Saat ini penulis sedang menulis artikel-artikel yang akan diposting secara rutin. Untuk sementara, posting baru belum terbit. Mohon doanya, agar penulis bisa istiqamah dan senantiasa diberi kemudahan oleh Allah dalam berbagi ilmu, amin...

Mencari Data di Blog Ini :

Jumat, 15 Agustus 2008

Berdzikir Membuat Hati Tentram, Benarkah? (1 of 5)

Hidup ini memang tempat ujian. Tanpa diundang atau dicari pun, masalah akan tetap kita temui. Setelah menyelesaikan masalah yang satu, maka kita akan mendapat masalah baru untuk diselesaikan. Semua itu ibarat anak sekolah yang terus mendapat soal ujian untuk bisa naik kelas.

Seorang motivator dan inspirator, Drs. Mario Teguh, MBA— dikenal juga dengan inisial MT; beliau juga guru bagi penulis dan ribuan Super Members di MTSuperClub— menasihatkan bahwa perjalanan naik kita akan selalu ditaburi dengan ujian-ujian yang akan memisahkan kita dari mereka yang tidak betul-betul menginginkan kecemerlangan hidup. Ujian-ujian itu adalah tantangan yang memanggil semua serat keberanian dan kecerdasan kita untuk membentuk kekuatan pribadi yang memenangkan rencana-rencana kita. Bila kita tidak menang sekarang, kita akan menang nanti.

Itu sebabnya, kejernihan dalam menyikapi kegagalan adalah pemungkin yang penting untuk memaksimalkan pencapaian hak kita untuk berhasil, untuk mencapai kecemerlangan yang kita cita-citakan. Pengenalan yang baik atas sifat-sifat kegagalan adalah penentu bagi ketepatan sikap dan tindakan-tindakan kita pada setiap upaya kedua kita. Maka, deskripsikanlah kegagalan dalam sifat-sifatnya yang asli.

Kegagalan adalah tanda tidak tepatnya arah. Dengannya, penyesuaian adalah nama perjalanannya.

Kegagalan adalah tanda tidak cukup baiknya cara, sehingga peningkatan adalah nama pelatihannya.

Kegagalan sebetulnya tertundanya sebuah keberhasilan. Oleh karena itu, kesabaran adalah nama penantiannya.

Kegagalan adalah tanda tidak cukupnya kekuatan. Itu sebabnya, kesungguhan adalah nama keharusannya.

Kegagalan adalah tanda akan adanya jaminan keberhasilan. Dan…, iman adalah nama keyakinannya. Marilah kita sadari bahwa kita dibedakan dari orang biasa dari cara kita menyikapi kegagalan.

Kemudian, bila kita bersedia untuk melayani impian hati kita dengan kecintaan untuk mendatangkan kebaikan bagi orang lain, kita tidak perlu lagi meramalkan keberhasilan kita. Dengannya, keberhasilan adalah hak yang pencapaiannya adalah sebuah kepastian.

Walaupun semua ustadz, kyai, da‘i, motivator dan inspirator telah menasihati kita untuk tetap tenang dalam menjalani hidup dan kehidupan, namun seringkali kita lupa, atau mungkin sengaja kita lupakan karena kita menutup diri dari nasihat. Setiap ada masalah, pikiran kita selalu resah, hati pun gelisah dibuatnya. Bahkan, kadang kala kita menyalahkan kehidupan itu sendiri. Padahal kita sudah diingatkan bahwa siapa pun yang berani menantang kehidupan, maka semua orang akan menjagokan kehidupan. Waktu memang tidak terbatas, namun waktu yang kita miliki sangat terbatas. Itulah nasihat yang sering disampaikan oleh tokoh-tokoh bijak.

Jika diri kita resah dan gundah, apa yang harus kita lakukan untuk menenangkan hati dan menentramkan jiwa? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita renungkan pertanyaan-pertanyaan pengantar berikut ini yang jawabannya sudah tersurat di dalamnya.

Siapakah yang paling mengerti sebuah lagu selain penggubahnya? Siapa yang lebih memahami lukisan selain senimannya? Siapakah yang mengenal dengan baik sebuah motor atau mobil jika bukan pabrik pembuatnya? Siapa yang lebih mengetahui indahnya sebuah bangunan bila bukan sang arsitektur? Lalu, siapa yang lebih mengerti tentang diri kita jika bukan Beliau Yang Menciptakan kita? Allah SWT jauh lebih mengerti tentang diri kita, bahkan dibandingkan kita sendiri.

Untuk menenangkan jiwa dan menentramkan hati, Allah SWT telah memberikan obat yang sangat mujarab kepada kita sebagai hamba dalam firman-Nya :

أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْـمَئِنُّ ٱلْقُلـُوْبُ

Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram.
(QS ar-Ra‘d [13] : 28)

‘Aidh al-Qarni menerangkan bahwa pada kalimat “menjadi tentram” mengandung arti kesejahteraan, seruan dan keindahan. Seolah-olah hati adalah tanah. Bagian datar adalah yang tentram sedang bagian terjal adalah yang keras dan gersang. Semoga awan Tuhan Yang Maha Pemurah menurunkan hujan wahyu ke dalam hati agar mendapatkan santapannya di setiap waktu dengan ijin-Nya—berupa dzikir, syukur, taubat, cinta dan rindu.

Hati yang tentram adalah hati yang bebas dari rasa takut, serta tenang mengharap janji Tuhannya dengan penuh keyakinan, tawakal dan kejujuran.

Hati yang tentram adalah hati yang terhibur dari duka cita, sehingga merasa bebas dari kegusaran dan kesedihan hati.

Hati yang tentram adalah hati yang hidup bahagia, diridhai oleh Tuhan, dan ia pun ridha pada Tuhannya.

Hati yang tentram adalah hati yang terbebas dari rasa bimbang dan terlepas dari rasa ragu; hati yang teduh, kokoh dan tak terguncang.

Hati yang tentram adalah hati yang tak terpilah-pilah, yang menyatukan kembali kekuatan dan arahnya.

Hati yang tentram adalah hati yang terpelihara dari godaan setan, dominasi hawa nafsu, serangan, tipu daya dan kejahatan musuh.

Kejujuran itu kekasih Allah. Keterusterangan merupakan sabun pencuci hati. Pengalaman itu bukti. Dan seorang pemandu jalan tidak akan membohongi rombongannya. Tidak ada satu pekerjaan yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah.
Berdzikir adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka, siapa yang tak pernah memasukinya, maka ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak.

Berdzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari pelbagai kerisauan, kegundahan, kekesalan dan guncangan.

Berdzikir kepada Allah merupakan obat, penyembuhan, kesenangan dan kehidupan.

Dzikir merupakan jalan paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki.

Dengan berdzikir kepada Allah, awan ketakutan, kegalauan, kecemasan dan kesedihan akan sirna.

Dengan berdzikir kepada Allah, segunung tumpukan beban dan permasalahan hidup akan runtuh dengan sendirinya.

Wahai orang yang mengeluh karena sulit tidur, yang menangis karena sakit, yang bersedih karena sebuah tragedi, dan yang berduka karena suatu musibah, sebutlah nama-Nya yang suci.


Wahai yang pikirannya tertutup mendung tebal dan kelam, ingatlah kepada Allah, pasti menemukan kebahagiaan. Wahai yang sedang diliputi kesedihan dan dibimbangkan rasa murung, ingatlah kepada Allah, niscaya menjumpai kegembiraan. Wahai yang dibebani kesulitan dan diguncangkan permasalahan, ingatlah kepada Allah, maka rasa aman pasti didapatkan. Wahai yang hatinya hancur, ingatlah kepada Allah, niscaya akan tenang.

Disebutkan sebuah hadits melalui Abu Musa al-Asy‘ari ra., bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir mengingat-Nya sama dengan orang hidup dan mati.”
(HR Bukhari)

Pertanyaannya adalah, “Apakah dalam kehidupan kita sehari-hari, jika kita gelisah, maka kita berdzikir kepada Allah untuk menentramkan hati? Ataukah kita melakukan hal yang lain?”

Coba kita tanyakan pada para pelajar, mahasiswa dan para pemuda. Jika pikiran mereka sedang ruwet dan perasaan pun tak enak, apakah mereka akan berdzikir kepada Allah untuk menenangkan jiwa? Mari kita tanyakan pada semua orang Islam, apakah cara yang diajarkan oleh Allah ini yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari ataukah cara yang lain?

Kalau disurvey, akan banyak sekali umat Islam—termasuk kita—yang tidak berdzikir kepada Allah untuk mengusir kegalauan jiwa. Mengapa? Mungkin kita akan menjawab, “Itu sudah saya lakukan, tapi kok tetap saja saya sumpek, gelisah dan resah.”

Barangkali para pelajar dan mahasiswa yang lebih terdidik dan intelek akan berujar, “Ah, itu kan dogma. Resep itu terlalu teoritis, perfeksionis, idealis dan tidak praktis!”

Kalau jawaban-jawaban kita seperti itu, entah apa yang akan kita lakukan jika kita berada di puncak bukit kesedihan atau di dasar lembah kegalauan. Tidak perlulah kita bayangkan apa yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat dalam menjalani hidup ini.

Bukankah kita senantiasa mengucapkan dua kalimat syahadat—sebuah persaksian bahwa Allah-lah Tuhan kita? Itu berarti kita ini makhluk-Nya. Kita pun sadar bahkan hapal di luar kepala tentang rukun iman. Apakah kita lupa bahwa rukun iman yang pertama adalah percaya kepada Allah? Murid-murid di sekolah dan para mahasiswa di kampus saja harus mengikuti saran para guru dan dosen untuk bisa lulus ujian. Karyawan di perusahaan juga harus tunduk dan mengikuti peraturan yang digariskan oleh manajemen untuk bisa bertahan dan tidak dikeluarkan, apalagi jika ingin naik jabatan.

Kalau sudah seperti itu lazimnya, mengapa kita tidak mengikuti anjuran Allah? Kuatirkah kita bahwa Allah akan menjerumuskan kita kepada hal-hal yang tidak memuliakan bahkan kepada penderitaan seumur hidup? Apakah kita meragukan kemampuan Allah, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa (Al-Qâdir Wa Al-Muqtadir) dan Maha Berdiri Sendiri/Maha Memenuhi Kebutuhan Makhluk (Al-Qayyûm)? Apakah kita mengira bahwa Allah adalah pendusta yang selalu mengabarkan berita bohong? Mâsyâ Allah. Kalau kita mengaku percaya (beriman) kepada Allah, lalu maka buktinya?

Iqbal, seorang penyair filosof asal Pakistan mengatakan, “Jika iman telah tiada, maka tidak ada lagi rasa aman. Tidak ada dunia bagi siapa saja yang tidak menghidupkan iman. Siapa rela dengan kehidupan tanpa agama, dia telah menjadikan kehancuran sebagai teman karibnya.”

Mungkin kitalah yang jarang sekali bahkan tidak pernah mengaji dan memperdalam ilmu. Bisa jadi kita mengira bahwa hal itu tidak banyak bermanfaat di kehidupan ini. Barangkali cara-cara belajar kita yang kurang tepat. Mungkin pula kita sudah mempelajari hal-hal yang terlampau jauh, padahal pondasi kita masih rapuh. Mungkin juga metode pengajarannya yang sudah waktunya dirubah. Bukankah telah dinasihatkan agar kalau seseorang mengajar orang lain, maka harus disesuaikan dengan kondisi orang yang belajar, baik latar belakang, budaya, tingkat pendidikan maupun pola pikirnya? Apakah semua ini terjadi karena kita senantiasa mengajarkan sebuah ilmu pada semua murid dengan cara yang sama? Padahal setiap orang itu unik, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kita tidak akan memperpanjang pembahasan tentang hal-hal tersebut. Marilah kita bersama-sama introspeksi (muhâsabah) diri, kemudian bersama-sama pula memperbaikinya.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa bertabiat mudah jenuh dan bosan, tidak bisa bertahan lama dalam satu seni aktivitas dzikir. Bila dipaksa melakukan satu cara saja, ia akan menampakkan kebosanan dan kejenuhan, padahal Allah tidak akan bosan hingga kita bosan. Maka, sikap yang diperlukan adalah memberikannya penyegaran dengan cara berganti-ganti dari satu seni ke seni lainnya, dari satu cara ke cara lainnya sesuai dengan waktu yang tepat. Dengan demikian jiwa akan merasa senang sehingga semangat dan ketekunannya dapat dipertahankan.

Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
  • Mario Teguh, “Becoming A Star [Personal Excellence Series]”, PT Syaamil Cipta Media, Februari 2005/Muharam 1425 H
  • Mario Teguh, “One Million 2nd Chances [Personal Excellence Series]”, Penerbit Progressio, November 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
Tulisan ini berlanjut ke : "Berdzikir Membuat Hati Tentram, Benarkah? (2 of 5)"
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

57 komentar:

  1. Terima kasih Pak/Mas Faisol sudah mampir ke http://awsetiawan.web.id
    Tulisan Pak/Mas Faisol keren, pake nyebutin dalil2, tulisan saya ga ada dalil2nya :D Kalau saya ditanya masalah dalil2 saya kurang tau :D

    BalasHapus
  2. itulah hati yg dgn mudah oleh Allah dibolak balikkannya,dgn cara seperti itu bisa saja Allah memberi pembelajaran kpd rasa kesadaran kita utk selalu ingat dan berdzikir pdNya,dan melatih atau bermujhadah selalu untuk menghidupkan cahaya hati kita.

    maaf bila ada kata2 saya yg salah.

    salamku

    BalasHapus
  3. Ya, benar sekali akhi, hanya dzikir yang mampu menentramkan hati, tentunya tidak hanya dzikir lisan, tetapi juga dzikir hati dan dzikir perbuatan.

    Saya justru heran dengan muslim yang sibuk mencari ketenangan dengan cara meditasi, apakah meditasi dapat menenangkan jiwa sepenuhnya ?

    BalasHapus
  4. Kunjungi juga:
    http://hotarticle.org/laa-takhof-wa-laa-tahzan/

    BalasHapus
  5. artikelnya bagus...
    Dzikir yang baik bukan apa yang keluar dari mulut tapi penerapan pada tingkah laku kita....

    Bagaimana kalau kita berdzikir lalu ketiduran?

    BalasHapus
  6. jazakallah,
    memang bisa dirasakan bahwa hanya dengan mengingat Allah (dzikirullah, lisan dan hati), dengan mengingat nikmat yg sudah demikian banyak kita terima, maka cobaanNya akan dijalani dengan sabar. tidak banyak berkeluh kesah, dan bisa tetap semangat.

    BalasHapus
  7. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    tulisan saya ini masih berlanjut ke :
    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/berdzikir-membuat-hati-tentram-benarkah_15.html

    jadi, ada lima tulisan/link... tentang berdzikir lalu ketiduran, itu berarti kita tidur dengan membawa dzikir... Rasul Muhammad saw. bersabda :

    Kapan pun engkau hendak tidur, berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana engkau hendak mengerjakan shalat. Berbaringlah dengan menghadap ke arah kanan dan berdoalah, “Ya Allah, hamba berserah diri kepada-Mu, mempercayakan seluruh urusan hamba kepada-Mu, hamba bergantung kepada-Mu untuk memperoleh berkah-Mu dengan harapan dan ketakutan hamba kepada-Mu. Tak ada tempat untuk melarikan diri dari-Mu, tak ada tempat untuk perlindungan dan keamanan selain-Mu. Ya Allah, hamba percaya pada kitab-Mu (Al-Qur’an) yang Engkau turunkan dan hamba percaya kepada Nabi-Mu (Muhammad saw.) yang telah Engkau utus.” Maka, apabila malam itu engkau mati, kau akan mati dalam keimanan (terhadap Islam). Biarkanlah kata-kata itu menjadi kata-katamu yang terakhir. (HR Bukhari)

    begitu dulu, saudaraku...

    BalasHapus
  8. Assalamu'alaikum...

    Dengan dzikir hati jadi tentram? Pasti! :)
    Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ketika hati suram ditempeli debu-debu dunia, maka dzikir ibarat air jernih yang akan membasuhnya hingga bersih...

    Ma'annajah ilal jannah!
    Wassalamu'alaikum warahmatullah

    BalasHapus
  9. Jazakallahu Khairaan Katsieraa, atas kunjungan anda di halaman blog kami, sehingga saya membalas kunjungan anda. Saya telah menulis pengalaman dendiri tentang kedahsyatan shalat tasbih dalam sebuah buku 180 halaman berjudul "Kedahsyatan Tasbih dan Shalat Tasbih" dimana kami bisa terbebas dari sihir dan sempat diperlihatkan hal-hal gaib. Serta kami jadi tahu sebab-sebab timbulnya aliran sesat, Insya Allah tinggal tunggu waktu terbit. Wassalaam

    BalasHapus
  10. Salam Kenal,
    Terima kasih atas komentar anda dari artikel saya sebelumnya di Bab Sholat dan Pemilik Kebun Yang Angkuh.. Terima kasih jua atas artikel yang syarat nilai-nilai islami

    BalasHapus
  11. saudariku IZZA yg baik,

    andaikata semua umat Islam spt sampean yg meyakini bahwa berdzikir membuat hati tentram, niscaya bagitu tentram & tenang dunia ini...

    tp, mengapa para pelajar, mahasiswa, pekerja, profesional, pengusaha & masyarakat umum banyak yg :
    1. menjadi tukang komplain
    2. senang mencemooh saudaranya
    3. suka menjatuhkan orang lain
    4. ingin jd penonton krn bebas berkomentar
    5. dll

    kiranya, ada yg salah dengan pengajaran kita... adakah kita hanya PAHAM & HAPAL TEORINYA SAJA?

    begitu dulu, saudariku...semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  12. mas ini tau saja, hatiku lagi gundah gulana. trims yah menentram kan hati:), semoada Allah selalu menjaga setipa hati agar terpaut padaNya. Amiiiin.

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah, sy menemukan-NYA. amin

    BalasHapus
  14. Semoga banyak umat islam yang pandai berdzikir, sehingga dunia ini tampak indah, damai dan sejuk...amin

    BalasHapus
  15. Makasih atas kunjungannya Mas:)

    Semoga tulisan Mas dan Posting-posting saya juga ada manfaatnya bagi sesama.

    Lihat terus update terbaru di :
    http://belajar-tasawuf.blogspot.com/
    http://wawasan-metafisika.blogspot.com/

    BalasHapus
  16. Begini mas, kenapa kalo kita nonton tv bisa sampai begadang apalgai itu film tentang sesuatu yang menurut kita rame, asyik, seru or kalo kita maen game juga bisa sampai begadang tapi kenapa waktu kita berdzikir bisa sampai tertidur pulas?..........
    Seolah-olah tidur selepas berdzikir itu bagus tapi coba jawab pertanyaan saya dulu yang diatas....

    BalasHapus
  17. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    saudaraku,
    kita-saya, sampean & kebanyakan umat Islam- rata2 memahami Islam masih dlm tataran teoritis, perfeksionis & idealis... juga dalam tataran praktis-pragmatis...

    itu kenapa, kita sering berkata:
    1. Saya ini hamba Allah
    2. Saya shalat bukan mencari pahala, hanya karena cinta demi menggapai ridha Allah
    3. dll

    namun, itu semua baru teori... buktinya, kita pandai sekali menceritakan & mengulasnya scr panjang lebar, tp prakteknya jauh sekali (tp biasanya kita tdk sadar krn umumnya orang bangga pd diri sendiri/'ujub)...

    hal ini berbeda dg para ulama yg sdh dalam tahap implementasi... beliau2 terlihat tdk terlalu berbicara panjang-lebar ttg teori2... beliau2 tawadhu' dlm arti sesungguhnya, tenang & kalem...

    saudaraku,
    u/ mengimplementasikan, memang butuh waktu... Kyai saya pernah berpesan bhw u/ belajar tawadhu' (rendah hati) saja bisa puluhan tahun...

    coba sampean katakan pd diri sendiri :
    "MULAI HARI INI SAYA BELAJAR TAWADHU' SECARA IMPLEMENTASI KARENA ALLAH..."

    niscaya, akan ada kejadian2 yg menguji kesungguhan sampean...

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  18. begini mas, kita harus tahu apa yang menjadi kelemahan kita. Kita gak perlu malu untuk membahas kekurangan kita.
    Kita mencoba bersama-sama untuk implementasi, sayang teori udah bagus tapi gak bisa dipraktekkan.

    Sebenarnya sih jawabannya mudah, coba deh perhatikan:
    kenapa kalo kita nonton tv bisa sampai begadang apalgai itu film tentang sesuatu yang menurut kita rame, asyik, seru or kalo kita maen game juga bisa sampai begadang tapi kenapa waktu kita berdzikir bisa sampai tertidur pulas?

    Lihat disitu nonton tv dan game itu merupakan hal yang mengasyikkan makanya kita kuat dan konsentrasi saat melakukannya tapi pada saat kita berdzikir kita sebenarnya tidak suka melakukan hal itu soalnya kita jadi males, cape, ngantuk dll.
    Oleh sebab itu kalo kita hobi dzikir maka kita tidak pernah akan ketiduran.

    Perhatikan kalo kita belajar di kelas pasti kita akan ngantuk, bosen, males karena pelajaran itu kita tidak sukai bandingkan dengan dzikir kita sama tidak dengan hal itu.

    Kalo sama maka kita harus lakukan perubahan donx. Karena dzikir kita itu hanya omong kosong belaka.
    thanx.

    BalasHapus
  19. Satu lagi: perkataan anda :
    Kyai saya pernah berpesan bhw u/ belajar tawadhu' (rendah hati) saja bisa puluhan tahun.

    Masa kita harus ikutin kelemahan kiai kita. Kalo kita bisa lebih maju kenapa kita harus berstandarkan diri kita pada standar diri orang lain.

    Gunakan Metoda quantum(lompatan). Guru terbaik ialah guru yang mampu membuat muridnya lebih baik dari dia.

    Tujuan hidup kita itu ibadah, dengan cara mendirikan shalat kalo kita hanya berpatokan pada tawadu berarti banyak hal yang kita lupakan dalam ibadah.

    Bikin segala sesuatunya tidak hanya tawadu tapi gabungkan seluruhnya untuk ibadah.
    sukses y.

    BalasHapus
  20. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    di paragraf terakhir tulisan saya, tercantum :

    "Al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa bertabiat mudah jenuh dan bosan, tidak bisa bertahan lama dalam satu seni aktivitas dzikir. Bila dipaksa melakukan satu cara saja, ia akan menampakkan kebosanan dan kejenuhan (dst)..."

    bukankah kalau kita menonton film yg sama atau main game yg sama berulang-ulang juga pasti bosan & ngantuk...?

    saudaraku,
    KH. Asrori al-Ishaqi pernah menasihatkan,
    "Berdzikir TDK SAMA DGN membaca dzikir... bila belum bisa berdzikir yg ingat sepenuh hati kpd Allah, membaca dzikir tetap baik & berpahala..."

    saudaraku,
    tawadhu' itu bertingkat-tingkat... sebagaimana kesabaran, kualitas shalat dll...

    saudaraku,
    dr tulisan sampean, saya yakin sampean termasuk orang yg ahli berdzikir setiap saat dalam setiap tarikan/hembusan nafas & tdk mengantuk dlm berdzikir...

    semoga saya bisa mencontoh sampean, amin...
    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  21. "Al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa bertabiat mudah jenuh dan bosan, tidak bisa bertahan lama dalam satu seni aktivitas dzikir. Bila dipaksa melakukan satu cara saja, ia akan menampakkan kebosanan dan kejenuhan (dst)..."

    berarti pekerjaan kita itu baru didasarkan pada mood bukan pada kesadaran, kesadaran-> knp saya melakukan itu.

    tawadu bertingkat? bagaimana ukur tingkatannya? sekali kita ingin bertawadu maka tidak ada finishnya kecuali mati.

    BalasHapus
  22. "Berdzikir TDK SAMA DGN membaca dzikir... bila belum bisa berdzikir yg ingat sepenuh hati kpd Allah, membaca dzikir tetap baik & berpahala..."

    Taunya dapet pahala dari mana?
    Pahala itu apa sih?
    bedanya berdzikir dengan membaca dzikir?
    andaikata berbeda bisa tidak kita satukan?

    BalasHapus
  23. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    sampean benar... memang, akhir dari semuanya adalah maut... kalo ingin tahu tingkat tertinggi dr tawadhu', ada pada diri Rasulullah saw...

    saudaraku,
    pahala itu apa? pertanyaan ini sdh saya jawab... tahunya dapat pahala...? KITA TDK PERNAH TAHU...

    Untuk itu, kita TDK BOLEH SOMBONG krn amal kita... siapa tahu amal kita tdk diterima Allah... itu yg disebut raja' & khauf harus seimbang...

    saudaraku,
    kalau sampean MELAKUKAN SEMUA IBADAH SELALU DALAM KONDISI KESADARAN TTG IBADAH ITU -> itu berarti sampean pasti sangat 'alim, 'abid & 'arif...

    maqam sampean sdh jauh di atas saya... kiranya, tdk sopan kalau saya harus berdiskusi dg sampean... maafkan saya...

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  24. namanya juga diskusi bukan masalah siapa paling alim dll, tapi pendalaman materi di fikiran saya itu yang utama.
    emang bagaimana ukur kealiman, maqam?
    semua orang juga kalo baca buku pasti tahu walau belum tentu memahami.
    Islam itu logis, penuh pembuktian secara fisik, science. Itu tadi karena bisa dibuktikan, makanya saya ingin tahu kenapa dzikir itu bisa menetramkan hati?
    proses apa aja yg terjadi di tubuh?
    apa itu hati?
    Ada dimana hati?
    sebenarnya sih masih banyak, segitu dulu sodaraku. thanx

    BalasHapus
  25. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    kalo ingin ilmiah, sekarang sudah banyak diulas sbb :

    dzikir dengan tenang akan menghasilkan hormon endorfin (u/ menenangkan tubuh) & mengurangi kadar hormon adrenalin (u/ tantangan)...

    itu kenapa dzikir membuat diri tenang... ttg hati, kiranya sdh ada singgung sedikit di tulisan saya (find saja : KH. Abdurrahman Navis, Lc) :
    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/berdzikir-membuat-hati-tentram-benarkah_20.html

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  26. iya, maksud saya tadi kesana. siapa tahu anda bisa menjelaskannya. Tapi coba pikirkan apa benar yang kita lakukan dengan dzikir itu sudah menghasilkan hormon2x itu?
    Dzikir yang bagaimana yang bisa menghasilkan hormon itu?
    bisa tidak kita hasilkan hormon itu tanpa harus berdzikir?
    apa gunanya dzikir kalo kita bisa memacu hormon itu keluar tanpa menggunakan dzikir?

    apa bedanya hati dan otak? jadi dimana donx hati itu?
    thanx

    BalasHapus
  27. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  28. Syukran akhi sudah berkunjung. Subhanallah isinya :-). Semoga Allah memberikan keberkahan atas yg lahir dari tangan para penulis, amiin.

    BalasHapus
  29. saudaraku kandagalante yg baik,

    sabar, saudaraku... sabar, ya... saya juga harus bekerja...

    sampean menulis,
    "apa bedanya hati dan otak? jadi dimana donx hati itu?"

    saudaraku,
    mohon maaf sebelumnya... menurut saya sampean BELUM MEMBACA semua tulisan saya...

    tolong sampean baca dulu SEMUANYA dg lebih SEKSAMA...

    sampean menulis,
    "apa gunanya dzikir kalo kita bisa memacu hormon itu keluar tanpa menggunakan dzikir?"

    saudaraku,
    dg meditasi, pernafasan dg teratur dan metode ilmiah yg lain -> bisa saja...

    ITULAH BEDANYA IBADAH DAN BUKAN IBADAH...

    kalau sekadar puasa, ya semua orang bisa berpuasa... bedanya, apa coba...? tolong sampean yg jawab... masak saya terus... :-)

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  30. saya udah baca ulasan anda mengenai otak, tapi saya tidak membaca ulasan anda mengenai posisi hati itu dan bedanya dengan otak.

    Bukankah saat kita meditasi or pernafasan itu kita sedang beribadah, "kita melakukannya karena Allah".
    Kenapa orang di luar agama Islam bisa lebih tenang dan tentram spt budha dan agama tertentu?

    Puasa itu mengendalikan nafsu2x kita. Semua orang bisa berpuasa tapi yang jadi masalah setelah kita tidak berpuasa alias setelah buka atau saat tidak puasa, bisa tidak kita menjalankan hari2x itu seperti sedang berpuasa dengan niat lilahitaala.
    thanx.

    BalasHapus
  31. saudaraku kandagalante yg baik,

    coba sampean baca lagi link ini:
    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/berdzikir-membuat-hati-tentram-benarkah_20.html

    sampean menulis,
    "Kenapa orang di luar agama Islam bisa lebih tenang dan tentram spt budha dan agama tertentu?"

    Masak iya, saudaraku... saya punya teman yg agamanya spt sampean sebut... tdk juga, saudaraku...

    kita ini kan orang luar, jdnya yg terlihat ya spt itu... mungkin karena kita saja yg belum melakukan survey secara detail, hanya melihat gambaran umum...

    sampean menulis,
    "Puasa itu mengendalikan nafsu2x kita."

    saudaraku, kita bicara REALITA SAJA... sudahkah sampean melakukan SURVEY u/ membuktikannya...?

    apakah yg terjadi di lapangan sesuai dg statemen sampean...?

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  32. memang di lapangan kebanyakan sih belum, sekarang mau gak kita mengupdate otak kita untuk mengendalikan nafsu2x kita?
    Coba deh perhatiin apa bedanya kita berdzikir dengan orang seperti agama budha or hindu yang berdzikir mereka sambil memukul2x kentongan kecil?
    Kentongan kecil itu akan mengeluarkan frekwensi untuk penenangan jiwa.
    mereka melakukannya dengan khusyu, kesungguhan bukan dengan kecepatan.

    thanx.

    BalasHapus
  33. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    metode2 ilmiah juga sdh digunakan oleh ilmuwan Islam, saudaraku... yaitu dg gelombang otak, biasanya mengkondisikan diri agar mencapai gelombang alfa (atau mendekati teta)...

    memang, banyak yg harus diperbaiki, saudaraku... itu tugas semua orang Islam...

    begitu dulu, saudaraku... senang sekali punya saudara yg penuh perhatian spt sampean...

    semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  34. artikel bagus, sumbernya dari buku2x agama dan manajemen supernya mario teguh

    BalasHapus
  35. Assalamu'alaikum wr. wb.
    Wah artikel yang menarik ditambah suguhan diskusi yang menarik pula.

    dzikir menenangkan hati itu yang mengatakan Al quran... alaa bidzikrillah ta'thmainnul quluub..

    Apakah tanpa dzikir pun bisa menenangkan hati? saya kira tidak mesti dengan dzikirpun hati bisa tenang kok misalnya dengan rezeki harta yang cukup banyak akan sedikitlebih tenang dibandingkan orang yang serba kekurangan harta dan banyak tuntutan keluarganya.

    Nah, kepada yang miskin bila berdzikir ia menenangkan dalam hal ini tidak brangasan, tidaklupa diri dan terusberupaya mencari rezki karena sadar bahwa semua itu disaksikan Allah swt. Nah buat yang kaya akan lebih tenang menusuk kalbu jika ia pun berdzikir, fungsiketenangannya si kaya lebih peduli, lebih berhati-hati akan melahirkan sifat empat karena jiwanya yang terasah dengan dzikir sehingga menjadi peka.

    Jadi buat Kandagalanta tidak perlu dzikir tidak apa2 jika merasa ada sesuatu yang bisa menenangkan hati tanpa dzikir, hanya saja kami senang berdzikir sebagai metode untuk menenangkan Hati karena "paksa" untuk terus ingat kepada Rabbul Izzati. wallau a'lam

    BalasHapus
  36. tqnkalipasir -> menenangkan Hati karena "paksa" untuk terus ingat kepada Rabbul Izzati -> dimana ke ikhlasannya, dzikir aja dipaksa?

    BalasHapus
  37. postingan yang bagus dan menarik..
    kita cuma bisa berusaha..
    selanjutnya, serahkan pada Allah swt..

    BalasHapus
  38. wah... emang bener bgt!!
    berdzikir memang benar2 membuat hati tentram...
    :)

    BalasHapus
  39. Subhanallah....bagus sekali tulisannya akhi, terus berkarya ya........!

    BalasHapus
  40. salam
    hebat tulisan anda
    dan hebat diskusi anda juga

    tp dlam berdiskusi..elakkan jua dlm mengutarakan perselisihan pendapt..dan belajar utk tidak membantah semua perkara

    org Islam tidak perlu dilabelkan utk membantah.tp kita sendri yg melabelkn dri kita dgn bantahan2 itu.
    jgnla kita menjd spt golgn2 lalu, mahu ditunjukkan bukti barulah mahu mengikut..kelak smpai azab dahulu akan menyesal selama-lamanya..

    maaf sya hanya mengutarakan pendpat =)

    ISLAm for UNity

    BalasHapus
  41. saudaraku afiq Sayuti yg baik,

    terima kasih atas nasihat sampean... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    BalasHapus
  42. Semoga Allah senantiasa memberikan KeberlimpahanNya pada semua hambaNya yang selalu "Ingat dan MengIngat" diriNya....

    BalasHapus
  43. "tiada daya dan upaya selain dengan pertolongan Alloh"
    Untuk berdzikir pun manusia memerlukan pertolongan Alloh. Siapa saja yang di dalam hatinya merasa butuh dengan Alloh, pasti akan senantiasa meminta pertolongan Alloh, agar Alloh berkenan memanggil kita untuk selalu bersujud dan mengingat Alloh.
    Untuk mendapatkan keikhlasan dalam shalat, dzikir dan melakukan amal sholeh lainnya pun, kita sangat bergantung kepada Maha Pemurah nya Alloh sesembahan kita, Pemelihara alam semesta ini.
    berdoalah kepada Alloh agar Alloh senantiasa membimbing kita,memanggil kita, membuka hati kita.Rendahkan diri, buang segala ego dan kesombongan. semua yang ada pada diri kita adalah dari Alloh. Kesehatan kita sehingga kita bisa mendirikan shalat, mengerjakan amal shaleh lainnya, kekhusukan kita, keikhlasan kita. semua nya Alloh yang memberi. Itulah besar nya Rahmat Alloh. jangan lah kita menyombongkan diri dihadapan Nya.

    " Tuhan jika aku masih sujud pada Mu
    Menunjukkan Engkau masih memanggil aku
    Engkau masih benarkan aku untuk membesarkan Mu
    Namun aku saja tidak pandai beradab dengan Mu

    Aku hamba Mu . . . memang tidak pandai beradab
    Tapi Engkau masih sudi tuk menerima aku
    Begitulah Rahmat kasih sayang Mu
    Hanya aku saja tak pandai menerima Rahmat Mu

    Tuhan ajarkanlah bagaimana beradab dengan Mu
    Bagaimana beradab dengan Mu
    Agar aku dapat bersopan
    Sesuai dengan kebesaran Mu

    . . .
    . . .

    Janganlah Kau putuskan
    Hubungan ku dengan Mu Tuhan
    Teruslah panggil aku
    Untuk menghadap Mu Tuhan

    Aku pula coba membaiki
    Hubungan ku dengan Mu Tuhan
    Pimpin lah aku lagi
    Agar pandai membesarkan Mu

    Tuhan ajarkan lah Kepada ku
    Bagaimana beradab dalam sholat ku
    Agar Kau tak putuskan
    Hubungan ku dengan Mu

    Kalau Engkau Putuskan . .
    Musnahlah Hidupku . . .
    Engkau lah segalanya harapanku "

    Marilah merendahkan diri, buang segala ego dan kesombongan. Jangan pernah berpikir bahwa keikhlasan dan kekhusyukan kita bukan lah karena kehendak Alloh. Kita wajib berusaha meraih Ridha Alloh, namun Alloh lah yang menentukannya. Yakinlah bahwa Alloh itu Maha Pemurah dan Penyayang. Alloh telah menunjukkan kepada kita jalan-jalan untuk meraih keridhaan Nya dalam Alquran maupun yang diajar kan oleh Rasululloh tercinta Muhammad SAW ( semoga Alloh senantiasa merahmati beliau dan menempatkan beliau ke tempat yang tertinggi di surga dan menjadikan kita sebagai salah satu yang menerima syafaat beliau ).

    Yaaa Alloh, Yaa Rabbana, berikan lah kepada kami kekuatan iman dan ridha Mu. Limpahkan lah rahmat taufik dan hidayah Mu kepada kami hamba Mu yang dhaif ini, keluarkan lah kami dari kegelapan ke tempat yang terang dengan cahaya Mu Tuhan . . . Jauhkan lah kami dari kesombongan dan kekerasan hati tuk menerima petunjuk Mu.
    Ya Alloh Tuhan kami, jangan lah Engaku murka dan benci kepada kami . . .
    Masukkanlah kami dengan Rahmat Mu kedalam golongan orang2 yang sholeh Ya Alloh, kedalam golongan orang2 yang menerima Kitab dari sisi kanan di yaumul hisab kelak ya Tuhan Kami.
    Sesungguhnya Engkaulah Tuhan Kami Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Engkau tiada membutuhkan kami, tapi kami tiada arti tanpa Engkau Ya Tuhan. Engkau Maha Perkasa, Engkau Maha Kuasa atas Segala sesuatu. Selamatkan lah kami Ya Alloh, selamatkan lah kami Ya Tuhan kami...
    Aaaamiiinnn . . .

    BalasHapus
  44. syair diatas adalah syair oleh Mawaddah.

    BalasHapus
  45. saudaraku Anonim yg baik,
    amin yaa Rabbal 'Aalamiin...

    terima kasih atas renungan & nasihatnya...

    BalasHapus
  46. artikel yang menarik dan diskusi yang seru di komentar2nya.

    " Ciri cinta kepada Allah senang cinta Dzikrullah,
    Ciri benci kepada allah benci dzikir kepada-Nya"

    (HR. Baihaqi dari Anas)

    ------------------------------------

    Sabda Nabi Muhammad SAW :

    "Yang paling utama dari apa yang telah
    aku ucapkan dan yang telah diucapkan oleh
    Nabi-nabi sebelum aku ialah
    kalimat Laa ilaaha illalloh."

    (HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar

    ------------------------------------------

    Nabi Muhammad SAW bersabda :

    Ingatlah, aku akan memberitahu kepada,
    amal yang paling baik dan mulia di sisi Tuhanmu,
    yang dapat mengangkat derajat tertinggi,
    dan
    bagimu lebih baik daripada bersedekah
    mas-perak,
    dan lebih baik daripada
    mati syahid membela agama Allah,
    yaitu Dzikrullah (mengingat allah)

    BalasHapus
  47. saudaraku hudaya yg baik,

    indah sekali sharingnya, begitu menyentuh rasa... terima kasih saya haturkan...

    BalasHapus
  48. Hanya denga mengingat Allah hati menjadi Tentram. Itu sudah kepastian yang tidak bisa di ganggu gugat.itu makna dari tulisan anda

    Salam kenal dari saya

    Azzam Arrafie

    BalasHapus
  49. salam kenal juga, saudaraku Azzam Arrafie yg baik...

    BalasHapus
  50. assalamualaikum..

    ustad salam kenal dari sapto..di bogor,
    setelah ana baca artikel ini sungguh luar biasa..

    semakin besar seseorang..semoga dia semakin rendah hati..

    semoga Allah merahmati kita semua.

    dan ana mohon izin utk meng-copas beberapa artikelnya..syukron.

    wasalam

    BalasHapus
  51. wa'alaykumus salam wr. wb, saudaraku sapto yg baik...

    saudaraku,
    saya bukan ustadz, hanya seorang santri... u/ semua doa sampean, amin...

    monggo2 saja jika mau copas, semoga menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahal (MLP) bg kita semua, amin...

    BalasHapus
  52. salam,
    Betul mas, dengan dzikir yang baik, juga benar hati akan tentram, tapi juga perlu bimbingan seorang musrsyid, agar langkah/proses dzikir bisa tertata dan terarah,bukan jadi salah arah/salah kaprah..dan semua hasil dizikir tak akan semuanya tercerna dengan akal,lewat pembuktian-pembuktian langsung, adakalanya lewat hikmah, karena akal berbatas, sementara hati [yang sehat] sangat luas..:)

    BalasHapus
  53. Semoga Allah memberkati kita semua dengan Ridhonya, Ilahi Anta Maksudi, Wa Ridhoka Matlubi. Mudah-mudahan blog ini semakin jaya, dan pembacanya semkin banyak. Amiin.

    Abu Sahrin (cintailmu-abusahrin.blogspot.com

    BalasHapus
  54. Alhamdulilah Allah selalu mengajarkan kita dimana kita berada... Dzikir menciptakan manusia yang memiliki hati ikhlas sehingga apapun yang terjadi selalu mengimgat kepada Allah dan mengembalikan semua urusan kepada sang kholik (ALLAH SWT)

    BalasHapus
  55. لاحول ولا قوّة الا بالله العليّ العظيم

    BalasHapus
  56. Assalamu'alaykum wr wb saya numpang baca dan ijin ngopi ya pak jazakumullah

    BalasHapus
  57. Subhanalloh...hamdulillah...bener bukan hanya ketenangan tp keberanian ketelitian n buanyak lg hal positif yg aku dptkn.....semangat takbir....Allohuakbar....

    BalasHapus