Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts

Friday, May 13, 2011

Menulislah, Bagilah Ilmu! (2 of 2)

a. Mengapa lewat tulisan?


Lewat tulisan, serta ditunjang kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), coretan kita bisa dibaca oleh siapa pun di belahan bumi ini, bahkan mungkin suatu saat di luar angkasa. Lewat tulisan, yang kita sampaikan bisa dibaca banyak orang walaupun telah beralih generasi. Bukankah kitab-kitab yang ditulis ulama-ulama zaman dulu masih bisa dipelajari sampai sekarang?

Lewat tulisan, kalau kita sendiri lupa, maka dengan mudah membaca kembali ulasan yang pernah kita torehkan.

Lewat tulisan, bila suatu saat karena bertambahnya ilmu dan pengalaman kita mengetahui tulisan terdahulu ada yang kurang tepat, maka dengan segera bisa ditemukan tulisan tersebut lalu dirubah.

Namun, bagaimana dengan sebuah pesan berbunyi:
اَلْعِلْمُ فِي الصُّدُوْرِ لَيْسَ فِي السُّطُوْرِ
Ilmu itu ada di dada, bukan di tulisan.

Petuah bijak ini bukan melarang kita menulis. Pesan ini bermaksud agar ilmu kita tidak berhenti di buku/tulisan, tapi harus terimplementasikan (meresap ke dalam dada/sanubari) sehingga sudah menjadi perilaku. Pesan ini juga mempunyai pengertian agar kita menguasai betul ilmu yang dipelajari sehingga mampu membahasnya secara mendalam walau tak melihat catatan (bukan berarti tak perlu mencatat). Malah, ada juga yang membalik pesan tersebut menjadi:
اَلْعِلْمُ فِي السُّطُوْرِ لَيْسَ فِي الصُّدُوْرِ
Ilmu itu ada di tulisan, bukan (hanya) di dada (hapalan).

Nasihat ini mengandung maksud bila diterangkan guru, maka tulislah, jangan hanya menghapal uraian guru karena suatu saat bisa lupa.

Bukankah para sahabat diminta Rasulullah saw menulis saat beliau memberi pengajaran Al-Qur’an?

Bukankah dalam penyampaian hadits, Rasulullah saw juga meminta sahabat tertentu menulis?

Bukankah pada zaman Sahabat Abu Bakar ra. telah dimulai upaya pembukuan Al-Qur’an dalam satu mush-haf karena banyaknya sahabat yang hapal Al-Qur’an gugur di jalan Allah?

Bukankah hadits pun akhirnya dibukukan?

Entah apa jadinya bila tafsir Al-Qur’an yang dijelaskan banyak mufassir tidak ditulis.

Entah apa yang terjadi jika fiqh, fatwa ulama dan semua ilmu yang berkaitan dengannya tidak dibukukan.

Entah bagaimana perkembangan dunia kedokteran apabila para penemu di masa lalu tak mau menulis hasil penelitian mereka.

Entah bagaimana kelanjutan ilmu dan teknologi jikalau tak ada yang mau melakukan pendataan.


b. Bagaimana bila tak ada yang membaca tulisan kita?

Tidak mungkin tidak ada yang membaca tulisan kita. Minimal, kita sendirilah yang membacanya :). Apa itu tidak cukup?

Bukankah dengan menulis ilmu kita tak akan berkurang, justru semakin paham?

Bukankah dengan menulis kita juga mendapat tambahan ilmu dan pengalaman baru dalam hal tulis-menulis?

Bukankah yang penting kita sudah berniat ibadah membagi ilmu kepada sesama?

Bukankah setiap amal diganjar dari niatnya?
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya setiap amal tergantung niat dan Sesungguhnya bagi setiap orang apa yang telah menjadi niatnya. (Muttafaq ‘alayh)

Niat yang baik dan tulus saja sudah mendapat pahala, bagaimana pula bila ada yang membaca tulisan kita dan dengan perantaraan tersebut si pembaca menjadi paham serta semakin dekat kepada Allah.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. (HR. Tirmidzi – hadits gharib shahih)

وَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِهُدَاكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaramu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah. (HR Abu Daud)

مَنْ كَتَبَ حَرْفًا مِنَ الْعِلْمِ لِرَجُلٍ فَكَأَنَّمَا تَصَدَّقَ بِدِينَارٍ

Siapa menulis satu huruf dari ilmu untuk seseorang, hal itu seperti bersedekah uang satu dinar. (HR Abu Muslim)


Hadits terakhir bersumber dari Sahabat Anas bin Malik. Walaupun lemah, tapi bisa digunakan untuk keutamaan amal. Demikian menurut al-Laits.


c. Di usia berapakah kita berbagi ilmu lewat tulisan?

Sejak diajari menulis dan mengarang, maka itulah saat kita bisa berbagi ilmu lewat media tulisan.

Di tingkat dasar (SD/MI), umumnya tergantung majalah dinding tempat para siswa/i berkreasi.

Di tingkat menengah (SMP/Tsanawiyah), mulai ada majalah sekolah hasil karya siswa/i yang dikelola OSIS.

Saat ini, media untuk menelurkan ide dalam bentuk tulisan semakin bervariasi. Teknologi telah merambah pelosok negeri. SMS, Chatting, blog, jejaring sosial, website atau apa pun bisa jadi alat/perantara untuk berbagi ilmu apa pun yang bermanfaat.

Akankah kita gunakan kemajuan teknologi hanya untuk bersenang-senang tanpa bisa memberi manfaat kepada orang lain?


Daftar Pustaka:

Tulisan ini lanjutan dari : Menulislah, Bagilah Ilmu! (1 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, May 6, 2011

Menulislah, Bagilah Ilmu! (1 of 2)

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR Thabrani)

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan buku/kitab.” (HR Qudha‘i)
“Ilmu bagaikan burung sedangkan buku adalah sangkarnya.”

“Cara jitu memahami sesuatu adalah dengan mengajarkan sesuatu itu kepada orang lain.”
إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
Sesungguhnya aku diutus menjadi pengajar/pendidik. (HR Darimi dan Ibnu Majah – hadits dha‘if)

Walaupun hadits tersebut dha‘if, tapi Rasulullah saw memang pendidik atau guru bagi para sahabat bahkan keseluruhan ummat Islam karena beliaulah yang mengajar dan membimbing kita menuju kebenaran.

Setiap kita bisa berbagi ilmu walaupun tidak menjadi guru formal yang memang setiap hari mengajar. Apalagi sekarang, teknologi berkembang, kebiasaan pun mengikutinya.

Website, blog, jejaring sosial, mailing list dan SMS adalah media untuk berbagi informasi. Kita bisa memanfaatkan media-media tersebut untuk berbagi ilmu, yang pasti bermanfaat untuk diri kita sendiri maupun sesama.

Sayangnya, seringkali kita hanya suka menulis komentar atau update status. Salahkah? Tidak ada yang salah, asalkan sesuai konvensi dan norma. Namun, mengapa jarang kita gunakan energi untuk menulis hal-hal lain yang lebih bermanfaat?

Menulis itu mudah, terbukti kita bisa menulis komentar atau status.

Menulis itu menyenangkan, terbukti kita sering menulis komentar atau status.

Menulis itu menarik pandangan, terbukti kita suka membaca komentar atau status.

Menulis itu melegakan pikiran karena semua unek-unek telah tertumpahkan.

Menulis sesuatu yang mengandung ilmu/pengetahuan tidak harus menggunakan bahasa kaku dan membosankan.

Seorang Guru Fisika di Sulawesi Barat meminta murid-muridnya membuat laporan praktikum dengan gaya bercerita bak sebuah novel.

Sebuah buku Teknologi Informasi yang pernah penulis baca menggunakan bahasa anak muda yang lagi tren.

Sebuah ebook tentang investasi (keuangan) menggunakan konsep berwisata sehingga terasa ringan dan renyah dibaca.

Para ulama pun banyak yang menulis kitab memakai bait-bait syair (nazham). Dengan demikian isi kitab berupa bait-bait syair, bukan kalimat-kalimat berita/narasi. Berikut ini contoh kitab yang dalam menguraikan pembahasan sang penulis merangkai bait-bait syair:
  1. Nahwu: ‘Imrîthiy (karya Syeikh Syarafuddin Yahya), Alfiyyah (karya Imam Ibnu Malik)
  2. Balaghah: Jauharul Maknûn (karya Syaikh Abdurrahman al-Akhdhori),‘Uqûdul Jumân (karya Imam as-Suyuthi)
  3. Fiqh: Zubad (karya Syeikh Ibnu Ruslan), Al-Farâidul Bahiyyah (karya Sayyid Abu Bakar al-Ahdali al-Yamani asy-Syafi’i), Manzhûmah Bulûghul Marâm (karya Imam Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani)
  4. lmu hadits: Alfiyyah as-Suyûthiy fî ‘Ilmil Hadîts(karya Imam as-Suyuthi), Manzhûmah al-Bayqûniyyah (karya Syaikh Thaha bin Muhammad Al Baiquni)
  5. Qira’ah: Asy-Syâthibiyyah fil Qirâ’ati as-Sab‘i (karya Imam al-Qasim asy-Syathibi)
  6. ‘Ulumul Qur’an: Manzhûmah az-Zamzamy fit Tafsîr (karya Syaikh Abdul ‘Aziz)
  7. Tajwid: Hidâyatush Shibyân fî Tajwîdil Qur’ân (karya Syaikh Sa’id bin Sa’ad an-Nabhan)
  8. Tauhid: ‘Aqîdatul ‘Awâm (karya Syaikh as-Sayyid al-Marzuqiy)
  9. Sirah Nabawi: As-Sîrah an-Nabawiyyah Syi‘ran (karya Habib Umar bin Hafidh)


Penulis pernah berpikir, “Andaikan rumus-rumus Fisika, Kimia, Matematika, gramatika (grammar) Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin dan lainnya diajarkan melalui bait-bait syair seperti kitab Alfiyyah Ibnu Malik, alangkah menyenangkan dan mudah. Betapa hebat para ulama. Beliau-beliau telah memudahkan pengajaran berbagai disiplin ilmu lewat nazham sehingga lebih enak mempelajarinya.”

Daftar Pustaka:
  • Eko P. Pratomo, “Berwisata Ke Dunia Reksa Dana” – Halaman Edukasi Reksa Dana, Ebook
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • http://bataviase.co.id/node/574277, “Guru-Guru Kreatif”

Tulisan ini berlanjut ke : Menulislah, Bagilah Ilmu! (2 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, April 22, 2011

Kita Menganggap Anak Kita Sebagai Apa? (3 of 3)

Di tulisan ini penulis tak akan membahas detail pendidikan anak. Penulis hanya mengulas hal-hal yang terkadang bahkan mungkin sering terlupakan, yaitu:

1. Mengajar anak mengaji, meskipun telah khatam Al-Qur'an.

Alhamdulillâh, saat ini bertebaran TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) atau kadang bernama TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dengan berbagai metode mengaji, misalnya Qira’ati, Qira’ah, Iqra’, al-Barqi, at-Tartil dan al-Bayan.

Dengan metode-metode tersebut, biasanya paling lambat kelas VI, para santri sudah tamat mengaji 30 juz sesuai tajwid, juga pelajaran doa sehari-hari dan shalat. Pertanyaannya, “Ke manakah para santri (anak-anak kita) setelah tamat mengaji di TPQ?”

Kalau sekolah, setelah SD tentu masuk SMP. Sayangnya, jenjang pendidikan mengaji hanya tampak jelas di pesantren. Di luar pesantren? Entahlah. Hal inilah yang membuat banyak santri setelah tamat mengaji di TPQ tidak mengaji lagi, kecuali bagi mereka yang melanjutkan mondok di pesantren.

Praktis, kegiatan-kegiatan mengaji hanya berdasarkan jam pelajaran agama di sekolah, aktivitas OSIS—dalam hal ini SKI (Seksi Kerohanian Islam) atau di beberapa sekolah disebut Rohis—dan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam).

Barangkali kita berkata, “Sudah cukuplah mengaji sampai bisa membaca Al-Qur’an dan khatam. Selanjutnya anak-anak kita biar konsentrasi sekolah, les/kursus dan kegiatan ekstrakulikuler yang lagi trend. Masak semua jadi ustadz!”

Mari kita kembali ke prinsip dasar, “Bagaimana kita mendidik anak tergantung dari bagaimana kita menganggap anak bagi diri kita.”

Semua berpulang ke diri kita sendiri. Kalau kita merasa mengaji itu tidak perlu dengan dalih tidak mungkin semua jadi ustadz, ya itu terserah kita.

Namun, sebaiknya kita baca dan resapi lagi artikel ini mulai dari awal. Perlu kita ingat juga bahwa mengaji bukan untuk menjadi ustadz, kyai, ajengan, buya, tuan guru, syaikh, ulama atau sebutan apa pun. Mengaji untuk memahami agama kita. Dengan demikian, mengaji diperintahkan Rasulullah saw. Adakah kita hendak menolak perintah Allah dan rasul-Nya?

Ada beberapa cara mengajar anak mengaji setelah tamat TPQ, ketika mereka sudah duduk di bangku SMP/SMA, yaitu:

a. Mendatangkan ustadz ke rumah dengan jadwal rutin. Tidak harus yang sudah sarjana, mahasiswa/i cukup. Toh beliau-beliau sudah mengenyam pendidikan pesantren, jadi sudah tahu kurikulum mengaji yang harus diajarkan setelah anak kita khatam Al-Qur’an.

b. Bila rumah kita dekat pesantren, kita bisa menitipkan anak ke pesantren untuk mengaji walau tidak harus mondok (menginap). Jadi, pesantren tidak hanya menerima santri yang mondok, tapi juga masyarakat sekitar yang hendak mengaji, lalu pulang ke rumah masing-masing.

c. Kita ajar sendiri. Tapi, hal ini jarang terjadi karena keadaan, kesibukan kerja, aktivitas organisasi dan berbagai alasan lain.

Bagaimana ketika anak kita kuliah? Masihkah perlu mengaji?

Mengaji tidak dibatasi oleh kegiatan akademik, gelar, kedudukan bahkan usia.
Mengaji menunjukkan keseriusan kita mendalami ajaran agama.
Mengaji termasuk salah satu wujud pengabdian kita kepada Allah.

2. Senantiasa mendoakan anak walaupun kita rasa mereka sudah besar

Terkadang kita lupa mendoakan anak dengan alasan mereka sudah 17 tahun ke atas. Apalagi kalau sudah disibukkan berbagai urusan. “Anak kita kan sudah besar. Sudah mengerti benar dan salah. Mereka bisa menjaga diri sendiri,” argumen kita.

Mari kita pelajari lagi ta‘awwudz.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Mari kita dalami lagi ta‘awwudz. Kepada Siapakah kita berlindung?. Dengan begitu, Siapakah yang melindungi kita?.

Jadi, jangankan anak kita, kita sendiri pun hakekatnya tidak bisa menjaga diri sendiri. Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan. Apalagi, tidak mungkin 24 jam penuh kita bisa senantiasa mengetahui gerak-gerik anak kita. Jika memang demikian adanya, apakah kita masih merasa mendoakan anak tidak perlu dengan dalih anak kita sudah dewasa?

Agar lebih memantapkan hati, mari kita baca dan resapi lagi surah mu‘awwidzatayn, yaitu QS al-Falaq [113] dan QS an-Nâs [114]. Doa orang tua terhadap anak termasuk doa yang manjur/mujarab/dikabulkan Allah.

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ : دُعَاءُ اْلوَالِدِ عَلىَ وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

Tiga doa yang dikabulkan oleh Allah, yaitu doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang dizhalimi dan doa musafir. (HR Baihaqi)


3. Mendidik anak menghormati guru.

Guru, baik guru les, kursus, sekolah, mengaji maupun kuliah termasuk orang tua. Jadi, dosen di kampus atau ustadz yang mengajar mengaji adalah guru. Entah mengapa saat ini sebagian kecil kita menganggap hubungan murid dan guru sebagai transaksi bisnis. Guru penyedia jasa sedangkan murid (dalam hal ini orang tua murid) sebagai pengguna jasa. Orang tua murid membayar, guru dibayar. Selesai.

Sayyidina Ali kw. mengungkapkan betapa agungnya seorang guru sebagaimana tercantum di kitab Ta‘lîm al-Muta‘allim:

أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِيْ حَرْفًا

Aku adalah budak (sahaya) orang yang mengajariku satu huruf.

Al-Ghazali menukil perkataan para ulama yang menyatakan bahwa pendidik merupakan pelita segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya keilmiahannya.

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (HR. Tirmidzi. Hadits hasan gharib shahih)

Di sisi lain, seorang guru juga harus senantiasa introspeksi diri. Ya, sama-sama introspeksi dirilah.

Salah satu contoh menghormati guru yaitu saat lebaran, anak diminta silaturrahim ke rumah guru.

Bukankah sudah seharusnya yang lebih muda mendatangi yang lebih tua?
Bukankah sudah semestinya murid meminta maaf terlebih dahulu kepada guru?

Hanya saja, bila memang keadaan tidak memungkinkan, misalnya karena sang guru mudik sehingga hanya bisa bersua saat sekolah/kuliah/mengaji dimulai, boleh-boleh saja meminta maaf saat bertemu. Namun sebaiknya, tetap bersilaturrahim ke kediaman guru setelah itu.

Wallâhu a‘lam.


Daftar Pustaka:

  • Az-Zarnuji, asy-Syaikh, “Ta‘lîm al-Muta‘allim”
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits

Tulisan ini lanjutan dari : Kita Menganggap Anak Kita Sebagai Apa? (2 of 3)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, April 15, 2011

Kita Menganggap Anak Kita Sebagai Apa? (2 of 3)

3. Anak adalah ladang tempat beramal

Mendidik anak termasuk ibadah. Bila kita mengajari anak shalat, maka ketika ia shalat, ia mendapat pahala, kita mendapat pahala juga. Jika ia mengajar orang lain shalat, maka ketika orang itu shalat, ia mendapat pahala, anak kita mendapat pahala, begitu pula kita. Hal ini berlangsung selamanya (amal jariyah). Keadaan yang sama berlaku pula untuk berbagai macam aktivitas ibadah lainnya.


مَنْ سَنَّ فِى اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Siapa memberi contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)


Mencari nafkah lalu hasilnya untuk anak dan istri, serta diniati demi meraih keridhaan Allah berpahala sangat besar.


إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

Apabila seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya dan dia mengharapkan pahala dengannya maka nafkah tadi teranggap sebagai sedekahnya. (HR Bukhari dan Muslim. Adapun lafazh hadits menurut riwayat Imam Bukhari)



وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى الْلُقْمَة تَجْعَلُهَا فِي فِيِّ امْرَأَتِكَ

Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap keridhaan Allah kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampaipun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu. (HR Muslim)



أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ

Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang dinafkahkan untuk keluarganya, dan dinar yang dibelanjakan oleh seseorang untuk tunggangannya dalam jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dinar yang diinfakkan oleh seseorang untuk teman-temannya di jalan Allah. (HR. Muslim)



دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya dari semua nafkah tersebut adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu. (HR. Muslim)


4. Anak adalah guru kita

Telah dinasihatkan kepada kita,


اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

“Perhatikan apa yang diucapkan, dan jangan melihat siapa yang bicara.”


Jika memang demikian adanya, mengapa kita harus malu belajar kepada anak sendiri? Mengapa kita harus gengsi berguru kepada anak sendiri? Mengapa kita harus enggan menimba ilmu dari anak kita sendiri? Mengapa kita harus ogah-ogahan memetik hikmah dari anak kita sendiri?

Kalimat-kalimat bijak pun telah disampaikan,

“Ambillah ilmu dan hikmah di mana pun berada, walaupun harus memungutnya dari pinggir jalan.”

“Sebuah intan, walaupun keluar dari mulut binatang, tetaplah sebuah intan.”


خُذِ الْحِكْمَةَ وَلَوْ مِنْ فَهْمِ الْبَهَائِمِ

“Ambillah hikmah/ilmu sekalipun keluar dari mulut binatang”


Mungkin kita bertanya, “Iya kalau anak kita sudah berpendidikan tinggi. Bagaimana bila ia belum sekolah? Bagaimana cara memetik pelajaran darinya?”

Mari bersama-sama belajar kepada balita.

Lihatlah balita! Betapa mereka senantiasa ceria tanpa peduli apakah pakaian yang dikenakan baru beli atau bekas pungutan di tempat sampah.

Lihatlah balita! Betapa mereka tak menaruh rasa dendam walau baru saja berselisih paham dengan teman sepermainan.

Lihatlah balita! Betapa mereka segera berdiri dan berlari ketika terjatuh. Bandingkan dengan kita yang setelah terjatuh, lalu meratap, menangis, menyesali keadaan, baru beranjak perlahan-lahan untuk berdiri.

Lihatlah balita! Betapa mereka mau dinasihati siapa pun, berbeda dengan kita yang kadang merasa lebih hebat dari orang lain sehingga tak selayaknya dinasihati.

Lihatlah balita! Wajah-wajah tanpa dosa, sedangkan kita berlumuran noda dan dosa.


كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). (HR Abu Daud, Ahmad, Baihaqi, Bukhari, Ibnu Hibban, Malik, Muslim, Thabrani dan Tirmidzi)


5. Anak bisa menjadi penolong kita, baik di kehidupan ini maupun ketika kita sudah meninggal

Siapa sih yang bisa hidup sendirian di muka bumi ini?
Siapa sih yang tak memerlukan orang lain di kehidupan ini?
Siapa sih yang tidak membutuhkan pertolongan sesama di dunia ini?

Dengan kenyataan ini, anak bisa jadi penolong kita, baik di kehidupan ini maupun ketika kita sudah meninggal dunia.

Mungkin kita berargumen, “Bukankah sudah kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tua? Bukankah itu berarti anak wajib menolong orang tua?”

Memang benar demikian adanya. Namun, itu semua berpulang kepada bagaimana cara kita mendidik anak kita—salah satu penolong kita.

Bukankah telah dikisahkan kepada kita tentang anak durhaka?
Bukankah telah kita saksikan dalam kenyataan hidup bagaimana seorang anak mendebat orang tuanya ketika dinasihati, padahal nyata-nyata sang anaklah yang bersalah?
Bukankah telah kita lihat dalam peristiwa sehari-hari bagaimana seorang anak tega melawan orang tuanya?

Sebagai salah satu bekal dalam menjaga dan mendidik buah hati—salah satu penolong kita, mari kita renungkan lagi sabda Rasulullah saw.


أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ

Muliakanlah anak-anakmu dan perbaguslah budi pekertinya. (HR Ibnu Majah)



إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, yaitu dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)



Daftar Pustaka:


  • I. Solihin, Drs, “Terjemah Nashaihul Ibad (karya Imam Nawawi al-Bantani)”, Pustaka Amani Jakarta, Cetakan ke-3 1427H/2006

  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits

Tulisan ini lanjutan dari : Kita Menganggap Anak Kita Sebagai Apa? (1 of 3)
Tulisan ini berlanjut ke : Kita Menganggap Anak Kita Sebagai Apa? (3 of 3)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#