Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label hukum tarik-menarik. Show all posts
Showing posts with label hukum tarik-menarik. Show all posts

Friday, August 6, 2010

Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (7 of 12)

Jika kita menginginkan dan merencanakan sesuatu, misalnya kita ingin mempunyai mobil dengan spesifikasi yang kita sebutkan; maka energi diri kita akan memancar untuk menarik energi-energi pendukung di seluruh galaksi. Memang, energi dari kita juga harus kuat supaya energi pendukungnya juga kuat. Namun, bila tidak sebesar seharusnya, impian kita tetap terwujud hanya saja mobilnya tidak sebagus yang kita inginkan. Secara teknis, caranya bisa saja karena kita termotivasi sehingga kerja kita bagus kemudian dapat bonus, kita mendapat undian dari sebuah perusahaan sabun cuci, dagangan kita laku keras, bisnis kita lebih lancar atau hal-hal lain yang tetap sesuai hukum alam.


Sayangnya, mereka hanya mengandalkan akal semata. Bahkan mereka membandingkan Tuhan dengan energi. Secara tersirat mereka sebenarnya telah mengatakan bahwa energi itulah Tuhan. Perlu penulis sampaikan di sini perbandingan yang mereka lakukan dan bagaimana menyikapinya. Tujuannya bila ada di antara kita yang menonton filmnya, “The Secret” atau membaca buku yang menjelaskan tentang “Hukum Tarik-Menarik”, kita sudah mengetahui kunci untuk tetap dalam iman.

Mereka mengatakan bahwa Tuhan itu yang pertama ada dan tidak pernah berakhir. Energi juga sama karena energilah yang terlebih dahulu ada di alam semesta ini dan tidak bisa hilang. Tuhan akan seperti prasangka manusia; jika manusia berprasangka baik kepada-Nya, maka Tuhan pun akan mewujudkan kebaikan bagi manusia; sebaliknya, apabila manusia berprasangka buruk kepada Tuhan, maka Tuhan pun akan menjadikan hari-harinya tidak baik. Energi juga mempunyai sifat yang sama sebagaimana contoh di atas. Tuhan tidak bisa musnah, namun Tuhan bisa berubah wujud. Energi pun tidak bisa musnah, hanya berubah wujud, misalnya dari energi gerak menjadi energi panas dan lainnya.

Coba kita perhatikan pernyataan mereka tentang Tuhan dan abaikan tentang energi. Pernyataan terakhir, “Tuhan tidak bisa musnah, namun Tuhan bisa berubah wujud” jelas tidak ada dalam Islam. Mungkin agama yang mereka kenal adalah agama yang mempunyai Tuhan terbilang, atau yang Tuhannya berubah wujud—suatu saat jadi anak, di saat lain jadi bapak dan sebagainya.

Andaikan saja mereka mengenal Islam, agama tauhid, bertuhankan Allah, Tuhan Yang Maha Esa (Al-Ahad), tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan yang pasti tidak pernah berubah wujud. Alhamdulillâh, puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Beliau Yang Maha Memberi Petunjuk (Al-Hâdiy), karena telah memberi hidayah kepada kita sehingga kita mendapat cahaya keimanan.

Semoga Allah senantiasa menjaga keimanan dan keislaman kita hingga kita berjumpa dengan Beliau di surga yang telah dijanjikan; tempat yang keindahannya belum pernah terlihat mata, kedamaiannya belum terdengar oleh telinga dan kenikmatannya tak pernah terbetik dalam hati, amin.

Rasulullah juga mengajarkan sebuah doa yang visi dan misinya sangat agung, yang kita kenal dengan doa sapu jagad. Doa itu berbunyi:

رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فىِ ٱلدُّنْياَ حَسَـنَةً وَفىِ ٱْلآخِرَةِ حَسَـنَةً وَقِنَا عَـذَابَ ٱلنَّارِ
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS al-Baqarah [2]: 201)

Doa ini mengumpulkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Kebaikan dunia adalah setiap perkara yang disenangi. Kebaikan yang diharap itu berupa kesehatan, rasa aman, hidup enak, kesehatan jiwa, anak-anak yang shaleh dan berbakti, istri yang shalihah dan setia, rumah yang layak, ilmu yang bermanfaat, amal shaleh, kendaraan yang nyaman dan nama baik. Ini semua disetai dengan terhindarnya diri dari segala sesuatu yang tidak diinginkan seperti fitnah, musibah, sakit, akhlak tercela, lemah iman, jarang memikirkan Allah, anak durhaka, istri yang tidak setia, tetangga yang tidak baik, kesulitan hidup, beban hutang dan reputasi buruk.

Kebaikan dunia sangat banyak, sedangkan kebaikan akhirat yang paling tinggi adalah keberhasilan menggapai ridha Allah, memasuki surga-Nya, melihat-Nya yang telah lama dirindukan, bersahabat dengan para nabi dan rasul serta hamba-hamba Allah yang shaleh di dalam kampung kemuliaan-Nya. Juga kebaikan itu berupa keselamatan dari siksa neraka serta segala kekejian yang ada di dalamnya.

Demikianlah doa ini mencakup segalanya. Namun, janganlah kita lupa, bahwa itu semua harus disertai dengan tindakan yang mendekatkan diri kita untuk mencapainya. Berarti kita harus bekerja keras untuk bisa bahagia di dunia, serta bersungguh-sungguh dalam beribadah (mujâhadah) untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Kita juga harus terus menuntut ilmu tak kenal henti sampai ajal menjemput kita. Kita sudah diajari bahwa siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia, maka raihlah dengan ilmu; siapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat, maka raihlah dengan ilmu; dan siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia serta akhirat, maka raihlah dengan ilmu. Marilah kita haturkan doa sebagaimana ‘Aidh al-Qarni memanjatkan doanya:

Para raja, jika hamba sahaya telah menjadi dewasa
Mereka membebaskannya sebagai orang merdeka
Dan Engkau wahai Penciptaku lebih utama dan mulia
Aku lanjut usia dalam penghambaan ini
Maka bebaskan hamba-Mu dari neraka


Daftar Pustaka :
‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006
  • Rhonda Byrne, “Rahasia (The Secret)”, PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kelima : Juni 2007


  • Tulisan ini lanjutan dari : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (6 of 12)
    Tulisan ini berlanjut ke : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (8 of 12)
    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

    Friday, July 30, 2010

    Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (6 of 12)

    Apa yang dinamakan hukum alam tiada lain kecuali “a summary or statistical averages” (ikhtisar dari pukul rata statistik). Einstein dengan tegas menyatakan bahwa semua yang terjadi diwujudkan oleh “superior reasoning power” (kekuatan nalar yang superior), yang dalam bahasa Al-Qur’an adalah Allah Yang Maha Perkasa (Al-‘Azîz) lagi Maha Mengetahui (Al-‘Alîm).

    Schwart, seorang pakar matematika Prancis menyatakan, “Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, sampai pun kepada sajak. Sedangkan Fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun.” Sementara itu, Teori Black Hole menyatakan bahwa pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3%, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia.

    Kierkegaard, seorang tokoh Eksistensialisme menyatakan, “Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu.” Emanuel Kant pun berkata, “Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hati saya untuk percaya.”

    Mengingat masing-masing dari kita pasti punya kekurangan, janganlah kita menjadi katak dalam tempurung—yang hanya menilai secara sepihak—tanpa mau memperbaiki diri dengan terus-menerus belajar. Mario Teguh berpesan, “Kita seringkali hanya mendengar apa yang ingin kita dengar, dan melihat apa yang ingin kita lihat.” Itulah yang membuat kita tidak bisa berkembang dengan cepat, jika tidak ingin dikatakan tidak berkembang sama sekali.

    Seorang pemenang dua kali hadiah Nobel, Albert Szent-Györgyi, M.D, Ph.D menjelaskan, “Penemuan terdiri dari melihat sesuatu yang sama seperti setiap orang lain tetapi menghayatinya secara berbeda.”

    Mungkin suatu saat—dengan karunia dari Allah—perkembangan ilmu dan teknologi bisa menjelaskan lebih baik lagi bagaimana mukjizat para nabi atau rasul dan karamah para wali terjadi. Wallâhu a‘lam. Imanlah yang didahulukan, kemudian akal memperkokoh iman. Pertama, kita harus iman (percaya) akan adanya hari akhir, kemudian menjadi yakin (tingkatannya lebih tinggi dari percaya) karena memang tidak bertentangan dengan akal.

    Marilah kita bersama-sama belajar secara berkelanjutan kepada ahlinya. Marilah kita bersatu padu untuk mencari kebaikan, dengan cara yang santun, anggun, ramah dan baik. Asalkan semuanya kita niatkan sebagai pengabdian kepada Allah, insya Allah semua hal bisa diselesaikan dengan baik. Kebenaran hanyalah milik Allah. Dengannya, kita berucap, “Wallâhu a‘lam bish-shawâb.”

    Kembali ke pembahasan tentang doa sebagai visi dan misi, karena kita adalah manusia biasa, maka kita harus patuh pada hukum alam sesuai yang diketahui saat ini. Dengan doa yang penuh pengharapan, berarti kita menanamkan keinginan tersebut ke otak bawah sadar kita. Hal itu akan membuat kita terus ingat atas yang kita inginkan dan berusaha untuk meraihnya (seperti hipnoterapi). Kita akan bekerja lebih keras dengan cara-cara yang lebih baik dan lebih cerdas untuk menggapai harapan kita. Dengan kondisi ini, insya Allah doa kita akan cepat terkabul. Kita telah melakukan yang seharusnya dilakukan seorang hamba kepada Tuhannya, dan kita juga sudah melaksanakan hal-hal yang sesuai dengan hukum alam yang disepakati pada masa sekarang.

    Karena doa adalah visi dan misi, maka doa bisa juga dianalogikan sebuah impian besar. Di buku-buku karyanya, Mario Teguh menjelaskan lebih detail tentang impian ini.

    Kita tidak boleh bernegosiasi dengan impian kita. Bernegosiasilah dengan apa yang harus kita lakukan untuk mencapainya. Berdoalah agar kita diberi kemampuan sesuai tugas yang kita emban. Janganlah kita berdoa agar diberi tugas sesuai kemampuan kita.

    Tanpa memimpikan keadaan yang lebih baik di masa depan, kita akan kehilangan ketertarikan untuk hidup dengan sepenuhnya. Padahal ketertarikan itu adalah tenaga yang memaksa kita untuk melangkah maju. Tenaga itulah yang membedakan jauhnya perjalanan yang akan ditempuh oleh seseorang; tingginya dan juga indahnya perjalanan itu bila dibandingkan dengan perjalanan yang tidak bertenaga.

    Karena hidup ini seyogyanya direncanakan, dan karena impian itu bisa menjadi tenaga bagi upaya pencapaian kualitas hidup yang kita inginkan, maka sebenarnya memimpikan sesuatu adalah sebuah bentuk perencanaan. Impian meliuk lepas dari sarang-sarangnya di angan-angan kita, menuju kenyataan melului lorong-lorong tindakan yang nyata.

    Kita tidak akan bisa memungkinkan tercapainya sebuah impian hanya melalui impian-impian yang lain. Kita tidak bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan, hanya dengan memimpikan cara-cara mencapainya. Kita harus melakukan sesuatu, dan lakukanlah itu segera.

    Begitu sebuah impian berhasil keluar menjadi kenyataan, dia akan memberikan tenaga kepada sang empunya mimpi, untuk memimpikan pencapaian-pencapaian berikutnya. Itu sebabnya, impian selalu berlari lebih cepat dan selalu berada di depan kita.

    Bila impian itu indah, dan yang mengejarnya juga mewarnai dirinya dengan sikap-sikap yang baik, maka pengejaran mimpi itu bisa menjadi sebuah perjalanan yang ringan, lincah, ceria dan menyemangati. Dalam keceriaan itu, tanpa kita sadari sebetulnya kita telah mencapai kursi yang kemarin diduduki oleh impian kita, saat dia beristirahat melepas lelah.

    Sebetulnya, banyak di antara kita telah hidup dalam impiannya. Hanya saja kecepatan lari impian kita meninggalkan tempat yang telah kita capai itu, membuat kita lupa bahwa kita telah pernah sampai.

    Dia yang kesibukannya adalah merajut permadani dengan benang yang terbuat dari serat-serat otot dan otaknya, dengan pola dan corak warna-warni impiannya, telah mencapai bentuk tertinggi dari kehidupannya.

    Selain nasihat para movitator seperti di atas, kiranya perlu kita ketahui perkembangan ilmu dewasa ini. Dalam hal pencapaian impian, saat ini para ilmuwan barat berusaha merasionalisasikan terkabulnya sebuah keinginan atau doa. Mereka mendasarkan diri pada disiplin ilmu Fisika Quantum.

    Dijelaskan bahwa tubuh kita adalah miniatur jagad raya (mikrokosmos), sedangkan jagad raya sesungguhnya disebut makrokosmos. Jika kita mempunyai sebuah keinginan atau memikirkan sesuatu, maka diri kita akan mengeluarkan energi yang memancar ke jagad raya. Energi itu akan menarik energi-energi yang akan mendukungnya menjadi kenyataan. Mereka menyebutnya “Hukum Tarik-Menarik”, yang dalam bahasa Inggris disebut The Law of Attraction. Hukum Tarik-Menarik adalah hukum alam. Hukum ini sama pentingnya dengan Hukum Gravitasi.

    “Permintaanmu adalah tugasku (Your wish is my command),” seperti itulah kira-kira dukungan semesta terhadap pikiran kita. Kita seperti sebuah menara penyiaran, yang memancarkan frekuensi dengan pikiran-pikiran kita. Jika kita ingin mengubah sesuatu di dalam hidup kita, ubahlah frekuensi dengan mengubah pikiran kita.

    Pikiran bersifat magnetis, dan pikiran memiliki frekuensi. Ketika kita memikirkan pikiran-pikiran, semua itu akan dikirim ke semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang dikirim ke luar akan kembali ke sumbernya—Kita.

    Pikiran yang sedang kita pikirkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan kita. Apa yang paling kita pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai hidup kita. Pikiran kita akan menjadi sesuatu.

    Misalnya pada suatu pagi kita minum secangkir kopi hangat, namun tanpa sengaja tumpah, dan mengotori baju kita. Ternyata reaksi kita tidak baik ketika itu terjadi, contohnya mengeluh, mengomel bahkan mengumpat. Ini berarti kita mengirimkan energi negatif ke alam semesta, dan itu akan menarik energi-energi negatif pula. Dengan demikian, hari itu akan kita lalui dengan kesedihan atau kejadian yang tidak menyenangkan. Bisa saja pada siang harinya kita ada masalah di sekolah/kantor, bertengkar dengan teman dan keadaan tidak membahagiakan lainnya. Namun, bila sikap kita tenang dan sabar ketika kopi pagi hari itu tumpah, maka mikrokosmos dalam diri kita mengirimkan energi positif ke makrokosmos. Dengannya, kita akan menjalani hari dengan kegembiraan.


    Daftar Pustaka :
    • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
    • Rhonda Byrne, “Rahasia (The Secret)”, PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kelima : Juni 2007
    • Robert K. Cooper, Ph.D dan Ayman Sawaf, “Executive EQ – Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi”, PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Keempat : Januari 2001

    Tulisan ini lanjutan dari : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (5 of 12)
    Tulisan ini berlanjut ke : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (7 of 12)

    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

    Friday, May 29, 2009

    Shalat Dhuha, Nasibmu Kini (1 of 2)

    Ilmuwan Fisika Quantum telah membuat rumusan Hukum Tarik-Menarik (The Law of Attraction). Salah satu ringkasan rahasia Hukum Tarik-Menarik adalah “Untuk menarik uang, berfokuslah pada kekayaan.”

    Mario Teguh menasihatkan, “Hukum Tarik-Menarik berkata bahwa kalau kita fokus pada kekayaan, maka semesta akan menarik kekayaan untuk kita. Kalau kita selalu berpikir hal-hal baik, maka kebaikanlah yang akan diwujudkan untuk kita. Oleh karena itu, berpikir dan fokuslah untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan cara-cara yang tetap dalam kebaikan.”

    Sekarang mari kita perhatikan lagi ajaran agama kita. Sebelum ilmuwan, motivator dan konsultan berpesan seperti tersebut di atas, bukankah doa ketika selesai shalat Dhuha sudah mengajarkan kita untuk berpikir dan bersikap seperti itu? Coba kita telaah lagi doa setelah shalat Dhuha sebagai berikut :


    اللَّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فىِ السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فىِ اْلأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسِـرًا فَيَسِّـرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ وَعِصْمَتِكَ، آتِنِيْ مَا أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ.

    رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فىِ ٱلدُّنْياَ حَسَـنَةً وَفىِ ٱْلآخِرَةِ حَسَـنَةً وَقِنَا عَـذَابَ ٱلنَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَـيِّدِنَا
    مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِيْنَ. وَٱلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعٰٰـلَمِيْنَ


    Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu waktu-Mu; cahaya cemerlang, keindahan, kekuatan, kekuasaan dan penjagaan, semua itu adalah hak yang ada pada-Mu. Ya Allah, bilamana rejeki hamba masih di langit maka turunkanlah, apabila masih berada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika susah mencapainya maka mudahkanlah, bila ada yang haram maka sucikanlah dan jika masih jauh maka dekatkanlah; dengan hak-Mu atas waktu dhuha, cahaya cemerlang, keindahan, kekuatan, kekuasaan dan penjagaan-Mu; anugerahkanlah kepada hamba seperti yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh.

    Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Semoga shalawat/rahmat dan kasih sayang tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan sahabat beliau. Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, amin.

    Sungguh, agama kita telah mengajarkan semua hal, jauh sebelum para ilmuwan, konsultan dan motivator mengatakannya. Dengan anjuran agama untuk shalat Dhuha, serta bukti ilmiah dan logis yang ada, apakah kita masih mengabaikan shalat Dhuha? Apakah kita masih menganggapnya tidak perlu dan tidak penting? Apakah kita masih didera rasa malas untuk melaksanakannya?

    Sebagai catatan, perlu diingat bahwa kita tidak boleh shalat Dhuha dengan niat agar mendapatkan banyak rejeki. Shalat Dhuha tetap diniatkan untuk beribadah, mengabdi kepada-Nya, sesuai anjuran Rasulullah saw. Doa setelah shalat itulah yang kita niatkan untuk memohon kelancaran rejeki yang halal, berlimpah dan barakah. Selain uang dan perhiasan, rejeki juga bisa berarti kesehatan, keluarga SAMARA (sakinah, mawaddah wa rahmah), nilai bagus dan sebagainya.

    Kapan waktu pelaksanaan shalat Dhuha bisa dimulai? Shalat Dhuha bisa dikerjakan setelah matahari terbit setinggi galah. Apabila diukur dalam satuan menit, kira-kira 25 (dua puluh lima) menit setelah matahari terbit. Saat ini sudah banyak dicetak pedoman shalat untuk waktu abadi dan kalender yang mencantumkan waktu-waktu shalat, imsak, terbit matahari dan Dhuha.

    Dari penjelasan di atas, berarti shalat Dhuha bisa dilaksanakan sebelum kita berangkat ke kantor, sekolah atau kuliah. Namun, jika kita berangkat ke kantor pagi-pagi benar—sebelum waktu Dhuha—karena jarak yang cukup jauh atau waktu tempuh yang lama, maka shalat Dhuha bisa dilakukan di kantor, sebelum jam kerja. Bagi para pelajar dan mahasiswa, shalat Dhuha dapat dilakukan pada jam istirahat.

    Mungkin ada di antara kita yang berkata, “Kalau saya shalat Dhuha di sekolah, kampus atau kantor, saya kuatir akan timbul sifat riya’. Saya takut dipuji teman-teman dan akhirnya ibadah saya karena mereka, bukan karena Allah. Nanti kan saya tidak mendapat apa pun. Saya juga kuatir dikatakan sok alim, padahal saya kan bukan orang alim. Saya bukan ustadz, apalagi kyai. Saya pun belum menunaikan ibadah haji. Cukup melaksanakan shalat fardhu sajalah.”

    Itulah salah satu cara setan untuk mencegah kita melaksanakan ibadah. Setan memang punya berjuta jurus untuk menaklukkan kita. Salah satunya yaitu membisiki kita bahwa kalau kita melaksanakan ibadah yang tidak dilaksanakan orang lain, maka kita akan mudah terjangkit penyakit hati berupa riya’ dan ‘ujub. Kalau kita malah tidak shalat Dhuha karena takut riya’ dan ‘ujub, berarti setan telah berhasil, dan kita kalah dibuatnya. Solusinya adalah tetaplah menjalankan shalat Dhuha, sambil menata hati dan memohon kepada Allah agar menjaga kita dari godaan setan.
    Imam al-Fudhail bin Iyadh memberi petuah bijak,
    تَرْكُ الْعَمَلِ ِلأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ ِلأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ وَاْلإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ مِنْهُمَا
    “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan berbuat amal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah apabila engkau diselamatkan Allah dari keduanya.”


    Shalat Dhuha tidak ada hubungannya dengan sebutan Ustadz, Kyai, Ajengan, Buya, Tuan Guru, Syaikh, Ulama atau yang lain. Shalat itu antara kita dengan Allah. Shalat Dhuha dianjurkan oleh Nabi tercinta, Muhammad saw. Kita shalat bukan untuk mendapat julukan “orang alim”. Kita shalat semata-mata karena-Nya. Kalau omongan teman membuat kita tidak shalat, justru itu menunjukkan bahwa kita shalat karena mereka (riya’). Kita rajin shalat karena pujian, dan tidak shalat karena cemoohan. Apakah diri kita memang seperti itu? Tentu tidak, kan? Bukankah kita telah berikrar bahwa shalat, ibadah, hidup dan mati kita hanya untuk Allah? Dan jika memang kita beralasan malu untuk shalat di sekolah, kampus atau kantor; apakah ketika libur, kita selalu shalat Dhuha di rumah?

    Daftar Pustaka :

    • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
    • Kathur Suhardi, “Madarijus-Salikin (Pendakian Menuju Allah) – Penjabaran Kongkret Iyyâka na‘budu wa-Iyyâka nasta‘în (terjemah Madârij as-Sâlikîn karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah)”, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan Kedua : Agustus 1999
    • Rhonda Byrne, “Rahasia (The Secret)”, PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kelima : Juni 2007
    Tulisan ini berlanjut ke : Shalat Dhuha, Nasibmu Kini (2 of 2)

    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#