Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label tarawih. Show all posts
Showing posts with label tarawih. Show all posts

Friday, September 11, 2009

Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (3 of 3)

b. Shalat Tarawih Berpindah-pindah Masjid


Tabiat manusia memang mudah bosan—dan itu wajar—namun harus dicari solusinya, tidak berdiam diri. Barangkali karena setiap hari melaksanakan shalat Tarawih di tempat sama, maka semangat untuk mengerjakannya tidak seperti saat awal Ramadhan. Shalat Tarawih seolah menjadi sebuah ritual dan rutinitas tanpa ruh. Salah satu cara untuk tetap menjaga semangat dalam menjalankan shalat Tarawih dengan baik adalah dengan berpindah-pindah masjid.

Kita bisa melakukan wisata religi dengan pergi ke masjid-masjid lain. Kalau di Surabaya, kita bisa melakukan shalat Tarawih di Masjid Agung Sunan Ampel, Masjid Al-Akbar yang merupakan salah satu masjid terbesar di Indonesia dengan daya tampung 30.000 jamaah, Masjid Al-Falah, Masjid Kemayoran, Masjid Muhammad Cheng Hoo, masjid-masjid kampus atau masjid mana pun, demi mendapatkan suasana dan pengalaman baru.


Lebih mengasyikkan lagi jika kita ikut buka bersama di masjid yang dituju. Kebersamaan dalam menikmati takjil, shalat Maghrib dan makan bersama dengan menu seadanya, sungguh tak terperikan. Betapa kerukunan dan kekompakan yang terjalin bisa menjadi kenangan terindah bagi memori kita. Setelah itu dilanjutkan dengan shalat Isya’ dan Tarawih berjamaah. Selain tujuan tersebut, kita bisa mempelajari keunikan (ciri khas), arsitektur, arti filosofis bangunan, sejarah dan hal-hal lain yang ada di masjid yang sedang kita kunjungi, misalnya ziarah ke makam Sunan Ampel bila kita di Masjid Ampel.

Biasanya, para pelajar dan mahasiswa senang sekali melakukan wisata religi ini. Tujuan utama tetaplah ibadah. Barakah dari ibadahlah yang menyebabkan bisa buka bersama secara gratis, tiap hari pula. Uang saku pun tidak banyak berkurang :-).


c. Shalat Tarawih Hanya Untuk Hari itu


Rasa malas untuk melaksanakan shalat Tarawih, apalagi harus sendirian, biasanya muncul karena adanya anggapan bahwa kemarin kita sudah melaksanakannya, dan esok pun masih ada. Bahkan, sering kita berkata pada diri sendiri, “Tahun depan kan masih ada Tarawih, jadi tidak perlu bersusah-payah. Apalagi saat ini tugas menumpuk.” Dengan persepsi seperti ini, kita telah memperkenankan diri kita untuk membuat berbagai alasan (excuse) supaya tidak shalat Tarawih.


Bila pikiran itu mendera kita, maka solusinya adalah melupakan bahwa kita pernah Tarawih dan masih ada kesempatan lagi esoknya. Anggaplah bahwa kita hanya hidup di hari itu. Anggaplah bahwa hari itu adalah hari di mana kita shalat Tarawih pertama dan/atau terakhir kali, dan esok sudah tidak ada lagi Tarawih. Isilah hari itu dengan kebaikan apa pun yang bisa dilakukan. Dengannya, kita akan mempunyai semangat untuk melaksanakan shalat Tarawih, bagaimana pun kondisinya.

Biasanya, nasihat “Hiduplah hari ini. Lupakan kemarin dan esok”, diberikan oleh seorang motivator untuk orang-orang yang takut akan masa depan dan trauma dengan masa lalunya. Namun, nasihat ini juga bisa digunakan untuk senantiasa memperbaiki ibadah kita dalam keseharian. Kita lupakan bahwa kita pernah beribadah, dan jangan berpikir bahwa kita bisa beribadah esok hari.

‘Aidh al-Qarni berpesan, “Harimu adalah hari ini. Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Pada hari ini pula, sebaiknya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Pada hari inilah, Anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu‘, bacaan Al-Qur’an yang sarat tadabbur (penghayatan), dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.”

Dalam keberagamaan, kita sering mendapat nasihat agar berbuat untuk akhirat seolah-olah esok kita telah tiada.
اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا وَاعْمَلْ ِلآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
Berbuatlah untuk duniamu, seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah engkau mati esok pagi.
Menurut KH. Ali Mustafa Yaqub dan al-Albani, kalimat di atas bukan hadits marfu’ (ucapan Rasulullah shallallâhu ‘alayhi wasallam) dan berstatus dha‘if. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Qutaibah dalam kitab “Gharîb al-Hadîts” dengan sanad mauquf (terhenti pada sahabat). Ibnu Mubarak dalam kitab “Az-Zuhud” juga meriwayatkannya dengan sanad lain yang mauquf dan munqathi’ (apabila di tengah rangkaian sanad ada keterputusan; baik satu tempat atau lebih selama tidak terputus secara berturut-turut pada generasi di bawah tingkatan shahabat).

Saat mengaji di pesantren kyai kami, KH. Asep Saifuddin Chalim menerangkan maksud nasihat ini adalah bila kita mengerjakan sesuatu yang bersifat duniawi—tidak berhubungan dengan akhirat—maka kerjakan sewajarnya saja karena seolah-olah kita hidup selamanya, berarti masih ada hari esok. Namun bila berhubungan dengan akhirat, kita harus bersungguh-sungguh karena seolah-olah esok telah tiada. Hal ini sesuai dengan ayat,

َوَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi  (QS al-Qhashas [28]: 77)

Ayat ini menerangkan agar kita mencari kebahagiaan akhirat, sedangkan untuk urusan dunia dipesan “jangan lupa”. Ini berarti penekanan ada di akhirat atau bisa juga bermakna urusan dunia pun harus untuk bekal di akhirat. Wallâhu a‘lam.

Al-Ghazali menasihatkan agar setiap hari kita meluangkan waktu sesaat—misalnya selesai shalat Subuh—untuk menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa (musyârathah). Pada kondisi itu, katakanlah kepada jiwa,

“Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memperpanjang usiaku dan memberi nikmat.

Seandainya aku diwafatkan oleh-Nya, niscaya aku berharap untuk dikembalikan ke dunia satu hari saja sehingga aku bisa beramal shaleh. Anggaplah wahai jiwa, bahwa engkau telah wafat, kemudian engkau dikembalikan ke dunia lagi, maka jangan sampai engkau menyia-yiakan hari ini karena setiap nafas merupakan mutiara yang sangat berharga.

Ketahuilah wahai jiwa bahwa sehari-semalam adalah dua puluh empat jam, maka bersungguh-sungguhlah pada hari ini untuk mengisi lemarimu. Jangan kau biarkan dia kosong tanpa barang-barang simpanan. Janganlah engkau cenderung kepada kemalasan, kelesuan dan kesantaian sehingga engkau tidak dapat meraih derajat tinggi (‘illiyyîn) yang dapat diraih orang lain, lalu engkau penuh sesal.”

Semoga Allah senantiasa menolong kita untuk bisa mengabdi kepada-Nya, dan memberikan maaf serta ampunan-Nya kepada kita, amin. Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :
َاللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا


Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia. Engkau menyukai sikap pemaaf, maka maafkanlah kami, amin.
Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, September 4, 2009

Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (2 of 3)

Kala kegiatan begitu menumpuk, misalnya belajar ketika ada ujian bagi pelajar atau mahasiswa, kursus atau kuliah sore, kerja lembur, shift sore, tugas di posko, sedang di perjalanan atau yang lain, maka shalat Tarawih sendirian memang terasa begitu berat. Terkadang ada juga yang mengalami kejenuhan karena shalat Tarawih dilakukan setiap hari. Ibarat makanan, hari pertama sangat berselera, tapi setelah beberapa hari, selera pun menurun.


Memang, agama itu mudah, tapi jangan diremehkan. Itulah maksud sebenarnya. Semangat untuk tetap Tarawih harus tetap dipupuk. Apa pun alasannya kita harus berusaha sekuat-kuatnya untuk melaksanakan Tarawih, karena kelak di hari akhir, kita akan dihadapkan kepada diri sendiri guna mempertanggungjawabkan perbuatan di dunia ini.
اِقْرَأْ كِتٰـبَكَ كَفٰى بِنَفْسِكَ ٱلْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْـبًا

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” 
(QS al-Isrâ’ [17] : 14)


Selain itu, mari kita pahami penggalan ayat berikut ini:

لَهَا مَا كَسَـبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَـبَتْ

Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(QS al-Baqarah [2] : 286)

Perbuatan-perbuatan buruk manusia dinyatakan dengan “iktasabat”, sedangkan perbuatan baik dengan “kasabat”. M. Quraish Shihab mengutip ulasan Muhammad Abduh di tafsir “Al-Manâr” menjelaskan bahwa kata “iktasabat” dan semua kata yang berpatron demikian, memberi arti adanya upaya sungguh-sungguh dari pelaku; sedangkan kata “kasabat” berarti dilakukan dengan mudah.
Di buku “Pengantar Ilmu Shorof Ishthilahi—Lughowi” juga diuraikan bahwa salah satu faedah pola (wazan) “ifta‘ala — yafta‘ilu” yaitu menunjukkan arti bertambah bobotnya makna fi‘il. Adapun contoh faedah ini sebagai berikut:


اِكْتَسَبَ زَيْدٌ
Zaid bekerja keras (Zaid bersungguh-sungguh dalam bekerja).

Ini menandakan bahwa fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan, sehingga dapat melakukan kebaikan dengan mudah. Berbeda halnya dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah dan keterpaksaan.
Dari penjelasan di atas, marilah kita bahas hal-hal yang bisa meringankan pikiran kita, sehingga apa pun yang terjadi, kita tetap mempunyai keinginan kuat (‘azam) untuk melaksanakan shalat Tarawih, baik berjamaah maupun sendirian.

a. Pahala Shalat Tarawih Tak Terkira

Tentang ganjaran shalat malam di bulan Ramadhan (Tarawih), Rasulullah Muhammad saw. bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang bangun (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
(Muttafaq ‘alayh)

Sebagaimana kita ketahui bersama dari penjelasan para ulama bahwa di bulan Ramadhan, Allah mencurahkan semua rahmat dan melipatgandakan pahala, jauh melebihi selain Ramadhan. Bahkan, dalam sebuah nasihat (bukan hadits Nabi) dituturkan bahwa tidurnya orang yang sedang berpuasa adalah ibadah. Tentunya hal ini bila dibandingkan dengan melakukan kemaksiatan atau berkata yang tidak bermanfaat, seperti menggunjing.

Dengan adanya keutamaan ini, janganlah kita menganggap bahwa shalat Tarawih “hanyalah” shalat sunnah. Dengan anggapan seperti ini, maka kita sudah memerintahkan otak dan diri kita, bahwa melaksanakannya akan mendapat pahala, dan tidak berdosa jika meninggalkannya. Dengannya, kita akan tenang-tenang saja walau tidak pernah Tarawih. Kita tidak akan merasa kehilangan apalagi menyesal.

Kita harus meyakini bahwa shalat Tarawih bukan sekadar shalat sunnah. Shalat Tarawih nilainya begitu besar, bahkan dalam kitab “An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Îmâniyyah” dijelaskan bahwa pahala shalat sunnah di bulan Ramadhan sama dengan shalat fardhu di luar Ramadhan. Adapun shalat wajib di bulan Ramadhan setara dengan tujuh puluh shalat fardhu selain Ramadhan. Betapa agung karunia Allah di bulan mulia ini, bulan Ramadhan.

Dengan keyakinan tersebut, maka kita akan bersemangat dalam menjalankan Tarawih, meskipun badan lelah setelah bertugas, waktu terbatas dan mengerjakannya pun harus sendirian. Ini juga berarti, kita telah menabung dengan nilai yang sangat besar untuk kehidupan di akhirat nanti. Mengabaikan Ramadhan berarti menyia-nyiakan masa depan. Bukankah kita akan menanamkan modal di tempat teraman dengan hasil investasi berlipat ganda? Ramadhan adalah investasi teraman dengan hasil luar biasa, bahkan hanya Allah Yang Maha Tahu tentang besar balasan yang diberikan kepada kita. Dan, shalat Tarawih adalah salah satu jenis investasinya, laksana saham yang tak akan membuat kita rugi.

‘Aidh al-Qarni berkata, “Jika seorang hamba dikaruniai semangat besar, maka dia akan berjalan di atas jalan keutamaan dan akan menaiki tangga derajat yang tinggi. Dan, itu adalah salah satu ciri Islam.”

Semangat adalah pusat penggerak yang membentuk kepribadian dan mengawasi organ-organ tubuh.

Semangat adalah bahan bakar jiwa dan kekuatan berkobar-kobar, yang akan menggerakkan pemiliknya untuk melompat cukup tinggi dan memburu nilai-nilai kemuliaan.

Semangat besar akan mendatangkan—dengan izin Allah—kebaikan tak terhingga. Dengan begitu kita bisa naik pada tangga kesempurnaan, urat nadi kita teraliri darah ksatria, dan kita terdorong ke wilayah ilmu dan amal.

Semangat besar membuat kita berdiri di semua pintu kemuliaan dan terlibat dalam perburuan bersama mereka yang juga memburu nilai-nilai keutamaan.

Semangat besar membuat kita tidak pernah puas dengan tingkatan rendah, tidak pernah berhenti meski telah sampai batas dan tidak pernah puas dengan yang sedikit.

Misalnya ada seorang pengusaha berkata kepada para karyawannya, “Bulan ini adalah bulan kelahiran saya. Saya ingin memberi bonus besar-besaran kepada Anda semua. Saya tahu uang transport Anda setiap hari sebesar Rp 33.000,-. Sedangkan untuk makan siang sudah tersedia di kantin. Khusus bulan ini, siapa yang masuk kantor setiap hari—tidak ada ijin—maka saya akan memberinya bonus 700 kali uang transport setiap hari, bahkan lebih bila dia dinilai baik. Di akhir bulan, saya bayar dia sebesar 1000 kali gaji bulanan yang diterima selama ini.”

Jika kita adalah karyawan di perusahaan tersebut, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita tidak terpengaruh dengan bonus itu? Mungkin ada di antara teman kita berkata, “Ah, santai saja. Toh, saya tetap dapat uang transport setiap hari. Walaupun nilainya biasa-biasa saja, tidak apa-apa. Cukuplah uang harian seperti yang saya terima di luar bulan ini. Gaji pun cukup seperti biasanya. Tak perlu berusaha keras untuk masuk terus dan bekerja dengan lebih baik di bulan ini.”

Apa pendapat kita tentang teman kita tadi? Setujukah kita dengannya, dan kita pun akan berbuat yang sama? Ataukah dengan semangat membara kita rajin masuk dan memperbaiki kinerja, demi mendapatkan bonus dan masa depan yang lebih baik?

Abu Hamid al-Ghazali menyatakan,

“Apabila seseorang sudah tidak memiliki perhatian terhadap suatu perkara, ia akan melihat perkara itu besar dan caranya sangat sulit. Akan tetapi, jika ia memiliki perhatian besar, semangat tinggi dan kemauan yang kuat pula, maka ia akan menemukan berbagai jalan yang dapat ditempuh untuk sampai kepada tujuannya.

Bahkan, dengan kemauan kuat dan kemampuan tinggi, ia akan dapat menangkap burung yang terbang di udara, mendapatkan ikan yang berenang di dasar laut, mengeluarkan emas dan perak dari dasar gunung, berburu binatang liar di hutan atau padang pasir, menjinakkan binatang buas, menangkap ular berbisa dan mengambil bisa dari mulutnya, membuat sutra, menghitung jarak antar galaksi, melatih kuda untuk ditunggangi, anjing untuk berburu, elang untuk menangkap burung dan lain-lain.

Semua itu dapat dilakukan bila seseorang memiliki kemauan kuat, semangat tinggi dan kemampuan memadai.”


Daftar Pustaka :
  • Abdullah Ba‘alawi Al-Haddad, asy-Syaikh, “An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Îmâniyyah”
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâniy
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
Tulisan ini lanjutan dari : Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (1 of 3)
Tulisan ini berlanjut ke : Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (3 of 3)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, August 28, 2009

Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (1 of 3)

Seperti kita pahami bahwa di bulan Ramadhan, kita disunnahkan melaksanakan shalat Tarawih pada malam hari. Jumlah rakaat shalat Tarawih ada empat pendapat, yaitu 8 (delapan), 10 (sepuluh), 20 (dua puluh) dan 36 (tiga puluh enam).


Para muballigh kita memang jarang menceritakan shalat Tarawih dengan 10 atau 36 rakaat. Adapun bilangan shalat witirnya sama, yaitu 3 (tiga) rakaat. Semuanya baik, jadi tidak perlu saling menyalahkan. Yang lebih perlu diperhatikan adalah yang tidak melaksanakan shalat Tarawih. Di posting ini, penulis menekankan pada hal yang berhubungan dengan introspeksi diri, yaitu perasaan bahwa shalat Tarawih semakin hari semakin berat.


Sebagai pendahuluan, mari kita perhatikan pertanyaan dan pernyataan yang sering kita dengar tentang shalat Tarawih. Pertanyaan yang diajukan adalah, “Mengapa kian hari, shaf shalat Tarawih di masjid kian maju? Bukankah itu berarti bahwa yang melaksanakannya kian sedikit?”


Biasanya jawaban pertanyaan tersebut adalah, “Karena orang lebih sibuk belanja untuk keperluan lebaran. Dengan begitu, pusat perbelanjaan, super market, mall dan plasa penuh, sedangkan isi masjid berkurang.” Menurut penulis, jawaban ini tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak keliru.


Jawaban kedua yang disampaikan oleh para ustadz lebih diplomatis, “Ibarat lomba, maka kian hari kian berkurang pesertanya. Itu wajar. Siapa bertahan sampai garis akhir, dialah pemenangnya.”


Sekarang mari kita jawab pertanyaan di atas dengan lebih lengkap. Mengapa barisan shalat Tarawih di masjid kian berkurang?

  • Para pelajar dan mahasiswa biasanya libur di awal puasa. Setelah itu masuk seperti biasa. Bagi pelajar yang ikut kursus sore hari dan mahasiswa yang mengambil kuliah sore, tentu tidak bisa mengikuti shalat Tarawih di masjid karena harus kursus atau kuliah.

  • Pegawai pabrik bagian produksi umumnya bergantian shift. Giliran kerja shift sore (shift II) yaitu pukul 14.00–22.00 atau 15.00–23.00. Bahkan ada juga yang long shift, yaitu pukul 19.00–07.00. Sedangkan di restoran, mall atau plasa, shift sore lazimnya pukul 13.00–22.00. Dengannya, mereka tidak akan bisa ke masjid ketika kewajiban ini memanggil.

  • Beberapa sekolah, kampus dan organisasi kepemudaan mengadakan Pesantren Kilat selama beberapa hari di bulan Ramadhan. Ini artinya para peserta, panitia dan pembina akan shalat Tarawih di tempat kegiatan.

  • Sebagian perusahaan atau instansi mengadakan buka puasa bersama, rata-rata hanya sekali selama puasa. Setelah itu mereka juga shalat Isya’ dan Tarawih berjamaah. Bukankah kegiatan ini tetap mengurangi barisan shaf di masjid?

  • Perempuan yang sudah baligh tentunya ada masa libur dalam sebulan dari beberapa macam aktivitas ibadah, salah satunya adalah shalat.

  • Mendekati hari raya, pusat perbelanjaan memang lebih banyak dikunjungi orang, terutama umat Islam. Mengapa?

    Berdasarkan Peraturan Pemerintah, THR (Tunjangan Hari Raya) minimal dibagikan seminggu sebelum lebaran. Misalnya hari raya jatuh pada hari Selasa. Itu berarti, THR minimal dibagikan hari Selasa sebelumnya. Para pegawai tentunya tidak bisa shopping di siang hari karena harus bekerja. Kalau dipilih hari Sabtu atau Minggu, tentu sudah sangat dekat dengan lebaran, apalagi mereka harus mudik ke kampung halaman. Inilah yang menyebabkan sebagian dari kita berbelanja di sore hari, yang berarti meninggalkan shalat Tarawih di masjid.

    Menurut penulis, sebagai solusi masalah ini, sebaiknya kita menabung dalam masa satu tahun sebelum lebaran. Dengan demikian, kita tidak hanya mengandalkan THR untuk belanja lebaran. Kita bisa belanja di siang hari pada hari libur, sehingga tetap bisa shalat Tarawih berjamaah. Bagi para pekerja dengan gaji setara UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten), mungkin akan terasa berat. Namun, bukankah bila niat sudah bulat, akan ada saja jalannya? Bukankah Allah Maha Membantu hamba-Nya yang ingin berbuat kebaikan? Sebuah pepatah Arab berbunyi :

    مَنْ جَدَّ وَجَدَ

    Siapa bersungguh-sungguh, dia menemukan (berhasil).

    Orang bule berkata, “There is a will, there is a way”, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

  • Mulai hari H-7, kebanyakan orang sibuk mengurusi mudik ke daerah asal. Bagi yang mudik pada malam hari, ada yang mudik setelah Tarawih, namun ada juga yang berangkat setelah buka puasa. Dengan demikian, mereka tengah dalam perjalanan ketika shalat Tarawih didirikan.

  • Saat ini banyak didirikan posko mudik, ada juga yang beroperasi 24 jam. Para petugas posko, baik dari jajaran TNI/Polri, instansi Pemerintah atau swasta, tentunya sedang bertugas ketika para jamaah di masjid melaksanakan shalat Tarawih.

  • Bagi yang mudik dan sudah sampai di kampung halaman, mereka akan shalat Tarawih di daerah masing-masing. Insyâ Allah. Hal ini berarti masjid di kampung halaman semakin ramai, sementara di daerah yang ditinggalkan semakin sepi.

Pertanyaan berikutnya adalah, “Dengan berlalunya hari, mengapa shalat Tarawih terasa semakin berat?”

Dalam pertanyaan tersebut secara sadar atau tidak, tersirat sebuah maksud bahwa semakin hari kita semakin mudah meninggalkan Tarawih, tanpa rasa penyesalan. Sebenarnya, berat atau tidaknya sesuatu bagi setiap pribadi, diri kita masing-masinglah yang mengetahui. Namun, kadang kita mencoba memanipulasi, seharusnya tidak berat tapi dibuat berat. Alasannya klasik, berdalih bahwa agama itu mudah—tidak sulit—jangan dipersulit. Jadi, kalau tidak sempat shalat Tarawih, ya tidak perlu, toh hukumnya sunnah saja.


Daftar Pustaka :

  • Manshur Ali Nashif, asy-Syaikh, “Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah saw. (At-Tâju al-Jâmi‘u lil-Islâmi fî Ahâdîtsi ar-Rasûli)”, CV. Sinar Baru, Cetakan pertama : 1993

Tulisan ini berlanjut ke : Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (2 of 3)


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#