Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label istiqamah. Show all posts
Showing posts with label istiqamah. Show all posts

Friday, April 29, 2011

Menggapai Istiqamah

Yang pertama kali terlintas di benak penulis ketika jemari hendak menari di atas tuts keyboard yaitu, “Tak berarti penulis telah bisa sepenuhnya istiqamah. Prinsip yang penulis pegang adalah kita mengaji bersama-sama dan sama-sama mengaji. Semoga coretan ini bisa menjadi doa, pembangkit semangat, pelecut asa, cambuk jiwa dan ruh kehidupan bagi kita semua, amin.”

Apa itu istiqamah?

Berdasarkan ilmu Sharaf, lafazh استقامة (istiqâmah) mengikuti pola (wazan):


اِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ – اِسْتِفْعَالاً
اِسْتَقَامَ – يَسْتَقِيْمُ - اِسْتِقَامَةً
Di kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia dijelaskan:

اِسْتَقَامَ: اِعْتَدَلَ وَانْتَصَبَ

Istaqâma artinya menjadi lurus; tegak lurus.

Demikian juga di kamus al-Mu‘jam al-Wasîth:

اسْتَقَامَ( الشئُ): اعتدل واستوى
Istiqâma (asy-syay’u): (Sesuatu) itu menjadi lurus.


Lafazh Istaqâma berfaedah tahawwul (تحوّل) yang bermakna berubah atau pindahnya pelaku (fâ‘il) pada asal kata kerja (fi‘il). Jadi kalau lebih lengkap, arti kalimat istiqâma asy-syay’u adalah sesuatu itu berubah menjadi lurus.


Selain faedah tahawwul, pola (wazan) ini juga bisa mempunyai faedah takalluf (تكلّف) yaitu adanya kesungguhan pelaku (fâ‘il) untuk menghasilkan asal kata kerja (fi‘il). Asal kata kerja lafazh استقام adalah قام (berdiri). Dengan demikian, kita harus bersungguh-sungguh dalam meraih istiqamah, tidak bisa sekedar berucap ingin istiqamah tapi tanpa tindakan nyata ‘tuk mewujudkannya.


Apa langkah-langkah agar bisa istiqamah?

1. Memohon pertolongan Allah
Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandary menerangkan, “Sebagus-bagusnya permohonan yang patut disampaikan kepada Allah adalah semua yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan.”

Jika ada yang patut diminta kepada Allah sebagai hamba, maka yang paling pantas ialah mengharap kepada Allah agar meneguhkan iman dan keyakinan dengan kemantapan hati yang sungguh-sungguh (istiqamah) kepada ajaran Islam dengan persembahan ibadah. Itulah yang paling bagus dan paling bergengsi bagi hamba yang memohon kepada Allah. Permohonan istiqamah dalam Islam itu sudah termasuk kepentingan dunia dan akhirat.

Sangat baik apabila seorang hamba memohon kepada Allah agar bisa senantiasa menaati-Nya, melaksanakan ibadah tanpa halangan, dan agar Allah memudahkan segala yang berkaitan dengan urusan Islam dan umat Islam. Demikian juga memohon kepada Allah agar terlepas dan tidak tergelincir pada perbuatan maksiat dan dosa, serta diberi kekuatan untuk melaksanakan semua ketaatan. Tak lupa memohon agar selalu dalam keadaan dzikir dan senantiasa berada dalam suasana tentram dalam mengingat Allah SWT.

اللَّهُمَّ أَعِـنَّا عَلىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِـبَادَتِكَ
Ya Allah, tolonglah kami dalam mengingat-Mu, bersyukur untuk-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu, amin.

2. ‘Azam
Kemauan seseorang ada beberapa tingkatan, yaitu:
  • Khâthir yaitu kilasan kemauan (ide), belum ada cita-cita kuat.
  • Taraddud yaitu kemauan yang penuh keragu-raguan antara ya atau tidak.
  • Hamm atau himmah yaitu cita-cita atau keinginan kuat tapi indikasinya belum terlihat jelas.
  • ‘Azam yaitu cita-cita atau kemauan teguh disertai tekad baja yang indikasinya terlihat pada tindakan.

Ada juga yang menjelaskan bahwa himmah sebenarnya ada tiga macam, yaitu:
  • Himmah pendek, yaitu himmah yang menimbulkan keinginan kuat dan kemantapan hati.
  • Himmah mutawassithah (sedang), yaitu himmah yang selain menimbulkan keinginan kuat juga menimbulkan usaha dan tindakan hingga akhirnya tuuan tercapai.
  • Himmah sâbiqah (tajam), yaitu kekuatan jiwa manusia yang bisa mewujudkan keinginan tanpa terhalang yang lain.

Jadi, kita harus memiliki keinginan kuat untuk bisa beribadah secara istiqamah—disertai doa—lalu diimplementasikan dalam tataran aplikasi dengan menyusun langkah-langkah strategis guna mewujudkannya.

Sebagai contoh kita ingin bisa istiqamah membaca Al-Qur’an setiap hari, maka kita susun jadwal dan langkah pelaksanaannya sebagai berikut:
  • Kita tetapkan waktu untuk membaca Al-Qur’an satu ayat setiap hari, misal selesai shalat Shubuh. Untuk tahap awal, tidak perlu banyak jumlah ayat yang dibaca karena kita sedang melatih kebiasaan dan jiwa kita.
  • Kita catat sampai ayat berapa yang telah dibaca. Agar tidak tergantung pada kertas dan pulpen, bisa disimpan di handphone.
  • Supaya tetap bisa istiqamah baca Al-Qur’an walau sedang bepergian, saat ini banyak aplikasi/software Al-Qur’an yang bisa diinstall di handphone. Dengan cara ini tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membaca Al-Qur’an karena tidak membaca mushaf.
  • Jangan lupa senantiasa mohon pertolongan Allah agar bisa beribadah kepada-Nya secara istiqamah. Atas rahmat dan pertolongan Allah-lah kita bisa mewujudkan hal itu.
  • Bila suatu hari kita lupa tidak membaca Al-Qur’an setelah Shubuh, lalu saat pukul 10.00 kita ingat, maka seketika itu juga kita berwudhu lalu membaca Al-Qur’an. Bolehkah ditunda pelaksanannya selesai shalat Zhuhur? Jangan, karena latihan istiqamah lebih efektif bila waktu telah ditetapkan. Sekali kita menunda dengan alasan yang mungkin masuk akal, maka kita akan mengajukan ribuan argumentasi untuk melakukan penundaan di hari-hari berikutnya.


Penulis pernah mendengar sebuah pesan motivator bahwa suatu kegiatan yang dilakukan secara rutin selama 9 (sembilan) bulan, maka hal itu akan menjadi kebiasaan kita. Bila sekali saja tidak dilakukan, kita akan merasa ada yang hilang dari diri kita.


3. Mulai dari ibadah yang kita bisa
KH. Asrori al-Ishaqi rahimahullâh—pendiri Pesantren Al-Fithrah Jl. Kedinding Lor Surabaya—pernah memberi nasihat, “Jika kita ingin bisa rutin shalat tahajjud, mulailah dengan menjaga shalat rawatib (qabliyah dan ba’diyah).”

Intinya, kita mulai dari ibadah yang lebih banyak kesempatan melakukannya. Dengan menjaga ibadah-ibadah ini, insya Allah akan memberi energi positif kepada kita untuk melaksanakan ibadah lainnya.



Daftar Pustaka:
  • Ahmad Warson Munawwir, “Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia Terlengkap”, Pustaka Progressif, Edisi Kedua–Cetakan Keempat belas 1997
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • M. Abdul Manaf Hamid, “Pengantar Ilmu Shorof Ishthilahi—Lughowi”, P.P Fathul Mubtadin—Prambon, Nganjuk, Jawa Timur, Edisi Revisi
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, July 31, 2009

Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (1 of 2)

Berat rasanya jemari tangan mengetik posting kali ini. Malu kepada diri sendiri, Rasul saw. dan Ilahi membuat penulis hampir tak ada daya meneruskan ide di benak menjadi aliran kata penguat jiwa.

Kondisi penulis masih jauh sekali dari judul artikel. Penulis belum punya prestasi yang telah diukir, manfaat yang ditebar, ilmu dan pengalaman yang dibagi, apalagi buah karya untuk dinikmati.


Namun, penulis teringat sebuah pengakuan ‘Aidh al-Qarni yang terjemah bebasnya, “Ketika saya hendak bersedih, saya katakan kepada diri sendiri,

‘Bukankah Engkau penulis buku Lâ Tahzan? Lâ Tahzan! Jangan bersedih!’ ”

Meneladani ‘Aidh al-Qarni, penulis berharap coretan ini bisa menjadi pelecut jiwa saat malas mendera, menjadi penghangat tubuh sebelum dingin membuat tulang ngilu, menjadi pembakar semangat bila lelah terlalu cepat meronta, menjadi charger ketika baterai melemah dan menjadi cahaya kala kabut menyelimuti asa.

*******#######*******

Sebagai seorang mukmin (orang beriman), ada pertanyaan yang harus kita renungkan dan jawab, yaitu “Sudahkah kita memantaskan diri sehingga wajar menyandang gelar seorang mukmin? Lalu, mukmin seperti apakah kita?”

Rasulullah Muhammad saw. berpesan agar kita menjadi mukmin kuat.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ

Seorang mukmin kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang mukmin lemah. (HR Muslim)

Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullâh menjelaskan makna “kuat” di kitab Syarah Muslim yang intinya bahwa kita harus kuat di segala bidang yang bernilai ibadah dan dalam menegakkan agama Allah.

Mukmin kuat
, dalam menuntut dan memperdalam ilmu tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh derasnya hujan.

Renungan

  • Bila kita mahasiswa, saat hujan turun begitu deras, apa kita tetap berangkat kuliah tepat waktu? Ataukah ditunda sampai hujan reda dengan dalih telat kuliah termasuk wajar bahkan sebuah kebiasaan? Ataukah lebih parah lagi, kita tidak masuk kuliah dan TA (Titip Absen)?
  • Jika kita hendak menghadiri majelis ta’lim, apa semangat mengaji tetap membara ketika hujan lebat? Ataukah kita segera meraih selimut 'tuk menghangatkan diri di atas spring bed, dengan argumentasi masih ada pengajian lagi minggu/bulan berikutnya?
مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali. (HR Tirmidzi – hadits hasan gharib)

إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti ia mengambil bagian yang banyak. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Mukmin kuat, dalam berbagi ilmu, pengalaman serta kebenaran tak akan susut oleh situasi dan tak akan marah karena keadaan sepele apalagi remeh-temeh.


Renungan
  • Apabila ada orang bertanya atau mendebat kita dengan gaya bahasa yang kurang enak didengar, apakah kita membalas dengan nada pembicaraan sama ataukah tetap santun, ramah dan indah?
  • Asumsikan saja pada hari Senin kita sedang mengajar murid/santri/mahasiswa kita tentang sebuah pelajaran, yaitu istilah perempuan yang tidak boleh dinikahi disebut mahram, bukan muhrim. Muhrim arti sebenarnya adalah orang yang berpakaian ihram, namun telah terjadi salah kaprah di tengah masyarakat kita.

    Esok harinya ada seorang anak didik kita, sebut saja Fulan, yang bertanya lagi perbedaan mahram dan muhrim. Dengan telaten kita menjelaskan ulang.

    Hari pun berganti. Ternyata Fulan masih belum paham juga perbedaan tersebut. Untuk ketiga kali kita menerangkan lagi perbedaan yang dimaksud.

    Pada hari ke-4—hari Kamis—Fulan tetap menanyakan masalah sama karena dia masih kebingungan dengan kedua kata berbahasa Arab tersebut.

    Pertanyaannya, “Apakah kita masih akan tetap menjawab dengan nada merdu dan terasa renyah di indra pendengaran sebagaimana membahasnya pertama kali? Ataukah suara kita sudah naik 1 (satu) oktaf bahkan lebih, serta tak ada kendali nada (pitch control)? ”
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Bukanlah orang kuat itu dengan menang bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah. (Muttafaq ‘alayh)

Peribahasa mengatakan, “Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam”—menghadapi kesukaran (tantangan), yang berusia muda maupun tua hendaklah bersabar.

Mukmin kuat, di bidang kehidupan apa pun yang sedang digeluti, selalu berusaha sekuat tenaga menggapai prestasi setinggi-tingginya.

Renungan
  • Sebagai murid, santri atau mahasiswa, sudahkah prestasi kita, baik intra maupun ekstra kulikuler memuaskan semua pihak? Apakah nilai ujian kita termasuk kategori papan atas? Memang, nilai bukan segala-galanya, namun bukankah salah satu parameter prestasi adalah nilai akademik?
  • Sebagai karyawan, apakah kita senantiasa memelototi kalender untuk menghitung berapa buah tanggal merah 'tuk bersantai? Berapa lama cuti bersama yang bisa dinikmati? Ataukah kita justru mempertanyakan kenapa begitu banyak tanggal merah karena kita jadi tidak produktif?
  • Sebagai entrepreneur (pengusaha), sudahkah kita menyejahterakan karyawan dengan layak bahkan lebih baik lagi dengan niat mencari ridha Allah? Menambah wawasan para pegawai melalui diklat, training atau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi? Memfasilitasi kegiatan-kegiatan keagamaan, misalnya pengajian rutin dan shalat berjamaah? Menganggap karyawan adalah mitra sehingga prinsip saling membutuhkan dan melayani selalu terpatri di dalam dada?
الْفَتَى رَجُلٌ رِجْلُهُ فىِ الثَّرَى وَهِمَّتُهُ فىِ الثُّرَيَّا

Pemuda adalah orang yang kakinya menginjak tanah tapi cita-citanya menyentuh bintang Kartika.

Mukmin kuat, dalam beribadah senantiasa berusaha istiqamah demi meraih ridha Allah, bukan gegap-gempita tepuk tangan serta riuh-rendah pujian manusia yang fana.

Renungan

  • Jika kita blogger, apakah posting kita yang bernilai ibadah senantiasa hadir menyapa dunia secara berkala? Ataukah kita aktif menulis hanya jika sedang mood dan bila banyak komentar indah para pengunjung?
  • “Bila hendak menghadiri pengajian umum, janganlah meninggalkan mengaji kitab yang tiap hari kita lakukan setelah Isya’. Walau cuma 15 menit, mengaji kitab harus tetap dilakukan demi menjaga istiqamah, baru kemudian kita bersama-sama menghadiri pengajian umum PHBI (Peringatan Hari Besar Islam),” pesan Ust. Drs. Damanhuri, ustadz yang mengasuh penulis kala mengaji di kampung halaman.
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُِئلَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ : أَْدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, “Amal apakah yang paling disukai Allah?” Jawab beliau, “Yang paling mudawamah (terus-menerus atau istiqamah) sekalipun sedikit.” (HR Muslim)

Mukmin kuat, meneladani Al-Qawiyy (Yang Maha Kuat) dengan menyadari sepenuhnya bahwa sumber kekuatan adalah Allah SWT. Dengan demikian, kita tak akan merasa diri sebagai orang hebat, brilian, layak dihormati dan sederet sebutan lainnya.

Renungan
  • Seorang arif memberi wejangan, “Jika apa pun kekuatan yang Anda miliki justru men-zhalimi orang lain, maka ingatlah Allah yang telah menganugerahkannya kepada Anda. Ingat pulalah kekuatan Allah terhadap diri Anda.”
أَنَّ الْقُوَّةَ ِللهِ جَمِيْعًا
Sesungguhnya kekuatan itu seluruhnya milik Allah. (QS al-Baqarah [2] : 165)


Begitu banyak deskripsi mukmin kuat yang bisa diuraikan. Mari kita tambahkan sesuai bidang keahlian/ilmu kita masing-masing.

Mukmin kuat, . . .

Mukmin kuat, . . .

Mukmin kuat, . . .


Daftar Pustaka :
  • Aditya Bagus Pratama, “5079 Peribahasa Indonesia”, Pustaka Media, Cetakan II, 2004
  • Ahmad Warson Munawwir, “Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia Terlengkap”, Pustaka Progressif, Edisi Kedua–Cetakan Keempat belas 1997
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâniy
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006

Tulisan ini berlanjut ke : Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (2 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, June 26, 2009

Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (1 of 4)

Misalkan ada seseorang, sebut saja namanya Fulan. Dia suka sekali membersihkan halaman rumah orang lain, hingga mengepel lantai. Lampu-lampu yang ada dibersihkan, dan kalau agak buram segera diganti dengan yang baru. Dia tidak digaji, hanya mendapatkan makan. Jadilah rumah orang lain bersih dan kinclong karena begitu rajinnya si Fulan.

Masalahnya, rumahnya sendiri dibiarkan kotor. Debu-debu yang menempel di lantai, dinding rumah dan tiap perabotan tidak diacuhkannya, sehingga cukup tebal. Kalau di pesantren, rumah si Fulan ini dijuluki “rumah tayammum”, karena debu-debunya begitu banyak sehingga bisa digunakan untuk tayammum. Ah, ada-ada saja memang anak-anak pesantren itu :-). Fulan malas sekali merawat rumahnya. Lampu-lampu dibiarkan kotor; sampai-sampai ketika nyalanya sudah tidak terang, bahkan sangat buram, dia pun malas menggantinya.

Ketika ditanya apa alasan dia tidak bersemangat merawat rumah sendiri, Fulan menjawab, “Kalau aku membersihkan dan mengganti lampu rumah orang lain, aku dapat makan. Nah, jika aku melakukan hal yang sama di rumahku, siapa yang memberi makan aku? Karena tidak ada, lalu buat apa aku repot-repot? Mending aku santai, nonton televisi atau tidur.”

Apa pendapat kita tentang si Fulan? Apakah dia tergolong orang hebat, wajar atau aneh? Mari kita menilainya sendiri-sendiri dan bersifat rahasia, tidak perlu memberi tahu kepada orang lain tentang komentar kita untuk si Fulan yang “luar biasa” (maksudnya di luar kebiasaan) ini, karena bisa jadi kita sama dengan dia.

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an :
وَلـٰكِنْ جَعَلْنٰـهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهِ مَنْ نَشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا

Tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.(QS asy-Syûrâ [42] : 52)

Sahabat Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah memerintahkan kita untuk menerangi rumah kita dengan membaca Al-Qur’an.
نَوِّرُوْا بُيُوْتَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumahmu dengan shalat (sunnah) dan membaca Al-Qur’an. (HR Baihaqi)

Ada nasihat—bukan hadits menurut tahqiq as-Sayyid al-‘Arabiy terhadap kitab Tanbîhul Ghâfilîn karya Imam Abul Laits as-Samarqandi,
ثَلاَثَةٌ هُمُ الْغُرَبَاءُ فِى الدُّنْيَا الْقُرْآنُ فِي جَوْفِ الظَّالِمِ وِالرَّجُلُ الصَّالِحُ فِي قَوْمٍ سُوْءٍ وَالْمُصْحَفُ فِي بَيْتٍ لاَ يَقْرَأُ فِيْهِ

“Tiga macam keanehan (yang asing) di dunia ini, yaitu Al-Qur’an di dalam dada orang zhalim, orang shaleh di tengah kaum jahat dan Al-Qur’an di dalam rumah yang tidak dibaca.”

Membaca Al-Qur’an, baik mengetahui artinya ataupun tidak, termasuk ibadah, amal shaleh dan berpahala.

Membaca Al-Qur’an memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya.

Membaca Al-Qur’an memberi cahaya ke dalam kalbu sehingga terang benderang dan memberi peringatan bagi yang membacanya.

Membaca Al-Qur’an juga memberi cahaya kepada keluarga dan rumah tempat Al-Qur’an dibaca.

Dalam sebuah puisinya, ‘Aidh al-Qarni mengungkapkan sanjungannya untuk Al-Qur’an :

Biarkan diriku menyanjung ayat-ayat-Nya yang bercahaya
Bagai kilau bintang kejora di malam hari
Datang menyusul Kitab Taurat dan membuatnya menghilang
Tercampakkan di zaman perbudakan dan zaman yang akan tiba
Dan Injil pun tidak setara dengannya
Ia bagaikan bayang maya yang hinggap di pelupuk mata dalam mimpi

Mengenai pahala membaca Al-Qur’an, Ali bin Abi Thalib kw. menjelaskan bahwa tiap-tiap orang yang membaca Al-Qur’an dalam shalat, akan mendapat pahala 50 (lima puluh) kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya. Membaca Al-Qur’an di luar shalat dengan berwudhu, pahalanya 25 (dua puluh lima) kebajikan untuk setiap huruf. Sedangkan membaca Al-Qur’an di luar shalat dengan tidak berwudhu, pahalanya 10 (sepuluh) kebajikan.

Rasulullah saw. bersabda :
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ الۤـّمۤ حَرْفٌ وَلَكِنَّ أَقُوْلُ اَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan itu dengan sepuluh kelipatan. Aku tidak mengatakan ‘alif lâm mîm’ satu huruf, tetapi alif satu huruf, lâm satu huruf dan mîm satu huruf.
(HR Tirmidzi)

Allah SWT senantiasa memberikan anugerah kepada kita jika kita senantiasa membaca Al-Qur’an.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.(QS Fâthir [35] : 2)

Membaca Al-Qur’an walaupun satu ayat, asalkan istiqamah tetaplah utama. Nabi Muhammad saw. berpesan bahwa termasuk hal yang utama adalah melakukan amal ibadah yang sedikit, asalkan terus-menerus. Siti Aisyah menceritakan hadits berikut ini :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُِئلَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ : أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
Bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, “Amal apakah yang paling disukai Allah?” Jawab beliau, “Yang paling mudawamah (terus-menerus atau istiqamah) sekalipun sedikit.” (HR Muslim)

Daftar Pustaka :
  • Abul Laits as-Samarqandi, al-Imâm, “Tanbîhul Ghâfilîn—tahqiq as-Sayyid al-‘Arabiy, Maktabah al-Îmân bil-Manshûrah, Cetakan I: 1994/1415 H
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu
Tulisan ini berlanjut ke : Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (2 of 4)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#