Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label lisan. Show all posts
Showing posts with label lisan. Show all posts

Friday, June 8, 2012

Bicara Baik atau Diam (2 of 2)

Kala menulis komentar, entah di forum, jejaring sosial, media online atau apa pun dan tidak ada yang tahu identitas kita sebenarnya, apakah komentar kita tetap merdu di telinga ataukah sembarangan bahkan sah-sah saja merendahkan komentator lain?
Ketika menulis sebuah posting atau artikel, apakah isi yang dikandung bebas dari sindiran, cemoohan, caci-maki dan kalimat-kalimat bernada permusuhan”?
Boleh jadi kita berargumen, Ah, itu kan hanya sekedar pelampiasan kekesalan. Orang lain juga begitu, kok! Boleh dong saya berlaku sepadan. Toh saya juga senantiasa shalat, puasa, baca Al-Qur’an, sedekah, rajin mengaji ilmu-ilmu agama serta ibadah lainnya.”
Untuk menjawab argumentasi di atas, mari kita perhatikan, resapi dan renungi dua hadits berikut ini:
كَفَى بِالْمَرْءِ شَرًّا أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمُ
Cukuplah dikatakan buruk akhlaknya ketika ia menghina (merendahkan) saudara sesama muslim. (HR Muslim)

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ. قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
 Tahukah kalian siapakah orang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Orang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang) dan harta.” Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut di antara umatku ialah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh (berzina), dan makan harta orang lain serta menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa haq). (Untuk menegakkan keadilan) pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka (yang dizhalimi) diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim)
Apa kita mau disebut memiliki akhlak buruk? Bagaimana bila kita bermimpi bertemu Rasulullah saw lalu beliau menyebut kita berakhlak buruk? Tidak malukah kita?
Apa kita mau pahala ibadah yang kita lakukan dengan segenap pikiran, tenaga bahkan biaya ternyata di akhirat kelak hampa karena habis dibagi-bagikan kepada orang lain? Kita yang ibadah tak mendapat apa-apa, justru orang lain menikmati pahalanya. Sungguh sebuah  kebangkrutan nyata!
Apa kita mau menerima limpahan dosa orang lain di akhirat kelak? Kita senantiasa berdoa agar dosa kita terhapus, tapi ini malah kita mendapat ”hibah” dosa orang lain. Tak ada kerugian melebihi kerugian seperti ini!
Kita sangat pandai berteori tentang keagamaan, tapi pada praktiknya NOL BESAR. Tidak terasakah kita dengan kondisi diri seperti ini?
Tentang perlakukan sepadan, apa ucapan kasar harus dibalas hinaan, cacian dibalas makian, ketidaksopanan dibalas arogansi serta ketidakbaikan dibalas kejahatan? Apa seperti ini tuntunan agama kita?
Rasulullah saw. bahkan melarang memaki orang-orang musyrik yang terbunuh dalam perang Badar. Di buku “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fî Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin” dicantumkan sebuah hadits:
لاَ تَسُبُّوْا هَؤُلاَءِ فَإِنَّهُ لاَ يَخْلُصُ إِلَيْهِمْ شَيْئٌ مِمَّا تَقُوْلُوْنَ وَتُؤْذُوْنَ اْلأَحْيَاءَ أَلاَ إِنَّ الْبَذَاءَ لُؤْمٌ
Janganlah kamu mencaci-maki mereka, karena tidak ada yang dapat membersihkan kata-kata yang kamu ucapkan terhadap mereka (maksudnya orang yang terbunuh di perang Badar), dan kamu menyakiti orang-orang yang hidup. Ingatlah sesungguhnya lidah yang kotor (kata-kata kasar) itu tercela". (HR Ibnu Abi Dunya secara mursal, sedangkan rijalnya dapat dipercaya (tsiqah))
Betapa indahnya ajaran Ilahi yang dibawa Rasulullah saw. Betapa agungnya ajaran agama ini dalam ber-muâsyarah (pergaulan) maupun muâmalah (hubungan transaksi untuk memenuhi kebutuhan hidup). Betapa luhurnya ajaran Islam dalam berperilaku.
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ
Seorang mukmin tidak akan menyakiti, melaknat, berkata keji dan berkata kasar. (HR Abu Ya’la, Baihaqi, Bukhari di Adâbul Mufrad, Hakim, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, Thabrani dan Tirmidzi. Adapun lafazh hadits menurut riwayat Imam Tirmidzi)
KH. Asrori al-Ishaqi rahimahullâh—pendiri Pesantren Al-Fithrah Jl. Kedinding Lor Surabaya—pernah menasihatkan bahwa buah dari dzikir, baca Al-Qur’an dan ibadah yang kita kerjakan adalah akhlak mulia. Siapa senantiasa berdzikir tapi belum berakhlak baik dalam keseharian, maka dzikir yang dilakukan belum berbuah. Demikian petuah bijak beliau.
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحَاسِنُهُمْ أَخْلاَقًا
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya. (HR Thabrani)

Daftar Pustaka


Achmad Faisol, “Muhâsabah (Introspeksi Diri)Apakah Implementasi Keberagamaan (Islam) Kita Ada yang Kurang?!”, Ebook, April 2011/ Jumadal Ula 1432 H
MA. Sahal Mahfudh, KH, “Nuansa Fiqih Sosial”, LKiS, Cetakan VI: Maret 2007
Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fî Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Software:
Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits

Web site:
http://abumuthi.multiply.com/reviews/item/84, “Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik”

Tulisan ini lanjutan dari : Bicara Baik atau Diam (1 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Friday, June 1, 2012

Bicara Baik atau Diam (1 of 2)


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ ِليَصْمُتْ
Siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (Muttafaq ‘alayh)
Di Syarah Muslim, Imam Nawawi rahimahullâh menjelaskan makna hadits tersebut sebagai berikut:
وأما قوله صلى الله عليه وسلم فليقل خيرا أو ليصمت فمعناه أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه واجبا أو ندوبا فليتكلم، وإن لم يظهر له أنه خير يثاب عليه فليمسك عن الكلام.
Adapun sabda Rasulullah saw, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” artinya ketika seseorang ingin berkata-kata hendaklah dilihat apakah ucapannya mengandung kebaikan dan kebenaran sesuai hukum wajib atau sunnah. Jika ya, maka berkatalah. Tapi jika tidak, tahanlah diri.
Imam Syafi’i ketika menerangkan makna hadits di atas berucap, “Ketika hendak berkata-kata, berfikirlah terlebih dahulu. Jika ucapan itu tidak mengandung kemudharatan, maka berkatalah. Tapi bila mengandung kemudharatan atau keraguan, maka tahanlah diri.”
Di hadits tersebut terdapat nasihat sebaiknya menahan diri dari berkata-kata yang tidak mengandung kebaikan, apalagi jika terdapat keburukan. Hal ini karena salah satu tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat. Sungguh telah banyak terjadi pembicaraan yang bersifat mubah berubah menjadi haram.
Dapat disimpulkan bahwa pembicaraan yang kita lakukan harus sesuatu yang baik menurut hukum, baik sunnah atau wajib. Bila isi pembicaraan bersifat mubah, sebaiknya seperlunya saja karena dikuatirkan lama-kelamaan pembicaraan itu menjurus kepada hal yang tidak berguna bahkan tidak dibenarkan menurut syariat.

Lontong balap khas Surabaya
Sate kerang menambah cita rasa
Bila tak mampu cakap yang berguna

Diam adalah pilihan utama
Sekian banyak petuah bijak disampaikan agar kita berhati-hati dalam bertutur kata. Teks kalimat yang digunakan pun bermacam-macam, ada yang menggunakan bahasa anak muda sekarang hingga peribahasa warisan budaya bangsa.
Memang lidah tak bertulang!”
 “Mulutmu harimaumu!”
“Jikalau pedang lukai tubuh, masihlah ada harapan sembuh. Tapi jika lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari?”
Ajining diri ono ing lati (peribahasa Jawa yang artinya kemuliaan diri ada di lisan).
Suatu saat Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memegang ujung lidah beliau dan berkata,
هَذَ الَّذِيْ أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ
“Lidah ini (bila tidak berhati-hati) bisa menyebabkanku sampai pada tempat kesalahan dan celaka di dunia dan akhirat.”
Di kitab “Rawdhatul ‘Uqalâ’ wa Nuzhatul Fudhalâ’ Imam Ibnu Hibban al-Busti—beliau juga penulis Shahih Ibnu Hibban—menerangkan:
قال أبو حاتم رضى الله عنه الواجب على العاقل أن ينصف أذنيه من فيه ويعلم أنه إنما جعلت له أذنان وفم واحد ليسمع أكثر مما يقول
Imam Abu Hatim ra. menjelaskan bahwa orang berakal harus lebih banyak mempergunakan kedua telinga daripada lisan. Dia harus menyadari bahwa diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu supaya lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkan. Biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol apa yang akan dikatakan.
Imam Abu Hatim ra. juga menasihatkan bahwa lisan orang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya.
Termasuk dalam menjaga lisan adalah menjaga tulisan. Saat ini, begitu mudah kita menorehkan kata. SMS, forum, blog, jejaring sosial dan kolom komentar di situs berita online menjadi media utama sebagai ganti ucapan lisan.
Mari kita perhatikan diri sendiri, tak perlu repot-repot mengamati orang lain. Siapa pun kita, apakah kita murid, guru, mahasiswa, dosen, kepala keluarga, ibu, anak, pegawai, pengusaha, anak buah, atasan, anggota masyarakat, pemimpin formal/non formal, pejabat, politikus, anggota kepolisian, tentara, santri maupun ustadz, mari kita evaluasi setiap perkataan/tulisan kita hingga detik ini.
Apakah ucapan kita selama ini mengandung banyak manfaat? Ataukah lebih sering bersifat mubah (tak ada manfaat dan mudharat)? Atau lebih parah lagi yaitu menimbulkan kemudharatan? Sahabat Ali bin Abi Thalib kw. memberi nasihat:
إِنَّ خَيْرَ الْقَوْلِ مَا نَفَعَ
Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah yang bermanfaat.

Apakah ucapan kita selama ini dalam koridor tata krama dan kesantunan? Ataukah justru bernada meremehkan, mengejek, mencela, menghina dan provokatif?

Daftar Pustaka


Achmad Faisol, “Muhâsabah (Introspeksi Diri)Apakah Implementasi Keberagamaan (Islam) Kita Ada yang Kurang?!”, Ebook, April 2011/ Jumadal Ula 1432 H
MA. Sahal Mahfudh, KH, “Nuansa Fiqih Sosial”, LKiS, Cetakan VI: Maret 2007
Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fî Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Software:
Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits

Web site:
http://abumuthi.multiply.com/reviews/item/84, “Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik”

Tulisan ini berlanjut ke : Bicara Baik atau Diam (2 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Wednesday, August 20, 2008

Berdzikir Membuat Hati Tentram, Benarkah? (4 of 5)

Setelah mengupas dua metode dzikir, yaitu dzikir dengan pikiran (taffakur) dan dzikir dengan telinga, sekarang mari kita bahas cara berdzikir yang ketiga, yaitu :

c. Dzikir dengan lisan

Dalam syairnya, ‘Aid al-Qarni berpesan :

Perbanyaklah dzikirmu pada-Nya di bumi selalu
Agar engkau disebut di langit kala Dia mengingatmu

Perlu diingat lagi bahwa shalat juga termasuk dzikir. Jika kita diliputi ketakutan, dihimpit kesedihan dan dicekik kerisauan, maka segeralah bangkit untuk melaksanakan shalat, niscaya jiwa kita akan kembali tentram dan tenang. Sesungguhnya shalat itu—atas izin Allah—sangatlah cukup untuk hanya sekadar menyirnakan kesedihan dan kerisauan. Shalat merupakan penyejuk hati dan sumber kebahagiaan. Namun demikian, shalat tidak akan dibahas di sini.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka Sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS Thâhâ [20] : 14)

Dzikir dengan lisan bisa dilakukan dengan membaca Al-Qur’an baik sendiri atau berjamaah secara bergantian (tadarrus). Dari Abu Hurairah ra., Rasululullah Muhammad saw. bersabda :

Bagi kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah ibadah, membaca Al-Qur’an secara bergiliran dan mengajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan selalu mengingat mereka. (HR Muslim)

Pada suatu hari, datanglah seseorang kepada Sahabat Ibnu Mas‘ud ra. untuk meminta nasihat. Orang itu berkata,

“Wahai Ibnu Mas‘ud, berilah nasihat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang gelisah. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tentram, jiwaku gelisah dan pikiranku kusut; makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.”

“Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu :
  1. Ke tempat orang membaca Al-Qur’an, engkau baca Al-Qur’an atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya
  2. Engkau pergi ke majelis pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah
  3. Engkau cari waktu dan tempat sunyi, di sana engkau berkhalwat menyembah Allah—umpama di waktu tengah malam buta di saat orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, meminta dan memohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketentraman pikiran dan kemurnian hati.

Seandainya jiwamu belum juga terobati dengan cara ini, engkau minta kepada Allah agar diberi-Nya hati yang lain, sebab hati yang kamu pakai itu bukan lagi hatimu,” nasihat Ibnu Mas‘ud.


Setelah orang itu kembali ke rumahnya, diamalkannya nasihat Ibnu Mas‘ud. Dia pergi mengambil wudhu kemudian diambilnya Al-Qur’an, terus dia baca dengan hati yang khusyu‘. Selesai membaca Al-Qur’an, berubahlah kembali jiwanya, menjadi jiwa yang tenang dan tentram, pikirannya jernih dan kegelisahannya hilang sama sekali.


Selain dengan membaca Al-Qur’an, bisa juga dengan lafazh-lafazh dzikir yang lain, misalnya tasbih, tahmid, takbir, tahlil dan istighfar. Kalau sendirian terasa cepat lelah dan rasa malas menghampiri, maka kita bisa berjamaah dalam melakukannya. Lebih baik lagi di bawah bimbingan seorang guru, ustadz atau kyai. Hal ini supaya selain sebagai amalan, kita pun mendapatkan penjelasan atau ilmu tentang apa yang kita baca dalam dzikir. Dengan demikian kita tidak termasuk dalam golongan taqlid buta, hanya ikut-ikutan tanpa tahu ilmunya.

Jangan sampai kita salah dalam melangkah karena tidak punya ilmu yang benar. Cahaya di ujung terowongan akan kita kira jalan keluar, padahal itu sinar lampu kereta api yang akan menabrak kita. Salah seorang yang mengaku cendekiawan muslim pernah ditanya,

“Apakah kamu mengerjakan shalat?”
“Aku tidak perlu melakukah shalat lagi karena hatiku sudah bersih,” jawabnya.

Lalu dikatakan,
“Mâsyâ Allah, apakah kamu lebih mulia daripada Nabi Muhammad saw. dan sahabat-sahabatnya, di mana mereka mengerjakan shalat sampai meninggal dunia. Sungguhkah engkau melebih mereka? Kamu telah melakukan yang tidak pernah mereka lakukan.”

Alhamdulillâh setelah diskusi, orang itu bertaubat dan kembali mengerjakan shalat serta ibadah-ibadah lainnya.

Ada juga sebagian kelompok yang mengaku diri mereka ahli tasawuf berpendapat, “Siapa yang telah mencapai maqam ma‘rifat (tingkatan mengenal Allah), maka telah diangkat segala kewajiban agama (taklîf) atas dirinya.”

Ketika pendapat ini didengar oleh seorang sufi besar, Abul Qasim al-Junaid bin Muhammad, ia berkata, “Benar, mereka telah sampai ke neraka Saqar.” Mereka yang salah jalan tersebut berpegang pada firman Allah QS al-Hijr [15] : 99, yang dipahami dengan keliru.


وَٱعْـبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِيْنُ

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (QS al-Hijr [15] : 99)

Kata “yang diyakini” (bila terjemahnya tekstual, tidak ada penjelasan “ajal”) pada ayat di atas, ditafsirkan oleh para ahli tafsir (mufassir) dengan kematian, karena ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Terbukti, mereka beribadah kepada Allah sampai datang kematian kepada mereka. Jadi, bukannya setelah yakin kepada Allah lantas kita tidak perlu shalat.


Jika saja mereka berpikir dengan pikiran yang sehat, maka mereka akan mengetahui bahwa ma‘rifatullâh (mengenal Allah) bukanlah akhir sebuah perjalanan, melainkan permulaan perjalanan untuk mencapai hakikat ibadah kepada-Nya. Bagaimana mungkin mereka menjadikan sesuatu permulaan menjadi akhir sebuah perjalanan?


Selain itu, terdapat sebagian kelompok yang menamakan dirinya sebagai aliran batiniah (kebatinan) yang mengaku bahwa diri mereka telah keluar dari sifat-sifat manusia biasa, sehingga mereka tidak dibebani kewajiban-kewajiban syariat seperti manusia lain. Sungguh mereka telah tersesat. Na‘ûdzubillâh min dzâlikum.


Berdzikir secara berjamaah terkadang bahkan seringkali lebih mengena pada diri kita, terutama karena kita adalah orang awam, belum mencapai maqam (tingkatan) yang cukup.


Penulis pernah menghadiri sebuah majelis dzikir. Pada saat sedang membaca kalimat tahlil (Lâ ilâha illâh), tidak dipergunakan pengeras suara—murni suara para jamaah. Ternyata, efek yang timbul dalam diri sungguh berbeda dari biasanya. Suara dzikir para jamaah menyatu padu, menggema, membahana, membumbung tinggi ke angkasa, memanggil-manggil para malaikat untuk turun ke bumi; mengajak semua makhluk—angin, bunga, dedaunan, burung dan semuanya—untuk bersama-sama menyucikan asma Allah; serta mengundang senyum bidadari, senyuman yang menyejukkan hati, teduh memandikan jiwa yang sepi.


Teknik sederhana seperti ini bisa membuat bulu kuduk berdiri, hati bergetar, dan air mata pun tak kuasa lagi tertahan—meleleh membasahi pipi. Masalah yang berat terasa ringan seketika. Bahkan, seolah-olah kita menantang masalah tersebut dengan lantang, sebagaimana ungkapan ‘Aidh al-Qarni :


Membesarlah duhai nestapa, niscaya engkau akan sirna
Malammu telah bertitah pada sang fajar, untuk segera merekah

Tentang majelis dzikir, diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik, Rasulullah Muhammad saw. bersabda :


إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَّةَ فَارْتَعُوْا بِهَا، قِيْلَ لَهُ : وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ : مَجَالِسُ الذِّّكْرِ

Jika kamu melihat surga, maka merumputlah (bermain-mainlah) di (kebun)nya. Ditanyakan kepada beliau, “Apa itu kebun surga?” Jawab beliau, “Majelis dzikir.” (HR Tirmidzi)


Abu Bakar asy-Syibli mengatakan, “Tidakkah Allah telah berfirman, ‘Aku duduk di sisi orang yang mengingat-Ku. Apa yang kalian peroleh, hai manusia, dari majelis Al-Haqq ini?’ ”


Penjelasan tentang keutamaan majelis dzikir terdapat sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. di dalam kitab “Al-Lu’lu’ wal-Marjân – fî mâ Ittafaqa ‘Alayhi asy-Syaykhân” bab Fadhilah Majelis Ahli Dzikir.


Sesungguhnya ada malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari majelis ahli dzikir; maka bila bertemu dengan kaum yang sedang berdzikir mengingat Allah, mereka masing-masing berseru,
“Mari ke sini, inilah hajatmu!”

Lalu para malaikat itu mengerumuni dan menaungi majelis itu dengan sayap mereka hingga langit dunia. Mereka ditanya oleh Tuhan, padahal Tuhan lebih mengetahui,
“Apa yang dibaca oleh hamba-Ku?”
Malaikat menjawab, “Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid dan mengagungkan Engkau.”

Ditanya, “Apakah mereka melihat Aku?”
Malaikat menjawab, “Tidak, demi Allah. Mereka belum pernah melihat-Mu.”

Ditanya, “Lalu bagaimana sekiranya jika mereka melihat-Ku?”
Malaikat menjawab, “Andaikan mereka melihat pada-Mu, niscaya lebih giat ibadah mereka, dan lebih banyak tasbih mereka.”

Ditanya, “Apa yang mereka minta?”
Malaikat menjawab, “Minta surga.”

Ditanya, “Apakah mereka telah melihatnya?”
Malaikat menjawab, “Demi Allah, mereka belum melihatnya.”

Ditanya, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”
Malaikat menjawab, “Pasti akan lebih giat usaha perjuangan dan keinginannya.”

Ditanya, “Apa yang mereka takutkan dan minta perlindungan?”
Malaikat menjawab, “Mereka berlindung kepada-Mu dari api neraka.”

Ditanya, “Apakah mereka telah melihatnya?”
Malaikat menjawab, “Belum, demi Allah. Mereka belum melihatnya.”

Ditanya, “Andaikan mereka dapat melihat pasti akan lebih jauh larinya dan rasa takutnya.”
Maka Allah berfirman, “Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.”

Seorang malaikat berkata, “Di majelis itu ada Fulan dan bukan golongan majelis itu. Dia datang karena ada kepentingan (hajat).”

Maka firman Allah, “Mereka adalah rombongan majelis, yang tidak akan kecewa siapa yang duduk bersama mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)


Begitu utamanya majelis dzikir sehingga muncul sebuah pertanyaan, “Apakah majelis ilmu termasuk majelis dzikir?”

Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc—pengasuh rubrik Syariah dan Kehidupan di Warna Islam—menjelaskan bahwa sesuai dengan makna bahasa, yang disebut dengan majelis adalah tempat di mana orang-orang duduk berkumpul. Adapun makna dzikir secara bahasa adalah mengingat. Namun secara istilah, dzikir seringkali diidentikkan dengan ucapan lafazh di lidah dengan niat ibadah.


Oleh karena itu, secara umum majelis dzikir seringkali oleh para ulama dimaknai sebagai majelis yang dihadiri oleh orang banyak untuk melakukan dzikir di lidah. Hujjah bahwa yang dimaksud dengan majelis dzikir adalah dzikir dengan lisan banyak sekali, sebab di Al-Qur’an pun tidak selalu kata dzikir dikaitkan dengan ilmu. Banyak ayat menyebutkan kata dzikir dalam arti dzikir dengan lisan, misalnya :


laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah. (QS al-Ahzâb [33] : 35)

Ada sebagian ulama memaknai kata “majelis dzikir” bukan sebagai majelis untuk berdzikir secara lisan, tetapi majelis tempat diajarkannya ilmu agama. Dalilnya adalah firman Allah SWT yang memerintahkan orang awam bertanya kepada orang berilmu, yang di dalam Al-Quran disebut ahludz-dzikri.


maka bertanyalah kepada ahludz-dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (QS an-Nahl [16] : 43)


Ibnul Qayyim al-Jauzi berkata tentang ahludz dzikri, “Ahludz dzikri adalah orang yang paham tentang apa-apa yang diturunkan Allah kepada para Nabi.”


Atha’ bin Abi Rabah (wafat 114 H) menjelaskan, “Majelis dzikir adalah majelis ilmu—majelis yang mengajarkan halal dan haram, bagaimana membeli dan menjual, bagaimana berpuasa, belajar tata cara shalat, menikah, thalaq (cerai) dan haji.”


Asy-Syathibi menerangkan, “Majelis dzikir yang sebenarnya adalah majelis yang mengajarkan Al-Qur’an, ilmu-ilmu syar‘i (agama), mengingatkan umat tentang sunnah Nabi agar mereka mengamalkannya, menjelaskan tentang bid‘ah agar umat berhati-hati terhadapnya dan menjauhinya. Ini adalah majelis dzikir yang sebenarnya.” Demikianlah pendapat-pendapat tentang majelis dzikir. Walâhu a‘lam.


Berdzikir kepada Allah akan lebih mantap di hati apabila kita berusaha mengenal-Nya. Tanpa mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya, seseorang bisa bersikap keliru dan menghilangkan optimisme. Untuk manusia saja, bagaimana mungkin kita akan mantap menyebut nama seseorang jika kita tidak mengenalnya?


Ketika Rasulullah saw. memulai dakwah, yang pertama beliau lakukan adalah memperkenalkan Tuhan Yang Maha Esa, sambil meluruskan kekeliruan dan kesesatan masyarakat Jahiliyah. Perintah iqra’ pun (wahyu pertama) mengandung pengenalan kepada Allah dalam perbuatan dan sifat-sifat-Nya.


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (QS al-‘Alaq [96] :1)


Selanjutnya silih berganti ayat turun mengarahkan manusia mengenal Tuhan, antara lain dengan anjuran untuk memperhatikan alam raya dan fenomenanya yang sedemikian teratur dan teliti, mengamati manusia sejak lahir hingga mencapai kesempurnaan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya, serta mempelajari sejarah dengan segala dampak baik dan buruknya.Untuk mengenal Allah, selain dengan cara di atas, juga bisa dengan mempelajari Asmaul Husna. Sudah banyak buku yang membahas Asmaul Husna, baik oleh ulama tanah air maupun manca negara dalam bentuk terjemahan. Oleh karena itu penulis tidak akan mengulasnya lebih lanjut.

Daftar Pustaka :

  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Al-lu’lu’ wal-Marjân (karya Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi) – Himpunan Hadits Shahih Yang Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu

Tulisan ini lanjutan dari : "Berdzikir Membuat Hati Tentram, Benarkah? (3 of 5)"
Tulisan ini berlanjut ke : "Berdzikir Membuat Hati Tentram, Benarkah? (5 of 5)"


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#