Mencari Data di Blog Ini :

Friday, May 14, 2010

Berapa Lama Kita Dikubur? (1 of 3)

Ya, itulah pertanyaannya, bukan berapa lama kita hidup. Sebuah pertanyaan yang mungkin belum pernah kita dengar. Pada bulan Agustus 2007 penulis menerima sebuah email dari seorang teman dengan subject “Berapa Lama Kita Dikubur?”. Sebuah email yang mengetuk hati dan meminta pikiran untuk merenung. Entah siapa penulis pertama email ini, karena teman penulis juga dapat dari temannya. Ya, itulah dunia internet. Semoga penulis asli email ini dan semua penyebarnya senantiasa mendapat curahan rahmat dari Allah Yang Maha Memberi Rahmat, dan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat sehingga tetap mengalir pahalanya, amin.


Email tersebut telah penulis edit seperlunya dalam hal tata tulis. Berikut ini isi email tersebut, marilah kita baca dan renungkan bersama-sama.

Awan sedikit mendung, ketika kaki-kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah di daerah Karet, Jakarta. Baju merah yang dipakainya tampak kebesaran, melambai-lambai ditiup angin. Tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali diangkatnya ke mulut untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkeram ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet. Mereka berputar sejenak ke kanan, kemudian duduk di samping seonggok nisan bertuliskan,


Hj Rajawali binti Muhammad
19-10-1915: 20-01-1965

“Nak, ini kubur nenekmu. Mari kita berdoa untuk nenekmu,” kata sang ayah.

Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas. Dia juga ikut memejamkan mata. Ia mendengarkan ayahnya berdoa untuk neneknya. Selesai berdoa, Yani bertanya pada ayahnya,

“Ayah, waktu nenek meninggal, umur nenek 50 tahun ya, Yah?”

Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, seraya memandang pusara ibunya.

“Emmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya, Yah...,” kata Yani berlagak, sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

“Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun...”

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya, ada kuburan tua berlumut. Di batu nisannya tertulis,

Muhammad Zaini
19-02-1882: 30-01-1910

“Emmm... Kalau yang itu sudah meninggal 97 tahun yang lalu ya, Yah...,” ucap Yani sambil jarinya menunjuk nisan di samping kubur neneknya.

Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.

"Memangnya kenapa ndhuk?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.

“Emmm, ayah kan semalam bilang, bahwa kalau kita mati lalu di kubur dan kita banyak dosa, kita akan disiksa,” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya.

“Iya kan, Yah?” lanjutnya.

Ayahnya tersenyum,
“Lalu?”

“Iya... Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong, Yah di kubur. Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang di kubur. Ya nggak, Yah?”

Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan pendapatnya kepada sang ayah. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut.

“Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya tadi sore.

“42 tahun, hingga sekarang. Kalau Kiamat datang 100 tahun lagi berarti 142 tahun disiksa, atau bahagia di kubur,” gumamnya dalam hati. Lalu ia menunduk, meneteskan air mata.

“Kalau aku meninggal, sedangkan aku banyak dosanya, lalu Kiamat masih 1000 tahun lagi, berarti aku akan disiksa selama 1000 tahun? Innâlillâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn,” gumamnya lagi.

Air matanya semakin banyak menetes. Ia bertanya pada dirinya, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau Kiamat 1000 tahun ke depan. Kalau 2000 tahun lagi? 3000 tahun lagi? Selama itukah ia akan disiksa di kubur?

Lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa di televisi kemarin saja, ia sudah tak tahan.

“Ya Allah,” serunya.

Ia semakin menunduk. Tangannya terangkat ke atas, bahunya naik turun tak teratur. Air matanya semakin membanjiri jenggotnya.

“Allâhumma innî as-aluka husnal khâtimah.”

Berulang kali dibacanya doa itu hingga suaranya serak. Ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu. Dibetulkannya selimut Yani. Yani tertidur pulas, tanpa tahu betapa sang ayah sangat berterima kasih padanya, karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan dan apa yang akan datang di depannya.

Di kehidupan sesudah mati, kita akan menuai apa yang telah kita lakukan di kehidupan ini. Tiada dispensasi untuk kembali ke dunia guna beramal shaleh. Allah SWT berfirman yang terjemahnya:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),


agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”(QS al-Mu’minûn [23]: 99-100)

Tulisan ini berlanjut ke : Berapa Lama Kita Dikubur? (2 of 3)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

3 comments:

  1. terima kasih tulisan ini telah menggugah kesadaraan insya ALLAH kita menjadi lebih baik lagi dalam menjalani hidup ini amin

    ReplyDelete
  2. Terimakasih... mudah2an kita mendapatkan khusnul khatimah

    ReplyDelete