Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label tidur. Show all posts
Showing posts with label tidur. Show all posts

Friday, August 21, 2009

Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (2 of 2)

Apakah shalat “hanya” lebih baik daripada tidur? Mari kita tanyakan pada diri sendiri. Apabila kita sangat mengantuk karena begitu lelah setelah berbagai aktivitas yang kita lakukan; apakah emas, berlian, perhiasan, uang dan seluruh isi dunia lebih kita pilih daripada tidur? Tentu saja tidak. Hal ini mirip seperti orang yang sedang tenggelam di lautan. Baginya, intan permata tidak ada artinya. Justru ban bekas jauh lebih berharga daripada semua harta kekayaan.

Jadi, shalat tidak hanya lebih baik daripada tidur. Shalat jauh lebih baik daripada seluruh dunia beserta isinya. Shalat mencari kekayaan serta kehidupan hakiki, kenikmatan ukhrawi, surga nan abadi serta perjumpaan dan keridhaan Ilahi Rabbi.

Mengapa bangun untuk melaksanakan shalat Subuh terasa lebih berat? Selain karena kelelahan, ada juga alasan lainnya. Pada saat tidur pulas di waktu malam, setan berusaha untuk meninabobokan kita supaya tetap istirahat. Rasulullah asw. (‘alayhish shalâtu was salâm) bersabda :

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ : يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ، عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْـقَظَ فَذَكَرَ اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْـبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلاَّ أَصْـبَحَ خَبِـيْثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

Setan akan mengikat ujung kepala kalian ketika sedang tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan setan akan dibisikkan, “Kamu masih memiliki malam panjang, maka tidurlah.” Jika engkau bangun dan mengingat Allah, maka akan terlepaslah ikatanmu yang pertama. Apabila engkau kemudian berwudhu, maka akan terlepaslah ikatan kedua. Dan jika engkau melakukan shalat, maka akan terlepaslah ikatanmu yang ketiga. Jika engkau tidak melakukan ketiga hal itu, niscaya hatimu akan menjadi sesat dan malas.
(HR Bukhari dan Muslim)

Berikut ini hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan shalat Subuh, yang memang lebih berat untuk dilaksanakan. Rasulullah saw. bersabda :

يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِيْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ فَيَسْـأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ

Malaikat-malaikat malam hari dan malaikat-malaikat siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian malaikat-malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat, dan kami datangi mereka dalam keadaan mengerjakan shalat pula.”
(HR Bukhari, Muslim dan an-Nasa’i)

Jabir bin Abdullah al-Bajalli berkata, “Kami berada di samping Nabi saw. pada suatu malam, maka Nabi melihat bulan purnama sambil berkata,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَتَضَامُّوْنَ فِيْ رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْـتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا

“Kalian akan melihat Tuhan sebagaimana kalian melihat bulan ini, tidak silau karena melihatnya. Maka sebisa mungkin, jangan sampai dikalahkan untuk shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan sebelum terbenamnya (Ashar). Cepatlah kamu kerjakan!”
(HR Bukhari dan Muslim)

Utsman bin Affan ra. menuturkan, “Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِيْ جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِيْ جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلِ كُلَّهُ

“Siapa yang shalat Isya’ berjamaah, seolah-olah bangun setengah malam (seperti shalat separuh malam). Siapa yang shalat Subuh berjamaah, maka bagaikan shalat semalam penuh.”
(HR Muslim)

Bahkan, Nabi saw. menyatakan bahwa dua rakaat sebelum Subuh (shalat sunnah Qabliyah Subuh) nilainya lebih baik daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya.

رَكْعَتَا اْلفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

Dua rakaat shalat sunnah Subuh lebih baik daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya.
(HR Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

Maksud hadits tersebut yaitu seandainya kita memiliki semua yang ada di dunia ini kemudian menyedekahkannya, maka nilainya tidak akan sama dengan shalat Qabliyah Subuh. Oleh karena begitu besarnya nilai shalat ini, para ulama menasihatkan agar kita tidak meninggalkannya. Walaupun kita shalat Subuh sendirian di rumah, janganlah kita lupakan shalat sunnah ini.

Kalau keutamaan shalat sunnah Qabliyah Subuh saja seperti itu, bagaimana dengan shalat fardhu Subuh? Tentu kita bisa mengkalkulasi sendiri sebesar apa keutamaannya.

Agar senantiasa bisa berbakti kepada-Nya, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلـٰوةِ وَمِنْ ذُرِيَّتِيْ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang yang mendirikan shalat (sujud menyembah Engkau). Ya Tuhan kami, perkenankanlah permohonan kami ini.
(QS Ibrâhîm [14] : 40)

Daftar Pustaka :
  • A. Hassan, “Tarjamah Bulughul Maram”, Penerbit Diponegoro, Cetakan XXIII, Oktober 1999
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Hâfizh, “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm”
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâniy

Tulisan lanjutan dari : Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (1 of 2)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, August 14, 2009

Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (1 of 2)

Seorang teman bertanya, “Pada saat adzan Subuh, ada seruan bahwa shalat lebih baik daripada tidur. Kenapa begitu, ya? Kenapa nilai shalat hanya lebih baik daripada tidur? Kalau begitu, rendah sekali ternyata nilai shalat itu.”


Senang sekali rasanya mengetahui bahwa saat ini semua orang semakin kritis. Hal yang dulu hanya diterima sebagai teori, bahkan sebagian orang mengatakan dogma, saat ini sudah diimplementasikan dalam tataran akal. Alhamdulillâh. Bukankah akal memang diciptakan untuk mengokohkan iman? Namun, jangan lupa, iman harus tertanam dulu, baru kemudian akal menguatkannya.

Sebelum kita bahas pertanyaan tersebut, marilah kita ingat lagi asal mula kalimat adzan seperti yang sering kita dengar, barangkali kita sudah melupakannya. Maklum, bukankah manusia itu tempat salah dan lupa? Setelah itu kita bahas mengapa hanya adzan Subuh yang ada tambahan kalimat tersebut. Terakhir, marilah kita lihat apakah nilai shalat “hanya” lebih baik daripada tidur, seperti kata teman penulis tadi.

Di kitab “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm” terdapat hadits ke-190 yang menerangkan tentang adzan dan iqamah. Pada masa-masa awah hijrah, kaum muslimin bermusyawarah tentang bagaimana cara memanggil orang untuk shalat berjamaah lima waktu. Ada yang usul agar membunyikan lonceng. Namun pendapat ini tidak disetujui karena cara tersebut digunakan oleh orang Nasrani. Pendapat lain mengusulkan agar ditiup terompet, namun ditolak juga karena cara ini dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Ada yang usul dengan kalimat “ash-Shalâh ash-Shalâh”, dan dipilihlah kalimat ini sebagai seruan untuk shalat. Ada juga riwayat yang menyatakan beberapa kalimat lain untuk ajakan shalat.

Suatu malam Sahabat Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbah ra. bermimpi bertemu seseorang yang mengajarkan cara adzan dan iqamah. Keesokan paginya, Abdullah bin Zaid datang kepada Rasulullah saw. dan menceritakan mimpinya. Rasulullah bersabda,

إِنَّهَا لَرُؤْياَ حَقٍّ

“Sesungguhnya (yang demikian) itu mimpi yang benar.”
(HR Ahmad dan Abu Daud, disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)


Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Umar bin Khattab juga bermimpi yang sama. Akhirnya adzanlah yang digunakan untuk memanggil umat Islam dalam rangka menunaikan shalat berjamaah. Adzan adalah sebuah seruan yang membahana, menggema di angkasa dan memenuhi seluruh pelosok.

Adapun lafadzh adzan sebagaimana yang kita dengar selama ini. Sedangkan lafazh iqamah, ada perbedaan mengenai jumlah bilangan takbir. Sebuah riwayat dua kali, di riwayat yang lain satu kali. Semuanya benar, jadi tidak perlu diperselisihkan.

Untuk shalat Subuh disunnahkan dua kali adzan. Adzan pertama dikumandangkan sebelum waktu Subuh yang berfungsi membangunkan orang tidur. Adzan kedua ketika sudah masuk waktu Subuh yang berfungsi mengajak orang mengerjakan shalat.

Di kitab “I‘ânah ath-Thâlibîn” terdapat penjelasan tentang tambahan kalimat “Ash-Shalâtu khayrum minan nawm”, yang disebut dengan tatswîb. Sahabat Bilal pernah mengumandangkan adzan Subuh, kemudian dikabarkan kepadanya bahwa Nabi saw. sedang tidur, lalu Bilal menambahkan lafazh :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. اَلصَّـلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Semoga salam, rahmat dan barakah dari Allah tetap atasmu wahai Nabi. (Pahala) shalat lebih baik daripada (kelezatan) tidur.
Nabi Muhammad saw. bersabda :

اِجْعَلْهُ فىِ تَأْذِيْنِكَ لِلصُّبْحِ

Jadikanlah tatswîb itu pada adzan Subuhmu.

Ada juga yang mengatakan bahwa Bilal menambahnya karena saat itu banyak sahabat yang belum bangun, diakibatkan kelelahan yang sangat sehabis berperang. Wallâhu a‘lam.

Disunnahkan tatswîb sebanyak dua kali setelah hayya ‘alal falâh berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dengan jalur perawi yang baik. Hal ini dinyatakan dalam kitab “Syarah al-Muhadzdzab”. Kesunnahan tersebut berlaku untuk adzan sebelum Subuh maupun saat Subuh, meskipun penduduk Mekah menentukan tatswîb ini untuk adzan kedua saja dengan tujuan untuk membedakan dengan adzan pertama.

Apa pun riwayat yang kita jadikan dasar, tidur malam memang begitu nikmat sehabis melakukan aktivitas yang sangat melelahkan. Memang, ada sebagian dari kita yang aktivitasnya tidak terlalu berat, sehingga tidurnya cukup. Namun, sebagian dari kita yang lain mempunyai aktivitas yang sangat padat, sehingga tidur malam adalah jeda untuk melepas penat dan letih. Pada masa Rasulullah, aktivitas harian para sahabat tidak seperti kita, yaitu belajar, bekerja dan bermasyarakat. Kadang kala mereka harus berperang untuk menegakkan agama Allah. Bukankah hal itu sangat menguras tenaga?

Tambahan kalimat tatswîb tercantum juga di kitab “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm” hadits ke-191 yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Khuzaimah.

اَلصَّـلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Shalat itu lebih baik daripada tidur.

Adapun cara menjawabnya:

صَـدَقْتَ وَبَرَرْتَ وَاَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِـدِيْنَ

Engkau benar, engkau telah berbuat baik, dan aku termasuk golongan orang-orang yang menyaksikan.


Daftar Pustaka :

  • A. Hassan, “Tarjamah Bulughul Maram”, Penerbit Diponegoro, Cetakan XXIII, Oktober 1999
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Hâfizh, “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm”
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâniy
  • Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury, asy-Syaikh, “Sirah Nabawiyah (Ar-Rahîq al-Makhtûm, Bahtsun fî as-Sirah an-Nabawiyyah ‘Alâ Shahibihâ Afdhalish-Shalâti wa as-Salâm)”, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan Kelima : Desember 1998
  • Tim PW LTN NU Jatim, “Ahkamul Fuqaha”, Khalista Surabaya, Cetakan ketiga Pebruari 2007

  • Tulisan ini berlanjut ke : Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (2 of 2)

    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

    Thursday, August 14, 2008

    Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!

    Hidup ini memang penuh kelucuan. Masalahnya adalah kitalah sumber kelucuan itu. Melihat tingkah kita, sepertinya para malaikat akan gemas sekaligus geram, seperti seorang ibu muda sedang melihat anaknya yang lucu dan imut, tapi sedang bertingkah nakal. Semut, cicak, nyamuk, pohon, rerumputan, angin dan semua makluk-Nya juga akan terheran-heran melihat kelakuan kita.


    Mungkin karena suasana di dalam masjid yang begitu tenang dan hening, angin pun bertiup sepoi-sepoi mengelus-elus pipi kita dengan lembutnya—apalagi di dalam masjid terdapat kipas angin atau ِAir Conditioner (AC)—pepohonan juga melambai-lambai serasa membelai rambut indah kita dengan kasih sayangnya, ditambah lagi kita sebelumnya telah melakukan aktivitas sekolah atau kerja; maka suara khatib persis seperti suara ibu kita yang mendongeng sebelum kita tidur di pembaringan, ketika kita masih kecil.


    Bahkan, karena tidur ketika khutbah disampaikan sudah menjadi hal yang ghalib (umum), muncullah sebuah anekdot, “Kalau ada orang menderita insomnia—susah tidur—ajak saja untuk shalat Jum‘at. Niscaya, saat mendengarkan khutbah, dia akan tertidur pulas.” Entah sikap apa yang harus diambil, apakah kita harus bangga atau tidak dengan anekdot ini. Mari kita tanyakan pada diri sendiri.

    Kenapa hal itu terjadi? Tidak malukah kita kepada diri sendiri, terlebih kepada Allah? Padahal, kita adalah makhluk tertinggi, yang diciptakan dengan sangat sempurna oleh-Nya.

    لَقَدْ خَلَقْنَا ٱْلإِنْسَـانَ ِفيْ أَحْسَـنِ تَقْوِيْمٍ
    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS at-Tîn [95] : 4)

    وَلَقَدْ كَرَّمْناَ بَنِيْ ءَادَمَ وَحَمَلْنٰـهُمْ فىِ ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنٰـهُمْ مِّنَ ٱلطَّـيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰـهُمْ عَلىٰ كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقْناَ تَفْضِيْلاً
    Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS al-Isrâ’ [17] : 70)

    Marilah kita tengok lagi siapa diri kita. Apakah kita memang begitu hebat? Sudah ditemukan bahwa semua makhluk hidup memiliki alphabet DNA (DeoxyriboNucleic Acid) yang sama, yaitu A (Adenine), C (Cytosine), G (Guanine) dan T (Thymine). Dalam struktur helix ganda DNA, A berpasangan dengan T, sedangkan C berdampingan dengan G. Dalam tubuh manusia diperkirakan terdapat 100 trilyun sel. Dalam setiap inti sel terdapat 23 pasang kromosom yang disusun oleh 3 milyar huruf alphabet tadi. Jika DNA dalam setiap tubuh manusia direntangkan, maka panjangnya akan melebihi 600 kali jarak bumi dan matahari.

    Bagaimana dengan otak manusia? Otak manusia terdiri lebih dari 100 milyar sel yang terdapat pada bagian luar struktur utama otak yang disebut cortex. Setiap sel merupakan satu sistem proses informasi yang kecil. Sebagai satu kesatuan, sel-sel saraf ini terdiri atas berbagai elemen dari bagian berpikir otak. Dengan adanya interaksi fisik sel-sel saraf inilah organ-organ dari otak memberikan kehidupan pada otak. Satu sel saraf pada umumnya mampu menerima sampai 15.000 sinyal secara fisik dari sel saraf lainnya dalam waktu bersamaan yang begitu cepat, yaitu sekitar 150 nano second atau 0,000000150 detik.

    Sir Charles Sherington, seorang ahli saraf otak dari Inggris berkata, “Otak manusia adalah sesuatu yang tampak memesona dengan jutaan kumparan yang berkelip membentuk pola tertentu, suatu pola yang penuh arti dan tak kunjung diam, yang terdiri dari suatu perubahan yang harmoni dari pola-pola yang lebih kecil. Ini mirip seperti galaksi Bimasakti memasuki sebuah kosmik, bagaikan sedang berdansa.”

    Ternyata, orang yang paling cerdas pun tidak sampai menggunakan 5% dari kemampuan otak sesungguhnya. Sampai saat ini masih diteliti terus tentang bagaimana memfungsikan otak secara optimal. Entah seperti apa kemampuan seseorang jika bisa memfungsikan 100% kemampuan otaknya. Ibarat kaset rekaman, otak kita mampu menerima informasi yang diinputkan selama 24 jam sehari, satu hal baru setiap detik, selama 30 juta tahun. Saat itulah otak baru terisi penuh. Subhânallâh.

    Cobalah kita bayangkan sejenak, betapa dahsyat dan sempurnanya manusia ciptaan Allah itu, yaitu diri kita sendiri. Semua ini diciptakan bukan secara sia-sia atau untuk disia-siakan. Manusia adalah makhluk kepercayaan-Nya, wakil Allah, khalifah di muka bumi yang memiliki fungsi rahmatan lil ‘âlamîn.

    Dengan kesempurnaan seperti itu, kok bisa-bisanya kita tidur ketika khutbah disampaikan? Tidakkah kita tahu bahwa mendengarkan khutbah itu hukumnya wajib? Mungkin karena kita merasa sudah pintar sehingga kita berargumen, “Ah, paling-paling isi khutbahnya itu-itu saja... Tidak uptodate, membosankan! Sudah bertahun-tahun saya shalat Jum‘at, saya sudah hapal semua materi khutbah.” Atau barangkali kita akan mengatakan, “Khatibnya nggak enak, monoton! Saya jadi malas mendengarkan khutbah. Mendingan tidur, kan nanti harus kerja lagi.”

    Memang, penonton “lebih berkuasa” dibandingkan pemain. Pendengar lebih bebas berkomentar daripada khatib. Apakah kita merasa diri kita lebih hebat dari sang khatib? Kalau kita diminta untuk menjadi khatib, apakah kita mampu dan bisa lebih baik daripada khatib yang kita remehkan? Jika pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kepada kita, lalu apa jawab kita? Mungkin kita akan bersilat lidah dengan menjawab, “Wah, saya kan bukan lulusan pesantren. Saya juga bukan alumni UIN/IAIN. Jelas saya nggak bisa. Tapi, kan... Seharusnya kalau sudah mau jadi khatib, ya resiko. Kalau memang nggak enak khutbahnya, jangan jadi khatib dech... Seperti saya saja, duduk manis.”

    Marilah kita ingat lagi pesan agama, yang tersebut dalam firman Allah di dalam Al-Qur’an :

    يَۤاأَيُّهَا ٱلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا قُوْا أَنْفُسَـكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ ناَرًا وَقُوْدُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ
    Hai orang-orang beriman, peliharalah (jagalah) dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS at-Tahrîm [66] : 6)
    Kaidah (peraturan umum) tentang urutan pelaksanaan suatu perintah agama adalah :

    اِبْدَأُوْا بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
    Mulailah dengan apa yang Allah telah memulainya.

    Dari ayat di atas, jelaslah bahwa urutan pertama perintah untuk menjaga dari api neraka ditujukan pada diri sendiri. Janganlah kita mengurusi orang lain, tetapi mengabaikan urusan sendiri. Kalau pun khatibnya tidak seperti yang kita harapkan, kita harus tetap mendengarkan khutbah dengan baik. Bukankah itu suatu kewajiban? Selain itu, di dalam khutbah juga ada peringatan kepada kita untuk senantiasa berbuat baik. Terdapat juga ilmu yang bisa kita ambil manfaatnya. Tidak ada suatu kebaikan pun yang sia-sia. Disamping itu, ada anjuran bahkan perintah agar kita mengutamakan apa yang dinasihatkan, bukan pada orangnya.

    اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
    Perhatikan apa yang diucapkan, dan jangan melihat siapa yang bicara.

    Barangkali memang kita belum tahu bahwa tidak diperkenankan untuk tidur ketika khutbah disampaikan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Muhammad saw. bersabda :

    إِذَا قُلْتَ لِصَاحِِبكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
    Apabila engkau berkata kepada temanmu di hari Jum‘at, “Diamlah,” padahal imam sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau telah berbuat sia-sia (laghâ). (HR Bukhari)
    وَمَنْ قَالَ صَهْ فَقَدْ تَكَلَّـمَ وَمَنْ تَكَلَّـمَ فَلاَ جُمُعَةَ لَهُ
    Siapa mengatakan, “Diamlah,” berarti ia telah berbicara, dan siapa yang berbicara maka sesungguhnya tidak ada shalat Jum‘at baginya. (HR Ahmad)

    Nah, kalau sekadar berkata “Diamlah” saja tidak diperbolehkan, apalagi tidur, yang berarti tidak mendengarkan khutbah. Bahkan ada pendapat—meski lemah—yang mengatakan bahwa karena shalat Zhuhur itu empat raka’at, sedangkan shalat Jum’at itu dua raka’at, maka dua khutbah adalah ganti dari dua raka’at shalat Zhuhur. Wallâhu alam.

    Bila terkadang kita tidur ketika khutbah, kadang-kadang juga kita terlalu canggih dan kreatif, sehingga memutar tasbih untuk berdzikir sambil mendengarkan khutbah. Bisa saja karena kita meyakini diri kita adalah orang alim, otak kita begitu hebat, lebih hebat daripada mainframe bahkan super komputer, maka kita berdalih bisa melaksanakan dzikir sambil mendengarkan khutbah sekaligus, seperti konsep multi tasking dan multi threading di komputer. Kita menyamakannya dengan mendengarkan radio sambil membaca buku.

    Entah dalil naqli dan aqli apa yang kita pelajari; sedangkan berkata “Diamlah” saja tidak diperbolehkan, kok kita malah mengucapkan banyak kata. Khutbah itu untuk didengarkan sepenuh hati. Kalau kita mau berdzikir, hendaklah itu dilakukan sebelum khutbah atau sesudah shalat Jum‘at. Bahkan, kegiatan seperti itu bisa membuat hati kita terjangkit penyakit riya’, supaya dianggap ahli dzkikir, yang lisannya tak henti-henti menyebut asma Allah. Na‘ûdzubillâh.

    Mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian adalah perintah junjungan kita, Nabi Muhammad saw.

    مَنْ تَوَضَّـأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْـتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ، وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
    Siapa berwudhu dengan sempurna dan pergi shalat Jum‘at, lalu mendengar khutbah dan diam (memperhatikan), maka akan diampuni dosa yang terjadi pada hari itu sampai pada Jum‘at lagi, ditambah tiga hari. Dan siapa yang bermain-main dengan kerikil (batu), berarti sia-sia Jum‘atnya. (HR Muslim dari Abu Hurairah)

    Dalam kitab “Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”, Imam Nawawi menjelaskan bahwa salah satu hal yang bisa menghentikan dzikir seseorang adalah mendengarkan khutbah Jum‘at.

    Seringkali kita juga berlagak seperti orang super sibuk, sehingga datang shalat Jum‘at ketika khatib sudah di atas mimbar, bahkan ketika khutbah kedua akan berakhir. Kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat (‘udzur syar‘i), janganlah kita melakukan itu. Bukankah Allah menganugerahkan kepada kita kemampuan yang sangat luar biasa? Tidakkah kita bisa mengatur waktu kita? Time Management istilah orang modern.

    Kalau dipanggil oleh atasan atau orang yang kedudukannya lebih tinggi saja, kita bersegera menemuinya; lalu kenapa ketika Allah Yang Menciptakan kita, Yang Maha Memberi Rejeki pada kita mengundang, kita malah bermalas-malas memenuhinya? Di mana logikanya? Marilah kita ingat bahwa yang memanggil kita bukanlah ta’mir masjid, tapi Allah Yang Maha Tinggi (Al-‘Aliyy) dan Maha Memerintah (Al-Wâliy). Begitukah balasan kita terhadap Beliau yang telah menganugerahkan semuanya? Itukah bentuk rasa syukur dan bukti ucapan kita bahwa kita adalah hamba Allah?

    Dalam kitab “Al-Mawâ‘izh al-‘Ushfûriyyah” dijelaskan bahwa Allah menganugerahkan hari Jum‘at untuk umat Nabi Muhammad saw., ridha Allah bersama hari itu dan surga sebagai hadiah bagi umat Islam. Tidakkah kita berbahagia mendapatkan kado terindah dari Yang Maha Pemberi (Al-Wahhâb)?

    Mungkin kita akan berkilah, “Walaupun saya selalu datang terlambat, tapi kan saya mengisi kotak amal paling banyak.” Baiklah jika itu alasan kita. Pertanyannya adalah, “Bagaimana mungkin sesuatu yang hukumnya sunnah bisa mengalahkan yang wajib? Qa‘idah Ushul Fiqh bagian mana yang menjelaskan hal itu?”

    Mungkin karena ilmu kita yang kurang sehingga kita berbuat seperti itu. Melaksanakan ibadah membutuhkan ilmu. Oleh karena itu marilah kita menambah ilmu, karena amal tanpa ilmu itu tertolak (wa kullu man bighayri ‘ilmin ya‘malu, a‘mâluhû mardûdatun lâ tuqbalu). Benarkah? Logikanya bagaimana? Misalnya kita tidak mengerti teknik reparasi televisi. Kemudian ada TV teman kita rusak. Karena niat baik ingin membantu teman, maka kita reparasi sendiri televisi itu. Apa akibatnya? Bukankah tetap rusak? Bahkan bisa lebih parah kan?

    Bisa jadi kita masih berorasi, “Bukankah yang penting niatnya? Jangan bandingkan dengan reparasi TV, dong. Ini urusan ibadah. Tidakkah sudah jelas haditsnya bahwa amal itu tergantung niatnya (innamal a‘mâlu bin-niyyât)? Perbandingan yang sungguh tidak masuk akal!”

    Jika kita memang ahli berdebat, baiklah. Jawabannya yaitu, “Yang tidak masuk akal adalah bagaimana mungkin kita sudah berniat terhadap sesuatu, tapi kita tidak mempersiapkan diri dan bermalas-malas ketika mengerjakannya. Kita seperti orang yang ingin kaya tanpa kerja keras, ingin pandai tapi tidak mau belajar dengan sungguh-sungguh, ingin masuk surga tanpa harus ibadah secara istiqamah, atau ingin kenyang tanpa makan.”

    Apa gelar yang disandangkan untuk orang seperti ini? Sebelumnya penulis haturkan maaf bila penjelasan berikut ini kurang berkenan di hati. Dalam kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim”, ada sebuah syair untuk orang ini :

    وَالْجُنُوْنُ فُنُوْنٌ
    Orang stres memang bermacam-macam.

    Marilah kita ingat lagi ajaran agama Islam tentang bagaimana kita harus mendatangi shalat Jum‘at dan mendengarkan khutbah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

    مَنِ اغْتَسَـلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ غُسْـلَ اْلجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَـةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَـةً، فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ حَضَرَتِ الْملاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ
    “Setiap orang yang mandi pada hari Jum‘at seperti mandi besar (janâbah) dan kemudian pergi mengerjakan shalat (pergi di awal waktu), ia seolah-olah telah berkurban seekor unta (badanah); siapa yang pergi pada waktu kedua seolah-olah telah berkurban seekor sapi (baqarah); siapa yang pergi pada waktu ketiga seolah-olah telah berkurban seekor biri-biri (kabsyan aqran); siapa yang pergi pada waktu keempat seolah-olah telah berkurban seekor ayam (dajâjah); siapa yang pergi pada waktu kelima seolah-olah telah berkurbah seekor telur (baydhah). Dan ketika imam berdiri (untuk menyampaikan khutbah), para malaikat berkumpul untuk mendengarkan khutbahnya.” (HR Bukhari)

    Kapan mandi sunnah pada hari Jum‘at dilakukan? Para ulama menjelaskan bahwa yang lebih utama adalah ketika akan berangkat shalat Jum‘at. Dengan demikian badan kita akan harum dan segar ketika melaksanakannya. Namun, sebenarnya mandi sunnah pada hari Jum‘at bisa dilakukan semenjak fajar (Subuh). Jadi, para pelajar, mahasiswa, guru atau pegawai bisa melakukannya sebelum berangkat ke sekolah atau tempat kerja. Caranya seperti mandi jinabat, yaitu meratakan air ke seluruh tubuh—dari ujung rambut sampai ujung kaki—tapi dengan niat untuk kesunnahan hari Jum‘at karena Allah.

    Pada hari Jum‘at, kita diajarkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi saw.

    إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ قُبِضَ وَفِيْهِ النَّفْخَةُ وَفِيْهِ الصَّعِقَةُ فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟ فَقَالَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى اْلأَرْضِ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ
    Sesungguhnya yang paling utama dari harimu adalah hari Jum‘at. Di dalamnya diciptakan Adam, di dalamnya ia dicabut (nyawa), di dalamnya tiupan (sangkakala), dan di dalamnya keterkejutan. Maka, perbanyaklah shalawat kepadaku di hari itu. (Karena), sesungguhnya shalawat kamu diperlihatkan kepadaku. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan sedang engkau telah usang (tulang belulangmu telah hancur)?” Rasulullah bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan atas bumi, jasad para Nabi.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Anjuran lain adalah membaca surat al-Kahfi. Di sebuah hadits shahih, Rasulullah bersabda :

    مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِيْ يَوْمِ الْجُمُـعَةِ أَضَاءَ لَـهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْـعَتَيْنِ
    Siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum‘at, niscaya Allah menyinarinya dengan cahaya selama antara dua Jum‘at. (HR Daruquthni dan Baihaqi)

    Penulis pernah membuat sebuah analisa sederhana mengapa banyak jamaah mengantuk bahkan tertidur ketika khutbah. Jadilah sebuah hipotesis ala kadarnya. Hipotesis ini mengatakan bahwa karena hal itu dilarang, maka banyak orang melakukan. Buktinya, pada hari-hari biasa, ketika jam istrirahat, mengapa jarang sekali yang memanfaatkannya untuk tidur? Karena tidak ada yang melarangnya. Bisa jadi hipotesis ini benar adanya, namun bisa juga tidak. Toh penulis juga belum melakukan penelitian secara komprehensif. Memang, merupakan tabiat manusia, yang paling disenangi adalah sesuatu yang terlarang bagi dirinya.

    Sahabat Ali bin Abi Thalib kw. sampai mengatakan, “Andaikata manusia dilarang untuk membuat bubur dari kotoran binatang, pasti dia akan melakukannya.” Penulis sendiri pun pernah mengalami kantuk ketika mendengar khutbah. Memang, dibutuhkan perjuangan yang berat untuk mengalahkannya. Berbeda ketika menjadi khatib, tidak mungkin mengantuk, karena harus berkhutbah :-).

    Daftar Pustaka :
    • Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, “Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”
    • Adi W. Gunawan, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
    • Ary Ginanjar Agustian, “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual – ESQ (Emotional Spiritual Quotient)”, Penerbit Arga, Cetakan Kedua puluh sembilan : September 2006
    • Az-Zarnuji, asy-Syaikh, “Ta‘lîm al-Muta‘allim”
    • Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Hâfizh, “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm”
    • Muhammad bin Abi Bakar, asy-Syaikh, “Al-Mawâ‘izh al-‘Ushfûriyyah”
    • Zainuddin Ahmad bin Abdul Lathif Az-Zabîdî, asy-Syaikh, “Ringkasan Shahîh Al-Bukhârî (Al-Tajrîd as-Sharîh li Ahâdîts al-Jâmi‘ as-Shahîh)”, Penerbit Mizan, Cetakan III : Dzulhijjah 1419/April 1999
    Tulisan ini berlanjut ke : "Bagaimana Menjadi Khatib Efektif? (1 of 2)"
    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#