Mencari Data di Blog Ini :

Friday, May 21, 2010

Berapa Lama Kita Dikubur? (2 of 3)

Sejarawan Ibnu Ishak dan lainnya meriwayatkan bahwa ketika orang-orang musyrik yang tewas dalam peperangan Badar dikuburkan dalam satu perigi (lubang kubur) oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya, beliau bertanya kepada mereka yang telah tewas itu,


“Wahai penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi‘ah, Syaibah bin Rabi‘ah, Umayyah bin Khalaf, wahai Abu Jahal bin Hisyam (seterusnya beliau menyebutkan nama-nama orang yang di dalam perigi itu satu per satu). Wahai para penghuni perigi! Adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhamu itu benar-benar ada? Aku telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhanku.”

“Wahai Rasulullah, mengapa Anda berbicara dengan orang yang sudah meninggal?” tanya para sahabat.

Rasul menjawab,
“Kamu sekalian tidak lebih mendengar dari mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawabku (mâ antum bi asma‘a limâ aqûlu minhum, walâkinnahum lâ yastathî‘ûna an-yujîbûnî)

Di dalam kubur, malam pertama tentu sangat terasa bedanya. Masa-masa awal ketika kita pindah “jalur”.

Malam itu, adalah malam pertama yang tidak semua orang menginginkan, apalagi merindukan dan mendambakannya.

Malam itu, adalah malam kesendirian, tak ada teman, sahabat, handai taulan, anak buah, relasi, kekasih, istri, anak atau harta.

Malam itu, manusia berkasur tanah, berbantal gumpalannya, berparfum debu, berselimut kesunyian dan bertirai kegelapan.

Malam itu, Munkar dan Nakir adalah sahabat yang tersenyum ramah, atau musuh yang menyeramkan.

Malam itu, adalah malam yang membuat para pemberani ketakutan olehnya, orang-orang bijak mengadu tentangnya, para ulama pun menangis karenanya.

Aku telah terpisah dari tempat tidurku satu hari
Diam (akan) pisah dariku
Kubur adalah malam pertama
Demi Allah, katakan padaku apa yang terjadi
(karya ‘Aidh al-Qarni)

Seorang ulama menasihatkan, “Demi Allah, seandainya seorang pemuda hidup seribu tahun untuk mengurusi segala keinginannya. Ia menikmati dan mencicipi semua kelezatan selama seribu tahun itu di dalam istana yang dihuninya. Tidaklah semua kenikmatan selama seribu tahun itu cukup untuk mengganti satu malam di dalam kuburnya.”

Dari semua pembahasan di atas, maka kita harus mempersiapkan pelita dalam kubur, sebelum malam itu kita alami. Dan, tidak ada satu pun yang dapat menerangi kubur kita kecuali amal shaleh yang dilakukan setelah iman kepada Allah. Uswah hasanah kita yang agung, Nabi Muhammad saw. telah mengingatkan kita dalam hadits-hadits beliau.

إِنَّمَا اْلقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضٍ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ
Kubur itu taman di antara taman-taman (yang ada di surga). Atau, lubang dari lubang-lubang yang ada di neraka. (HR Tirmidzi)

إِنْ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ. إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، و إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثُكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sesungguhnya jika seseorang di antara kalian mati, maka diperlihatkan kepadanya tempatnya tiap pagi dan sore. Jika dia ahli surga, maka diperlihatkan surga. Dan bila ia ahli neraka, maka diperlihatkan dan diberitahu, “Itulah tempatmu kelak jika Allah membangkitkanmu di hari Kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sahabat Ibnu Abbas ra. telah meriwayatkan hadits berikut ini:

مَرَّ النَِّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ مِنْ كَبِيْرٍ، ثُمَّ قَالَ: بَلَى أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيْمَةِ، وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ لاَيَسْـتَبْرِئُ مِنْ بَوْلِهِ وَفِيْ رِوَايَةٍ: لاَيَسْـتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ. قَالَ: ثُمَّ أَخَذَ عُوْدًا رَطْبًا، فَكَسَـرَهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَبْرٍ ثُمَّ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبَسَـا

Nabi saw. melewati dua kuburan lalu bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua kuburan ini benar-benar sedang diazab. Keduanya tidaklah diazab karena melakukan hal (kesalahan) besar.” Kemudian beliau melanjutkan, “Ya, adapun salah seorang di antara keduanya dahulu suka berjalan (ke sana kemari) untuk mengadu domba, sedangkan yang lainnya dahulu tidak pernah bersuci dari buang air kecil.” Menurut riwayat lain disebutkan, “Ia tidak pernah memelihara dirinya dari air seninya.” Perawi melanjutkan ceritanya, “Kemudian Nabi saw. mengambil sebatang kayu yang masih basah, lalu membelahnya menjadi dua bagian, setelah itu beliau menancapkan tiap-tiap batang kayu itu ke masing-masing kuburan. Kemudian beliau bersabda, ‘Barangkali batang kayu ini dapat meringankan keduanya selagi masih belum kering’.”
(HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Utsman bin Affan ketika mendengar jenazah tersiar, ia menangis sampai pingsan sehingga orang-orang membawanya seperti jenazah ke rumahnya. Mereka bertanya kepadanya dalam satu kesempatan,

“Apa yang terjadi padamu?”

“Aku mendengar Rasulullah bersabda,

وَالْقَبْرُ أَوَّلُ مَنْـزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ اْلآخِرَةِ
“Kuburan itu tempat pertama dari tempat-tempat akhirat.” (HR Ahmad)

Jika seorang hamba selamat darinya, maka ia sungguh sangat berbahagia. Tapi jika ia disiksa di dalam kubur, kita berlindung kepada Allah, sungguh ia telah merugi di akhirat keseluruhan.”

Dalam bait syairnya, ‘Aidh al-Qarni mengingatkan:

Kita berjalan menuju ajal setiap saat
Hari-hari kita tergulung, ia ibarat tangga
Sungguh aku belum pernah saksikan perumpamaan maut
Manakala tidak tersentuh angan, sungguh fatal akibatnya
Betapa buruk kealpaan masa lalu
Lantas bagaimana di masa tua saat uban menyala
Pergilah dari dunia dengan berbekal takwa
Umurmu adalah hari-hari yang semakin berkurang

Dalam pesannya yang lain, ia menulis

Aku mendatangi kuburan, aku kemudian memanggilnya
“Di manakah orang yang diagungkan dan orang yang dihinakan
Mereka semua musnah, tiada pemberi kabar
Mereka semua mati dan kabar itu pun mati”
Wahai orang yang bertanya kepadaku tentang orang yang telah berlalu
Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari sesuatu yang telah berlalu
Anak-anak orang kaya itu pergi dan berlalu
Maka keindahan bentuk itu pun dihapuskan


Daftar Pustaka :
‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • Manshur Ali Nashif, asy-Syaikh, “Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah saw. (At-Tâju al-Jâmi‘u lil-Islâmi fî Ahâdîtsi ar-Rasûli)”, CV. Sinar Baru, Cetakan pertama : 1993
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007


  • Tulisan ini lanjutan dari : Berapa Lama Kita Dikubur? (1 of 3)
    Tulisan ini berlanjut ke : Berapa Lama Kita Dikubur? (3 of 3)

    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

    1 comment:

    1. makasih artikelnya
      bisa jadi bahan renungan....

      ReplyDelete