudian baru kita berkata, “Aku sekarang sudah bersabar tertimpa musibah”, maka kita belum bisa disebut seorang penyabar. Namun demikian, untuk pembelajaran, hal ini tetaplah baik. Intinya semakin cepat kita menguasai diri semakin baik. Seterusnya kita berlatih agar bisa bersabar pada saat pertama kali mengalami peristiwa apa pun.
Lawan sifat sabar adalah keluh kesah (jaza‘) yang merupakan perbuatan tercela dan kufur yang akan membawa kepada kehancuran. Tidak ada pilihan bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan ini kecuali harus bersabar. Hal yang tidak terpisahkan dari sifat sabar adalah berserah diri (taslîm) dan ridha kepada takdir Allah.
Telah sering dijelaskan pula oleh para ulama bahwa kesabaran itu dalam tiga kondisi, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah (shabrun ‘alâ ath-thâ‘ah), sabar dalam meninggalkan maksiat (shabrun ‘an al-ma‘shiyah) dan sabar ketika mendapat cobaan (shabrun ‘alâ al-balâ’).
Semua itu (ketaatan, kemaksiatan dan cobaan) merupakan gambaran sebuah kehidupan. Oleh karenanya, sabar adalah separuh keimanan karena setiap cabang iman memerlukan sifat sabar.

a. Sabar dalam Ketaatan

Mari kita lihat apakah kita sabar dalam ketaatan. Asumsikan saja bahwa kita senantiasa shalat Dhuha dan membaca Al-Qur’an dalam keseharian. Suatu ketika perusahaan tempat kita bekerja mengadakan rekreasi ke luar kota untuk seluruh karyawan dan keluarga. Berangkat rekreasi hari Jum’at malam dan pulang Minggu malam.
Pertanyaan yang harus diajukan kepada diri sendiri yaitu, “Apakah kita tetap shalat Dhuha dan membaca Al-Qur’an di hotel/penginapan?” Ataukah kita akan berkata, “Sekali-sekali ngga apa-apalah ngga shalat Dhuha dan baca Al-Qur’an. Toh cuma dua hari saja.” Nah, manakah yang kita pilih?
Kemungkinan besar kita akan enggan melaksanakannya karena keadaan yang menurut kita kurang memungkinkan. Argumentasi kita karena acara yang disusun panitia cukup padat dan menarik, selain itu disertai door prize sehingga kita merasa rugi besar bila melewatkan setiap event.
Mari merenung sejenak. Untuk contoh sederhana begitu saja, kita sudah dikalahkan oleh situasi dan kondisi. Entah apa yang kita lakukan bila yang kita alami lebih rumit. Entah apa pula yang akan kita lakukan bila kita sedang berada di puncak bukit kesedihan atau di dasar lembah kegalauan. Mungkin saja kita akan meninggalkan semua ibadah sunnah dan hanya mengerjakan yang fardhu, itu pun demi menggugurkan kewajiban sajalamcing (habis salam, langsung plencing). Semoga Allah senantiasa memberi hidayah dan pertolongan kepada kita agar bisa sabar dan istiqamah dalam beribadah, amin.
Tentang kesabaran dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, di buku “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fî Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin” Syaikh Sa‘id Hawwa menjelaskan diperlukan tiga hal berikut ini:
  • Sebelum melaksanakan ketaatan
Kita harus meluruskan niat, ikhlas dan menghindari hal-hal berbau riya’. Ini merupakan kesabaran yang berat bagi yang mengerti hakikat niat dan ikhlas serta bahaya riya’.
  • Ketika melakukan ketaatan
Kita tidak boleh lalai kepada Allah di tengah ibadah yang dilakukan dan tidak boleh malas-malasan menyempurnakan adab dan sunnah ibadah serta menjaganya hingga selesai. Dengan kata lain kita harus sabar mendapatkan kesempurnaan dalam beribadah.
  • Setelah mengerjakan ketaatan
Kita harus tetap sabar menghindari timbulnya riya’ dan sum’ah (ingin dipuji) setelah mengerjakan ibadah. ’Ujub (bangga terhadap diri sendiri karena telah beribadah) juga harus dihindari karena dapat menggugurkan pahala ibadah. Dalam bersedekah misalnya, tidak boleh disebut-sebut atau diungkit-ungkit (manna), juga dilarang menyakiti perasaan penerima dengan perkataan (adza).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS al-Baqarah [2]: 264)

 Daftar Pustaka

Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, “Riyâdhush Shâlihîn”
Achmad Faisol, “Muhâsabah (Introspeksi Diri)Apakah Implementasi Keberagamaan (Islam) Kita Ada yang Kurang?!”, Ebook, April 2011/ Jumadal Ula 1432 H
M. Quraish Shihab,Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006
Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fî Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
Salim Bahreisy, “Tarjamah Riadhus Shalihin I dan II (karya Syaikh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi)”, PT Alma‘arif

Software:
Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Friday, October 31, 2008

Sudahkah Kita Mengindahkan Perasaan Orang Lain? (2 of 2)

Pada hari Jum’at, 19 September 2008 penulis mengunjungi sebuah blog (blog walking) untuk memberi informasi tentang blog penulis. Ternyata, di salah satu halaman blog itu ada tulisan seorang pengunjung yang mengomentari pengunjung lainnya, “Kalau mau mengisi komentar OOT, jangan di sini, kan ada buku tamu. Jangan seperti FS dong...”

Penulis mencari inisial FS di halaman tersebut tapi tidak ditemukan. Penulis tidak tahu siapa FS yang dimaksud karena penulis pun baru membaca diskusi yang ada dan belum memberikan komentar. Tapi, penulis merasa tersentil juga karena FS adalah inisial nama penulis di tempat kerja, Inixindo.

Penulis merasa diingatkan Allah lewat tulisan itu, agar memperbaiki cara berdakwah. Sejak peluncuran blog sampai dengan tanggal 19 September 2008, penulis memang sering mengunjungi blog lain sebagai strategi marketing dakwah. Memang, terkadang (mungkin juga agak sering) komentar penulis termasuk kategori OOT (Out Of Topic).

Awalnya, penulis merasa hal itu bukan sebuah masalah. Toh pemilik blog bisa tidak menyetujui atau menghapusnya jika memang komentar penulis kurang dikehendaki. Namun, tulisan salah satu saudara kita tersebut penulis rasakan sebagai wujud kasih sayang Allah kepada penulis agar memperhatikan perasaan para pemilik blog.

Segera penulis meninggalkan komentar tanggapan di blog itu yang intinya meminta maaf dan juga ikut memberikan sedikit coretan yang 100% sesuai topik bahasan. Setelah itu, di blog penulis, tulisan “Selamat Berpuasa...” segera penulis ganti dengan permohonan maaf kepada semua saudara kita, terutama yang blognya penulis kunjungi tapi kurang berkenan terhadap komentar yang ditinggalkan.

Penulis teringat sebuah nasihat Gus Mus, “Anehnya, terhadap Allah Yang Begitu Baik, kita justru begitu berhati-hati, bahkan sering berlebihan hingga menimbulkan was-was atau masalah di antara kita. Sementara terhadap manusia yang sulit, kita sering sembrono dan seenaknya. Padahal, banyak dalil naqli yang menyebutkan dosa antar sesama.”

Nabi Muhammad saw. pun telah mengingatkan kita :


الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim ialah seseorang dimana muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (Muttafaq ‘alayh)

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak benar-benar beriman seseorang di antara kalian sampai dia mampu menyukai sesuatu untuk saudaranya, sebagaimana dia menyukai sesuatu untuk dirinya sendiri. (Muttafaq ‘alayh)

“Bagaimana bisa kita mengaku mencintai Allah tapi kita tidak mencintai hamba-Nya?” nasihat lain Gus Mus.

مَامِنْ شَيْئٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada Hari Kiamat, melebihi akhlak yang luhur. (HR Tirmidzi)

Di buku “Wawasan Al-Qur’an”, M. Quraish Shihab mencantumkan sebuah nasihat yang menjelaskan pentingnya hubungan baik dengan sesama :

الدِّيْنُ الْمُعَـامَلَةُ

Agama adalah hubungan interaksi yang baik.

Al-Fudhail bin Iyadh menasihatkan, “Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya, sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.”

Betapa dalam nasihat Imam al-Fudhail tersebut. Terhadap binatang saja kita harus baik, apalagi terhadap sesama manusia. Ditanyakan kepada Dzun Nun al-Mishri,
“Siapakah yang paling menggelisahkan manusia?”
“Yang paling buruk akhlaknya,” jawab beliau.

Bagaimanakah akhlak yang dicontohkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib kw.? Dikisahkan bahwa beliau pernah memanggil seorang budak sahaya remaja dan ia tidak menjawab panggilan tersebut. Beliau mengulanginya lagi sampai tiga kali dan sahaya itu pun tidak menjawabnya. Khalifah melangkah mendekat dan melihatnya sedang enak-enakan berbaring.
“Apakah engkau tidak mendengar, wahai Anak?” tanya Khalifah.
“Mendengar,” jawabnya enteng.
“Apa yang membuatmu tidak menyahut?”
“Saya merasa aman dari ancaman siksaanmu. Karena itu, saya bermalas-malasan.”
“Pergilah, anakku. Engkau bebas karena Allah.”

Tidakkah kita perhatikan bagaimana akhlak beliau terhadap seorang budak, padahal waktu itu beliau adalah khalifah? Tidakkah kita lihat bahwa usia beliau lebih tua daripada sahaya tersebut? Tapi mengapa beliau tidak tersinggung? Bukankah dari jawaban sahaya itu bisa kita simpulkan bahwa Khalifah Ali adalah seorang yang berakhlak mulia? Kalau kita berada di posisi Khalifah Ali, kira-kira apa yang akan kita lakukan?

Al-Ghazali menjelaskan bahwa seorang muslim seharusnya selalu mencari kesempurnaan karena Islam itu sendiri adalah kesempurnaan dan selalu memberikan dorongan ke arah kesempurnaan. Jika kita memperhatikan apa yang ditawarkan oleh Islam berupa kesempurnaan yang memiliki hubungan dengan adab-adab berinteraksi, niscaya kita akan menemukan lautan tak bertepi karena gambaran kehidupan itu sendiri tidak pernah selesai.

Dalam setiap makhluk yang kaulihat
Kan kautemukan segenap kebaikan
Balaslah kebaikan dengan kebaikan
Jika tidak, malah dengan yang lebih baik
(karya Ibnu Hazm)

Akhirnya, mari kita merenung sejenak.

Sudahkah kita berbicara terhadap orang lain dengan pemilihan kata dan intonasi suara yang menampakkan kesantunan, keramahan dan keindahan?

Sudahkah kita bersikap lemah lembut bila hendak menegur atau mengingatkan saudara kita, sebagaimana ungkapan Jawa “Menang tanpa ngasoraké (meraih kemenangan tanpa merendahkan orang lain)”?

Sudahkah kita antri dengan tertib menunggu giliran kita? Bukankah peristiwa Pasuruan saat antri menerima sedikit uang zakat bulan Ramadhan 1429H termasuk pelajaran berharga?

Sudahkah kita bersedia sedikit rendah hati tidak memandang diri kita orang penting dengan cara mengikuti warna lampu lalu lintas sehingga tidak terjadi kesemrawutan?

Sudahkah kita mau bersabar menunggu ketika kemacetan tak terelakkan, tanpa harus membunyikan klakson berkali-kali, padahal semua orang tahu jalanan sedang macet?

Sudahkah kita menjaga perasaan orang lain dalam keseharian...?



Daftar Pustaka :

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • A. Mustofa Bisri, Kyai, “Membuka Pintu Langit”, Penerbit Buku Kompas, Cetakan kedua : November 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an — Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#