Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label taubat. Show all posts
Showing posts with label taubat. Show all posts

Friday, October 15, 2010

Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (4 of 4)

Pengampunan Allah atas dosa-dosa hamba yang bertaubat dijelaskan juga dalam hadits. Hadits yang sangat terkenal yaitu taubatnya pembunuh 100 orang yang akhirnya meninggal di tengah jalan; dan karena ia lebih dekat ke kampung taubat, maka diampuni dosa-dosanya. Di hadits lain, Sahabat Abu Musa al-Asy‘ari ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,


إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَـبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِئُ النَّهَارِ وَيَـبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْـلُعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan rahmat-Nya pada waktu malam supaya bertaubat orang yang telah melanggar janji pada siang hari; juga mengulurkan tangan kemurahan-Nya pada waktu siang, supaya bertaubat orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan itu tetap terus hingga matahari terbit dari barat.” (HR Muslim)


Sahabat Anas bin Malik ra. mengatakan bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda,


التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ، وَإِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا لمَ ْيَضُرُّهُ ذَنْبٌ

“Seorang yang taubat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak akan membahayakannya.” (HR Ibnu Majah)


Keutamaan taubat lainnya yaitu dicintai Allah dan dimudahkan rejeki oleh-Nya. Allah berfirman:


إِنَّ اللهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّابِيْنَ وَيحُِبُّ ٱلْمُتَطَـهِّرِيْنَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS al-Baqarah [2]: 222)

Dan (dia berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Hûd [11]: 52)


Dalam atsar (perkataan Sahabat Nabi) disebutkan, “Bertemanlah dengan orang-orang yang suka bertaubat, karena mereka mempunyai hati paling halus.”


Janganlah kita salah persepsi bahwa taubat itu mudah dilakukan. Taubat membutuhkan kemauan keras dan perjuangan. Istiqamah adalah hal yang harus dilakukan. Amatlah beda antara dibicarakan dan dilakukan. Seorang Kyai pernah mengutarakan dalam bahasa Jawa, “Agama iki dirasani thok, tapi gak tau dirasakno (Agama ini kok hanya dibicarakan, tapi tidak dilaksanakan).”


Menuju Allah bukanlah perjalanan yang mudah dan mulus, banyak halangan dan rintangan. Orang boleh berjalan cepat, lambat atau merangkak, tetapi rintangan menuju Allah tetap ada. Rintangan besar dalam perjalanan menuju Allah adalah hawa nafsu. Bobot rintangan itu pun tidak sama antara seseorang dengan lainnya, bergantung manusia yang menjalankan. Berat-ringannya tergantung kemampuan seseorang mengendalikan hawa nafsunya. Abu Sulaiman ad-Darani mengisahkan,


“Saya berkali-kali datang ke majelis Qashi, seorang ulama. Pada kali pertama, nasihat-nasihatnya membekas di hati saya. Namun, ketika saya beranjak pulang, tidak satu pun nasihatnya yang masih membekas.


Esoknya saya datang lagi dan mendengarkan ceramahnya. Saya cukup terpengaruh dengan wejangannya hingga sampai bertahan di tengah perjalanan pulang. Setelah itu hilang.


Pada kali yang ketiga, fatwanya sangat berpengaruh dan mampu menawan hati saya hingga saya sampai di rumah. Sesampainya di rumah, saya langsung menghancurkan alat-alat yang menyebabkan penyimpangan-penyimpangan perilaku, kemudian saya bersiteguh menetapi jalan lurus.


Kisah ini akhirnya saya utarakan pada Yahya bin Muadz, dan olehnya dikatakan, ‘Seekor burung kecil telah menangkap segerombolan burung karaki (bangau).’ Maksudnya, burung kecil adalah Qashi, sedangkan burung karaki adalah Abu Sulaiman ad-Darani.”


Janganlah pula kita mempermainkan taubat, istilahnya “taubat sambal”, setelah taubat kembali lagi melakukan perbuatan-perbuatan nista dengan sengaja. Rasulullah bersabda:


إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبـًا نَكَـتَتْ فىِ قَلْبِهِ نُكْـتَةً سَوْدَاءَ، فَإِذَا تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَ قَلْـبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْـبَهُ، فَذٰلِكَ الرَّانُ الَّذِيْ ذَكَرَهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَلاَّ بَلْ سكتةرَانَ عَلىٰ قُلُوْبِهِمْ مَّاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Jika seorang mukmin melakukan dosa, berarti ia telah memberi setitik noda hitam pada hatinya. Jika ia bertaubat, tidak meneruskan dan memohon ampunan, maka hatinya kembali berkilau. Akan tetapi, jika ia berulang-ulang melakukan hal itu, maka akan bertambah pula noda hitam yang menutupi hatinya, dan itulah “ar-Rân”, sebagaimana yang telah difirmankan-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS al-Muthaffifiîn [83]: 14) (HR Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad)


Demi terhapusnya dosa-dosa, marilah kita bersama-sama bermunajat kepada Allah dengan membaca sayyidul istighfâr (istighfar paling utama):


اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَإِلـٰهَ إِلاَّأَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَـبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْـتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَاصَنَعْتُ أَبـُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَ بُوْءُ ِبذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, Engkau adalah Tuhan hamba, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau menciptakan hamba, dan hamba adalah hamba-Mu. Hamba berpegang teguh dengan perjanjian-Mu dan janji-Mu sekuat kemampuan hamba. Hamba berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba lakukan. Hamba mengakui curahan nikmat-Mu kepada hamba, hamba mengakui pula dosa-dosa hamba. Ampunilah hamba, sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau, amin.

Daftar Pustaka:

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan lanjutan dari : Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (3 of 4)


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, October 8, 2010

Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (3 of 4)

“Taubat nashûhâ,” kata Abu Bakar Muhammad bin Musa al-Wasithi, “tidak akan meninggalkan bekas kemaksiatan pada pemiliknya, baik yang bersifat samar maupun jelas.”


Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Ibnul Qayyim menyebutkan dari Umar, Ibnu Mas‘ud serta Ubay bin Ka‘ab ra. bahwa pengertian taubat nashûhâ adalah seseorang yang bertaubat dari dosanya dan ia tidak melakukan dosa itu lagi, seperti susu tidak kembali ke payudara hewan.


Allah memerintahkan kepada seluruh kaum mukmin untuk bertaubat kepada-Nya, tanpa perkecualian. Meskipun orang itu telah demikian taat menjalankan syariat, dan telah menanjak dalam barisan kaum muttaqin (orang-orang yang bertakwa), tetap memerlukan taubat.


Bahkan, Rasulullah sendiri masih melakukan taubat. Dari Sahabat Al-Aghar bin Yasar al-Muzni bahwa Rasulullah bersabda,


يَاأَ يُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلىَ اللهِ وَاسْـتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّيْ أَ تُوْبُ فىِ الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, dan mintalah ampun (istighfar). Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah tiap hari seratus kali.” (HR Muslim)


Mengenai taubat yang dilakukan Rasulullah saw., di buku “Tuntunan Bertaubat Kepada Allah (at-Taubah ilâ Allâh)”, Dr. Yusuf al-Qardhawi menjelaskan, “Juga ada yang bertaubat dari maqam yang ia tempati yang seharusnya ia naik ke maqam yang lebih tinggi. Dan ini adalah taubat Nabi saw.”

Dari penjelasan di atas, apakah kita masih merasa tidak perlu bertaubat? Apa kita masih mengira bahwa kita melebihi tingkatan kaum muttaqin, sehingga tidak termasuk golongan yang harus bertaubat?


Kewajiban melakukan taubat dengan segera juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Mengetahui keberadaan maksiat sebagai hal yang membinasakan merupakan bagian dari iman. Orang yang menyadari kewajibannya adalah orang yang mengetahuinya secara benar sehingga mampu mencegah diri dari perbuatan yang dibenci.


Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS an-Nisâ’ [4]: 17)

Abu Hamid al-Ghazali berpesan bahwa sangat berbahaya apabila kita menunda-nunda untuk bertaubat. Mungkin saja kita meninggal dunia sebelum melakukan taubat. Sedangkan apabila atas karunia dan rahmat Allah, kita diberikan kemampuan untuk bertaubat, maka kita akan memperoleh kemuliaan.


Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, “Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.” (QS an-Nisâ’ [4]: 18)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,


إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَالمَ ْْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seorang hamba-Nya selama ruh (nyawanya) belum sampai di tenggorokan.” (HR Tirmidzi)

Lebih lanjut, al-Ghazali menasihatkan dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, “Janganlah engkau menghina ketaatan sekecil apa pun hingga membuat engkau tidak mengerjakannya, dan kemaksiatan sekecil apa pun hingga membuat engkau tidak meninggalkannya. Seperti wanita pemintal yang malas untuk memintal benang, karena ia hanya mampu mengerjakan satu benang saja dalam satu jam, dan ia berkata, ‘Apa manfaatnya satu benang itu? Kapan akan dapat menghasilkan satu baju?’ Ia tidak menyadari bahwa seluruh baju di dunia ini diciptakan dari satu benang dengan benang lainnya, dan seluruh dunia yang luas ini disusun dari atom-atom kecil. Maka, berdoa dengan menangis dan istighfar dengan hati adalah kebaikan yang tidak akan sia-sia di sisi Allah SWT.”


Sahal bin Abdullah at-Tustari memberi penjelasan, “Taubat adalah meninggalkan penundaan (tidak menunda-nunda taubat).”


Dalam buku “Tuntunan Bertaubat Kepada Allah (at-Taubah ilâ Allâh)”, Dr. Yusuf al-Qardhawi menjelaskan bahwa di antara keutamaan menyegerakan taubat ialah membantu kita mencabut akar dosa sebelum menjadi kronis dan tertanam kuat dalam hati, kemudian tersebar dalam seluruh perbuatan. Apalagi bila setiap hari keburukan itu terus berkembang dari sumbernya, hingga mencakup seluruh perbuatan kita.


Orang yang selalu menunda-nunda taubat bisa diumpakan orang yang ingin mencabut sebuah pohon, namun dibatalkan. Kemudian ia berkata dalam dirinya, “Aku tunggu hingga satu tahun, baru aku datang kembali untuk mencabutnya.” Ini adalah logika yang keliru. Karena ia tahu, pohon dari hari-kehari akan makin kokoh dan besar, sementara dirinya semakin menua dan melemah.


Ibnul Qayyim al-Jauzi berkata, “Segera bertaubat dari dosa adalah kewajiban yang harus dilakukan segera, dan tidak boleh ditunda. Ketika ia menundanya maka ia bertambah dosa dengan penundaannya itu. Dan jika ia telah bertaubat dari dosa, maka masih ada dosa yang harus ia pintakan ampunannya, yaitu dosa menunda bertaubat. Tentang ini sedikit sekali dipikirkan oleh orang yang telah bertaubat. Malah ia menyangka jika ia telah bertaubat dari dosanya maka ia tidak memiliki dosa lagi selain itu, padahal ia tetap memiliki dosa, yaitu menunda taubatnya itu.”


Di antara keutamaan orang yang bertaubat adalah Allah menugaskan para malaikat Muqarrabin untuk beristighfar bagi mereka serta berdoa kepada-Nya agar Allah menyelamatkan mereka dari azab neraka, memasukkan mereka ke dalam surga, dan menyelamatkan mereka dari keburukan. Mereka memikirkan urusan mereka di dunia, sedangkan para malaikat sibuk dengan urusan mereka di langit. Allah berfirman yang artinya:


(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala,


ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shaleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,


dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.”
(QS. al-Mu’min [40]: 7-9)

Daftar Pustaka:

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan lanjutan dari : Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (2 of 4)
Tulisan ini berlanjut ke : Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (4 of 4)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, October 1, 2010

Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (2 of 4)

“Taubat” berasal dari akar kata ta’—wau—ba’ yang dalam bahasa Arab menunjukkan pengertian kembali. Kata ini mengandung makna bahwa yang kembali pernah berada pada satu posisi—baik tempat maupun kedudukan—kemudian meninggalkan posisi itu, selanjutnya dengan “kembali” ia menuju kepada posisi semula.

Taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-Nya. Betapa indahnya kembali kepada Allah. Betapa indahnya ketika kita, hamba yang bertaubat ini mengingat bahwa kita mempunyai Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Melihat kita penuh pengampunan walaupun kita datang dengan lumuran dosa dan kemaksiatan. Kita pasrahkan badan, kekhusyu‘an hati, menyesali sepenuhnya serta berusaha untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa taubat adalah pengertian yang menghimpun tiga komponen, yaitu:
  • Ilmu
  • Hâl (kondisi spiritual), yaitu makna, nilai atau rasa yang hadir dalam hati.
  • Amal perbuatan

Ilmu akan menghasilkan hal (kondisi), dan hal akan menghasilkan amal perbuatan. Ilmu adalah pengetahuan akan bahaya yang muncul dari dosa. Ilmu akan membawa ke arah kebaikan, yaitu dengan melahirkan iman dan yaqîn. Iman adalah mempercayai bahwa dosa merupakan racun yang menghancurkan, sedangkan yaqîn adalah meyakinkan apa yang dipercayai dan menghilangkan keraguan bahwa dosa itu adalah racun yang menghancurkan. Pada akhirnya, semua itu akan membuahkan cahaya hati yang dapat merasakan penyesalan atas kemaksiatan yang pernah dilakukan dan merasakan bahwa kemaksiatan itu telah menjadi penghalang (hijâb) antara ia dan Allah.


Dengan ilmu, maka akan timbul keinginan dan kehendak untuk melakukan suatu perbuatan (amal kebaikan), baik yang berkaitan dengan masa sekarang, yang telah lalu maupun yang akan datang. Yang berkaitan dengan masa sekarang yaitu dengan meninggalkan perbuatan maksiat yang pernah dilakukan. Sedangkan yang berkenaan dengan masa yang akan datang yaitu dengan berniat akan meninggalkan perbuatan maksiat hingga meninggal dunia. Adapun yang berkaitan dengan masa lalu, yaitu dengan mengganti atau meng-qadha ibadah-ibadah wajib yang telah ditinggalkan pada masa lalu.


Tentang mengganti ibadah-ibadah wajib yang telah ditinggalkan, para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama—pendapat empat imam madzhab—menjelaskan bahwa semua ibadah wajib yang ditinggalkan harus diganti (qadha). Pendapat kedua menerangkan bahwa semuanya wajib diganti, kecuali shalat yang sengaja ditinggalkan, karena tidak ada ganti bagi shalat yang ditinggalkan dengan sengaja. Qadha shalat hanya bagi yang lupa atau tertidur. Sebagai gantinya, yang harus dilakukan adalah memperbanyak istighfar dan shalat nafilah (shalat sunnah). Wallâhu a‘lam.


Taubat juga sering diartikan dengan penyesalan. Selanjutnya, buah penyesalan adalah meninggalkan apa yang membuat kita menyesal, lalu menggantinya dengan kebaikan dan ketaatan.


النَّـدَمُ التَّوْبَةُ

Penyesalan adalah taubat. (HR Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).


اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّـيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, karena perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek. (HR Tirmidzi)


Maka siapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatannya dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubat. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS al-Mâidah [5]: 39)


Al-Busyanji pernah ditanya tentang taubat, lalu dijawab, “Jika kamu mengingat dosa, kemudian tidak merasakan manisnya ketika mengingatnya, maka demikian itu adalah taubat.”


Bila ada yang berkata, “Saya sudah taubat sekarang. Dulu, jenis kemaksiatan model apa pun pernah saya lakukan. Saya sudah puas melakukan itu semua, sekarang waktunya bertaubat.” Menurut al-Busyanji, pernyataan seperti ini menunjukkan bahwa kita belum bertaubat. Kita tidak menyesalinya bahkan merasa puas karena pernah mengerjakannya.


Muhammad bin Ka‘ab al-Qurazhi berkata, “Taubat itu diungkapkan oleh empat hal, yaitu beristighfar dengan lidah, melepaskannya dari tubuh, berjanji dalam hati untuk tidak mengerjakannya kembali, serta meninggalkan rekan-rekan yang buruk.”


Al-Hasan menerangkan, “Taubat adalah penyesalan dengan hati, istighfar dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa dengan tubuh, dan berjanji untuk tidak akan mengerjakan perbuatan dosa itu lagi.”


Al-Junaid menuturkan, “Taubat ada tiga makna. Pertama penyesalan, kedua tekad meninggalkan (tidak mengerjakan lagi) apa yang dilarang Allah dan ketiga berusaha memenuhi hak-hak orang yang pernah dianiayanya.”


Apabila kita pernah merampas atau menganiaya orang lain secara zhalim, maka taubat harus dilakukan dengan mengembalikan hak-hak orang itu atau meminta kerelaannya. Namun, jika dosa yang dilakukan berhubungan dengan Allah, maka sebaiknya dirahasiakan, misalnya taubat karena pernah minum khamr.


مَنِ ارْتَكَبَ شَيْئًا مِنْ هٰذِهِ الْقَاذُوْرَاتِ فَلْيَسْـتَتِرْ بِسِـتْرِ اللهِ

Siapa yang melakukan perbuatan kotor, hendaklah ia menutupinya sebagaimana Allah menutupinya. (HR Hakim)


Penulis yakin keterangan seperti ini sudah kita ketahui bersama dari nasihat para ulama. Oleh karena itu penulis tidak akan mengupasnya lebih dalam. Tentang kewajiban taubat, sudah sangat jelas perintahnya. Allah SWT berfirman:


وَتُوْبُوْاۤ إِلىَ اللهِ جَمِيْعًا أَ يُّهَ ٱلْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS an-Nûr [24]: 31)


Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashûhâ (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
(QS at-Tahrîm [66]: 8)



Daftar Pustaka:

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan lanjutan dari : Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (1 of 4)
Tulisan ini berlanjut ke : Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (3 of 4)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, September 24, 2010

Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (1 of 4)

“Taubat”, sebuah kata yang kadang kita abaikan. Kita sering menganggap bahwa taubat hanyalah untuk para residivis dan penghuni hotel prodeo (lembaga pemasyarakatan). Akibatnya, ketika mendengar kata “taubat” disebut bahkan dibahas oleh para muballigh, nyaris tak ada efek sedikit pun pada diri kita.

Entah dapat jaminan dari mana sehingga kita meyakini bahwa diri kita termasuk golongan orang-orang yang tidak perlu bertaubat.

Entah dapat jaminan dari mana sehingga kita mengira amal ibadah kita sudah cukup, bahkan lebih.

Entah dapat jaminan dari mana sehingga kita merasa bahwa dosa kita tidak banyak.

Entah dapat jaminan dari mana sehingga kita berasumsi bahwa kita tahu apa yang telah dicatat oleh Malaikat Raqib dan ‘Atid.

Entah dapat jaminan dari mana sehingga kita berpikir bahwa semua kebaikan kita diterima oleh Allah dan seluruh kesalahan kita telah diampuni-Nya.

Tidak ada orang yang tidak pernah berbuat dosa, kecuali Rasulullah karena beliau dijaga oleh Allah dari kesalahan atau dosa (ma‘shûm). Dalam perjalanan menuju Allah, kita tidak terlepas dari maksiat dan kekurangan, seperti melakukan perbuatan yang melanggar syariat, baik yang bersifat zhahir maupun batin. Maka, taubat terus-menerus adalah bekal perjalanan menuju Al-Haqq. Nabi Muhammad saw. bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّائُوْنَ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ الْمُسْـتَغْفِرُوْنَ
Setiap manusia melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat dan memohon ampun. (HR Tirmidzi)

Tentunya yang dimaksud kesalahan di atas adalah dosa-dosa kecil, karena memang ada orang yang menjaga diri dan ditolong Allah untuk tidak berbuat dosa besar. Meskipun begitu, sekecil apa pun ukuran dosa kita, kita tetaplah harus memohon ampun kepada Allah dan bertaubat. Dan, tidak ada sesuatu yang disebut kecil bila dilakukan terus-menerus. Marilah kita memohon perlindungan dan pertolongan Allah agar dijauhkan dari dosa-dosa besar. Namun demikian, jika ada di antara kita pernah melakukan dosa besar, janganlah kita pesimis karena Allah Maha Penerima Taubat (At-Tawwâb), Maha Pemaaf (Al-‘Afuww) dan Maha Pengampun (Al-Ghafûr).

Perlu kita ingat lagi bahwa memohon ampun bukan hanya sekadar membaca istighfar, tapi benar-benar memohon ampunan Allah. Kita memang seringkali membaca istighfar, namun sangat jarang mohon ampunan Allah. Dengannya, marilah bersama-sama kita perbaiki diri, sehingga kita tidak hanya membaca istighfar, tapi benar-benar ber-istighfar. Namun, hendaknya ini jangan diartikan bahwa membaca istighfar tidak baik. Yang dimaksudkan di sini adalah kita perbaiki lagi sehingga benar-benar sesuai yang diperintahkan.

Allah adalah At-Tawwâb, dalam arti Allah yang kembali berkali-kali menuju cara yang memudahkan taubat untuk hamba-hamba-Nya, dengan jalan menampakkan tanda-tanda kebesaran-Nya, menggiring mereka kepada peringatan-peringatan-Nya, sehingga bila mereka telah sadar akan akibat buruk dari dosa-dosa, dan merasa takut dari ancaman-ancaman-Nya, mereka kembali (bertaubat) dan Allah pun kembali kepada mereka dengan anugerah pengabulan. Allah juga senang menerima taubat hamba-hamba-Nya. Rasulullah saw. bersabda:

اللهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ مِنْ رَجُلٍ نَزَلَ فِيْ أَرْضٍ دَوِيَّةٍ مُهْلِكَةٍ مَعَهُ رَاحِلَـتُهُ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَوَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ نَوْمَةً فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ رَاحِلَـتُهُ فَطَلَبَهَا حَتَّى إِذَا اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْحَرُّ وَالْعَطْشُ أَوْ مَاشَاءَ اللهُ قَالَ: أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِي الَّذِي كُنْتُ فِيْهِ فَأَنَامُ حَتَّى أَمُوْتُ، فَوَضَعَ رَأْسَهُ عَلَى سَاعِدِهِ لِيَمُوْتُ، فَاسْتَيْـقَظَ فَإِذَا رَاحِلَـتُهُ عِنْدَهُ عَلَيْهَا زَادُهُ وَشَرَابُهُ. فَاللهُ تَعَالَى أَشَدَّ فَرْحًا بِتَوْبَةِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ مِنْ هَذَا بِرَاحِلَـتِهِ
Sesungguhnya Allah sangat berbahagia dengan taubat seorang hamba yang mukmin daripada kebahagiaan seorang laki-laki ketika berada di daerah yang sangat berbahaya (tandus) bersama kudanya, dan ia membawa makan dan minuman yang diletakkan di atas kuda tersebut. Lalu ia meletakkan kepalanya ke tanah dan tidur dengan nyenyak. Saat ia bangun ternyata kudanya telah hilang (bersama perbekalannya), maka ia mencarinya sampai ia merasakan sangat panas dan kehausan serta penderitaan lainnya. Lalu ia berkata, “Lebih baik aku kembali ke tempat tadi dan tidur sampai menunggu kematianku.” Maka diletakkan kepalanya di atas tangannya untuk menunggu kematian menjemputnya. Ketika terbangun, ia melihat kudanya beserta perbekalannya sudah kembali dan ada di hadapannya. Sesungguhnya kegembiraan Allah melihat hamba-Nya bertaubat lebih besar daripada kegembiraan orang yang kehilangan kudanya itu. (HR Muslim)

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa karena gembiranya ia—sampai-sampai, sambil memegang kendali untanya—ia berseru keseleo lidah, “Wahai Tuhan, Engkau hambaku dan aku Tuhan-Mu.” Perkataan sebenarnya bertujuan untuk bersyukur kepada Allah.

Pemaafan Allah tidak hanya tertuju kepada hamba yang bersalah secara tidak sengaja, atau melakukan kesalahan karena tidak tahu. Pemaafan Allah juga tidak selalu menunggu yang bersalah untuk meminta maaf. Sebelum manusia meminta maaf, Allah telah memaafkan banyak hal. Allah adalah Al-‘Afuww, yakni Beliau Yang menghapus kesalahan hamba-hamba-Nya, serta memaafkan pelanggaran-pelanggaran mereka.

Allah, Al-Ghafûr dalam arti sempurna pengampunan-Nya hingga mencapai puncak tertinggi dalam ampunan.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS Âli ‘Imrân [3]: 133)

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS az-Zumar [39]: 53)

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. (QS Hûd [11]: 114)


يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Hambaku, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa hampir seisi bumi, Aku akan datang menyambutmu dengan ampunan hampir seisi bumi, selama engkau tidak menyekutukan Aku (dengan sesuatu).
(HR Tirmidzi—hadits hasan gharib)

Daftar Pustaka:
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006

Tulisan ini berlanjut ke : Apakah Kita Termasuk Orang Yang Harus Bertaubat? (2 of 4)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#