Saat ini penulis sedang menulis artikel-artikel yang akan diposting secara rutin. Untuk sementara, posting baru belum terbit. Mohon doanya, agar penulis bisa istiqamah dan senantiasa diberi kemudahan oleh Allah dalam berbagi ilmu, amin...

Mencari Data di Blog Ini :

Jumat, 22 Juli 2011

Langkah-Langkah Menyambut Ramadhan (1 of 2)

“Marhaban ya Ramadhan,” begitulah sambutan kita menyongsong kehadiran bulan suci Ramadhan. Mengapa bukan “Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan”? Bukankah “Ahlan wa Sahlan” juga berarti “Selamat Datang”?




Di buku “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa para ulama memang mengajarkan demikian.




Ahlan terambil dari kata “ahl” yang berarti keluarga, sedangkan sahlan berasal dari kata “sahl” yang berarti mudah. “Sahl” juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti jalan mendaki. Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang di celahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”




Adapun marhaban terambil dari kata “rahb” yang berarti luas atau lapang. Dengan demikian marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan lapang dada, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.




“Marhaban ya Ramadhan” mengandung maksud bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan menggerutu apalagi menganggap kehadirannya mengganggu ketenangan atau suasana nyaman kita. Jika memang demikian adanya, langkah-langkah apa sajakah yang harus kita lakukan demi menyambut Ramadhan?




a. Membersihkan Diri





Jika kita diberitahu oleh protokoler kepresidenan bahwa sebulan lagi Presiden RI dan Raja negara tetangga akan mengunjungi rumah kita, apa yang akan kita lakukan?





Langkah awal yang kemungkinan besar kita kerjakan adalah membersihkan rumah. Rumah kita sapu, pel bahkan dicat ulang. Semua perabotan pun dicuci tak bernoda. Harus kinclong!
Nah, jika menyambut Presiden dan Raja saja seperti itu, lantas apa yang harus kita lakukan dalam rangka menyambut Ramadhan, tamu agung yang dinanti-nanti? Bukankah kemuliaan Ramadhan tak tertandingi?





Langkah pertama yaitu membersihkan diri (takhalliy). Drs. Syamsuri, MA—dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—menjelaskan bahwa takhalliy berarti membersihkan diri dari “kotoran” lahir maupun “kotoran” hati.





“Kotoran” lahir misalnya mencuri, mabuk, penyalahgunaan narkoba, membunuh dan sejenisnya. Adapun “kotoran” atau penyakit hati meliputi sombong, kikir, riya’, dengki, menggunjing, berdusta dan sebagainya.





Hati juga harus dibersihkan dari keterikatan kepada dunia. Adapun definisi dunia, dijelaskan oleh ulama sebagai berikut:





كُلُّ شَيْئٍ لاَ نَفْعَ فِيْهِ لِـْلآخِرَةِ




Segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.




Lalu, kapan persiapan menyambut Ramadhan dimulai? Ulama memberi nasihat agar kita mempersiapkannya minimal sejak bulan Rajab karena bulan Rajab termasuk salah satu bulan haram (bulan mulia).





Bahkan, Ustadz Sigit Pranowo, Lc, al-Hafizh—pengasuh rubrik ”Ustadz Menjawab” di Eramuslim—menerangkan bahwa setengah tahun sebelum kedatangan ramadhan, para ulama salaf senantiasa berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan mulia tersebut dan setengah tahun setelahnya berdoa agar berbagai ibadah mereka di bulan mulia itu diterima oleh-Nya.





اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ




Ya Allah, berilah kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan, amin.


Daftar Pustaka:




Tulisan ini berlanjut ke: Langkah-Langkah Menyambut Ramadhan (2 of 2)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

0 comments:

Poskan Komentar