Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label ihsan. Show all posts
Showing posts with label ihsan. Show all posts

Friday, November 19, 2010

Ihsan, Di manakah Dikau? (5 of 5)

c. Harmonis kepada Allah

Yang dimaksud di sini yaitu harmonis kepada Allah dengan rasa aman dan kebahagiaan menyembah-Nya. Dahulu Abu Muhammad menyendiri di rumahnya dan berkata, “Siapa yang belum basah matanya karena-Mu, maka tidak akan pernah basah matanya. Dan siapa yang belum duduk bersama-Mu, maka takkan ada yang disebut duduk.” Berkata al-Fudhail, “Berbanggalah bagi siapa saja yang merindu dan Allah menemaninya.”

Nabi saw. telah mencapai puncak keharmonisan itu, karena beliaulah makhluk paling sempurna ibadahnya. Beliau tidak memisahkan diri dari manusia, tidak menutup pintu, tidak meletakkan penghalang, tidak tinggal di pegunungan atau gua untuk menyendiri bersama Allah. Beliau tetap duduk bersama para sahabat, membantu para janda dan orang miskin. Meskipun demikian, beliau senantiasa harmonis bersama Allah, terikat tali yang senantiasa menyambungnya dengan Allah.

Di kitab “Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”, Imam Nawawi mencantumkan sebuah hadits yang diambil dari kitab Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah. Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata,

كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Kami pernah menghitung bagi Rasulullah sebanyak seratus kali dalam satu majelis beristighfar, ‘Tuhanku ampunilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyanyang’.”(HR Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

إِنَّهُ لَيُغَانِ عَلَى قَلْبِيْ، وَإِنِّيْ َلأَسْـتَغْفِرُ اللهَ فىِ الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Sesungguhnya adakalanya timbul perasaan dalam hatiku, maka aku memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam sehari seratus kali.
(HR Muslim)

Begitulah kesempurnaan yang telah Rasulullah terima dan teladankan. Beliau menunaikan hak-hak manusia dengan sesempurna mungkin, begitu pula hak-hak diri sendiri dan keluarga. Meskipun demikian, tidak pernah kelu lisan beliau untuk berdzikir kepada Allah. Ketika ingin melaksanakan shalat, beliau meminta Bilal bin Rabah ra.,

أَرِحْـنَا يَا بِلاَلَ
“Tenangkanlah hati kami, wahai Bilal” (HR Abu Daud dan Ahmad)

Yang dapat diambil pelajaran dari semua ini adalah bahwa kita sebaiknya selalu berhubungan dengan Allah, berdzikir kepada-Nya dengan penuh keharmonisan. Allah telah memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan).

وَأَحْسِنُوْۤا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ ٱلمْحُْسِـنِيْنَ
Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Baqarah [2]: 195)

وَإِنَّ اللهَ لمَـَعَ ٱلمْحُْسِـنِيْنَ
Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS al-‘Ankabût [29]: 69)

Jika kita telah mengetahui keutamaan ihsan (berbuat baik), hakikatnya, kedudukannya, dan pahalanya, maka kita telah diperintahkan untuk berbuat baik dalam segala hal; dalam segala pekerjaan, perkataan dan perbuatan. Bahkan, dalam setiap detak jantung dan sikap diam kita.

Dari ayat ini, marilah kita bersama-sama berusaha agar tidak melampaui batas dalam kesewenang-wenangan, penganiayaan dan kebodohan. Allah adalah Dzat yang membalas apa pun yang kita lakukan. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, tidak ada yang bisa menghindar dari-Nya, dan pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu. Allah mengawasi bila kita melanggar janji, mengkhianati kesepakatan dan curang dalam perselisihan. Allah mengawasi kita, jika kita meninggalkan kewajiban agama, berbuat maksiat, melanggar batasan-Nya dan melakukan hal-hal yang diharamkan.

Kenikmatan tertinggi yang didapat dari ihsan adalah ridha Allah terhadap hamba-Nya, yaitu pahala yang diberikan Allah kepada hamba yang ridha kepada-Nya.

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS at-Taubah [9]: 72)

Di dalam ayat tersebut, Allah meletakkan kemuliaan ridha Allah lebih tinggi daripada surga-Nya. Keridhaan pemilik surga lebih utama ketimbang surga itu sendiri, bahkan Allah adalah inti dari yang diidamkan para penghuni surga. Rasulullah Muhammad saw. bersabda:

إِنَّ اللهَ يَتَجَلَّى لِلْمُؤْمِنِيْنَ فَيَقُوْلُ: سَلُّوْنِي فَيَقُوْلُوْنَ رِضَاكَ
Sesungguhnya Allah menampakkan diri kepada orang-orang mukmin (di surga), lalu Dia berfirman, “Mintalah kepada-Ku!” Lalu para penghuni surga berkata, “Kami minta keridhaan-Mu.”
(HR al-Bazzar dan Thabrani)
Namun demikian, kita selalu diingatkan untuk selalu introspeksi diri. Al-Fudhail menerangkan, “Sesungguhnya seorang hamba beribadah kepada Allah menurut kedudukannya di sisi-Nya, atau kedudukan Allah dalam jiwanya.” 

Dalam hal yang sama, Abu Thalib al-Makky berkata, “Apabila seorang hamba mengenal Allah, ia tentu akan menghormati serta memuliakan-Nya dengan kecintaan dan kerelaan. Demikian juga Allah, akan memandangnya bersama rahmat dan kasih sayang-Nya.”

مَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةَ اللهِ عِنْدَهُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُنْزِلُ الْعَبْدَ مَنْزِلَتَهُ حَيْثُ أَنْزَلَهُ مِنْ نَفْسِهِ

Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah pada dirinya, karena sesungguhnya Allah menempatkan seorang hamba di sisi-Nya sebagaimana hamba itu menempatkan Allah dalam dirinya. (HR Hakimhadits dha’if)

Dengan wawasan dari berbagai sumber, semoga Allah menjaga tetapnya iman kita dan menjadikan kita mencapai tingkatan ihsan, amin.
Daftar Pustaka :
  • Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, “Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • Zeid Husein Alhamid, “Terjemah Al-Adzkar Annawawi (Intisari Ibadah dan Amal)”, Cetakan Pertama : Pebruari 1994/Sya‘ban 1414
Tulisan ini lanjutan dari : Ihsan, Di manakah Dikau? (4 of 5)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, November 12, 2010

Ihsan, Di manakah Dikau? (4 of 5)

b. Malu kepada Allah


Rasa ini merupakan hasil dari pengetahuan kita bahwa Allah memperhatikan kita walau bagaimanapun keadaan kita. Maka, kita akan malu jika Allah menemukan kita sedang melakukan larangan-Nya atau kehilangan dalam pelaksanaan perintah-perintah-Nya. Buah dari sifat ini adalah keamanan dari kebencian dan siksa, serta keringanan hisab.


Sebuah kalimat bijak dari orang-orang shaleh, “Bersembunyilah dari Allah berdasarkan kekuasaan-Nya padamu. Malulah kepada Allah sebatas kedekatanmu kepada-Nya.”


Al-Qur’an telah menjelaskan tentang kedekatan seorang hamba terhadap Tuhannya di banyak ayat, di antaranya (yang terjemahnya):


Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? (QS al-‘Alaq [96]: 14)


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. (QS al-Baqarah [2]: 186)


Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. (al-Mujâdalah [58]: 7)


Rasulullah saw. pernah memberi penjelasan tentang bagaimana malu kepada Allah.


أَيـُّهَا النَّاسُ اسْـتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّا لَنَسْتَحِي مِنَ اللهِ تَعَالَى. فَقَالَ: مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْـتَحْيِـيًا فَلاَ يَبِـيْتُ لَيْلَةً إِلاَّ وَأَجَلُهُ بَيْنَ عَيْنَـيْهِ، وَلْيَحْفَظِ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَالرَّأْسُ وَمَا وَعَى، وَلْيَذْكُِر الْمَوْتَ وَالْبَلَى، وَلْيَتْرُكْ زِيْنَةَ الدُّنْيَا

Wahai manusia, malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami pasti merasa malu terhadap Allah.” Rasulullah bersabda lagi, “Siapa yang merasa malu, maka hendaklah ia tidak melewati malam kecuali ia ingat kematian ada di pelupuk matanya, dan hendaklah ia senantiasa memelihara perut dan isinya, peliharalah pikiran dan apa yang tersimpan di dalamnya, senantiasa mengigat kematian dan keburukan yang ada padanya, dan hendaklah ia tinggalkan perhiasan dunia.” (HR Ibnu Majah)


اِسْتَحْـيُوْا مِنَ اللهِ تَعَالَى. قَالُوْا: إِنَّا نَسْتَحْيِىْ يَانَبِيَّ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ. قَالَ: لَيْسَ ذٰلِكَ، وَلـٰكِنْ مَنِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَاوَعَى، وَلِيَحْفَظِ الْبَطْنَ وَمَاحَوَى، وَلِيَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبَلَيَ، وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذٰلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

Malulah kalian pada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu. Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya kami telah merasa malu, wahai Nabi Allah. Kami bersyukur kepada Allah (karena bisa berbuat demikian).” Beliau bersabda, “Bukan demikian. Akan tetapi, orang yang malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa yang terekam di dalamnya; menjaga perut dan apa yang dihimpunnya; dan ingatlah kalian pada kematian dan bahayanya. Siapa menghendaki kampung akhirat, maka tinggalkanlah perhiasan dunia. Siapa mampu mengerjakan demikian, maka sungguh dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu.” (HR Tirmidzi)


Al-Junaid pernah ditanya tentang malu, lalu dijawab, “Memandang buruk dan kurang (perbuatan baikmu). Di antara dua perbuatan itu akan lahir suatu kondisi yang dinamakan malu.”


Muhammad al-Wasithi berkata, “Tidak akan merasakan kelezatan malu, seseorang yang merobek ketentuan hukum dan melanggar janji.” Ibnu Atha’ berpesan, “Ilmu terbesar adalah rasa segan dan malu. Jika keseganan dan rasa malu hilang, maka tidak ada kebaikan yang tersisa di dalamnya.”


Dalam hadist lain Nabi saw. mengingatkan kita tentang bagaimana Allah mendekati dan mengingat kita. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda:


يَقُوُلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي. فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتـُهُ فِي نَفْسِي. وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلإٍَ، ذَكَرْتـُهُ فِي مَلإٍَ خَيْرٍ مِنْهُمْ. وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا. وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا. وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي، أَتَيْـتُهُ هَرْوَلَةًً

Allah berfirman, “Aku selalu mengikuti sangka hamba-Ku, dan Aku selalu membantunya selama ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam hatinya, maka Aku ingat padanya dalam diriku. Jika ia ingat padaku di tengah-tengah orang banyak, maka Aku ingat padanya di hadapan Malaikat yang jauh lebih baik dari masyarakatnya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan bila ia datang kepadaku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim)


Abu Muhammad Ali bin Ahmad Bin Said bin Ibnu Hazm, seorang ulama kenamaan di Andalusia (Spanyol – wafat 456 H) menasihatkan dalam senandung syairnya:


Yang mengenal-Nya, ia tahu keagungan-Nya
Berbeda negeri abadi dengan negeri fana
Berbeda takwa hakiki dengan takwa pura-pura
Si fasik berbeda dengan yang takwa
Si jujur berbeda dengan pembohong setia



Sungguh, Allah telah perintahkan kita
Taat pada-Nya jauhi hawa nafsu durjana
Meski tak ada siksa neraka bagi pendosa
Meski kita tak ada perintah ibadah pada-Nya
Kita harus tetap taat patuh pada-Nya



Daftar Pustaka :

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Ibnu Hazm al-Andalusi, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Al-lu’lu’ wal-Marjân (karya Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi) – Himpunan Hadits Shahih Yang Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu


Tulisan ini lanjutan dari : Ihsan, Di manakah Dikau? (3 of 5)
Tulisan ini berlanjut ke : Ihsan, Di manakah Dikau? (5 of 5)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, November 5, 2010

Ihsan, Di manakah Dikau? (3 of 5)

Seorang hamba tidak lepas dari tiga keadaan, yaitu dalam ketaatan, kemaksiatan dan hal yang mubah. Murâqabah dalam ketaatan adalah dengan hati yang ikhlas, menyempurnakannya, menjaga adab dan memeliharanya dari berbagai cacat. Jika ia melakukan kemaksiatan, maka murâqabah-nya adalah dengan bertaubat, menyesal, meninggalkan langsung kemaksiatan itu, merasa malu dan sibuk melakukan tafakkur. Apabila ia dalam hal yang mubah, maka murâqabah-nya adalah dengan menjaga adab, menyaksikan Sang Pemberi nikmat dalam kenikmatan yang dikecapnya lalu mensyukurinya. Hendaknya kita mengawasi diri sendiri di setiap waktu dalam tiga hal tersebut.

Adapun tentang takut kepada Allah, seorang ahli fiqh, Abul Laits as-Samarqandi mengatakan bahwa tanda rasa takut kepada-Nya tampak jelas dalam delapan perkara, yaitu:

1. Lisan

Kita menahan dan mencegah lisan dari dusta, menggunjing (ghibah) dan berkata yang berlebih-lebihan. Kita berusaha menyibukkan lisan untuk berdzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan mempelajari ilmu.
2. Perut

Kita tidak akan memasukkan apa pun ke dalam perut kecuali yang halal dan secukupnya (tidak berlebih-lebihan).
3. Penglihatan

Kita tidak mau melihat kepada sesuatu yang haram. Kita melihat segala sesuatu sebagai i‘tibar atau teladan.
4. Pendengaran

Kita tidak mau mendengarkan kecuali yang haq (benar).
5. Tangan

Kita tidak akan mengulurkan dan mengayunkan tangan kepada yang haram. Kita melakukannya hanya untuk sesuatu yang menyangkut perbuatan taat kepada Al-Haqq, Allah SWT.
6. Kaki

Kita tidak berjalan dalam perbuatan durhaka kepada Allah, tapi selalu berjalan dalam ketaatan kepada-Nya.
7. Hati

Kita menghindarkan hati dari rasa permusuhan dan memenuhi hati dengan nasihat serta rasa kasih sayang. Kita juga kuatir mempunyai penyakit-penyakit hati, yaitu kafir, munafik, fasik, syirik, riya’, cinta kedudukan dan jabatan, dengki (hasud), membanggakan diri (‘ujub), sombong (takabbur), pelit, tertipu dengan angan-angan kosong (ghurûr), kemarahan dan zhalim, (terlalu) cinta dunia dan mengikuti hawa nafsu.

Tentang angan-angan kosong, Ibnul Qayyim membuat sebuah perumpamaan, “Mengarungi hamparan bahtera angan-angan tak bertepi hanya dikerjakan oleh orang-orang bangkrut. Barang dagangan para penumpangnya adalah janji-janji setan dan hayalan yang menipu. Gelombang angan-angan dusta serta hayalan batil terus bergulung-gulung mempermainkan penumpang, seperti anjing mempermainkan bangkai.”
8. Taat

Kita takut dan kuatir terhadap ketaatan kepada Allah, maka kita selalu berusaha untuk menjadikan ketaatan kita murni dan ikhlas hanya untuk Allah semata.

Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq—guru Imam al-Qusyairi—pernah berkata, “Takut kepada Allah mempunyai beberapa tingkatan, yaitu khawf, khasy-yah dan haybah.”

Khawf merupakan bagian dari syarat-syarat iman dan hukum-hukumnya, sebagamana firman Allah SWT:
وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.
(QS Âli ‘Imrân [3]: 175)

Khasy-yah merupakan bagian dari syarat-syarat mengenal ilmu. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَۤاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS Fâthir [35]: 28)

Sedangkan haybah merupakan bagian dari syarat-syarat ma‘rifat (mengenal Allah). Haybah adalah rasa takut yang bersumber dari rasa hormat terhadap-Nya. Firman Allah:

وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ
Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya.
(QS Âli ‘Imrân [3]: 30)

Abdul Qasim al-Hakim menerangkan bahwa orang yang takut kepada sesuatu, maka ia akan lari darinya. Adapun orang yang takut kepada Allah, maka ia akan lari kepada-Nya.

Di hadapan Tuhan
Tak ada yang bisa disembunyikan
Dan tak ada yang luput dari perhitungan
Di hari pembalasan, si pendosa sesali perbuatan
Seluruh catatan amal besar dan kecil diperlihatkan
Seluruh ruh dikembalikan, seluruh amal diputuskan
Ke surga penuh nikmat, atau neraka penuh siksaan
Dan para pemuja dunia tak pernah memperkirakan
Ada kehidupan yang abadi setelah kematian
(karya Ibnu Hazm al-Andalusi)


Daftar Pustaka :
  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Ibnu Hazm al-Andalusi, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu


Tulisan ini lanjutan dari : Ihsan, Di manakah Dikau? (2 of 5)
Tulisan ini berlanjut ke : Ihsan, Di manakah Dikau? (4 of 5)


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, October 29, 2010

Ihsan, Di manakah Dikau? (2 of 5)

Ketika Allah SWT memerintahkan manusia untuk beraktivitas, hal terpenting yang diperintahkan-Nya adalah melakukan aktivitas tersebut dengan sebaik-baiknya dan tidak berlepas tangan begitu saja. Allah juga memberikan metode, agar manusia bisa beraktivitas sebaik-baiknya. Metode yang diajarkan-Nya adalah ketika mereka bekerja, mereka haruslah sadar bahwa pekerjaan itu dilaksanakan di hadapan-Nya, atau mereka menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi ketika mereka melaksanakan pekerjaan. Itulah hakikat ihsan, benar-benar antara kita dengan Allah.

Di buku “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)” diuraikan bahwa ihsan ada beberapa tingkatan, yaitu:
  • Pengawasan Allah dan takut kepada-Nya
  • Malu kepada Allah
  • Harmonis kepada Allah
a. Pengawasan Allah dan takut kepada-Nya

Pengawasan Allah adalah bagaimana seorang hamba menyembah Tuhannya seolah-olah hadir di hadapannya, melihatnya dan memperhatikannya melakukan ibadah. Jika kita menyembah Allah dengan cara seperti ini di dunia, balasannya adalah memandang-Nya dengan jelas pada hari akhirat kelak.

وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
(QS al-Qiyâmah [75]: 22)

إِلىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Kepada Tuhannyalah mereka melihat.(QS al-Qiyâmah [75]: 23)
Imam Muslim meriwayatkan dari Shuhaib bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ: تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا، أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلىَ رَبِّهِمْ
Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah berfirman, “Maukah kalian kutambah sesuatu?” Mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menghindarkan kami dari neraka?” Kemudian disingkapkanlah penghalang itu, tidak ada sesuatu yang paling diinginkan melainkan hanya melihat Tuhan mereka.

Kemudian Rasulullah membaca ayat:

لِلَّذِيْنَ أَحْسَنُوا ٱلْحُسْنىٰ وَزِيَادَةٌ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. (QS Yûnus [10]: 26)

Jadi, diharuskan bagi kita untuk selalu awas (sadar) bahwa Allah senantiasa mengawasi dan mengintai kita, karena hal itu akan melahirkan rasa takut (takwa) kepada-Nya.

إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi (mengintai).
(QS al-Fajr [89]: 14)

إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
(QS an-Nisâ’ [4]: 1)
Diperintahkan juga agar kita taat beribadah dan bersungguh-sungguh untuk melaksanakannya dengan sempurna. Ilmu Allah mencakup segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya segala apa yang ada di bumi dan di langit. Allah mendengar suara langkah kaki semut hitam di atas batu cadas hitam-kelam di malam yang gelap. Allah mengetahui dan melihat biji mostar di atas batu yang licin penuh lumut. Setiap daun jatuh, setiap bisikan dan setiap hembusan nafas didengar-Nya. Allah Maha Mengetahui peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).(QS al-An‘âm [6]: 59)
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(QS al-Hadîd [57]: 4)
Berikut ini kisah yang juga menceritakan tentang ihsan. Diriwayatkan dari Baihaqi dan yang lainnya, bahwa suatu malam Umar bin Khaththab bersama seorang peronda berjalan keliling kota. Sampai di sebuah rumah, mereka mendengar perbincangan seorang ibu dengan anak gadisnya. Sang ibu menyuruh anaknya mencampur susu yang akan dijual esok hari dengan air karena sedikit sekali hasil perahan yang diperoleh tadi siang. Sang ibu berkata,
“Wahai anakku, campurlah susu itu dengan air.”
“Apa Ibu tidak tahu kalau Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab melarang kita mencampur susu dengan air?” jawab sang anak.
“Sesungguhnya Amirul Mukminin tidak melihat kita sekarang,” tukas si ibu.
Gadis itu berkata lagi,
“Ibu, jika Amirul Mukminin tidak melihat kita, tapi Tuhan Amirul Mukminin melihat kita. Demi Allah, aku tidak mau jika aku mematuhi Amirul Mukminin di hadapan khalayak ramai, tapi mengkhianatinya di tempat sepi.”
Subhânallâh. Betapa hebatnya gadis itu, dia selalu meyakini bahwa Allah benar-benar mengawasi. Al-Junaid mengatakan bahwa siapa yang dapat merealisasikan pengawasan (murâqabah), maka dia takut kehilangan bagian yang diperoleh dari Tuhannya, bukan takut pada yang lain.

Menurut Dzun Nun al-Mishri, yang dimaksud hubungan pengawasan adalah mementingkan sesuatu yang telah dipentingkan oleh Allah, mengagungkan sesuatu yang telah diagungkan oleh-Nya dan mengecilkan sesuatu yang telah dikecilkan oleh-Nya. Ia pernah ditanya,

“Dengan apakah seorang hamba dapat meraih surga?”
“Dengan lima hal. Istiqamah tanpa penyimpangan, kesungguhan tanpa kelalaian, murâqabah dalam kesunyian dan keramaian, menantikan kematian dengan penuh kesiapan, dan menghisab jiwa sebelum dihisab,” jawabnya.

Abu Hafsh berwasiat kepada Abu Utsman, “Apabila engkau duduk bersama orang lain, jadilah penasihat terhadap hatimu dan dirimu, serta janganlah kamu sampai tertipu oleh perkumpulan mereka. Mereka mengawasi lahirmu, sedangkan Allah mengawasi batinmu.”


Daftar Pustaka :

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
Tulisan ini lanjutan dari : Ihsan, Di manakah Dikau? (1 of 5)
Tulisan ini berlanjut ke : Ihsan, Di manakah Dikau? (3 of 5)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, October 22, 2010

Ihsan, Di manakah Dikau? (1 of 5)

Setelah bertanya tentang Islam dan iman, Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang ihsan. Nabi Muhammad saw. menjawab,


أَنْ تَعْـبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau menyembah (beribadah kepada) Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan seandainya engkau tidak bisa mencapai keadaan itu, engkau harus yakin bahwa Dia melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)


Berikut ini kisah tentang implementasi ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khaththab berjalan-jalan untuk melihat keadaan rakyat beliau. Sampailah beliau di sebuah padang rumput nan hijau. Di tempat itu, beliau melihat ada seorang anak sedang menggembalakan sekian banyak domba. Umar mendekati anak itu dan berkata,


“Wahai anakku, banyak sekali dombamu.”

”Tuan, domba-domba itu milik majikan saya. Saya hanya seorang penggembala,” jawab si penggembala.

Penggembala itu tidak tahu bahwa orang di hadapannya adalah Umar bin Khattab, sang Khalifah.

“Anakku, bagaimana kalau aku membeli satu ekor saja dari domba-dombamu. Boleh kan?”

“Maaf, Tuan. Kalau Tuan hendak membelinya, silakan ke majikan saya.”

“Anakku, bagiku sama saja, aku membeli dari siapa pun juga tidak masalah. Terimalah uang ini, kamu bisa kaya dengan uang ini. Toh majikanmu juga tidak akan tahu. Bila ia bertanya tentang hilangnya satu ekor domba, katakan saja domba itu dimakan srigala,” ucap Umar mencoba untuk bernegosiasi

Penggembala tadi termenung mendengar tawaran menarik dari Umar. Suara-suara setan dan malaikat beriringan di dengarnya, mendengung di kepalanya, seolah sedang terjadi peperangan maha dahsyat. Setan membisikkan,

“Hai gembala, ambil saja uang itu! Bukankah majikanmu tidak akan tahu? Kalau ia menghitung domba-dombanya, katakan saja domba itu dimakan srigala, hilang karena lari tak terkejar, atau yang lain.”

“Jangan, wahai gembala! Itu bukan hakmu. Domba-domba itu bukan milikmu, tapi milik majikanmu. Tidak baik melakukan itu,” kata suara yang terdengar begitu lembut, suara malaikat kebaikan.

“Aaahh... Sekarang bukan zamannya. Yang penting kamu tidak menjadi penggembala lagi. Kamu bisa bahagia, bisa membangun rumah yang indah. Kamu juga bisa menolong teman-temanmu serta semua orang dengan uang itu. Tidakkah itu baik?”

“Jangan, duhai penggembala yang jujur... Ingatlah, akan ada kehidupan sesudah ini. Akan ada balasan untuk setiap perbuatan. Ingatlah Allah!”

“Gembala! Kamu tidak usah memikirkan apa yang belum terjadi. Surga adalah dunia dan dunia adalah surga!”

Cukup lama penggembala tadi terdiam. Lalu, dengan tempo lambat serta nada yang lembut namun mantap dia pun berkata,

“Maaf, Tuan. Domba-domba itu bukan milik saya. Memang, majikan saya tidak akan tahu apa yang terjadi di antara kita. Bahkan, Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab juga tidak akan mendengar peristiwa yang terjadi di sini. Tapi, Tuan, Lâ ilâha illallâh, bagaimana aku mengatakan pada majikanku bahwa domba itu dimakan srigala? Tidak sadarkah Tuan bahwa Allah melihat kita? Di manakah Allah (fa-aynallâh)?”

Mendengar ungkapan jujur dari seorang anak kecil itu, mata Khalifah Umar pun berkaca-kaca, hatinya gerimis, mengharu biru. Betapa anak sekecil itu sudah menerapkan ihsan dalam kehidupannya yang tergolong sederhana. Nasihatnya begitu dalam, menelusup sampai ke relung-relung kalbu, mengalir bersama aliran darah dan menyatu sampai ke dalam sumsum tulang.

Dikisahkan pula bahwa ada seorang guru memiliki seorang murid muda yang sangat dihormati dan selalu diutamakannya. Sebagian murid yang lain merasa iri, lalu bertanya pada sang guru,

“Mengapa Bapak menghormatinya, padahal ia masih muda dan kami lebih tua?

Kemudian sang guru mengambil beberapa burung, lalu memberikan seekor burung dan sebilah pisau kepada masing-masing muridnya seraya berkata, “Masing-masing kalian hendaklah menyembelih burung itu di tempat yang tidak dilihat oleh siapa pun.”

Setelah beberapa lama, semua murid kembali dengan membawa burung yang telah disembelih, kecuali murid muda itu. Ia kembali dengan membawa burung yang masih hidup di tangannya. Gurunya pun bertanya,

“Mengapa engkau tidak menyembelihnya sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawanmu?”

“Saya tidak menemukan tempat di mana saya tidak dilihat oleh siapa pun, karena Allah senantiasa melihatku di setiap tempat,” jawabnya.

Akhirnya semua murid mengakui murâqabah (perasaan selalu dalam pengawasan Allah) anak muda itu seraya berkata,

“Engkau memang berhak dihormati.”

Dua buah cerita di atas telah menggambarkan penerapan ihsan dalam keseharian. Namun, sepertinya hanya akan menjadi sekadar cerita, sebagaimana kisah-kisah yang lain. Kenapa? Marilah kita tanyakan pada diri kita, “Seandainya kita berada pada posisi penggembala kambing atau murid muda itu, apa yang kita lakukan?”

Mungkin kita akan melakukan hal yang sama, tapi rasanya berat sekali. Apalagi meniru murid muda dari sang guru. Dalam kondisi sendirian, ia masih tetap merasa dilihat Allah. Memang, kita bukan penggembala kambing atau murid muda itu, tapi bukankah semua pekerjaan pada dasarnya sama?

Di buku “ESQ POWER – Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan”, terdapat contoh-contoh ihsan untuk bidang pekerjaan saat ini, yaitu:

  • Seorang pegawai atau karyawan tidak disebut ihsan kalau dia hanya bisa mengerjakan perbuatan rutin saja, tetapi baru disebut ihsan kalau dia mahir dalam pekerjaannya, kreatif, bagus hasilnya, menyenangkan kawan kerjanya dan masyarakat. Semua dilakukan demi menggapai ridha Ilahi.
  • Seorang pilot baru disebut ihsan, jika ia mahir dalam mengendalikan pesawatnya, memahami dengan baik tentang cuaca berbagai tempat, penuh cinta dengan pekerjaannya, sayang kepada para penumpangnya dan selalu ingat kepada Allah yang menundukkan pesawat itu kepada dirinya (manusia).
  • Seorang manajer perusahaan baru dikatakan ihsan, jika ia dapat mengatur perusahaannya dengan baik (memajukan perusahaan), dicintai dan mencintai karyawannya (menyejahterakan karyawan), pandai dalam berkomunikasi dengan masyarakat (memberikan manfaat yang besar bagi lingkungannya) dan selalu ingat kepada Allah yang telah memberi kesempatan baginya untuk bekerja dengan leluasa.

Daftar Pustaka :

  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Ary Ginanjar Agustian, “ESQ POWER – Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan”, Penerbit Arga, Cetakan Kesembilan : Mei 2006
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan ini berlanjut ke : Ihsan, Di manakah Dikau? (2 of 5)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#