Pada waktu duduk di bangku SMAN 16 Surabaya, penulis pernah bertanya pada diri sendiri :
- Mengapa Allah tidak mewujudkan pahala berupa harta? Kenapa harus menunggu Hari Akhirat? Allah kan Maha Kuasa (Al-Qâdir), Maha Kaya (Al-Ghaniyy) dan Maha Pengasih (Ar-Rahmân).
- Tidakkah lebih enak dan bersemangat bila setelah shalat, di hadapan kita langsung terbentang untaian mutiara sebagai ganjaran shalat kita?
- Bukankah asa untuk beramal akan meningkat kalau kita sedekah Rp 10.000,- maka serta merta kita mendapat balasan Rp 100.000,- (bila dilipatgandakan 10x) sampai dengan Rp 7.000.000,- (bila diganjar 700x) bahkan lebih?
Hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2] : 261) - Kalau kita waqaf untuk masjid, otomatis menjadi istana megah yang menjulang tinggi serta bertahtakan intan, berlian, zamrud dan yaqut.
- Jika kita mendapat cobaan misalnya sakit, maka setelah sembuh, Allah langsung memberi kita hadiah mobil BMW, Mercy, Ferrari dan Rolls-Royce. Andaikata seperti ini yang kita alami, insya Allah kita akan senantiasa sabar dalam menghadapi dan menjalani segala bentuk cobaan.
- Tatkala seorang anak berbakti kepada orang tuanya, serta merta semua nilai ujiannya mendapat nilai 100 bagi pelajar/mahasiswa dan menerima penghargaan, baik award (piagam/sertifikat) maupun reward (uang/emas batangan).
- Bagi pelajar/mahasiswa/santri, setelah belajar ilmu apa pun, karena diniati ibadah, maka Allah langsung menyediakan segebok (setumpuk) uang di hadapannya.
- Ketika seorang istri taat kepada suaminya, secara kontan Allah memberi karunia berupa sutra, perhiasan dan kemewahan lainnya.
- Selain itu, nanti di akhirat tetap mendapat surga. Amboi, betapa nikmatnya !
Mungkin pertanyaan itu bisa dikatakan agak mirip dengan slogan anak muda sekarang, “Kecil manja, muda foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk surga.”
Lama sekali penulis mencari jawaban yang bisa memuaskan diri (bukan hanya teoritis, karena anak muda butuh yang masuk akal juga). Penulis mengaji kitab, membaca buku, mendengarkan ceramah, seminar, konsultasi tentang keislaman dan bertanya dari berbagai sumber. Setelah bertahun-tahun, berikut ini jawaban yang menurut penulis bisa memuaskan, baik dari segi ilmu maupun akal :
- Syaikh Ibnu Athaillah menerangkan bahwa jika pahala diberikan Allah dalam wujud uang, permata, mobil, saham, obligasi dan sejenisnya, maka dunia tidak akan mampu menampung seluruh pahala yang ada. Dunia ini terlalu sempit untuk menampung semua ganjaran tersebut. Itu kenapa akhirat—yang seluas langit dan bumi—dipilih sebagai tempat membalas semua ibadah yang kita lakukan.
- Syaikh Ahmad Athaillah berkata lagi, “Demikian juga karena Allah menyayangi kita, sehingga tidak memberi hasil jerih payah kita di tempat yang tidak kekal ini.”
- M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa jika pahala diberikan Allah di dunia dalam wujud harta kekayaan, maka Allah sungguh tidak adil. Kenapa? Karena Allah memberikan ganjaran yang bersifat fana (tidak kekal). Uang bisa habis dibelanjakan, rusak, hilang bahkan dicuri atau dirampok orang. Sedangkan balasan berupa surga berlaku abadi—selama-lamanya. Itulah bukti bahwa Allah Maha Penyayang (Ar-Rahîm) dan Maha Adil (Al-‘Adl).
Bukankah kita ingin agar yang kita miliki tidak hilang/musnah? Bukankah sifat dasar manusia adalah menginginkan kepemilikan tetap bahkan selama-lamanya? Itulah kenapa baru di surga semua balasan diberikan.
- Kalau diinginkan agar di dunia mendapat balasan uang atau perhiasan, sedangkan di akhirat tetap mendapat surga, berarti dunia bukanlah ujian. Padahal, dunia diciptakan sebagai ladang (kebun atau sawah) untuk ditanam, yang dipanen di akhirat kelak.
ٱلَّذِيْ خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS al-Mulk [67] : 2)
Abu Bakar Muhammad bin Ali al-Kattani mengatakan, “Dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan, dan akhirat diciptakan agar manusia bertakwa.”
Dan, bila tidak ada ujian di dunia ini, sungguh manusia bertabiat mudah bosan dan jenuh serta mendambakan tantangan dan persaingan. Misalkan di sekolah atau kuliah tidak ada ujian. Yang pandai maupun yang bodoh, rajin atau malas, cerdas maupun tidak; semuanya diperlakukan sama yaitu mendapat nilai 100 dan lulus 100%. Apakah itu sebuah keadilan dan bentuk kasih sayang? Pastilah banyak yang akan protes.
- Semua ibadah yang kita lakukan, sebenarnya untuk diri kita sendiri, bukan untuk kepentingan Allah.
Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah berpesan, “Ketaatanmu tidak bermanfaat bagi Allah, dan kemaksiatanmu tidak membahayakan-Nya. Sesungguhnya Allah memerintahmu berbuat taat, dan melarangmu berbuat maksiat, karena setiap perbuatan kembalinya kepadamu juga.”
Dalam pesannya yang lain, Ibnu Athaillah menuturkan, “Tidaklah bertambah kemuliaan Allah karena orang yang datang membawa ketaatan, dan tidak mengurangi kemuliaan Allah orang yang menjauhkan diri dan berpaling dari-Nya.”
Andaikata semua makhluk bertakwa kepada Allah, itu semua tidak akan menambah sedikit pun keagungan-Nya. Jika seluruh alam semesta durhaka kepada-Nya, hal itu juga tidak akan mengurangi sedikit pun dari kekuasaan-Nya. Kalau Allah menginginkan, maka Allah Maha Kuasa menjadikan manusia umat yang satu dan semuanya bertakwa.
Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. (QS Yûnus [10] : 99)
Sekiranya Allah menghendaki, kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS al-Mâidah [5] : 48)
- Kalau pahala diwujudkan di dunia ini dalam bentuk harta, maka dosa pun harus diwujudkan. Itulah yang disebut adil.
Allah akan membalas perbuatan dosa saat pertama kali kita melakukannya. Bukankah sungguh berat hidup seperti itu? Semua aib akan terbuka. Padahal, tidak mungkin manusia tidak berbuat dosa, karena ada hawa nafsu dan bujukan setan. Kecuali Nabi tentunya, yang memang terjaga dari kesalahan atau dosa (ma‘shûm). Namun, karena rahmat-Nya, Allah membiarkannya beberapa waktu, dengan harapan kita akan bertaubat dan kembali, juga agar kita malu kepada-Nya. Rasulullah bersabda :
كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّائُوْنَ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ الْمُسْـتَغْفِرُوْنَ
Setiap manusia melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat dan memohon ampun (istighfar). (HR Tirmidzi)
لمَـَّا قَضَى اللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فىِ كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ، إِنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ
Ketika Allah telah selesai mencipta semua makhluk, maka Allah menulis dalam ketetapannya yang ada di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku.” (HR Bukhari dan Muslim)
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman jiwa-Nya, jika kalian tidak berdosa pasti Allah akan mencabut kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa hingga mereka memohon ampunan Allah, lalu Dia pun mengampuni mereka. (HR Muslim)
Pertanyaan selanjutnya adalah, “Mengapa kita masih didera rasa malas untuk beribadah?” Misalnya :
- Tiap hari baca Al-Qur'an 1 ruku' (1 maqra')
- Tiap hari shalat Dhuha 2 rakaat saja
Mengapa kita selalu mengajukan argumentasi untuk tidak melaksanakannya? Apakah karena kita merasa diri pandai berdebat sehingga kita pun berani “mendebat” Allah dan para Malaikat-Nya?
Kenapa kita tidak mau bersabar sejenak untuk menunggu balasan pahala kita? Apakah kita mengira bahwa beribadah hanya membuang-buang waktu, tidak efisien dan sia-sia belaka? Lupakah kita bahwa uang, emas, perhiasan, untaian mutiara, mobil, istana yang menjulang tinggi dan bidadari akan kita dapatkan? Tidak ingatkah kita bahwa semua itu tidak hilang, hanya menunggu waktu saja?
Mari kita merenung sejenak. Ketika kita mulai bekerja (misal usia 23 tahun), biasanya perusahaan akan menawari program tabungan pensiun. Tabungan baru bisa diambil ketika kita pensiun. Itu berarti kita harus menunggu selama 32 tahun karena kita baru akan pensiun usia 55 tahun. Kenapa kita mau bersabar menunggu selama itu tanpa bisa menikmatinya segera? Mengapa kita mau menabung tiap bulan demi pensiun kita?
Berdasarkan data, rata-rata usia harapan hidup (UHH) penduduk Indonesia mencapai usia 69,87 tahun. Untuk laki-laki, harapan hidupnya mencapai usia 67,42 tahun dan untuk perempuan mencapai 72,45 tahun. Kalau kita pensiun usia 55 tahun, berarti hanya +/- 15 tahun kemudian kita akan meninggal.
Nah, kalau kita mau menabung demi pensiun, lalu mengapa kita bermalas-malas diri menabung untuk masa depan kita nan abadi? Apa alasan kita menunda-nunda berbakti kepada Beliau Yang Telah Menciptakan kita?
Kita hanya perlu bersabar sedikit untuk menikmati hasil jerih payah kita dalam beribadah. Tidakkah kita mau melakukannya? Tidakkah kita mau menikmati tabungan akhirat dengan keuntungan 700% bahkan lebih?
Daftar Pustaka :
- Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
- Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
- M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007
- M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006
- M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
- Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
- http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=288756&kat_id=253
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#
bukannya gak mau share,kalo diteruskan juga gak akan ada titik temu. percuma, padahal tidak ada yg namanya kebenaran dan kesalahan mutlak, semua serba relatif.
ReplyDeleteso, diskusi ini saya akhiri dengan bagimu pemahamanmu, bagiku pemahamanku.
Assalamu'alaikum..Jazakumullah khairan katsiran atas kunjungannya ya..artikelnya bagus..logis dan update dengan kondisi umat sekarang. Mudah2an bisa melembutkan hati umat Islam. Faizan
ReplyDeletemaaf ni pak baru singgah kesini :)
ReplyDeleteuraian yang menarik sekali, dan logis :)
bole saya copas yah pak :)
Assalamu'alaikum.
ReplyDeleteTulisan yang bagus, sangat mencerahkan dan berstandard ilmiah. Semoga Allah selalu bersama P' AF.
Wassalamualaikum
makasih dah ke blog saya :)
ReplyDeletehttp://cantigi.wordpress.com/2008/08/19/ibsn-ibsn/
Assalamu alaikum Wr-Wb
ReplyDeleteTrimaksih tuk comennya di blogku. Blog ini sangat mencerahkan, dan Insya Allah sy akan jadi pengunjung tetapnya. Smoga di ijinan y....
Jazakumullah.... ty http://gunungsalju.blogspot.com
walaa..mas postingnya rada lucu..heheh...klo pahala dalam bentuk brang bisa..nanti ruwett..
ReplyDeleteassalamu'alaikum, mohon maaf karna saya baru membalas kunjungannya.
ReplyDeleteyang seperti ini yg sedang saya cari sbg pencerahan hidup.
smg artikel di blog ini dpt menambah keimanan dan ketaqwaan saya dalam menghadapi setiap ujian dari NYA. Amin..
terimakasih ya mas... smg Allah membalas ilmu yang telah anda release dengan pahala yg berlipat ganda. Amin.
wassalamu'alaikum wr wb.
beberapa hal:
ReplyDelete1) sekarang sma bukan smu (saya sedikit banyak ngerti soal ini)
2) anda menulis: ....Lupakah kita bahwa uang, emas, perhiasan, untaian mutiara, mobil, saham, obligasi, istana yang menjulang tinggi dan bidadari akan kita dapatkan?....
emang di akhirat ada obligasi dan cs-nya :)
3) teman saya yg atheis pernah nanya: emang akhirat di mana sih letaknya?
saya jawab: kayaknya masih termasuk galaksi bima sakti deh...
bener ga yah?
4) bahasa anda menyejukkan hati. bahkan dalam mimpi pun sulit buat saya menulis selembut itu....
salam
ReplyDeleteterima kasih atas kongsi ilmunya
moga Allah menerima pahla puasa kita
assalamu'alaikum mas faisol, alhamdulilah dari ilmu antum buat blog bisa saya praktekkan smoga Allah balas pahala yang lebih banyak, sampai-sampai gaya dan model antum saya tiru..... trima kasih you are my inspirasi....he...he salam untuk teman semua ada puisi ana tentang kematian : di wwww.innalillahi.blogspot.com selamat berkun jung siapa saja boleh baca
ReplyDeleteThanx ya tuk commentna....
ReplyDeleteEhm pas baca blog kamu aku salut banget n ngerasa kecil banget krn kamu adalah orang yang beriman ya...^_^
Tulisan kamu berguna banget.....
Thanx ya...
assalamualaikum
ReplyDeletealhamdulillah..
syukron atas undangannya mas faisol..
nice post.. semoga bisa menambah iman dan taqwa kita, amin.
syukron telah berbagi infonya.
salam kenal.
wassalam
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (Q.S. 18:110)
ReplyDeleteSbg org awam yang baru belajar ttg Islam,
bagi ana cukuplah berkah Allah dalam tiap langkah dan kelurusan niat dalam tiap amal, sehingga dengan pertolongan Allah hati ini dapat bersih dari penyakit hati sang perusak dan penghancur amal, amin..
Barokallohu fiik wa jazakalloh khoir ya akh faisol..
Jika Pahala nya adalah harta
ReplyDeletemaka pasti banyak yg mau berbuat baik
tapi pasti niat kita bukan ditujukan
kepada Alloh SWT,karena hanya berbuat baik
lantaran untuk Harta...
:)
Alhamdulillah hari ini dapat Ilmu yg mencerahkan, dapat bersilaturahmi dengan Saudara seiman.
ReplyDeleteLanjudkan perjuangan ya Mas, semoga Allah menerima semua amal ibadah kita,amin.
helmisyahid.blogspot.com
terima kasih atas kunjungannya ke blog saya...
ReplyDeletewah, ya, ya, benar, jadi tergugah...
Salam...
ReplyDeleteWah, salut dg mas Faisol, yang langsung merespons setiap komentar di blognya ini.
Kalau saya langsung balas mampir ke blog pemberi komentar, jika punya blog, atau lewat e-mail japrinya...jika mencantumkan saat kirim komentar di blog saya.
Btw, setuju dengan uraian mas Faisol di sini. Kalau menurut pemahaman saya yang masih sempit ini, sesungguhnya Allah selalu membalas setiap usaha, amal, dan do'a kita.
Dan, dari pengalaman saya, balasan dari Allah, bisa berbentuk berbagai macam, yang jelas semuanya disediakan buat kita dan jelas demi kebaikan kita.
Balasan dukungan Allah ini bagi saya semacam tabungan ghaib, yang tidak langsung semuanya ditunjukkan secara kasat mata. Tetapi, begitu saya membutuhkanya secara sadar atau tidak saya sadari, maka dukunganAllah ini selalu benar-benar muncul, dan tentu saja itu sangat meringankan beban saya pada saat itu.
Misalnya, di saat saya butuh dukungan uang dalam jumlah besar yang bikin saya mumet... Alhamdulillah, Allah turun tangan menunjukkan jalan lain untuk memperoleh uang besar itu, yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya.
Contoh sederhana lain, di saat saya harus memberikan materi seminar/workshop, dan pada saat itu waktu kehadiran saya sudah sangat mepet sekali, dan jalanan ternyata padat-macet luar biasa...yang secara logika, saya pasti sangat telat hadir di seminar/workshop. Alhamdulillah...Allah juga langsung membantu perjalanan saya, sehingga, meskipun secara kasat mata tampak jalanan macet total, kok saya bisa tiba di tempat acara sebelum acara dimulai...bahkan sering membuat heran peserta yang bilang bahwa jalanan macet total, banyak yang terlambat datang.
Banyak sekali kejadian dalam hidup saya, selalu memperoleh bantuan langsung Ilahi. Tadi itu hanya sedikit contoh yang saya alami sendiri.
Oleh karena itu, saya sangat meyakini, bahwa Allah selalu membalas apapun amal-ibadah kita, baik kita minta ataupun nggak kita minta kepada-NYA.
Alhamdulillah...saya bersyukur menjadi seorang muslim. Subhanallah wa bihamdih.
Salam,
Wuryanano
Ya mungkin Allah S.W.T punya jalan lain untuk membuat umatnya lebih mematuhi apa yang di perintahkan dan menajuhi apa yang menjadi larangannya.
ReplyDeleteJazakumullah telah mampir ke blog sy yg masih sederhana. Sekrg sy mampir sesuai undangan mas Faisol. Artikelnya inspired bgt.
ReplyDeleteohya, sekrg sdh ada loh tabungan dengan bunga 700x atau 70.000%. Tapi bukan bunga, melainkan bagi hasil. Gak usah repot-repot nyarinya... nabung aja di Bank Syariah.
Bukankah menabung di Bank Syariah itu termasuk kebaikan?
Salam,
Zulkifli
wa qoliilun min 'ibaadiy asy-syakuur...
ReplyDeletesalam jihad, Mas Achmad...
Subhanallah..
ReplyDeleteSemoga dapat menambah keyakinan kita semua untuk senantiasa mantap menjadi hamba Allah yang Taat beribadah kepada-Nya.
Salam Ukhuwah akhina fillah faisol
Syukron Jazilan sudah mampir di mjundi.wordpress.com
wassalam
Salam kenal kepada mas Achmad Faisol dari author sepin-sepi. Terima kasih sudah mengunjungi blog pertama saya, walaupun terdapat kekurangan baik dalam bentuk tulisan maupun desain layoutnya. Maklum, mungkin kami masih pemula dalam hal tulis menulis. Sepertinya blog anda lebih kepada dakwah tentang agama islam. Menurut saya ini sangat berharga,soalnya umat islam mulai meninggalkan apa yang mereka yakini saat sekarang. Dimana materi lebih berharga ketimbang moral dan akidah.
ReplyDeleteSaya ada sedikit pertanyaan:
1. Mengapa saat ini ketika maraknya bisnis jaringan, pelaku dalam bisnis ini lebih mementingkan impian para anggotanya agar tujuan perusahaan tercapai dalam bentuk pemuasan materi. Berupa uang yang banyak dan lebih mementingkan kehidupan duniawi. Salahkah mereka yang mengikuti bisnis ini, karena persoalan ekonomi kian hari makin sulit saja terasa. Terutama sekali di negara kita (Indonesia)?
2. Semakin banyak orang yang lebih mementingkan penampilan dibandingkan moral mereka sendiri. Aneh tapi nyata dan tetap terjadi. Dan ternyata, era globalisasi mengikis hati setiap manusia seakan-akan pemuasan kebutuhan hidup lebih berarti. Apa yang terjadi ???
Sekian pertanyaan dari saya, kalau mas faisol ada waktu untuk menjelaskannya, saya mengucapkan banyak terima kasih.
Best Regards,
sepin-sepi
hbulah@yahoo.com
kenapa Allah SWT tidak memberikan kekayaan di dunia sebagai bentuk balasan or pahala kepada umat ISlam?
ReplyDeleteCek Al-Anfaal:28 "bahwa harta dan anak ialah ujian".
y iyalah kalau diberi harta bukannya kenikmatan tapi ujian dan ujian lagi dan kita mampu gak menghadapi ujian itu setiap waktunya?
tapi cek lagi deh sebuah ayat Ibrahim ayat 7:
ReplyDeleteDAN INGATKAH JUGA TATKALA TUHANMU MEMAKLUMKAN : SESUNGGUHNYA JIKA KAMU BERSYUKUR, PASTI KAMI AKAN MENAMBAH NIKMAT KEPADAMU, DAN JIKA KAMU MENGINGKARI NIKMATKU, MAKA SESUNGGUHNYA AZABKU SANGAT PEDIH
Berarti ada balasan di dunia yg kontan tapi berupa apa y?
apakah itu pahala?
kita lebih suka menjalankan sholat yang sunnah tapi ada gak pernyataan Al-quran bahwa orang sholat masuk surga khan....
ReplyDeletepadahal pengajaran ilmu pengetahuan or membuat suatu teknologi baru untuk umat lebih berharga dibanding cuman sekedar ceramah...
bayangkan kalau kita pembuat bohlam maka berapa banyak kebaikan yang akan kita terima di dunia saja dulu.... hayo donx yang katanya beragamanya Islam bikin suatu penemuan....
Kebanyakan kita berdoa untuk diri kita aja sendiri cek di http://fusion-kandagalante.blogspot.com/2008/08/mekasnisme-doa.html
ReplyDeletePadahal apabila kita berdoa untuk diri kita sendiri lebihi berat loooh pertanggung jawabannya
"ikhlas & cinta harus dibuktikan dgn usaha sungguh2"
ReplyDeletecinta itu memberi
ikhlas itu melakukan sesuai kesadaran dan kewajaran.
apa usaha yang kita lakukan berdasarkan kesadaran or disuruh orang lain, terpaksa, ilmu berdasarkan turun-temurun?
kalau cinta itu memberi masa sih kita berdoa dengan menuntut kepada Allah SWT, apa kita anggap bahwa Allah SWT itu pembantu kita, temen kita?
Kenapa gak kita anggap dia sebagai tuhan?
cek di http://fusion-kandagalante.blogspot.com/2008/09/tuhan.html
Pada hari akhir bukankah yang dihitung itu amal sholeh bukan pahala jadi pahala itu apa y dan gunanya apa?
ReplyDeleteApabila surga dan neraka itu tidak di buat masihkah kita bertuhankan Allah SWT?
Islam juga sudah mengenal mlm dari dulu, itu khan salah satu prinsip pada balasan baik dan buruk kita. prilaku kita akan dipertanggungjawabkan sampae ke ortu, temen dll jadi arahnya naek dan turun....
ReplyDeletebukankah itu mlm
Menarik dan bermanfaat sekali... :)
ReplyDeletesaudaraku kandagalante yg sangat kritis
ReplyDeletesampean menulis,
"Apabila surga dan neraka itu tidak di buat masihkah kita bertuhankan Allah SWT?"
bgmn kalau pertanyaannya dilanjutkan saja :
1. bagaimana kalau Nabi Adam as. tidak diciptakan?
2. bagaimana bila alam semesta tak pernah ada?
dalam pelajaran bahasa Indonesia, pertanyaan2 tsb. termasuk pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban...
kenapa? krn Allah sendiri sudah menjawabnya, bahwa sorga & neraka itu ada...
begitu dulu, saudaraku...semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...
Betul, surga dan neraka itu ada....
ReplyDeleteTapi Allah SWT juga punya hak ferogatif....
Apabila surga dan neraka itu tidak di buat masihkah kita bertuhankan Allah SWT?
jawabannya mudah saja yaitu masih....
pertanyaan ini khan hanya sebagai salah satu ukuran saja benarkah kita ikhlas....
tau g kenapa surga dan neraka ada ialah nilai dari konsekuensi kita hidup di dunia....
2 pertanyaan yang anda ajukan berbeda makna dengan yg saya jelaskan di atas....
kalau nabi adam tidak diciptakan or alam semesta tak pernah ada maka kita juga tidak pernah diskusi seperti ini bukan, berarti itu mundur kebelakang....
coba kita bisa berfikir maju dengan mengutamakan kualitas kegiatan detik sekarang....
yesterday is history, future is mistery, present is my life....
saudariku wyd yg sangat kritis,
ReplyDeletesampean menulis,
"emang di akhirat ada obligasi dan cs-nya :) "
terima kasih atas masukannya... waktu itu, saya tinggal copy & paste saja... :-)
sampean menulis lagi,
"emang akhirat di mana sih letaknya?"
jawabnya : wallaahu a'lam...
saya ingat ketika kelas 3 SMPN 13 Surabaya pas pelajaran IPBA (Ilmu Pengetahuan Bumi & Antariksa)... saat itu guru saya menceritakan gugusan bintang yg disebut galaksi... lalu ada banyak galaksi di alam raya ini...
pertanyaan saya kepada beliau (juga saya ajukan kpd para ustadz) :
saat Nabi Isra' & Mi'raj kan sampai ke langit, nah di manakah langit itu...?
ternyata, tdk ada yg bisa menjawab... ini menunjukkan betapa pengetahuan kita sangat terbatas... ini pula pentingnya iman...
begitu dulu, saudariku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin..
saudaraku kandagalante yg sangat kritis,
ReplyDeletesampean menulis :
"coba kita bisa berfikir maju dengan mengutamakan kualitas kegiatan detik sekarang....
yesterday is history, future is mistery, present is my life...."
SETUJU...
saudaraku sepin-sepi yg baik,
ReplyDeletemari kita niatkan segala aktivitas kita, baik sekolah, kuliah, kerja dll. sebagai ibadah karena Allah...
perbedaan ibadah & bukan ibadah, terletak pada niat...
sekolah pun kalau niatnya agar kalau lulus bisa cepet dapat kerja -> bukan termasuk ibadah...
begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...
saudaraku kandagalante yg sangat kritis,
ReplyDeletettg surah Ibrahim : 7, berdasarkan penjelasan tafsir Ibnu Katsir :
"Jika bersyukur thd nikmat yg dikaruniakan Allah, maka Allah menambah nikmat tersebut..."
Apa itu syukur...? ini sangat panjang pembahasannya... saya ringkas saja...
syukur itu dr hamba & Allah... Allah adalah asy-Syakuur...
syukur dr hamba adalah memanfaatkan karunia Allah sesuai yg Beliau inginkan... misal kita diberi kemeja baru oleh saudara kita... lalu, kita memanfaatkannya untuk mengepel...? apakah itu termasuk syukur...? tidak... karena kita tdk memanfaatkan sesuai pemberian...
Allah asy-Syakur scr sederhana begini:
kalau kita mendekat kpd Allah, maka Allah lebih mendekat lg ke kita... kalau kita bersyukur kpd Allah, maka Allah bersyukur (menambah nikmat) ke kita berlipat ganda...
begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...
saudaraku kandagalante yg sangat kritis,
ReplyDeletesampean menulis,
"hayo donx yang katanya beragamanya Islam bikin suatu penemuan...."
ini pun saya ajukan kpd diri saya sendiri... itu kenapa saya masuk ITS, bukan IAIN... walaupun belum tercapai, tp setidaknya ada yg bisa saya persembahkan u/ kemajuan teknologi bangsa ini... yaitu dg mengajar disiplin ilmu-ilmu TI...
namun jgn lupa, pertanyaan itu pun juga diajukan kpd diri sampean sendiri... bukankah sampean juga bagian dari umat Islam...?
saudaraku kandagalante yg sangat kritis,
ReplyDeletesampean menulis,
"masa sih kita berdoa dengan menuntut kepada Allah SWT, apa kita anggap bahwa Allah SWT itu pembantu kita, temen kita?"
saudaraku,
berdoa itu diperintahkan Allah... banyak sekali ayat Al-Qur'an yg memerintahkan kita u/ berdoa...
dg berdoa, Allah sangat senang krn kita menunjukkan kehambaan & kekurangan kita... itu berarti, tdk pernah berdoa menunjukkan kesombongan kita...
berdoa juga ibadah... Syaikh Sa'id Hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs-Intisari Ihya' 'Ulumuddin menegaskan bhw BERDOA TIDAK MENGGUGURKAN MAQAM RIDHA...
Sebagai bukti bahwa Allah senang terhadap para hamba yang memohon kepada-Nya, di dalam Al-Qur’an, Allah memuji sebagian hamba-Nya yang berdoa :
Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‘ kepada Kami. (QS al-Anbiyâ’ [21] : 90)
Imam Ibnul Qayyim menuturkan bhw doa adalah dzikir kpd Allah :
إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ ذِكْرٌ لِلْمَدْعُوْ سُبْحَانَهُ
Sesungguhnya doa adalah dzikir kepada Yang dimohon, yaitu Allah Subhânahû wa Ta‘âlâ.
dalam sebuah hadits yg tercantum di kitab Bulughul Maram dijelaskan keutamaan berdoa :
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَـاءِ
Tidak ada satupun (amal hati) yang lebih mulia dalam pandangan Allah dibandingkan doa. (HR Ibnu Hibban dan Hakim)
begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...
saudaraku kandagalante yg sangat kritis,
ReplyDeletesampean menulis,
"Kebanyakan kita berdoa untuk diri kita aja sendiri cek di http://fusion-kandagalante.blogspot.com/2008/08/mekasnisme-doa.html"
SETUJU... Bahkan Rasul saw. juga meminta kita berdoa u/ orang lain...
Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuan yang bersangkutan akan dikabulkan, pada kepalanya terdapat malaikat yang ditugaskan kepadanya. Manakala ia mendoakan saudaranya dengan doa yang baik, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya mengatakan, “Amin, dan bagimu hal yang semisal.” (HR Muslim)
saudaraku Wuryanano yg baik,
ReplyDeleteterima kasih atas sharingnya yg begitu indah dan menyentuh rasa... semoga menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahala (MLP) bg kita semua, amin...
saudaraku motosuki yg baik,
ReplyDeletemonggo2 saja kalau copas... semoga menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahala (MLP) bg kita semua, amin...
saudaraku kandagalante yg sangat kritis,
ReplyDeletesampean menulis,
"Apabila surga dan neraka itu tidak di buat masihkah kita bertuhankan Allah SWT?
jawabannya mudah saja yaitu masih...."
menurut saya, jawabannya :
belum tentu... itu tergantung diri kita sendiri, mau ga mencapai hidayah, membuka hati u/ iman... hidayah memang dari Allah, tp kita juga harus membuka hati u/ menerimanya...
lha wong adanya surga & neraka saja tidak membuat semua orang bertuhankan Allah, koq...
begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...
Terima kasih sudah mampir ke blog saya. Tulisan yang bagus sekali... Salam!
ReplyDeletehihihihi asik, btw istilah multi level pahala kok aneh yah kedengerannya hihihihi
ReplyDeletesalam
saudaraku bisor yg sangat kritis,
ReplyDeletekalau kita mengajarkan sesuatu yg baik kpd teman kita, lalu dia mengerjakannya, maka : teman kita dapat pahala & kita juga dapat...
kalau teman kita mengajarkan kepada orang lain lagi, lalu orang itu mengamalkannya, maka :
orang itu dapat pahala, teman kita dapat, dan kita pun tetap dapat...
begitu seterusnya... bukankah ini Multi Level Pahala...? :-)
مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا
Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)
begitu dulu, saudaraku... senang sekali punya saudara yg sangat kritis seperti sampean... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...
assalamu alaikum wr wrbb
ReplyDeletetrimakasih kunjungannya dan alhamdulillah saya sampai disini''
cuplikan dari kajian daiatas,
Andaikata semua makhluk bertakwa kepada Allah, itu semua tidak akan menambah sedikit pun keagungan-Nya. Jika seluruh alam semesta durhaka kepada-Nya, hal itu juga tidak akan mengurangi sedikit pun dari kekuasaan-Nya. Kalau Allah menginginkan, maka Allah Maha Kuasa menjadikan manusia umat yang satu dan semuanya bertakwa
Bgaimana hubungannya dengan ayat " tidak kujadikan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKU " mohon sharing dan semoga kajian ini menjadi amal bagi kta semua amin wassalamu alaikum wr wrbb
syukron udah berkunjung di http://pkscibitung.wordpress.com
ReplyDeleteartikelnya menarik dan menyejukkan......
wa'alaykumus salam wr. wb, saudaraku ahmad sofyan.s yg sangat kritis,
ReplyDeletejawabannya sudah ada di tulisan saya,
"Semua ibadah yang kita lakukan, sebenarnya untuk diri kita sendiri, bukan untuk kepentingan Allah."
jadi, semua ibadah kita pada dasarnya u/ kebaikan kita sendiri...
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri..." (QS al-Isrâ' [17]:7)
begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...
Allahu Akbar 3x Walillahhilhamd
ReplyDeleteTaqobballahuminna waminkum Taqobbal ya karim.
Selamat Iedul Fitri 1249 H.
Mohon ma'af lahir dan bathin
Semoga sukses akan MLPnya.
saudaraku cenya95 yg baik,
ReplyDeleteamin... mohon maaf lahir & batin, juga...
semoga MLP berlaku u/ kita semua, amin...
saudaraku sipitung yg baik,
ReplyDeleteterima kasih kembali saya haturkan...
subhanallah, bener banget,
ReplyDeletetapii.kaloo semua ibadah langsung diganti berupa harta,
buat apa kita capek.capek kuliah buat nyari kerja mas?
anyweii, lailatul qadar ciri-cirinya apa ya ?
o iia,
seruu juga liat debat mas faisol ama kandagalante
hehe :))
Dear Mas Faisol, terimakasih atas insightnya yang sangat mencerahkan tentang pahala dan motivasi ibadah.
ReplyDeleteUntuk saudara kandalagante, janganlah mempertanyakan isi Al Quran dan kekuasaan Allah. Apalah arti kita ini manusia, hanya setitik debu tak berarti di hadapan-Nya. Yang penting kita sebagai muslim, sejak kita ucapkan dua kalimat syahadat, maka sejak itu pula kita otomatis harus percaya kepada Al Quran dan Hadits, krna Al Quran dari Allah. Masak kita percaya ma Allah tpi mempertanyakan Al Quran,firman-Nya yang diturunkan melalui junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW?
.
Di Quran dan hadits bnyak sekali penjelasan mengenai surga dan neraka, dan juga berkali2 ditekankan bahwa surga adalah implikasi ibadah dan amal soleh, di sisi lain, neraka adalah implikasi maksiat.
Jadi, saudara kandalagante,mana mungkin neraka didinginkan? Juga bnyak ayat Quran yang menerangkan bahwa orang kafir akan kekal dalam neraka. Jadi surga atau neraka itu kekal.
kalau ga percaya ma pahala dan nikmatnya surga, ga papa sih,tpi kok menurut saya yang awam ini, itu sama aja ga percaya ma sebagian isi Quran. Naudzubillah. Kita harus percaya mutlak semua yang ada di Quran dan jg Hadits shahih.
sedangkan "ibadah mencari ridha Allah", saya sendiri tidak tahu maknanya..hanya ada ayat Quran yang saya pegang bahwa 'Tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah. Jadi ibadah udah otomatis, dan bgi yang ikhlas, dapat pahala, dapat surga. Buat yang ga ibadah, masuk neraka. Simpel kan. Maaf ya Mas Faisol, ilmu agama saya masih cetek, cuma tergerak aja sharing. Saya pling kesal kalau ada yang mempertanyakan atau ribet tentang Al Quran kayak kandalagante, padahal bagi kita, Al Quran adalah kebenaran hakiki yang datangnya dari Allah,tidak ada keraguan di dalamnya,dan menjadi petunjuk dan jawaban semua pertanyaan.
terima kasih dah mampir...
ReplyDeletekalau pahala berbentuk harta... yang jelas berbuat baik dah bukan tujuan hidup lagi nantinya... :)
Assalamu'alaykum wr wb,
ReplyDeleteAkhi Faisol, terima kasih atas kunjungan dan komentar antum di http://cerdasfinansial.blogspot.com/2008/03/segala-amal-tergantung-niat.html. Semoga akhi dan sahabat lainnya mau bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/cerdasfinansial/ untuk menambah khazanah komunitas cerdas finansial madani.
Maulana
+966508531996
MLP (Multi Level Pahala) saya suka itu :)
ReplyDeleteiy jga sich.... andaikan pahala = harta
ReplyDeleteso klo bgitu kan otomatis orang" berlomba-lomb mendapatkan pahala !!!! betul ga??
Nice blog...thanks for visiting my blog...
ReplyDeleteok memang bagus
ReplyDeleteRamainya ana berjumpa orang-orang alim di maya ini. Al-hamdulillah.....
ReplyDeleteMudah-mudahan dilembut hati sekelian mukmin dan bersatu dibawah payug Islam.
Tentang sesuatu dari Allah hanya sedikit yang tahu, dan tentunya liulil albab.
ReplyDeleteMudah2an kita termasuk dari yang sedikit dan yang ulil albab.
Terima kasih telah mengunjungi wordpress mamabojong versi babasanmama.
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum shiyaamanaa wa shiyaamakum, kullu amin wa antum bi khoir
Nak masuk dalam ulul albab bukan mudah perkara yang diwar- warkan. Ianya satu proses yag cukup hebat. Riadah yang berterusan. Istiqomah menjadi darah daging. Hidup dalam kandang Allah. Buat yang Allah suruh dan tinggal yang Allah larang 100%.
ReplyDeleteBukan setakat cakap-cakap retorik manusia akhir zaman........wallahualam..
Assalamu'alaikum
ReplyDeleteisi blognya bagus dan pembahasannya masuk akal
best regards
artikel yang bagus.....top-lah
ReplyDeletejazakallah, boleh saya copy paste yaa?
ReplyDeletememang Allah lah yang jelas2 paling penyayang..
ReplyDeleteisi postnya bagus banget..:)
terima kasih singgah di blog ana...
ReplyDeletesharing is caring..
Terimakasih atas komentarnya di blog saya http://mimbarjumat.com. Tulisan yang bapak rekomendasikan ini sungguh memberi saya pencerahan. Sekali lagi terima kasih.
ReplyDeletejazakallahu khairon...semoga Allah melindungi anda sekeluarga...
ReplyDeletesaudariku ukhti yg baik,
ReplyDeleteamin... doa yg sama juga teruntuk sampean & keluarga, amin... malaikat pun turut mendoakan siapa saja yg mau mendoakan orang lain... ini dr hadits riwayat Imam Muslim...
Assalamu'alaikum wr wb
ReplyDeleteTerima kasih sudah mampir di blog saya. Tulisan Anda di sini amat bagus, tetap semangat ya... salam untuk keluarga. wass wr wb
wa'alaykumus salam wr. wb, saudariku Seliara yg baik,
ReplyDeleteterima kasih juga saya haturkan... salam u/ keluarga sampean...
ya, jazakallah. menurutku banyak manfaatnya...
ReplyDeletetulisan yang menggugah, ternyata ilmu kita benar-benar tidak bisa memahami zat Allah,
ReplyDeleteBila ditelaah tetaplah Allah berkeputusan dengan seadil-adilnya.
Maha suci Allah dengan segala firmanNYA. Senang sekali bisa membaca tulisan ini. Terima kasih.
ReplyDeleteAssalamu'alaikum Wr.wb.
ReplyDeleteArtikel yang Luar Biasa
Pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan dan
jawaban yang tidak pernah terpikirkan juga.
Insya Allah saya akan mengikuti setiap artikel yang mas buat agar dapat menambah pemahaman hidup.
Terima kasih banyak.
(rio)
HARUSKAH IBADAH KEPADA ALLAH HANYA BERHARAP DAPAT PAHALA SAJA
ReplyDeleteSUJUD KEPADA ALLAH DENGAN IKHLAS SEBAGAI WUJUD PENYERAHAN TOTAL KEPADANYA, PERWUJUDAN RASA SYUKUR TANPA MENGHARAP IMBALASN APAPAUN.
KARENA BILA ALLAH RIDHA ATAS PENGABDIAN KITA KEPADANYA, ITU SUDAH LEBIH DARI CUKUP.
KENAPA...
BUKANKAH TANPA KITA MINTA KEPADA ALLAH, DIOA SUDAH MENYIAPKAN SEGALANYA UNTUK KITA ????
JADI PERNAHKAH KITA BERFIKIR, KAPAN KITA HARUS "MEMBERI" KEPADA ALLAH.
ITULAH RASA SYUKUR KITA.
SEMOGA ALLAH RIDHA
saudaraku Santri Lanang yg baik,
ReplyDeleteterima kasih atas nasihat yg begitu indah ini... namun, ada satu pertanyaan:
karena pahala/surga/neraka itu abstrak, maka mudah bagi kita u/ mengatakan bhw ibadah itu u/ mendapat ridha Allah, bukan pahala/surga & takut neraka...
tp, kalau pertanyaannya begini bagaimana...? (pertanyaan ini diajukan oleh almaghfurlah KH. Asrori al-Ishaqi):
kalau Allah ridha kita menjadi fakir/miskin serta berpenyakitan, adakah kita masih mengatakan kita tidak mengharap apa pun...?
ataukah sebaliknya, kita jd lebih rajin dzikir, berdoa & shalat hajat dll agar berkecukupan dalam rezeki & sehat selalu...?
apakah dzikir/ibadah kita ketika ditimpa musibah/penderitaan lebih intens dibandingkan ketika kondisi aman2 saja...?
bagaimana menurut sampean...? karena ternyata banyak orang takut menjadi fakir/miskin & berpenyakitan daripada takut neraka...
hal ini krn kita belum tahu neraka, hanya dr cerita saja krn itu ngga ada efek ketika diceritakan neraka... adapun kemiskinan & penyakit pernah kita alami...
Assalamu'alaikum wr.wb.
ReplyDeleteSaya tdk sengaja membuka blog anda ketika googling "Tips agar selalu sabar dalam segala kondisi".Saya sangat berterima kasih dan syukur alhamdulillah bisa menemukan artikel2 yang saudara tulis.Benar2 sangat bermanfaat.Saya sebagai orang awam jadi termotivasi utk senantiasa belajar dan mencoba tuk membaca Al-Qur'an setiap hari.
Assallammuallaikum
ReplyDeletemakasi bangets mas atas nasehatnya,sangat manfaat sekali.Miskin,kaya,pinter,bodo,tu semua coba'an.Palagi baca tulisan mas yg penuh bergelimang harta karna pahala,maka semakin banyak pula coba'an yg kita terima.Padahal apa apa yg ada di dunia ini cuma kesenangan yg menipu.Makasi lagi mas semoga ALLAH paring kelancaran & kebarokahan.
Yayasan Sentra Dakwah Hidayatullah mengajak anda semua untuk berpartisipasi dalam amal sholeh. Diatas lahan kurang lebih dua hektar kami berniat membangun Pesantren, Pusat Kajian Islam dan Pendidikan. Alhamdulillah kegiatan tersebut sudah di mulai. Mohon dukungannya. Kunjungi kami di :http://www.sentradakwah-hidayatullah.blogspot.com/
ReplyDeletesalam dari Malaysia
ReplyDeleteartikel yang baik. terima kasih
Masya Allah.. Qta memang harus kritis supaya qta dpt mengetahui semua makna di belakang itu, boleh di tempel di facebook mas?
ReplyDeletewah sangat bermmfaat … terimakasih akhi faisol…
ReplyDeleteArtikel yang menarik dan bermanfaat. Terima kasih :)
ReplyDeletesubhanallah tulisannya. boleh saya pake ga buat materi ceramah di sekolah ?
ReplyDeletemudah" an tulisannya jadi ilmu yang berguna
Alhamdulillah sore ini saya membaca artikel yang mencerahkan. Jazakallah pak Achmad Faisol
ReplyDelete