Mencari Data di Blog Ini :

Friday, April 29, 2011

Menggapai Istiqamah

Yang pertama kali terlintas di benak penulis ketika jemari hendak menari di atas tuts keyboard yaitu, “Tak berarti penulis telah bisa sepenuhnya istiqamah. Prinsip yang penulis pegang adalah kita mengaji bersama-sama dan sama-sama mengaji. Semoga coretan ini bisa menjadi doa, pembangkit semangat, pelecut asa, cambuk jiwa dan ruh kehidupan bagi kita semua, amin.”

Apa itu istiqamah?

Berdasarkan ilmu Sharaf, lafazh استقامة (istiqâmah) mengikuti pola (wazan):


اِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ – اِسْتِفْعَالاً
اِسْتَقَامَ – يَسْتَقِيْمُ - اِسْتِقَامَةً
Di kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia dijelaskan:

اِسْتَقَامَ: اِعْتَدَلَ وَانْتَصَبَ

Istaqâma artinya menjadi lurus; tegak lurus.

Demikian juga di kamus al-Mu‘jam al-Wasîth:

اسْتَقَامَ( الشئُ): اعتدل واستوى
Istiqâma (asy-syay’u): (Sesuatu) itu menjadi lurus.


Lafazh Istaqâma berfaedah tahawwul (تحوّل) yang bermakna berubah atau pindahnya pelaku (fâ‘il) pada asal kata kerja (fi‘il). Jadi kalau lebih lengkap, arti kalimat istiqâma asy-syay’u adalah sesuatu itu berubah menjadi lurus.


Selain faedah tahawwul, pola (wazan) ini juga bisa mempunyai faedah takalluf (تكلّف) yaitu adanya kesungguhan pelaku (fâ‘il) untuk menghasilkan asal kata kerja (fi‘il). Asal kata kerja lafazh استقام adalah قام (berdiri). Dengan demikian, kita harus bersungguh-sungguh dalam meraih istiqamah, tidak bisa sekedar berucap ingin istiqamah tapi tanpa tindakan nyata ‘tuk mewujudkannya.


Apa langkah-langkah agar bisa istiqamah?

1. Memohon pertolongan Allah
Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandary menerangkan, “Sebagus-bagusnya permohonan yang patut disampaikan kepada Allah adalah semua yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan.”

Jika ada yang patut diminta kepada Allah sebagai hamba, maka yang paling pantas ialah mengharap kepada Allah agar meneguhkan iman dan keyakinan dengan kemantapan hati yang sungguh-sungguh (istiqamah) kepada ajaran Islam dengan persembahan ibadah. Itulah yang paling bagus dan paling bergengsi bagi hamba yang memohon kepada Allah. Permohonan istiqamah dalam Islam itu sudah termasuk kepentingan dunia dan akhirat.

Sangat baik apabila seorang hamba memohon kepada Allah agar bisa senantiasa menaati-Nya, melaksanakan ibadah tanpa halangan, dan agar Allah memudahkan segala yang berkaitan dengan urusan Islam dan umat Islam. Demikian juga memohon kepada Allah agar terlepas dan tidak tergelincir pada perbuatan maksiat dan dosa, serta diberi kekuatan untuk melaksanakan semua ketaatan. Tak lupa memohon agar selalu dalam keadaan dzikir dan senantiasa berada dalam suasana tentram dalam mengingat Allah SWT.

اللَّهُمَّ أَعِـنَّا عَلىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِـبَادَتِكَ
Ya Allah, tolonglah kami dalam mengingat-Mu, bersyukur untuk-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu, amin.

2. ‘Azam
Kemauan seseorang ada beberapa tingkatan, yaitu:
  • Khâthir yaitu kilasan kemauan (ide), belum ada cita-cita kuat.
  • Taraddud yaitu kemauan yang penuh keragu-raguan antara ya atau tidak.
  • Hamm atau himmah yaitu cita-cita atau keinginan kuat tapi indikasinya belum terlihat jelas.
  • ‘Azam yaitu cita-cita atau kemauan teguh disertai tekad baja yang indikasinya terlihat pada tindakan.

Ada juga yang menjelaskan bahwa himmah sebenarnya ada tiga macam, yaitu:
  • Himmah pendek, yaitu himmah yang menimbulkan keinginan kuat dan kemantapan hati.
  • Himmah mutawassithah (sedang), yaitu himmah yang selain menimbulkan keinginan kuat juga menimbulkan usaha dan tindakan hingga akhirnya tuuan tercapai.
  • Himmah sâbiqah (tajam), yaitu kekuatan jiwa manusia yang bisa mewujudkan keinginan tanpa terhalang yang lain.

Jadi, kita harus memiliki keinginan kuat untuk bisa beribadah secara istiqamah—disertai doa—lalu diimplementasikan dalam tataran aplikasi dengan menyusun langkah-langkah strategis guna mewujudkannya.

Sebagai contoh kita ingin bisa istiqamah membaca Al-Qur’an setiap hari, maka kita susun jadwal dan langkah pelaksanaannya sebagai berikut:
  • Kita tetapkan waktu untuk membaca Al-Qur’an satu ayat setiap hari, misal selesai shalat Shubuh. Untuk tahap awal, tidak perlu banyak jumlah ayat yang dibaca karena kita sedang melatih kebiasaan dan jiwa kita.
  • Kita catat sampai ayat berapa yang telah dibaca. Agar tidak tergantung pada kertas dan pulpen, bisa disimpan di handphone.
  • Supaya tetap bisa istiqamah baca Al-Qur’an walau sedang bepergian, saat ini banyak aplikasi/software Al-Qur’an yang bisa diinstall di handphone. Dengan cara ini tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membaca Al-Qur’an karena tidak membaca mushaf.
  • Jangan lupa senantiasa mohon pertolongan Allah agar bisa beribadah kepada-Nya secara istiqamah. Atas rahmat dan pertolongan Allah-lah kita bisa mewujudkan hal itu.
  • Bila suatu hari kita lupa tidak membaca Al-Qur’an setelah Shubuh, lalu saat pukul 10.00 kita ingat, maka seketika itu juga kita berwudhu lalu membaca Al-Qur’an. Bolehkah ditunda pelaksanannya selesai shalat Zhuhur? Jangan, karena latihan istiqamah lebih efektif bila waktu telah ditetapkan. Sekali kita menunda dengan alasan yang mungkin masuk akal, maka kita akan mengajukan ribuan argumentasi untuk melakukan penundaan di hari-hari berikutnya.


Penulis pernah mendengar sebuah pesan motivator bahwa suatu kegiatan yang dilakukan secara rutin selama 9 (sembilan) bulan, maka hal itu akan menjadi kebiasaan kita. Bila sekali saja tidak dilakukan, kita akan merasa ada yang hilang dari diri kita.


3. Mulai dari ibadah yang kita bisa
KH. Asrori al-Ishaqi rahimahullâh—pendiri Pesantren Al-Fithrah Jl. Kedinding Lor Surabaya—pernah memberi nasihat, “Jika kita ingin bisa rutin shalat tahajjud, mulailah dengan menjaga shalat rawatib (qabliyah dan ba’diyah).”

Intinya, kita mulai dari ibadah yang lebih banyak kesempatan melakukannya. Dengan menjaga ibadah-ibadah ini, insya Allah akan memberi energi positif kepada kita untuk melaksanakan ibadah lainnya.



Daftar Pustaka:
  • Ahmad Warson Munawwir, “Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia Terlengkap”, Pustaka Progressif, Edisi Kedua–Cetakan Keempat belas 1997
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • M. Abdul Manaf Hamid, “Pengantar Ilmu Shorof Ishthilahi—Lughowi”, P.P Fathul Mubtadin—Prambon, Nganjuk, Jawa Timur, Edisi Revisi
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

1 comment:

  1. Syukron jazaakallah.
    Izin mengutip tulisannya ya...

    ReplyDelete