Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label logika. Show all posts
Showing posts with label logika. Show all posts

Friday, July 23, 2010

Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (5 of 12)

Berikut ini ada sebuah pertanyaan sederhana untuk menunjukkan bahwa pengetahuan tentang hukum alam berbeda-beda dan bertingkat-tingkat untuk setiap orang. Bisa juga terjadi, sebenarnya sudah tahu tentang sebuah hukum alam, tapi implementasinya kurang luas. Sebuah hukum alam pada dasarnya menjelaskan sebuah kasus inti, dan bisa diterapkan untuk banyak kasus yang serupa (pengembangan kasus utama). Pengetahuan dan pengalaman masing-masing oranglah yang membedakan kualitas pemahaman terhadap hukum alam tersebut.


Pertanyaan ini penulis ambil dari buku yang berjudul “Kalo Einstein Lagi Cukuran, Ngobrolin Apa Ya?”, terjemahan buku “What Einstein Told His Barber – More Scientific Answer to Everyday Questions”. Buku tersebut ditulis oleh Robert L. Wolke, guru besar kimia emeritus di University of Pittsburgh, Pennsylvania—Amerika Serikat.


Pertanyaannya adalah, “Saya tinggal di Miami, Florida sedangkan saudara kembar saya tinggal di Tucson, Arizona. Pada suatu hari, lewat telepon saya katakan padanya bahwa suhu di Miami 80 derajat Fahrenheit (26 derajat Celsius). Lalu ia dengan bercanda mengatakan bahwa di Tucson dua kali lebih panas. Andaikata sungguh demikian, berapakah temperatur di Tucson? Apakah 160 derajat F (71 derajatC)?”


Sebagai catatan, di Amerika memang digunakan skala Fahrenheit, sedangkan di Indonesia menggunakan Celsius. Adapun rumus konversi temperatur yang umum kita kenal yaitu: derajat C = (derajat F-32) / 1,8. Prof. Robert L. Wolke memberikan rumus konversi yang lebih mudah dihapal, yaitu:


Untuk mengubah Celsius ke Fahrenheit, tambahkan 40, kalikan dengan 1,8; kemudian kurangi dengan 40.


Untuk mengubah Fahrenheit ke Celsius, tambahkan 40, bagi dengan 1,8; kemudian kurangi dengan 40.


Sebelum melihat jawaban permasalahan di atas, marilah kita berpikir sejenak, mengerahkan kemampuan logika kita. Mari kita google (mencari sampai ke sub folder paling bawah) semua ilmu dan pengalaman tentang hukum alam di database yang ada di isi kepala kita. Barangkali semuanya sudah didata dengan baik, laksana sebuah database perbankan—yang menggunakan software database server, misalnya Microsoft SQL Server, MySQL, IBM/DB2, Informix, Oracle Database, PostgreSQL atau Sybase. Sedangkan bahasa pemrograman untuk mencarinya juga sudah canggih, yaitu Java, VB.NET, C#.NET, C++, Delphi, Power Builder, Perl, PHP with AJAX, Phyton, bahkan Ruby on Rail.


. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .

Jawabannya bukan 160 derajat Fahrenheit (71 derajat Celsius). Hal ini bukan karena 160 derajat F terlalu panas; bahkan sebaliknya, tidak cukup panas. Temperatur yang “dua kali lebih panas” adalah 621 derajat F (sekitar 327 derajat C). Perlu diingat lagi bahwa di kasus ini sudut pandangnya adalah derajat Fahrenheit, baru kemudian dikonversi menjadi Celsius.


Ceritanya sebagai berikut.


Pertama, kita harus menyadari bahwa panas dan temperatur adalah dua makhluk berbeda. Coba kita ulang kalimat berikut ini, “Panas adalah energi, sedangkan temperatur adalah cara kita mengatakan kepada orang lain tentang seberapa padat konsentrasi panas dalam sebuah benda.”


Mari kita pelajari panas terlebih dahulu.


Jumlah energi panas dalam suatu benda dapat dihitung dalam kalori, sama seperti kita menghitung donat. Kalori adalah satuan untuk mengukur banyak atau kuantitas energi. Kita pasti berpendapat bahwa donat besar memiliki kalori lebih banyak daripada donat kecil, bukan? Baiklah. Ini sama dengan kandungan energi pada benda lain. Seliter air yang sedang mendidih memiliki energi panas dua kali lebih banyak dibanding setengah liter air mendidih, walaupun temperatur keduanya sama-sama 100 derajat C.


Sebuah contoh lain, energi panas dalam bak mandi yang penuh dengan air hangat jauh lebih banyak dibanding dalam segelas kecil berisi air dari bak mandi yang sama, semata-mata karena jumlah molekul air panas dalam bak mandi lebih banyak. Pendek kata, makin banyak zat yang kita miliki, makin banyak pula energi panas yang dikandungnya.


Masalah yang dihadapi saudara kembar tadi, entah disadari atau tidak, adalah membayangkan berapa banyak panas sesungguhnya yang terdapat di udara luar rumahnya, mungkin dalam satuan meter kubik (m^3). Selanjutnya jika panas di situ sungguh 2 kali lebih banyak (diukur dalam m^3) dibanding yang terdapat di Miami, barulah ia dapat mengatakan bahwa udara di Tucson “dua kali lebih panas”.


Bagaimana cara kita menentukan jumlah panas dalam sebuah benda? Mengukur temperaturnya tidak menghasilkan yang kita cari, sebab langkah ini tidak memperhitungkan besar benda yang dimaksud. Sebagaimana kita ketahui ketika bicara soal bak mandi, sebuah benda besar dengan panas berlimpah dapat memiliki temperatur sama dengan sebuah benda kecil dengan panas jauh lebih sedikit.


Terlebih lagi, temperatur—entah diungkapkan dengan Fahrenheit atau Celsius—tidak lebih dari angka-angka sembarang yang ditemukan dua orang yang kemudian dikenal lewat sistem pengukuran temperatur mereka. Keduanya semata-mata hanya label-label yang nyaman untuk dibicarakan—angka-angka yang disepakati oleh kebanyakan orang, atau diperlakukan seperti sebuah fatwa, “Manakala esmu meleleh, sebutlah temperaturnya 32 derajat F atau 0 derajat C. Dan, ketika airmu mendidih, sebutlah itu 212 derajat F atau 100 derajat C.” Jelas bahwa fatwa ini keluar dari mulut manusia, yaitu dari Eyang Gabriel Fahrenheit dan Eyang Anders Celsius.


Jumlah (banyaknya) panas yang terkandung dalam sebuah benda tidak dapat disebut dengan angka-angka sembarangan. Kita memerlukan sebuah cara yang mutlak untuk mengekspresikan kandungan panas setiap benda.


Permasalahan pokoknya adalah pada skala temperatur mana pun yang lazim kita pakai, temperatur 0 (nol) tidak mengandung arti bahwa kandungan panasnya 0 (nol). 0 derajat C misalnya, hanyalah temperatur ketika es meleleh. Apakah itu berarti tidak ada benda yang bisa lebih dingin daripada es yang meleleh? Tentu saja tidak.


Atau kita ambil pola pikir lain, “Bagaimana orang dapat menggunakan skala untuk mengukur sesuatu jika 0 (nol) di situ tidak sungguh-sungguh berarti nol?” Bayangkan meteran dengan tanda “NOL” di tengah, bukan di ujung sebelah kiri. Kita bisa bingung dibuatnya.


Maka jika kita ingin dapat mengukur banyak panas dalam sebuah benda, atau dalam hal ini di udara, kita harus mempunyai skala pengukuran dengan nol yang betul-betul berarti ketiadaan panas sama sekali. Ah, untung ada Tumenggung Kelvin, maksudnya, Lord Kelvin, seorang bangsawan Inggris yang juga ilmuwan (1824-1907). Nama panjangnya adalah William Thomson Kelvin, dan gelar kebangsawanannya Baron.


Kelvin menetapkan sebuah skala temperatur yang dimulai pada kondisi “tanpa panas sama sekali”—temperatur 0 (nol) mutlak, ketika segala sesuatu berada dalam keadaan sedingin-dinginnya, “NOL mutlak”. Selanjutnya ia meminjam ukuran derajat Uwak Celsius dan mulai menghitung ke atas dari situ. Apabila kita melakukannya, temperatur air membeku, 0 derajat C, ternyata sama dengan 273 derajat di atas 0 (nol) mutlak, sedangkan temperatur air mendidih (100 derajat C) sama dengan 373 derajat di atas 0 (nol) mutlak. Temperatur tubuh manusia (37 derajat C) ternyata adalah 310 derajat derajat pada skala mutlak. (Katakan ini kepada dokter kita ketika ia menanyakan suhu tubuh kita). Kita dapat melihat bahwa temperatur mutlak, yang diukur dalam Kelvin demi menghormati Lord Kelvin, adalah temperatur Celsius ditambah 273.


Sekarang kita siap untuk menjawab teka-teki saudara kembar tadi. Jika udara di Tucson mengandung panas dua kali lebih banyak per m^3 dibanding udara Miami, maka yang harus kita gandakan adalah temperatur mutlak udara di Miami. Pertama, karena orang Amerika terbiasa memakai skala Fahrenheit, maka kita harus mengubah 80 derajat F menjadi Celsius, kita mendapatkan 27 derajat C. Kalau kita tambahkan dengan 273, maka kita mendapatkan 300 Kelvin, yang tidak lain adalah ukuran sesungguhnya kandungan panas di udara.


Kalau kita gandakan untuk mendapatkan panas dua kali lipat, kita mendapatkan 600 Kelvin, yang setelah dikonversi menjadi 327 derajat C atau 621 derajat F. Dalam hal ini pastilah ada salah komunikasi. Yang dimaksud saudara kita di Tucson tentunya adalah bahwa temperatur di sana terasa dua kali lipat temperatur di Miami.


Dari pelajaran di atas, kita disadarkan akan keterbatasan logika kita dalam memahami sebuah peristiwa alam. Kita pun jadi sadar bahwa pengetahuan tentang sunnatullah bertingkat-tingkat, ada yang sudah tahu dan ada yang belum; ada yang mengerti dengan baik, namun ada juga yang sekadar tahu; dan ada yang sudah ditemukan, juga ada yang belum.


Daftar Pustaka :

  • Robert L. Wolke, Prof, “Kalo Einstein Lagi Cukuran Ngobrolin Apa Ya? (What Einstein Told His Barber – More Scientific Answer to Everyday Questions)”, PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Keempat : Agustus 2004


Tulisan ini lanjutan dari : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (4 of 12)
Tulisan ini berlanjut ke : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (6 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, July 16, 2010

Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (4 of 12)

Kalau kita hanya mengandalkan kemampuan logika, mengingkari karamah atau mukjizat dan merasa mengerti betul tentang sunnatullah; mari kita tanyakan sebuah peristiwa kepada logika kita, “Bagaimana mungkin Siti Maryam melahirkan Nabi Isa as., sedangkan beliau belum terjamah oleh laki-laki? Bagaimana pula Nabi Isa as. dapat berbicara ketika masih bayi?”


Ia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”


Maryam berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”


Jibril berkata, “Demikianlah. Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannnya suatu tanda bagi manusiadan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan’.”


Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

(QS Maryam [19]: 19-22)

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.


Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina!”


Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”


Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.


dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;


dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.


Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku (akan) meninggal dan pada hari aku (akan) dibangkitkan hidup kembali.”


Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.


Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah,” maka jadilah ia.


Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.


(QS Maryam [19]: 27-36)


Terhadap kisah tersebut, apa kata logika kita? Apakah logika kita mengatakan bahwa semua kisah itu mengada-ada, karena tidak sesuai dengan sunnatullah yang kita ketahui?


Perlu kita ingat lagi bahwa iman harus terlebih dulu ada. Janganlah hanya karena logika kita belum bisa merasionalisasi suatu kejadian, kemudian kita menghakimi dan memvonis secara sepihak. Bukankah logika hanya akan memproses sesuatu sesuai informasi, ilmu, pengalaman dan sudut pandang yang kita miliki? Apakah kita merasa telah mempelajari semua disiplin ilmu, mempunyai pengalaman yang sangat lengkap dan sudut pandang yang menyeluruh seperti lingkaran (360 derajat, integral holistic), bukan parsial?


Kita andaikan saja saat ini bukan zaman modern. Sampai hari ini belum ditemukan listrik oleh Thomas Alfa Edision, telepon oleh Alexander Graham Bell, gelombang elektromagnetik oleh Heinrich Rudolf Hertz, dan radio oleh Guglielmo Marconi; dan keempat orang itu hidup pada masa sekarang. Minyak bumi juga belum ditemukan. Dalam kehidupan seluruh umat manusia di bumi, kita masih diterangi oleh cahaya api dari kayu bakar, sesuai dengan ayat Al-Qur’an, “yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu (pohon) yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu” (QS Yâsîn [36]: 80). Bila kita berbicara, suara kita bisa didengar oleh lawan bicara dalam jarak dekat. Kalaupun berteriak, tidak lebih dari 415 meter, suara kita sudah hilang ditelan angin.


Apa yang akan kita katakan pada mereka, seandainya Bell, Hertz dan Marconi memberi tahu kita bahwa suara kita bisa didengar oleh orang yang berada di jarak berkilo-kilo meter jauhnya? Bagaimana pendapat kita jika Edison mengumumkan bahwa sebuah benda bisa mengeluarkan cahaya sangat terang sehingga bisa menerangi rumah, bahkan bila diatur sedemikian rupa bisa menerangi dunia? Padahal semua itu tidak ada di dalam Al-Qur’an—hadits—atsar (perkataan sahabat/tabi‘in), menyimpang dari kondisi masyarakat internasional (khâriq al-‘âdat) dan tidak terpikir oleh nalar kita, bahkan nalar semua orang?


Apakah kita akan mengatakan bahwa mereka telah tersesat, melanggar sunnatullah, melakukan syirik, khurafat, klenik, tahayul, membual, bahkan tidak menggunakan akal sehat? Apakah semua itu akan kita lakukan hanya karena logika kita belum mampu untuk mencernanya? Ataukah karena kita merasa bahwa kitalah yang paling mengerti kandungan Al-Qur’an serta hadits tentang hidup dan kehidupan? Adakah kita juga mengira bahwa hanya kita yang paling paham maksud ayat-ayat Allah (qauliyah maupun kauniyah) dan hadits-hadits rasul-Nya?


Apakah kita akan mengatakan bahwa Galileo Galilei memang pantas dihukum karena membuat pernyataan bahwa bumi ini beredar (berotasi mengelilingi sumbunya dengan kecepatan lebih dari 1600 km/jam sambil berevolusi mengelilingi matahari dengan kecepatan lebih dari 16.000 km/jam), sedangkan logika kita berkata sebaliknya—jika memang bumi beredar sedemikian cepat, kenapa kita tidak merasakannya dan tidak pula terlempar darinya?


Karena penulis pernah menjumpai seseorang yang masih belum mengerti jika memang bumi berputar, oleh karena itu perlu penulis tampilkan di sini penjelasan Prof. Robert L. Wolke, guru besar kimia emeritus di University of Pittsburgh, Pennsylvania—Amerika Serikat. Kenapa di bumi kita bisa berjalan; bisa mengejar hewan? Padahal bumi kan berputar. Bagaimana penjelasan ilmiah/logisnya?


Kita bisa melakukan itu semua karena bumi berputar dengan kecepatan konstan (tetap), tidak berubah-ubah. Sebagai ilustrasi, jika kita naik bus, kereta api atau pesawat, bukankah kita bisa jalan-jalan di dalamnya? Bukankah kita bisa mengejar orang di dalamnya? Itu semua bisa kita lakukan karena kecepatan kendaraan konstan. Coba saja bila bus, kereta api atau pesawat sering berubah kecepatannya, misalnya sedikit-sedikit ngerem atau ngegas, tentu kita susah sekali berjalan apalagi kejar-kejaran di dalamnya.


Apakah kita akan mengatakan bahwa bumi ini datar dan mengingkari penemuan bahwa bumi berbentuk bulat dengan agak lonjong di ujung? Sedangkan logika kita mengatakan, jika bumi tidak datar berarti ketika posisi kita di bawah (lihat globe), kita akan terjatuh? Dan, itu semua kita katakan hanya karena kita belum memahami teori gravitasi yang ditemukan oleh Newton? Juga karena kita belum pernah ke luar angkasa? Padahal yang sebenarnya terjadi adalah logika mereka jauh di atas logika kita, karena pemahaman mereka yang memang jauh lebih baik.


Apakah kita akan mengatakan bahwa mukjizat para nabi atau rasul dan karamah para wali hanyalah cerita yang dibesar-besarkan serta dibuat-buat; hanya karena kita tidak menyaksikan sendiri peristiwa itu dan tidak sesuai logika kita? Bahkan, jika kita menyaksikannya secara langsung, kita tetap akan mengingkarinya karena kita tidak bisa berbuat hal yang sama?


Apakah kita akan mengatakan bahwa apa pun yang menurut akal kita tidak mungkin, berarti tidak sesuai dengan sunnatullah? Kemudian kita mencari hujjah—dalil ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi atau argumen lain yang harus mendukung opini kita—dan bila tidak sesuai pendapat kita, lantas kita tafsirkan agar sesuai dengan logika kita? Bahkan, bila tidak bisa disesuaikan dengan akal kita, langkah terakhir adalah kita pertanyakan keshahihan hadits tersebut, atau penafsiran oleh para ulama yang kita salahkan—dengan dalih bahwa dalil itu mengandung keraguan, bisa ditakwilkan dan mempunyai banyak arti?


Apakah kita akan mengatakan bahwa kita sangat mengerti dan paham 100% tentang apa serta bagaimana cara kerja sunnatullah itu? Adapun orang lain yang berbeda pemikiran dengan kita, kita anggap tidak mengerti sunnatullah dan tidak pernah belajar tentangnya?


Daftar Pustaka :

  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Robert L. Wolke, Prof, “Kalo Einstein Lagi Cukuran Ngobrolin Apa Ya? (What Einstein Told His Barber – More Scientific Answer to Everyday Questions)”, PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Keempat : Agustus 2004


Tulisan ini lanjutan dari : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (3 of 12)
Tulisan ini berlanjut ke : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (5 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, March 26, 2010

Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (2 of 8)

Berikut ini kasus terakhir yang benar-benar menguji logika kita, karena logika kita akan dibandingkan dengan logika anak kecil. Sehebat apakah logika kita dibandingkan anak kecil? Bila kita kalah, tidakkah itu berarti bahwa logika kita bukanlah segala-galanya?


Suatu hari, sebuah toko furniture mengirim perabotan rumah ke seorang pelanggan. Termasuk dalam daftar kiriman adalah sebuah almari besar dan mahal. Semuanya dikirim dengan sebuah truk. Setelah jalan beberapa lama, truk itu harus lewat di bawah sebuah viaduk (semacam jembatan layang/fly over). Ternyata, ketika sampai di tengah viaduk, truk tiba-tiba berhenti. Bagian atas almari tertahan oleh viaduk. Kalau terus maju, maka almari itu akan rusak. Begitu juga bila dimundurkan. Almari itu dicoba untuk dimiringkan (supaya posisinya berubah menjadi tidur), ke kiri, ke kanan, ke manapun, ternyata tidak bisa. Hingga beberapa jam, kondisi itu tak kunjung teratasi. Kemacetan pun tak terelakkan.

Nah, bagaimana logika kita menyelesaikan masalah ini? Bagaimana supaya almari tadi tidak rusak, karena harganya sangat mahal? Bisakah kita? Mari kita merenung sejenak, sebelum melihat jawabannya.
. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .
Setelah semua usaha tidak berhasil, ternyata ada seorang bocah lelaki kecil melintas naik sepeda mininya. Ia punya pengalaman yang mirip dengan yang dialami truk itu. Dengan polosnya ia mendekati sang sopir truk sambil berkata, “Ban truknya dikempesin saja, Om. Nanti kan almarinya tidak lagi tertahan, terus truknya didorong.” Duhai saudaraku, apakah logika kita menemukan solusi yang lebih hebat daripada logika anak kecil ini?

Iman jauh melampaui logika. Sahabat Abu Bakar ra. mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Rasulullah diperjalankan oleh Allah menuju Masjid al-Aqsha (Isra’), padahal waktu itu logika manusia tidak mungkin membenarkannya. Namun, imanlah yang membuat Abu Bakar ra. meyakininya. Berabad-abad kemudian, barulah para ilmuwan menemukan pesawat atau roket yang bisa membuat orang pindah dari satu tempat ke tempat lain yang sangat jauh dalam waktu singkat. Bukankah itu berarti logika tertinggal berabad-abad dibandingkan iman? Layakkah kita mengatakan logika lebih hebat daripada iman?

Mungkin kita akan berkilah, “Kalau saya mempelajari Al-Qur’an dimulai dari iman, maka pasti benar semua dong. Padahal saya bermaksud untuk menilainya dengan tidak memihak.”

Baiklah kalau begitu. Para ilmuwan Fisika Quantum sudah menemukan “Hukum Tarik-Menarik (The Law of Attraction)”. Bila yang ada di pikiran kita positif, maka energi positif dari diri kita akan menarik semua energi positif yang ada di alam semesta. Begitu juga sebaliknya, bila energi negatif keluar dari mikrokosmos tubuh kita, maka makrokosmos juga mengirimkan energi negatif ke kita, karena kitalah yang meminta dan menariknya.

Bukankah sudah kita pahami bahwa tidak ada yang disebut tidak memihak? Semua tergantung pikiran kita. Kalau kita berpikiran baik, maka kita akan menemukan hal-hal baik. Jika pikiran kita dipenuhi oleh ketidakbaikan, maka kejelekan dan keburukanlah yang akan kita dapat. Itu semua ilmiah dan masuk akal. Sebagai contoh, seorang penjahat akan selalu curiga terhadap orang lain. Namun, orang baik tidak akan curiga, hanya waspada. Bukankah sudah jelas perbedaannya antara curiga dan waspada?

Contoh lain, sikap terhadap seorang teman. Cobalah berniat dan tetapkan pada pikiran kita bahwa kita akan mencari semua kekurangan dan kelemahan teman kita, sekecil apa pun. Kalau itu kita setting, pastilah kita akan menemukan banyak sekali kekurangan dan kelemahan teman kita, bahkan sampai hal-hal yang sangat kecil, yang diabaikan oleh orang lain. Namun, jika kita biasa-biasa saja tentang teman kita, maka kesalahan-kesalahan yang sangat kecil tidak akan nampak, karena kita sudah memerintahkan pikiran kita bahwa itu bukanlah sebuah masalah. Itu manusiawi dan wajar.

Intinya, jika kita mencari kebenaran, sah-sah saja kita mempunyai pendapat yang didasarkan pada logika, karena akal memang tercipta untuk mengokohkan iman. Namun, jika kita hanya ingin mencari pembenaran, maka akan tertutuplah kebenaran dari diri kita. Hal ini sudah terbukti, baik secara nash, yaitu bahwa Allah sesuai prasangka hamba-Nya maupun secara ilmiah.

Kalau kita memang benar-benar mencari kebenaran, itu akan terlihat dari sikap kita. Kita akan dengan senang hati dan rendah hati menerima ilmu dari orang lain. Kita cenderung untuk bertanya, bukan membantah apalagi “membantai” nasihat orang lain. Tujuan kita berdiskusi bukanlah untuk membenarkan pendapat, tapi mendapatkan ilmu sebanyak mungkin. Bila suatu saat kita berdialog dengan seseorang, namun orang itu kurang cakap, maka kita tidak mempermasalahkannya. Ilmu orang itu kita serap sebanyak mungkin. Kita tidak berdiskusi dengannya untuk membuktikan bahwa pendapat kitalah yang benar, valid dan uptodate. Kita mencari ilmu dengan membuka hati dan pikiran untuk menerima ilmu. Dengan demikian, kita akan memungut ilmu dan hikmah di mana pun berada, walaupun berasal dari anak kecil. Itulah ciri-ciri jika kita memang mencari kebenaran, bukan pembenaran.

Jika kita mencari kebenaran, maka iman harus tertanam di dalam dada. Sekarang, marilah kita pelajari bersama-sama tentang Al-Qur’an, untuk kemudian kita hayati dan amalkan dalam keseharian.

Al-Qur’an adalah wahyu suci yang terjaga dari segala yang berbau imajinasi dan ilusi, sehingga tidak mengandung kesia-siaan.

A-Qur’an adalah kitab yang isinya dinukil melalui cara yang benar-benar meyakinkan, diceritakan secara jujur, dan adil dalam keputusan.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan sumber utama dan pertama ajaran Islam yang menjadi petunjuk kehidupan umat manusia.

Al-Qur’an adalah garis-garis besar haluan umat yang abadi, kebanggaan sekaligus kemuliaan bagi umat Islam.

Al-Qur’an adalah kitab abadi yang telah memerdekakan umat dari kesesatan menuju hidayah, membuka mata hati, memberi pelajaran dan menegakkan kepala.

Al-Qur’an adalah kumpulan wahyu Ilahi yang menjadi air kehidupan bagi ruhani manusia, juga rahmat yang tiada ada taranya bagi alam semesta.

Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan Allah, yang isinya mencakup semua pokok syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci sebelumnya.

Al-Qur’an adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah dan terpelihara.

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar, bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda-beda.

Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada satu keraguan pun di dalamnya, sebagaimana tercantum dalam sebuah ayat:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 2)

Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, March 19, 2010

Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (1 of 8)

Hidup ini memang penuh keanehan. Entah apa maksudnya, namun ada juga orang yang berkata, “Kalau kita ingin mengecek kebenaran Al-Qur’an, maka kita tidak boleh memihak atas dasar iman. Dengannya, kita benar-benar obyektif dalam menilai Al-Qur’an. Itulah logika yang tepat untuk memutuskan sesuatu valid atau tidak, benar atau salah.”


Kembali ke prinsip awal, janganlah kita menyalahkan orang lain atas pernyataan mereka yang memang terdengar aneh. Mungkin mereka memang belum mengerti, sehingga mencari kebenaran, dan semoga bukan sekadar mencari pembenaran atas pendapat pribadi.

Kalau orang seperti itu hanya mencari pembenaran atas pendapatnya, maka butuh usaha ekstra keras untuk bisa berdialog dengannya. Ia sudah menutup pintu masuk pendapat orang lain. Pikirannya telah dikunci dan dibentengi dengan segala macam argumen. Kata-kata maupun intonasinya juga kurang enak didengar, cenderung melindungi diri, kurang bersahabat bahkan menjatuhkan. Yang lebih enak, bila orang itu ingin mencari kebenaran.

Namun demikian, marilah kita bahas pernyataan tersebut. Bukankah akal memang diciptakan untuk memperkokoh iman? Bukankah Nabi Ibrahim pun ingin ditunjukkan kekuasaan Allah untuk menghidupkan yang sudah mati? Bedanya, Nabi Ibrahim didahului iman, lalu di-“bumi”-kan dalam tataran akal. Sedangkan orang ini, dimulai dari akal, tanpa didahului iman. Semoga saja niatnya memang untuk mencari kebenaran, amin.

“Obyektif”, sebuah kata sakti dalam sebuah pendapat atau diskusi. Sebenarnya tidak ada yang disebut obyektif murni. Obyektif hakikatnya adalah subyektif. Kalau kita meminta pendapat pada si A tentang sebuah persoalan, maka dia akan berusaha untuk menyampaikan pendapat secara obyektif. Coba kita tanyakan hal yang sama pada 8 (delapan) orang yang lain. Dengan kata sakti “obyektif”, setiap orang juga akan memberikan pendapatnya. Pertanyaannya adalah, “Pendapat A yang katanya obyektif dan pendapat delapan orang lainnya yang juga obyektif, apakah sama? Ataukah berbeda? Jika memang berbeda, bukankah itu berarti pendapat-pendapat itu bersifat subyektif?”

“Logika”, sebuah kata sakti lain supaya dianggap modern dan ilmiah. Mari kita tanyakan pada logika tentang sebuah masalah. Contoh ini sudah kita ketahui bersama. Ada sebuah gelas yang berisi air setengahnya. Apa kata logika tentang kondisi ini? Logika pertama akan berkata, “Air di gelas itu separuh penuh.” Adapun logika yang lain mengatakan, “Air di gelas itu tinggal separuh.”

Siapa yang benar di antara kedua logika tersebut? Semuanya benar karena memang kondisinya seperti itu. Namun, efek yang ditimbulkan oleh masing-masing pernyataan sungguh sangat berbeda. Logika pertama akan membuat orang menjadi optimis, sedangkan logika kedua sebaliknya, membuat orang pesimis. Kenapa? Jawabannya sudah banyak dibahas di buku-buku tentang motivasi dan berpikir serta berjiwa besar. Jadi, tidak perlu lagi kita jelaskan di sini.

Logika juga yang menyatakan, “Setiap wadah menumpahkan isinya.” Sebuah teko akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Bila diisi air putih, maka akan keluar air putih dari teko itu. Begitu pun bila diisi air susu, madu atau air comberan. Isi yang keluar sesuai dengan yang diisikan di dalamnya. Nah, kalau kita mau membahas Al-Qur’an tanpa didahului iman, hanya bermain logika, maka sudahkah otak kita terisi hal-hal yang baik dan hebat? Bukankah sudah diketahui bersama bahwa orang yang paling cerdas pun tidak sampai menggunakan 5% dari kemampuan otaknya? Lalu, sehebat apakah logika (kemampuan) kita?

Marilah kita lihat lagi secanggih apa logika kita. Di sini tidak ada benar atau salah, hanya untuk melihat kemampuan logika kita.

Suatu ketika, Thomas Alfa Edison menguji dua orang calon karyawan. Tesnya sederhana saja, yaitu mengukur volume sebuah bola lampu.

Calon karyawan pertama mengukur dengan teliti setiap bagian bola lampu, mulai jari-jari lingkaran, panjang, lebar, tinggi dan semua yang dibutuhkan. Dia melakukan perhitungan matematis yang cukup rumit, menggunakan rumus integral rangkap tiga (∫∫∫). Akhirnya, dia pun menemukan berapa volume bola lampu itu.

Calon karyawan kedua menggunakan cara lain. Dia mengisi bola lampu dengan air sampai penuh, kemudian air itu dituangkannya ke sebuah gelas ukur. Dari gelas ukur itulah diketahui berapa volume bola lampu yang dimaksud. Kedua-duanya berhasil menghitung volume bola lampu sesuai permintaan. Apakah logika kita bisa menemukan cara selain yang dipaparkan oleh dua calon karyawan itu?

Di sebuah perusahaan yang memproduksi sabun mandi batangan, ternyata ada kesalahan mesin. Ditemukan beberapa sabun mandi yang sudah terbungkus rapi, tapi isinya kosong. Bagian QC (Quality Control) jadi sibuk sekali karena harus memeriksa satu per satu sabun hasil produksi. Perusahaan itu akhirnya mendatangkan dua orang ilmuwan untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu mengetahui sabun-sabun kosong dan memisahkannya dari sabun yang ada isinya.

Ilmuwan pertama melakukan analisis lengkap. Dia membuat sebuah studi kelayakan (feasibility study). Dia melakukan analisa secermat mungkin dengan menggunakan semua metode, yaitu Cost-Benefit Analysis, Risk Analysis dan Capital Investment Analysis. Dia menghitung dengan teliti tentang Payback Period, Cost-Benefit Ratio, Return on Investment (ROI), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Setelah dikalkulasi, dia membutuhkan waktu 7 bulan dan dana sebesar Rp 700.000.000,- untuk membuat sinar infra merah lengkap dengan robot yang bisa menyingkirkan secara otomatis sabun-sabun kosong.

Ilmuwan kedua mengusulkan agar ketika sabun-sabun itu selesai diproduksi, dalam perjalanan menuju bagian packaging, dipasang saja sebuah kipas angin. Kipas angin itu diputar dengan kecepatan yang cukup untuk menerbangkan sabun-sabun kosong. Dua orang ilmuwan itu telah berhasil menemukan metode menemukan sabun kosong dan menyingkirkannya. Logika mereka sama-sama benar, walaupun beda caranya. Nah, logika kita akan memilih solusi yang mana? Ataukah kita punya solusi sendiri sesuai logika kita?

Para astronot mengeluhkan bahwa mereka tidak bisa menulis dengan pulpen ketika berada di angkasa. Kalau di bumi, tinta yang ada di pulpen bisa keluar dari tempatnya karena ada gravitasi bumi. Sedangkan di angkasa, gravitasi bumi kecil sekali, juga ada gaya sentripetal. Itu artinya tinta pulpen tidak akan pernah keluar, dan itu berarti para astronot tidak bisa menulis apa pun. Penulisan pada kertas tetap dibutuhkan, selain karena praktis, juga sebagai backup, bagian dari contingency atau disaster recovery plan. Dua orang fisikawan didatangkan.

Fisikawan pertama mengatakan akan melakukan penelitian. Dia akan membuat sebuah percobaan dengan menggunakan berbagai zat cair dan gas. Dia berharap akan menemukan sebuah pulpen jenis baru yang bisa digunakan untuk menulis di angkasa. Dia membutuhkan waktu selama 3 bulan dengan biaya Rp 255.255.000,-.

Ahli Fisika kedua mengatakan, “Kenapa kita harus menggunakan pulpen? Bukankah tujuan utamanya supaya bisa menulis? Pakai saja pensil. Di manapun kita berada, kita tetap bisa menulis, tidak perlu gravitasi.” Nah, condong ke pendapat siapakah logika kita? Atau, logika kita mempunyai pendapat sendiri?

Tulisan ini berlanjut ke : Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (2 of 8)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#