Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label mukmin. Show all posts
Showing posts with label mukmin. Show all posts

Friday, June 18, 2010

Satu Jasad dan Satu Bangunan

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih, sayang dan kecenderungan jiwa (simpati) seperti perumpamaan jasad/tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya, yaitu tidak bisa tidur dan (sakit) demam. (HR Ahmad, Baihaqi, Muslim, Thabrani dan Qudha‘i. Adapun lafazh hadits menurut riwayat Imam Muslim)


اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Orang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. (HR Abu Ya‘la, Ahmad, Bukhari, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, Muslim, Nasa’i, Thabrani, Tirmidzi dan Qudha‘i )

Di Shahih Bukhari dan Musnad Syihab al-Qudha‘i, untuk hadits terakhir terdapat tambahan:
وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.

Kemudian beliau menggabungkan jari-jari tangan beliau.

Mari kita perhatikan peristiwa sehari-hari. Ketika kaki tersandung batu, seluruh bagian tubuh bersimpati dan empati. Otak memerintahkan kaki 'tuk berhenti berjalan, mata berkaca-kaca, lisan membaca istirjâ‘ (innâ lillâhi...), bibir melengkung ke bawah bak busur panah :(, tangan pun turut serta memegang dan memijit dengan penuh telaten. Hebatnya, semua itu terjadi secara otomatis. Begitulah sunnatullah berjalan. Subhânallâh.

Sebuah gedung, betapa pun serasi warna cat yang digunakan serta kokoh pondasi dan tiang pancangnya, namun bila kondisi pintu dan jendela yang ada sangat parah, maka bangunan tersebut tidak mengagumkan. Keadaan seperti ini sangat rapuh terhadap pencurian, juga tidak indah.

Itulah perumpamaan umat Islam, laksana satu jasad atau satu bangunan. Hanya saja, pemahaman ini sangat kita mengerti saat berada di majelis ta'lim, pengajian, pesantren atau masjid. Bagaimana kondisi kita selain di area itu?

Coba kita ingat lagi tingkah laku kita di luar tempat-tempat sakral tersebut. Di jalan raya, apakah kita masih memandang dan memerlakukan pengguna jalan lain sebagai saudara kita? Ketika naik sarana transportasi umum—angkutan kota (angkot/lyn), bus, kereta api atau lainnya—adakah perilaku kita senantiasa santun, ramah dan indah kepada sesama penumpang (saudara kita)?

Di blog, forum atau jejaring sosial, adakah tulisan kita selalu dihiasi kata-kata sarat makna, enak dibaca dan terasa “merdu” di telinga? Ataukah justru menjewer bahkan memerahkan telinga sang lawan diskusi? Penulis pernah juga menerima pertanyaan sekaligus pernyataan seorang teman diskusi yang menurut konvensi umum kurang elok didengar.

Hidup ini antara kita dan Allah. Pertemuan dan perjumpaan dengan orang lain hanyalah sementara. Semua itu rangkaian peristiwa dalam perjalanan menuju Al-Haqq. Oleh karena itu, bagi penulis, apa pun ungkapan yang ditujukan kepada penulis, tak jadi masalah. Apakah kasar, tidak sopan, tanpa tata krama/etika atau apa pun tak jadi soal. Bagi penulis, semua kritik adalah sarana untuk memperbaiki diri.

Namun demikian, jika akan mengajukan pertanyaan/komentar kepada orang lain, hendaknya kita memilih dan memilah kata. Dikuatirkan akan menyinggung lawan bicara. Bukankah sudah tertera di sebuah petuah bijak, “Jikalau pedang lukai tubuh, masihlah ada harapan sembuh. Tapi jika lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari?” Bukankah sesama muslim bersaudara? Bukankah kita ibarat satu jasad dan satu bangunan?



Daftar Pustaka:

Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, August 7, 2009

Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (2 of 2)

Selain pesan agar kita menjadi mukmin kuat, Rasul saw. juga mengingatkan kita agar menjadi manusia (mukmin) yang bermanfaat bagi orang lain, sebisa mungkin sebanyak-banyaknya manfaat dan orang.


خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR al-Qudha‘i – hadits hasan)

أَحَبُّ النَّاسِ إِلىَ اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat. (HR Thabrani – hadits hasan lighayrih)

Mukmin penuh manfaat senantiasa menebar ilmu tanpa memperhitungkan apakah ada imbalan materi atau tidak, juga tidak menyembunyikan ilmu dengan beriklan agar orang lain membeli buku karyanya, kecuali memang terlalu panjang pembahasannya.

Bukankah jalan rezeki bisa dari arah yang tak disangka-sangka (min haytsu lâ yahtasib)? Bukankah kita senantiasa berikrar Hasbunallâh (cukuplah bagi kami, Allah semata)? Bukankah Allah Maha Kaya (Al-Ghaniyy)?

Renungan,
  • “Seorang ustadz boleh menerima bisyârah (uang saku) setelah ceramah atau khutbah tapi jangan dihitung besarnya, langsung saja masukkan ke dompet sehingga bercampur dengan uang lainnya. Dengan demikian hati kita tidak akan membanding-bandingkan di manakah kita akan diundang, berapa besar bisyârah yang akan diterima dan hal-hal yang bersifat keduniaan lainnya,” nasihat KH. Asrori al-Ishaqi—pengasuh Pesantren Al-Fithrah Jl. Kedinding Lor Surabaya.

وَلاَ تَشْتَرُوْا بِأ ٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلاً

Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. (QS al-Baqarah [2] : 41)

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا ِممَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ غَرَضًا مِنَ الدُّنْياَ لمَ ْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَعْنِيْ رِيْحَهَا

Siapa yang mempelajari suatu ilmu agama yang seharusnya ditujukan untuk Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajari itu untuk Allah, hanya untuk mendapat kedudukan atau kekayaan dunia, maka ia tidak akan mendapat bau surga pada hari Kiamat. (HR Abu Daud)
Mukmin penuh manfaat selalu berusaha berkarya, berkreasi dan berinovasi demi sumbangsih kepada kemanusiaan khususnya kejayaan Islam dan kaum muslimin di belahan dunia mana pun (bahkan di masa depan bisa jadi di planet mana pun).

Renungan,
  • Sudahkah kita menemukan/menciptakan alat, software, teori, rumus, jasa atau apa pun yang berguna bagi khalayak ramai? Tidak malukah kita kepada para penemu (ilmuwan/praktisi) di masa lampau yang dengan segala keterbatasan mampu membuat sekian banyak terobosan? Bukankah saat ini fasilitas lebih memadai? Bukankah saat ini teknologi telah mempermudah kita melakukan berbagai hal? Mana hasil karya kita?

    Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Jika ruh sudah terpisah dari jasad, amal jariyah apa yang akan kita tinggalkan? Tak perlulah kita saling lempar tanggung jawab, mari kita tanya diri kita masing-masing.

مَنْ سَنَّ فِى اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِم شَيْئًا
Siapa memberi contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)

Aku begadang untuk mempelajari dan meneliti ilmu pengetahuan,
lebih nikmat bagiku dibandingkan bersenda gurau dan bersenang-senang dengan wanita cantik
Aku bergerak kesana-kemari untuk memecahkan masalah ilmu pengetahuan,
lebih enak dan lebih menarik seleraku dibandingkan hidangan lezat
(ungkapan Az-Zamakhsyari)

Mukmin penuh manfaat tidak menunggu dilihat orang lain baru bertindak, dalam kesendirian pun selalu berupaya memberi manfaat. Selain itu tidak menunggu orang lain 'tuk berbuat kebaikan terlebih dahulu, tapi berupaya mendahului.

Renungan,
  • Bila ada sampah, misalnya bungkus permen di dalam masjid, dengan senang hati kita memungut dan membuangnya di tempat sampah. Namun, jika bungkus permen itu ada di ruang kelas atau kantor, mengapa sering kali kita malas 'tuk mengambilnya dengan dalih sudah ada petugas kebersihan? Apakah kebersihan hanya diperintahkan di dalam masjid? Ataukah kita baru bersemangat melakukannya bila dilihat oleh guru, atasan atau orang yang kita kita segani?

    Mari kita ingat lagi, apakah nasihat bijak—bukan hadits Nabi saw.—yang diajarkan kepada kita seperti ini :


    النَّظَافَةُ فىِ الْمَسْجِدِ مِنَ اْلإِيْمَان

    Kebersihan di dalam masjid itu sebagian dari iman.
    Ataukah :

    النَّظَافَةُ مِنَ اْلإِيْمَانِ

    Kebersihan itu sebagian dari iman.
  • Mengapa kita enggan antri dengan tertib? Mengapa dengan begitu santainya kita melanggar aturan lalu lintas? Bukankah hal itu membuat orang lain harus mengalah terus kepada kita? Bukankah itu berarti kita telah menghalangi jalan orang lain?

    اُنْظُرْ مَا يُؤْذِي النَّاسَ فَاعْزِلْهُ عَنْ طَرِيْقِهِمْ

    Lihatlah sesuatu yang menyakiti manusia, maka singkirkanlah dari jalan mereka. (HR Ahmad)
Mukmin penuh manfaat mendapat lebih banyak ganjaran karena amal yang dilakukan tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tapi juga orang lain.

مَنْ مَشَى فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كاَن َخَيْرًا لَهُ مِنِ اعْتِكَافٍ عَشْرَ سِنِيْنَ
Siapa berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, maka hal itu lebih baik baginya daripada i'tikaf selama sepuluh tahun. (HR Thabrani)

Menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani, hadits tersebut termasuk dha‘if, tapi bukan munkar, matrûk (semi palsu) apalagi mawdhû‘ (palsu). Para ulama berpendapat bahwa hadits dha‘if dengan derajat seperti hadits ini tetap boleh dijadikan pegangan asalkan tidak untuk masalah aqidah dan hukum syariah.
Wallâhu a‘lam.Sebagaimana penjabaran mukmin kuat, deskripsi mukmin penuh manfaat juga begitu banyak. Mari kita tambahkan sesuai spesifikasi teknis kita masing-masing.

Mukmin penuh manfaat . . .

Mukmin penuh manfaat . . .

Mukmin penuh manfaat . . .

Semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan menolong kita sehingga bisa menjadi mukmin kuat dan bermanfaat, amin...
Daftar Pustaka :
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâniy
  • Mushthafa as Siba'i, Dr, “Akhlâqunâ al Ijtimâ‘iyyah (Etika Sosial Islam) – diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al Kattani”, Darus Salam Kairo, Cetakan: I/1998 M – 1418 H
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • http://media.isnet.org/islam/Etc/EtikaSosial.html
Tulisan ini lanjutan dari : Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (1 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, July 31, 2009

Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (1 of 2)

Berat rasanya jemari tangan mengetik posting kali ini. Malu kepada diri sendiri, Rasul saw. dan Ilahi membuat penulis hampir tak ada daya meneruskan ide di benak menjadi aliran kata penguat jiwa.

Kondisi penulis masih jauh sekali dari judul artikel. Penulis belum punya prestasi yang telah diukir, manfaat yang ditebar, ilmu dan pengalaman yang dibagi, apalagi buah karya untuk dinikmati.


Namun, penulis teringat sebuah pengakuan ‘Aidh al-Qarni yang terjemah bebasnya, “Ketika saya hendak bersedih, saya katakan kepada diri sendiri,

‘Bukankah Engkau penulis buku Lâ Tahzan? Lâ Tahzan! Jangan bersedih!’ ”

Meneladani ‘Aidh al-Qarni, penulis berharap coretan ini bisa menjadi pelecut jiwa saat malas mendera, menjadi penghangat tubuh sebelum dingin membuat tulang ngilu, menjadi pembakar semangat bila lelah terlalu cepat meronta, menjadi charger ketika baterai melemah dan menjadi cahaya kala kabut menyelimuti asa.

*******#######*******

Sebagai seorang mukmin (orang beriman), ada pertanyaan yang harus kita renungkan dan jawab, yaitu “Sudahkah kita memantaskan diri sehingga wajar menyandang gelar seorang mukmin? Lalu, mukmin seperti apakah kita?”

Rasulullah Muhammad saw. berpesan agar kita menjadi mukmin kuat.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ

Seorang mukmin kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang mukmin lemah. (HR Muslim)

Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullâh menjelaskan makna “kuat” di kitab Syarah Muslim yang intinya bahwa kita harus kuat di segala bidang yang bernilai ibadah dan dalam menegakkan agama Allah.

Mukmin kuat
, dalam menuntut dan memperdalam ilmu tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh derasnya hujan.

Renungan

  • Bila kita mahasiswa, saat hujan turun begitu deras, apa kita tetap berangkat kuliah tepat waktu? Ataukah ditunda sampai hujan reda dengan dalih telat kuliah termasuk wajar bahkan sebuah kebiasaan? Ataukah lebih parah lagi, kita tidak masuk kuliah dan TA (Titip Absen)?
  • Jika kita hendak menghadiri majelis ta’lim, apa semangat mengaji tetap membara ketika hujan lebat? Ataukah kita segera meraih selimut 'tuk menghangatkan diri di atas spring bed, dengan argumentasi masih ada pengajian lagi minggu/bulan berikutnya?
مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali. (HR Tirmidzi – hadits hasan gharib)

إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti ia mengambil bagian yang banyak. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Mukmin kuat, dalam berbagi ilmu, pengalaman serta kebenaran tak akan susut oleh situasi dan tak akan marah karena keadaan sepele apalagi remeh-temeh.


Renungan
  • Apabila ada orang bertanya atau mendebat kita dengan gaya bahasa yang kurang enak didengar, apakah kita membalas dengan nada pembicaraan sama ataukah tetap santun, ramah dan indah?
  • Asumsikan saja pada hari Senin kita sedang mengajar murid/santri/mahasiswa kita tentang sebuah pelajaran, yaitu istilah perempuan yang tidak boleh dinikahi disebut mahram, bukan muhrim. Muhrim arti sebenarnya adalah orang yang berpakaian ihram, namun telah terjadi salah kaprah di tengah masyarakat kita.

    Esok harinya ada seorang anak didik kita, sebut saja Fulan, yang bertanya lagi perbedaan mahram dan muhrim. Dengan telaten kita menjelaskan ulang.

    Hari pun berganti. Ternyata Fulan masih belum paham juga perbedaan tersebut. Untuk ketiga kali kita menerangkan lagi perbedaan yang dimaksud.

    Pada hari ke-4—hari Kamis—Fulan tetap menanyakan masalah sama karena dia masih kebingungan dengan kedua kata berbahasa Arab tersebut.

    Pertanyaannya, “Apakah kita masih akan tetap menjawab dengan nada merdu dan terasa renyah di indra pendengaran sebagaimana membahasnya pertama kali? Ataukah suara kita sudah naik 1 (satu) oktaf bahkan lebih, serta tak ada kendali nada (pitch control)? ”
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Bukanlah orang kuat itu dengan menang bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah. (Muttafaq ‘alayh)

Peribahasa mengatakan, “Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam”—menghadapi kesukaran (tantangan), yang berusia muda maupun tua hendaklah bersabar.

Mukmin kuat, di bidang kehidupan apa pun yang sedang digeluti, selalu berusaha sekuat tenaga menggapai prestasi setinggi-tingginya.

Renungan
  • Sebagai murid, santri atau mahasiswa, sudahkah prestasi kita, baik intra maupun ekstra kulikuler memuaskan semua pihak? Apakah nilai ujian kita termasuk kategori papan atas? Memang, nilai bukan segala-galanya, namun bukankah salah satu parameter prestasi adalah nilai akademik?
  • Sebagai karyawan, apakah kita senantiasa memelototi kalender untuk menghitung berapa buah tanggal merah 'tuk bersantai? Berapa lama cuti bersama yang bisa dinikmati? Ataukah kita justru mempertanyakan kenapa begitu banyak tanggal merah karena kita jadi tidak produktif?
  • Sebagai entrepreneur (pengusaha), sudahkah kita menyejahterakan karyawan dengan layak bahkan lebih baik lagi dengan niat mencari ridha Allah? Menambah wawasan para pegawai melalui diklat, training atau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi? Memfasilitasi kegiatan-kegiatan keagamaan, misalnya pengajian rutin dan shalat berjamaah? Menganggap karyawan adalah mitra sehingga prinsip saling membutuhkan dan melayani selalu terpatri di dalam dada?
الْفَتَى رَجُلٌ رِجْلُهُ فىِ الثَّرَى وَهِمَّتُهُ فىِ الثُّرَيَّا

Pemuda adalah orang yang kakinya menginjak tanah tapi cita-citanya menyentuh bintang Kartika.

Mukmin kuat, dalam beribadah senantiasa berusaha istiqamah demi meraih ridha Allah, bukan gegap-gempita tepuk tangan serta riuh-rendah pujian manusia yang fana.

Renungan

  • Jika kita blogger, apakah posting kita yang bernilai ibadah senantiasa hadir menyapa dunia secara berkala? Ataukah kita aktif menulis hanya jika sedang mood dan bila banyak komentar indah para pengunjung?
  • “Bila hendak menghadiri pengajian umum, janganlah meninggalkan mengaji kitab yang tiap hari kita lakukan setelah Isya’. Walau cuma 15 menit, mengaji kitab harus tetap dilakukan demi menjaga istiqamah, baru kemudian kita bersama-sama menghadiri pengajian umum PHBI (Peringatan Hari Besar Islam),” pesan Ust. Drs. Damanhuri, ustadz yang mengasuh penulis kala mengaji di kampung halaman.
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُِئلَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ : أَْدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, “Amal apakah yang paling disukai Allah?” Jawab beliau, “Yang paling mudawamah (terus-menerus atau istiqamah) sekalipun sedikit.” (HR Muslim)

Mukmin kuat, meneladani Al-Qawiyy (Yang Maha Kuat) dengan menyadari sepenuhnya bahwa sumber kekuatan adalah Allah SWT. Dengan demikian, kita tak akan merasa diri sebagai orang hebat, brilian, layak dihormati dan sederet sebutan lainnya.

Renungan
  • Seorang arif memberi wejangan, “Jika apa pun kekuatan yang Anda miliki justru men-zhalimi orang lain, maka ingatlah Allah yang telah menganugerahkannya kepada Anda. Ingat pulalah kekuatan Allah terhadap diri Anda.”
أَنَّ الْقُوَّةَ ِللهِ جَمِيْعًا
Sesungguhnya kekuatan itu seluruhnya milik Allah. (QS al-Baqarah [2] : 165)


Begitu banyak deskripsi mukmin kuat yang bisa diuraikan. Mari kita tambahkan sesuai bidang keahlian/ilmu kita masing-masing.

Mukmin kuat, . . .

Mukmin kuat, . . .

Mukmin kuat, . . .


Daftar Pustaka :
  • Aditya Bagus Pratama, “5079 Peribahasa Indonesia”, Pustaka Media, Cetakan II, 2004
  • Ahmad Warson Munawwir, “Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia Terlengkap”, Pustaka Progressif, Edisi Kedua–Cetakan Keempat belas 1997
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâniy
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006

Tulisan ini berlanjut ke : Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (2 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, July 17, 2009

Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (4 of 4)

Marilah kita ingat lagi nasihat junjungan kita bahwa sebagai seorang mukmin, sudah seharusnya kita senantiasa membaca Al-Qur’an. Dari Abu Musa al-Asy‘ari ra., Rasulullah Muhammad saw. mengingatkan kita dalam sebuah hadits,


مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ اْلأُتْرُجَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لاَرِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، ومَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah limau (jeruk), baunya harum dan rasanya lezat. Orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti tamar/kurma, dia tidak berbau sedang rasanya manis. Orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti pohon kemangi, baunya enak sedang rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti labu pahit, dia tidak berbau sedang rasanya pun pahit”
(HR Sab‘ah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Al-Qur’an juga merupakan hidangan (jamuan) dari Allah. Kalau kita dijamu oleh manusia saja kita bergembira, apakah kita tidak bahagia dijamu oleh Allah? Khalifah Ustman bin Affan ra. berkata, “Demi Allah, andaikan hati kita bersih, niscaya ia tidak akan merasa kenyang dengan Al-Qur’an.”

Untuk bisa memahami bahwa Al-Qur’an adalah hidangan dari Allah, maka kita harus senantiasa belajar untuk menertibkan bacaan, memahami, menghayati dan mengamalkannya. Bukankah sudah kita ketahui bersama bahwa membaca Al-Qur’an secara berulang-ulang akan menimbulkan makna dan pemahaman baru? Dengannya, kita bisa menikmati ayat-ayat Al-Qur’an, merasa senang membaca dan mendengarnya.

Ibnu Athaillah menjelaskan, “Siapa dapat merasakan buah amal ibadahnya di dunia, itulah tanda amal ibadahnya diterima di akhirat.” Buah amal ibadah dapat dirasakan manis-lezatnya. Ketika seorang hamba melaksanakan ibadah, maka dapat dirasakan kelezatan dan kenikmatan yang tiada tara. Apabila seorang hamba belum mampu merasakan kelezatan dan manisnya amal ibadah yang ia lakukan, berarti ia belum mengenyam buah dari ibadahnya.

‘Aidh al-Qarni menerangkan, “Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang dapat merasakan manfaat semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan ‘buah’-nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak dan nurani mereka.”

Abul Laits as-Samarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas‘ud ra. Ibnu Mas‘ud berkata,

إِنَّ هٰذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَتَعَلَّمُوْا مَأْدُبَةَ اللهِ مَااسْتَطَعْـتُمْ. إِنَّ هٰذَا الْقُرْآنَ حَبْلُ اللهِ الْمَتِيْنِ وَنُوْرٌ مُبِيْنٌ وَشِفَاءٌ نَافِعٌ وَعِصْمَةٌ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ وَمَنْجَاةٌ لِمَنِ اتَّبَعَهُ لاَيَعْوَجُ فَيُقَوَّمُ وَلاَيَزِيْغُ فَيَسْتَعْـتِبَ وَلاَتَنْقَضِى عَجَائِـبُهُ وَلَمْ يَخْلَقْ عَنْ كَثْرَةِ التِّرْدَادِ أُتْلُوْهُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَأْجُرُكُمْ عَلَى تِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَـنَاتٍ أَمَا إِنِّيْ لاَأَقُوْلُ آلمۤ عَشَرَةٌ وَلـٰـكِنَّ اْلأَلِفَ عَشَرَةٌ وَاللاَّمَ عَشَرَةٌ وَالْمِيْمَ عَشَرَةٌ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini sebagai hidangan (jamuan) Allah, maka pelajarilah hidangan Allah itu sedapat-dapatnya. Sesungguhnya Al-Qur’an ini sebagai tali hubungan kepada Allah yang sangat kukuh, sebagai cahaya yang menerangi, obat penyembuh yang sangat berguna, dapat memelihara siapa yang berpegang padanya, menyelamatkan siapa yang mengikutinya, tidak kuatir berbelok untuk ditegakkan dan tidak akan menyesatkan, tidak akan habis hikmah mutiaranya dan tidak lapuk karena sering diulang-ulang. Bacalah ia, maka Allah akan memberimu pahala untuk tiap huruf sepuluh kebaikan. Ingatlah Aku tidak mengatakan ‘alif lâm mîm’ itu hanya sepuluh kebaikan, tetapi alif sepuluh, lâm sepuluh dan mîm sepuluh.”

Saat ini, banyak sekali buku, kitab atau software untuk mengetahui arti ayat-ayat Al-Qur’an berikut penjelasannya, antara lain :
  • “Al-Qur’an dan Terjemahnya” oleh Lembaga Penyelenggara Penerjemah Kita Suci Al-Qur’an, yang menerjemahkan per ayat.
  • Al-Ibrîz oleh Kyai Bisyri Mustofa – Rembang, menerjemahkan per kata dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf-huruf Arab (istilahnya Arab Pego).
  • “Terjemah Al-Qur’an Secara Lafzhiyah – Penuntun Bagi Yang Belajar” oleh Yayasan Pembinaan Masyarakat Islam (YA SALAM) Al-Hikmah Jakarta.
  • Al-Qur’an digital, software-software Al-Qur’an dan terjemahnya.
  • Situs-situs di internet.
  • Tafsir-tafsir yang ditulis oleh mufassir (ahli tafsir) Indonesia, misalnya Tafsir Al-Misbah karya Prof. M. Quraish Shihab.
  • Tafsir-tafsir terjemahan dari karya ulama-ulama salaf (zaman dulu) maupun khalaf (modern), yang edisi aslinya dalam bahasa Arab; misalnya Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan masih banyak lagi.
Namun demikian, janganlah kita lupa bahwa belajar itu harus dibimbing oleh seorang guru. Setinggi apa pun pendidikan kita, marilah kita serahkan setiap urusan kepada ahlinya. Janganlah hanya dengan membaca terjemah Al-Qur’an, kemudian kita mencoba untuk menafsirkan berdasarkan logika semata. Sebagaimana kita ketahui bersama, setiap ilmu punya tingkatan. Setiap tingkat punya syarat yang harus dipenuhi sebelum mempelajari dan memahaminya.
Akhirnya, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :

اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالْقُرآنِ وَاجْـعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُـدًى وَرَحْمَـةً
Ya Allah, sayangilah kami dengan Al-Qur’an. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami, amin.
Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu
Tulisan lanjutan dari : Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (3 of 4)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#