Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label akhlak. Show all posts
Showing posts with label akhlak. Show all posts

Friday, November 20, 2009

Banyak Orang Shalat, Mengapa Masih Ada Bencana? (2 of 2)

Oleh karena blog ini membahas tentang introspeksi diri (muhâsabah), maka kita anggap saja bencana yang menimpa kita sebagai peringatan dari Allah. Peringatan Allah mempunyai maksud agar kita menyadari kekeliruan dan kekurangan kita, sehingga kita segera memenuhi kewajiban kita.


Kalau terjadi gempa dan kita tidak siap sehingga terkena dampaknya, itu berarti bahwa Allah mengingatkan kita untuk selalu meningkatkan ilmu dan kewaspadaan. Marilah kita ingat lagi sabda Nabi saw. bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib, dan harus dicari mulai buaian ibu sampai ke liang lahat. Juga agar kita senantiasa taat kepada-Nya, sehingga jika sewaktu-waktu kita dipanggil oleh-Nya, maka kita sudah mempersiapkan diri. Bukankah kita adalah milik Allah? Tidakkah itu berarti bahwa Allah berhak mengambil nyawa kita tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Bukankah sudah kita ketahui bersama bahwa banyak orang meninggal tanpa adanya tanda bahwa orang itu akan meninggal, seperti sakit keras yang tidak sembuh-sembuh? Bukankah banyak terjadi kecelakaan di jalan raya yang mengakibatkan korban meninggal seketika? Itulah peringatan Allah agar kita senantiasa menambah wawasan, ilmu, pengalaman, kehati-hatian dan ibadah kepada-Nya.

Jika terjadi banjir dan penyebabnya adalah penggundulan hutan atau berkurangnya daerah resapan air serta penyaluran air yang kurang tepat, itu artinya kita dingatkan oleh Allah agar bersahabat dengan alam. Kita diingatkan Allah bahwa kita adalah khalifah di muka bumi ini. Berikut ini penjelasan M. Qurais Shihab tentang prinsip kekhalifahan.

Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesama dan manusia dengan alam.

Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan serta pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.

Kekhalifahan mengharuskan kita menjadi manusia yang bertanggung jawab, sehingga tidak melakukan tindak perusakan. Dengan kata lain, setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri kita sendiri. Jika ini kita abaikan, maka akan tampaklah kerusakan di bumi yang kita diami ini.

ظَهَرَ ٱلْفَسَـادُ ِفى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَـبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاِس لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ ٱلَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. (QS ar-Rûm [30]: 41)

Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.

Binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah dan menjadi milik-Nya. Keyakinan ini mengantarkan kita untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Allah yang harus diperlakukan secara wajar dan baik. Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa semua itu tidak boleh diperlakukan secara aniaya.

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS al-An‘âm [6]: 38)

Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan kita kepada kesadaran bahwa apa pun yang berada di dalam genggaman tangan kita, tidak lain kecuali amanat yang harus dipertanggungjawabkan.

“Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin sepoi yang berhembus di udara dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawaban manusia menyangkut pemeliharaan dan pemanfaatannya.” Demikianlah kandungan penjelasan Nabi saw. tentang firman Allah:
ثُمَّ لَتُسْـئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيْمِ
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS at-Takâtsur [102]: 8)

Dengan demikian bukan saja dituntut agar tidak alpa dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik (Allah) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.

مَا خَلَقْنَا ٱلسَّمٰوٰتِ وَٱْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَاۤ إِلاَّ بِٱلْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمًّى
Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. (QS al-Ahqâf [46]: 3)

Firman Allah tersebut mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kelompok, bangsa dan jenisnya saja (sesama manusia); melainkan juga harus berpikir dan bersikap demi kemaslahatan semua pihak. Kita tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam atau berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang, istilah penaklukan alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari pandangan mitos Yunani yang beranggapan bahwa benda-benda alam merupakan dewa-dewa yang memusuhi manusia, sehingga harus ditaklukkan.

Menurut Al-Qur’an, yang menundukkan alam adalah Allah. Kita tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat anugerah Allah kepada kita.

سُبْحٰنَ ٱلَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ ُ مُقْرِنِيْنَ
Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. (QS az-Zukhruf [43]: 13)
Jika demikian, berarti kita tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga kita harus bersahabat dengan alam.

Al-Qur’an menekankan agar kita meneladani Nabi Muhammad saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Rasulullah bahkan memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. “Nama” memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.

Di samping prinsip kekhalifahan yang disebutkan di atas, masih ada lagi prinsip taskhir, yang berarti penundukan.

Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS an-Nahl [16]: 14)

Dan Dia (Allah) menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. (QS al-Jâtsiyah [45]: 13)

Ini menunjukkan bahwa alam raya telah ditundukkan Allah untuk manusia. Kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, kita tidak boleh merendahkan diri terhadap segala sesuatu yang telah ditundukkan Allah untuk kita, berapa pun harga benda-benda itu. Kita tidak boleh diperbudak oleh benda-benda sehingga mengorbankan kepentingan kita sendiri. Dalam hal ini, kita dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa kita boleh meraih apa pun asalkan yang kita raih serta cara meraihnya tdak mengorbankan kepentingan di akhirat kelak.

Marilah kita perhatikan lagi masa Rasulullah saw. dan Khulafa’ ar-Rasyidin. Masa itu adalah bagian paling gemilang dari sejarah kita. Masa itu adalah tahi lalat indah di dahi zaman, mutiara putih di mahkota kehidupan, dan bulan purnama yang menyinari seluruh permukaan bumi. Semua itu terjadi karena pada masa itu, perintah Allah ditaati dan semua perbuatan serta perkataan seseorang sesuai dengan aturan-aturan Allah. Mereka mempunyai budi pekerti yang luhur sebagaimana suri teladan mulia, Rasulullah Muhammad saw.
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ
Budi pekerti Nabi saw. adalah Al-Qur’an. (HR Ahmad)
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْـلاَقِ
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhalak yang mulia. (HR Malik)
مَامِنْ شَيْئٍ أَثْقَلُ فِي ِميْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُـلُقِ
Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari Kiamat, melebihi akhlak yang luhur. (HR Tirmidzi)

Agar dalam bimbingan-Nya selalu, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah:
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى دِيْنِكَ بِدُنْيَايَ وَعَلَى آخِرَتِي بِتَقْوَايَ وَوَفِّقْنِي لِتَهْذِيْبِ أَخْلاَقِ نَفْسِي وَتَلْطِيْفِ كَثَافَتِهَا
Ya Allah, bantulah hamba dalam hal agama dengan dunia hamba, bantu pula hamba menyangkut kehidupan akhirat dengan ketakwaan hamba, anugerahi pula hamba kemampuan untuk meluhurkan akhlak dan memperhalus budi hamba, amin.

Daftar Pustaka:
  • Ary Ginanjar Agustian, “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual – ESQ (Emotional Spiritual Quotient)”, Penerbit Arga, Cetakan Kedua puluh sembilan : September 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
Tulisan ini lanjutan dari: Banyak Orang Shalat, Mengapa Masih Ada Bencana? (1 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, October 31, 2008

Sudahkah Kita Mengindahkan Perasaan Orang Lain? (2 of 2)

Pada hari Jum’at, 19 September 2008 penulis mengunjungi sebuah blog (blog walking) untuk memberi informasi tentang blog penulis. Ternyata, di salah satu halaman blog itu ada tulisan seorang pengunjung yang mengomentari pengunjung lainnya, “Kalau mau mengisi komentar OOT, jangan di sini, kan ada buku tamu. Jangan seperti FS dong...”

Penulis mencari inisial FS di halaman tersebut tapi tidak ditemukan. Penulis tidak tahu siapa FS yang dimaksud karena penulis pun baru membaca diskusi yang ada dan belum memberikan komentar. Tapi, penulis merasa tersentil juga karena FS adalah inisial nama penulis di tempat kerja, Inixindo.

Penulis merasa diingatkan Allah lewat tulisan itu, agar memperbaiki cara berdakwah. Sejak peluncuran blog sampai dengan tanggal 19 September 2008, penulis memang sering mengunjungi blog lain sebagai strategi marketing dakwah. Memang, terkadang (mungkin juga agak sering) komentar penulis termasuk kategori OOT (Out Of Topic).

Awalnya, penulis merasa hal itu bukan sebuah masalah. Toh pemilik blog bisa tidak menyetujui atau menghapusnya jika memang komentar penulis kurang dikehendaki. Namun, tulisan salah satu saudara kita tersebut penulis rasakan sebagai wujud kasih sayang Allah kepada penulis agar memperhatikan perasaan para pemilik blog.

Segera penulis meninggalkan komentar tanggapan di blog itu yang intinya meminta maaf dan juga ikut memberikan sedikit coretan yang 100% sesuai topik bahasan. Setelah itu, di blog penulis, tulisan “Selamat Berpuasa...” segera penulis ganti dengan permohonan maaf kepada semua saudara kita, terutama yang blognya penulis kunjungi tapi kurang berkenan terhadap komentar yang ditinggalkan.

Penulis teringat sebuah nasihat Gus Mus, “Anehnya, terhadap Allah Yang Begitu Baik, kita justru begitu berhati-hati, bahkan sering berlebihan hingga menimbulkan was-was atau masalah di antara kita. Sementara terhadap manusia yang sulit, kita sering sembrono dan seenaknya. Padahal, banyak dalil naqli yang menyebutkan dosa antar sesama.”

Nabi Muhammad saw. pun telah mengingatkan kita :


الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim ialah seseorang dimana muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (Muttafaq ‘alayh)

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak benar-benar beriman seseorang di antara kalian sampai dia mampu menyukai sesuatu untuk saudaranya, sebagaimana dia menyukai sesuatu untuk dirinya sendiri. (Muttafaq ‘alayh)

“Bagaimana bisa kita mengaku mencintai Allah tapi kita tidak mencintai hamba-Nya?” nasihat lain Gus Mus.

مَامِنْ شَيْئٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada Hari Kiamat, melebihi akhlak yang luhur. (HR Tirmidzi)

Di buku “Wawasan Al-Qur’an”, M. Quraish Shihab mencantumkan sebuah nasihat yang menjelaskan pentingnya hubungan baik dengan sesama :

الدِّيْنُ الْمُعَـامَلَةُ

Agama adalah hubungan interaksi yang baik.

Al-Fudhail bin Iyadh menasihatkan, “Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya, sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.”

Betapa dalam nasihat Imam al-Fudhail tersebut. Terhadap binatang saja kita harus baik, apalagi terhadap sesama manusia. Ditanyakan kepada Dzun Nun al-Mishri,
“Siapakah yang paling menggelisahkan manusia?”
“Yang paling buruk akhlaknya,” jawab beliau.

Bagaimanakah akhlak yang dicontohkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib kw.? Dikisahkan bahwa beliau pernah memanggil seorang budak sahaya remaja dan ia tidak menjawab panggilan tersebut. Beliau mengulanginya lagi sampai tiga kali dan sahaya itu pun tidak menjawabnya. Khalifah melangkah mendekat dan melihatnya sedang enak-enakan berbaring.
“Apakah engkau tidak mendengar, wahai Anak?” tanya Khalifah.
“Mendengar,” jawabnya enteng.
“Apa yang membuatmu tidak menyahut?”
“Saya merasa aman dari ancaman siksaanmu. Karena itu, saya bermalas-malasan.”
“Pergilah, anakku. Engkau bebas karena Allah.”

Tidakkah kita perhatikan bagaimana akhlak beliau terhadap seorang budak, padahal waktu itu beliau adalah khalifah? Tidakkah kita lihat bahwa usia beliau lebih tua daripada sahaya tersebut? Tapi mengapa beliau tidak tersinggung? Bukankah dari jawaban sahaya itu bisa kita simpulkan bahwa Khalifah Ali adalah seorang yang berakhlak mulia? Kalau kita berada di posisi Khalifah Ali, kira-kira apa yang akan kita lakukan?

Al-Ghazali menjelaskan bahwa seorang muslim seharusnya selalu mencari kesempurnaan karena Islam itu sendiri adalah kesempurnaan dan selalu memberikan dorongan ke arah kesempurnaan. Jika kita memperhatikan apa yang ditawarkan oleh Islam berupa kesempurnaan yang memiliki hubungan dengan adab-adab berinteraksi, niscaya kita akan menemukan lautan tak bertepi karena gambaran kehidupan itu sendiri tidak pernah selesai.

Dalam setiap makhluk yang kaulihat
Kan kautemukan segenap kebaikan
Balaslah kebaikan dengan kebaikan
Jika tidak, malah dengan yang lebih baik
(karya Ibnu Hazm)

Akhirnya, mari kita merenung sejenak.

Sudahkah kita berbicara terhadap orang lain dengan pemilihan kata dan intonasi suara yang menampakkan kesantunan, keramahan dan keindahan?

Sudahkah kita bersikap lemah lembut bila hendak menegur atau mengingatkan saudara kita, sebagaimana ungkapan Jawa “Menang tanpa ngasoraké (meraih kemenangan tanpa merendahkan orang lain)”?

Sudahkah kita antri dengan tertib menunggu giliran kita? Bukankah peristiwa Pasuruan saat antri menerima sedikit uang zakat bulan Ramadhan 1429H termasuk pelajaran berharga?

Sudahkah kita bersedia sedikit rendah hati tidak memandang diri kita orang penting dengan cara mengikuti warna lampu lalu lintas sehingga tidak terjadi kesemrawutan?

Sudahkah kita mau bersabar menunggu ketika kemacetan tak terelakkan, tanpa harus membunyikan klakson berkali-kali, padahal semua orang tahu jalanan sedang macet?

Sudahkah kita menjaga perasaan orang lain dalam keseharian...?



Daftar Pustaka :

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • A. Mustofa Bisri, Kyai, “Membuka Pintu Langit”, Penerbit Buku Kompas, Cetakan kedua : November 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an — Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Wednesday, October 22, 2008

Sudahkah Kita Mengindahkan Perasaan Orang Lain? (1 of 2)

Ketika pertama kali penulis mau mengikuti tadarrus Ramadhan di masjid Roudhotul Jannah dekat rumah, Ibu penulis (beliau sudah almarhumah) berpesan dalam bahasa Jawa yang terjemahnya,
“Kalau nanti ada orang salah membaca, ngga usah ditegur... Ulangi saja sendiri bacaan yang salah tadi... Tidak setiap orang mau diingatkan bahwa bacaannya kurang tepat... Dikuatirkan nanti dia malu lalu ngambek, ngga mau tadarrus lagi...”

Bertahun-tahun nasihat ini penulis taati. Suatu ketika, penulis agak “gemes” karena ada seorang jamaah yang sejak awal Ramadhan selalu membaca lama sekali padahal yang lain sudah antri. Jamaah lain sungkan menegur karena tidak akrab.

Di hari kesekian puasa, akhirnya penulis menegurnya setiap kali salah baca. Maksud penulis agar dia sadar bahwa bacaannya masih banyak kesalahan, juga supaya dia menyadari sendiri tidak perlu membaca melebihi jamaah lain. Ternyata yang diungkapkan Ibu penulis terbukti. Esoknya orang tersebut tidak lagi terlihat tadarrus sampai akhir Ramadhan, bahkan Ramadhan berikutnya.

Dari peristiwa itu penulis mengambil kesimpulan bahwa kita harus menjaga perasaan orang lain. Salah satu contohnya, jika ingin mengingatkan orang lain harus dengan cara yang hati-hati, santun, ramah dan indah. Setiap orang ditakdirkan berbeda-beda, tapi sopan santun (akhlâq al-karîmah) adalah metode yang insya Allah bisa diterima dan disukai insan mana pun.

Sebenarnya, topik akhlâq al-karîmah sudah sering dibahas oleh para ustadz. Bahkan, dalam sebuah hadits Rasul saw. bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ


Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. (HR Malik)

Namun, entah kenapa konsep ini tidak banyak kita praktekkan. Mungkinkah kita hanya paham dan canggih dari sisi dalil? Mungkinkah pola pengajaran kita hanya menekankan segi hapalan dan kemampuan berdebat? Mungkinkah kita baru merasa hebat bila berhasil mengungguli ilmu orang lain dengan bukti keberhasilan kita mengalahkannya dalam adu argumentasi? Wallâhu a‘lam.

KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengkritik jamaah haji yang cenderung egois dan mau “menang sendiri” dengan alasan agar mendapat kemabruran.

Gus Mus menulis,
“Lihatlah mereka yang berusaha mencium Hajar Aswad itu, misalnya. Alangkah ironis! Mencium Hajar Aswad paling tinggi hukumnya adalah sunnah, tapi mereka sampai tega menyikut saudara-saudara mereka sendiri kanan-kiri.

Bagimana berusaha melakukan sunnah dengan berbuat yang haram? Jangan-jangan, dalam banyak hal lain, kita juga hanya mengandalkan semangat menggebu dan mengabaikan pemahaman. Masya Allah.”

Gus Mus menulis lagi,
“Berkenaan dengan hadits tentang kemabruran haji, ada riwayat yang menyebutkan adanya pertanyaan para sahabat saat Nabi Muhammad saw. menyebut-nyebut tentang haji mabrur itu, ‘Wa mâ birrul hajji yâ Rasûlallâh? (Apa kemabruran haji itu, ya Rasul?)’

Ternyata jawaban Rasulullah saw. tidak berhubungan dengan thawaf, sa‘i dan sebagainya. Tetapi, justru yang ada hubungannya dengan pergaulan sesama jamaah yang sama-sama beribadah, seperti menebarkan salam dan memberikan pertolongan.

Bila riwayat ini dianggap dha‘if, kita masih bisa menyimak sunnah Rasul saat melakukan ibadah haji. Bagaimana sikap tawadhu‘, kemurahan, kelembutan dan hal-hal lain yang menunjukkan penyerahan diri beliau sebagai hamba kepada Tuhan dan tepo seliro beliau terhadap sesama hamba-Nya.”

Salah seorang ipar penulis pernah berkisah,
“Sekarang ada semacam jasa body guard (laki-laki) yang bisa disewa untuk mengawal kita mencium Hajar Aswad. Badan mereka memang cukup besar untuk melindungi kita. Namun, untuk jamaah haji wanita, apalagi cantik, sebaiknya jangan menggunakan jasa ini. Kenapa?

Seorang jamaah wanita bercerita bahwa ketika dia menggunakan jasa orang-orang ini, tubuh mereka terkadang bahkan seringkali bersentuhan dengan tubuhnya. Bahkan, tangan mereka pun terkadang memegang tubuhnya, mungkin tujuannya sebagai perlindungan. Tapi, siapa yang tahu bahwa itu bukan kesengajaan untuk memegang tubuh jamaah wanita tersebut, karena ternyata jamaah itu memang cantik? Wallâhu a‘lam.

Bukankah begitu memilukan dan memalukan kondisi seperti ini? Tidakkah ironi karena hal ini terjadi pada umat Islam yang katanya menjunjung tinggi akhlak? Mengapa harus ada “body guard” untuk mencium Hajar Aswad? Tidakkah kita rela antri dengan tertib dan sabar supaya semua saudara kita bisa menciumnya?

Rasulullah saw. telah bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ فىِ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذاَ اشْـتَكَى عُضْوٌ مِنْهُ تَدَاعَى سَائِرُهُ بِالْحُمَى وَالسَّهْرِ


Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya, yaitu (sakit) demam dan tidak bisa tidur. (Muttafaq ‘alayh)

إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْآةُ أَخِيْهِ فَإِذَا رَأَى فِيْهِ شَيْـئًا فَلْيُمِطُهُ عَنْهُ


Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin bagi saudaranya. Jika ia melihat sesuatu pada saudaranya, maka hendaklah ia membersihkannya. (HR Abu Daud dan Tirmidzi—hadits hasan)

Bukankah sudah nyata bahwa kita adalah cermin saudara kita? Bukankah kita ingin diperlakukan dengan lembut, santun dan ramah, sebagaimana saudara-saudara kita pun ingin diperlakukan sama? Jika memang demikian adanya, lalu mengapa kita tidak mau memulainya terlebih dahulu? Bukankah sudah jelas kaidah yang ada, “Mulailah dari dirimu sendiri (ibda’ binafsika)”?

Timbul pertanyaan, “Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan dianjurkan bahkan diperintahkan? Bukankah untuk melaksanakan kebaikan tidak perlu mendahulukan orang lain? Bagaimana caranya kita tahu bahwa perbuatan kita kurang mencerminkan akhlâq al-karîmah?”

Kita gunakan saja metode standar, yaitu “Istafti qalbak (mintalah fatwa/bertanyalah kepada hati nuranimu.” Bukankah untuk meraih kebaikan harus dilakukan dengan cara-cara yang baik pula?

Seorang sahabat Nabi saw. bernama Wabishah bin Ma‘bad berkunjung kepada Nabi saw, lalu beliau menyapanya dengan bersabda,
“Engkau datang menanyakan kebaikan?”
“Benar, wahai Rasul,” jawab Wabishah.
“Tanyalah hatimu (istafti qalbak)! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa dan tentram terhadap hati. Adapun dosa adalah yang mengacaukan dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa.”
(HR Ahmad dan ad-Darimi)

Daftar Pustaka :

  • A. Mustofa Bisri, Kyai, “Membuka Pintu Langit”, Penerbit Buku Kompas, Cetakan kedua : November 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an — Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan ini berlanjut ke : "Sudahkah Kita Mengindahkan Perasaan Orang Lain? (2 of 2)"
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#