Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label jabatan. Show all posts
Showing posts with label jabatan. Show all posts

Friday, April 3, 2009

Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (5 of 12)

Sikap tawadhu‘ juga dicontohkan oleh Sahabat Nabi yang lain. Suatu ketika orang-orang melihat Khalifah Ali bin Abi Thalib kw. membeli daging seharga satu dirham dan membawanya sendiri. Seseorang berkata,

“Biarkan aku yang membawakannya, wahai Amirul Mukminin.”

“Jangan, kepala rumah tanggalah yang lebih pantas membawa ini,” ucap Ali bin Abi Thalib.

Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa Ibnu Salam membawa sepikul kayu bakar, lalu dikatakan kepadanya,

“Wahai Abu Yusuf, anak-anak dan pembantumu sanggup menggantikan pekerjaanmu itu.”

“Aku ingin menempa jiwaku, apakah ia menolak?” jawabnya.

Semua hal di atas adalah teladan nyata—bukan cerita rekaan atau legenda—agar kita senantiasa rendah hati. Berikut ini dua contoh keangkuhan yang kita berlindung kepada Allah darinya.

Seorang penguasa yang dicopot dari jabatannya pergi ke desa asalnya. Para penduduk menyambutnya dengan menggelar permadani di jalan yang akan dilalui penguasa itu, karena ia terkenal dermawan ketika masih menjadi pejabat. Dia menengok kepada orang-orang di sekelilingnya dan berkata, “Sudah semestinya mereka berbuat seperti ini!”

Contoh lain yaitu ada seorang menteri dari dinasti Abasiyah hendak menyeberangi jembatan Baghdad. Ia berdiri termangu di pinggir jembatan dan berkata, “Demi Allah, aku benar-benar kuatir kalau jembatan ini tidak kuat menahan kemuliaanku dan ambruk bersama diriku ke dalam sungai!”

Diceritakan oleh Hajjaj bin Artha‘ah—seorang ulama hadits—bahwa suatu ketika menteri itu memasuki sebuah ruang majelis dan duduk di belakang hadirin. Orang-orang di majelis itu berkata,

“Duduklah di muka!”

“Di mana pun aku duduk, aku selalu di depan. Di mana pun aku duduk, aku yang terkemuka,” jawab menteri itu.

Inilah ungkapan sikap sombong.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita betapa Namrud dan Fir‘aun hancur derajatnya dan mati karena kepongahannya. Apakah itu semua tidak membuat kita menyadari kehambaan kita?

Mungkin kita akan mengeluh, “Ah, sejarah lagi, sejarah lagi. Apa sih istimewanya mempelajari sejarah? Apakah mempelajari sejarah tidak hanya membuang-buang waktu, sebab membuat orang terpaku pada masa lalu—masa yang memang sudah hilang dan tak perlu dibicarakan. Bukankah membicarakan orang lain apalagi yang sudah meninggal tidak diperbolehkan? Bahkan perbuatan seperti itu termasuk dalam kategori menggunjing (ghibah), yang berarti kita memakan bangkai saudara sendiri. Apakah tidak lebih baik membicarakan hal-hal aktual serta memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan?”

Janganlah kita meremehkan mempelajari sejarah, apalagi mengabaikan hikmah yang bisa dipetik. Sejarahlah yang memberi tahu kita siapa sebenarnya orang tua dan kakek-buyut kita. Sejarah jugalah yang mengatakan kepada kita tempat dan tanggal lahir kita. Sejarah yang akan memberi informasi kepada generasi mendatang bahwa mereka ada sebab kita lebih dulu ada. Jika mereka maju, maka sejarah yang akan mengingatkan mereka bahwa kemajuan yang mereka capai tidak lepas dari keringat kita dan orang-orang yang terlebih dahulu ada. Orang yang tidak memperhatikan sejarah masa lalu sangat memungkinkan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali, bahkan berkali-kali. Dan sungguh, itu suatu kecelakaan yang pasti sangat menggelikan.

Mempelajari sejarah juga bukan termasuk menggunjing (ghibah) yang dilarang, karena untuk diambil hikmahnya. Batasan menggunjing adalah kita menyebutkan sesuatu yang tidak disenangi oleh saudara kita jika ia sampai mendengarnya, baik yang kita sebutkan itu kekurangan pada fisik, keturunan, akhlak, perbuatan, perkataan, masalah agama, pakaian, rumah, kendaraannya atah hal-hal duniawi lainnya. Semua itu dilakukan semata-mata untuk merendahkan derajat saudara kita. Namun jika untuk diambil hikmah, mengadukan kezhaliman kepada polisi atau jaksa, meminta fatwa, mencegah orang agar terhindar dari kejahatan orang lain, maka itu diperbolehkan dan tidak termasuk menggunjing yang tidak disenangi Allah.

Selain kekuasaan, memiliki nasab (garis keturunan) yang bagus juga bisa membuat kita menganggap rendah orang lain yang memiliki nasab yang kurang bagus, walaupun orang lain itu lebih tinggi ilmunya dan lebih baik amal perbuatannya. Dari segi pembicaraan, kita bisa tergoda untuk selalu membanggakan diri dan menyebut-nyebut kemuliaan nenek moyang kita.

Nasab yang baik akan mendorong untuk berkata, “Saya ini anak pejabat ternama, lho. Siapa yang tidak mengenal ayah saya?”, atau “Orang tua saya tokoh terpandang di masyarakat. Tidak mungkin kalau orang-orang akan berburuk sangka terhadap apa pun yang saya lakukan.”

Bila kita anak seorang kyai, bisa jadi kita akan berucap, “Saya ini keturunan kyai. Kakek saya kyai khos, bahkan ayah saya termasuk kyai khawwâshu al-khawwâsh (sangat khos). Kalau saya nanti mendirikan pesantren, akan saya beri nama Ma‘had Ya‘lû wa lâ Yu‘lâ ‘Alayh (Pesantren yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya).” Na‘ûdzubillâh min dzâlik

Berdasarkan riwayat Abdullah bin Ahmad dalam “Zawaid al-Musnid” dengan sanad shahih, suatu hari Rasulullah saw. bercerita,

“Pernah terjadi perselisihan antara dua orang di hadapan Nabi Musa as. Salah satu dari mereka berkata,

‘Aku Fulan bin Fulan bin Fulan bin Fulan... (sampai menyebutkan sembilan kakeknya).’

Kemudian Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa,

‘Katakan kepada orang yang menyebut-nyebut nenek moyangnya. Sesungguhnya kesembilan orang itu masuk neraka dan kamu termasuk dari keluarga mereka’.”

Pemimpin besar dunia, Nabi Muhammad saw. pernah mengingatkan putri beliau—Fatimah,

اِعْمَلِيْ فَإِنِّيْ لاَ أَغْنَى عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْـئاً

“Beramallah, karena sesungguhnya aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khaththab menulis kepada Sa‘ad bin Abi Waqqash, “Wahai Sa‘ad, jangan engkau bangga oleh perkataan orang bahwa engkau adalah paman Rasulullan saw. Allah tidak ada pertalian nasab antara diri-Nya dan seorang pun dari makhluk-Nya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”


Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Habiburrahman El Shirazy, “Ketika Cinta Bertasbih 1 [Novel Dwilogi Pembangun Jiwa]”, Penerbit Republika, Cetakan ke-3 : Maret 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Taubat

Tulisan ini lanjutan dari : Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (4 of 12)
Tulisan ini berlanjut ke : Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (6 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, March 27, 2009

Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (4 of 12)

c. Kekuasaan dan Keturunan

Kekuasaan atau jabatan sering membuat kita lupa diri. Fasilitas, hak yang besar serta penghormatan dari orang lain membuat kita terlena, bahkan meskipun penghormatan itu dilakukan karena terpaksa, bukan karena benar-benar hormat atas kepemimpinan kita. Kita lebih layak disebut pimpinan karena surat keputusan, bukan pemimpin karena kemampuan. Sebaliknya, kewajiban besar yang diembankan pada kita malah kita abaikan. Lebih parah lagi, setelah tidak menjabat pun, kebanyakan kita tetap merasa bahwa kita adalah orang penting. Padahal, waktu telah berganti, status telah berubah.

Memiliki banyak murid, pendukung dan pengikut juga bisa membuat diri kita sombong. Walaupun kita tidak punya jabatan formal, namun secara informal kita mempunyai jabatan, yang pengaruhnya bahkan mengalahkan pemegang jabatan formal. Bila tidak hati-hati, kita bisa tergelincir untuk merasa diri lebih hebat dari orang lain.

Abu Darda’ menasihatkan, “Seseorang akan terus jauh dari Allah selama ia meminta orang lain untuk berjalan di belakangnya.”

Abdurrahman bin Auf ketika berjalan bersama budaknya tidak dapat dibedakan mana tuan dan mana budak, karena pakaian yang mereka pakai dan posisi berjalannya sama. Suatu hari murid-murid Hasan al-Bashri berjalan di belakangnya, lalu Abdurrahman bin Auf marah dan berkata, “Apa yang membuat hati seorang manusia menginginkan seperti ini (berjalan di depan)?”

Sebuah nasihat sarat makna termaktub dalam peribahasa, “Melonjak bagai abu penumbuk” yang artinya suatu kesombongan akan terlihat dari cara berjalan seseorang.

Ibnu Wahab bercerita bahwa suatu hari ia duduk di sebelah Abdul Aziz bin Abi Rawad, dan pahanya menyentuh paha Abdul Aziz. Lalu Ibnu Wahab merasa tidak enak (karena menyentuh seorang penguasa), maka ia pun menggeser duduknya. Ketika Abdul Aziz melihat apa yang dilakukan Ibnu Wahab, ia menarik Ibnu Wahab sambil berkata,

“Apa yang kamu lakukan kepadaku? Apakah kamu ingin memperlakukan aku seperti orang-orang memperlakukan penguasa tiran?”

Begitulah, Abdul Aziz tidak ingin diperlakukan istimewa. Ia ingin semua orang bersikap biasa terhadapnya, walaupun ia seorang penguasa.

Abdullah bin Umar ketika menjamu orang berpenyakit kusta, belang dan penyakit-penyakit menjijikkan lainnya, ia meminta mereka untuk makan bersama di meja makannya.

Dikisahkan suatu ketika seseorang datang kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saat itu lampunya mati. Tamu itu berkata,

“Aku saja yang membetulkan lampunya.”

“Bukanlah seorang yang mulia apabila ia menjadikan tamunya seperti pembantu,” jawab Umar.

“Kalau begitu, aku akan panggilkan pembantu untuk membetulkannya.”

“Jangan, dia baru saja tidur.”

Kemudian Umar bin Abdul Aziz mengambil minyak dan menuangkannya ke lampu itu. Ia memperbaikinya sendiri.

“Engkau seorang khalifah, apakah pekerjaan seperti ini kau lakukan sendiri?” tanya orang itu.

Umar bin Abdul Aziz pun menjawab,

“Ketika kamu datang, aku adalah Umar. Saat kamu pergi nanti, aku juga tetap Umar. Tidak ada yang kurang dariku (dengan mengerjakan pekerjaan ini). Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang tawadhu‘.”

Abu Ubaidah bin Jarrah ketika menjadi gubernur membawa sendiri ember berisi air ke kamar mandi.

Ali bin Abi Thalib menuturkan, “Orang mulia tidak akan berkurang kemuliaannya ketika membawa sendiri barang miliknya ke rumah.”

Tsabit bin Abi Malik bercerita, “Aku bertemu Abu Hurairah ketika pulang dari pasar. Ia menggendong seikat kayu bakar, sedangkan pada saat itu ia adalah gubernur di Madinah pada masa pemerintahan Marwan bin al-Hakam.”

Ashbaq bin Natabah berkata, “Aku pernah melihat Amirul Mukminin Umar bin Khattab membawa daging di tangan kirinya dan susu di tangan kanannya, masuk ke pasar dan kembali ke rumahnya.”

Urwah bin Zubair mengatakan, “Saya pernah melihat Khalifah Umar bin Khaththab ra. sedang memanggul air. Di atas pundaknya terdapat sebuah ghirbah (tempat air dari kulit). Saya berkata,

“Wahai Amirul Mukminin, tidak seharusnya Anda melakukan ini.”

“Ketika para utusan (delegasi) datang kepadaku, mereka mendengarkan dan tunduk kepadaku, sehingga kesombongan terkadang muncul dalam diriku. Oleh karena itu, aku harus menghilangkannya,” jawab Umar.

Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya dan membawa ghirbah itu ke ruang dapur seorang wanita dari golongan Anshar, dan menuangkannya ke dalam wadahnya sampai penuh.”

Umar bin Khaththab adalah sosok peronda nomor satu. Sementara orang-orang di ibu kota kekhalifahan terlelap dalam tidur sedang dirinya tidak, orang-orang kenyang sedang dirinya tidak, orang-orang santai sedang dirinya tidak.

Pada suatu malam, ketika menyusuri lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba ia melihat seorang ibu berada di dalam rumahnya bersama beberapa anak kecil yang terus menangis mengelilingi sang ibu. Di sudut lain, tampak sebuah panci berisi air diletakkan di atas perapian.Umar kemudian mendekati pintu dan berkata,

“Wahai hamba Allah, kenapa anak-anak ini menangis?”

“Mereka menangis karena lapar,” sahut wanita itu.

“Lalu, untuk apa panci di atas api itu?”

“Aku mengisinya dengan air. Ini dia. Aku mengalihkan perhatian mereka dengan air itu sampai mereka tertidur. Aku mengelabui mereka supaya mengira di dalam panci itu ada sesuatu yang dimasak.”

Mendengar itu Umar menangis. Ia bergegas mendatangi tempat penyimpanan sedekah (baytul mâl). Ia mengambil sebuah karung, kemudian mengisinya dengan terigu, minyak, mentega, kurma kering, baju dan uang. Ia mengisi karung itu sampai penuh. Ia berkata pada sahayanya,

“Wahai ‘Aslam, angkat karung ini ke atas pundakku!”

“Wahai Amirul Mukminin, aku saja yang mengangkatnya,” kata ‘Aslam.

“Tidak, ini bukan kewajibanmu, wahai ‘Aslam. Sebab, aku yang akan bertanggung jawab di akhirat nanti.”

Umar membawa karung itu dan pergi menuju rumah wanita tersebut. Ia kemudian mengambil panci, mengisinya dengan terigu, sedikit minyak dan kurma kering. Ia mengaduknya, dan meniup api yang ada di bawah panci. ‘Aslam berkata,

“Aku melihat asap keluar dari sela-sela janggut Umar, dan ia memasak makanan itu sampai selesai. Ia lalu menciduknya, dan memberi makan anak-anak itu sampai mereka kenyang.”

Daftar Pustaka :
  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • Aditya Bagus Pratama, “5079 Peribahasa Indonesia”, Pustaka Media, Cetakan II, 2004
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan ini lanjutan dari : Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (3 of 12)
Tulisan ini berlanjut ke : Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (5 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#