Mencari Data di Blog Ini :

Monday, September 8, 2008

Mengingat Mati, Perlukah? (1 of 2)

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa masalah bukanlah fokus yang perlu dikuatirkan. Sikap kitalah yang harus diperhatikan. Kualitas kita ditentukan oleh bagaimana kita menyikapi masalah yang terjadi.

Adi W. Gunawan, seorang re-educator dan mind navigator, memberikan contoh yang sangat gamblang tentang sebuah masalah namun menyikapinya secara berbeda.

Jika kita berkendaraan di jalan raya, lalu tiba-tiba ada sopir angkutan umum menyalip dan berhenti agak mendadak demi mendapatkan penumpang, apa reaksi kita?

Kalau kondisi kita sedang bahagia, misalnya kita mendapat hadiah promo dari sebuah produk sebesar Rp 1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah), maka kita tidak akan marah. Kita malah akan berkata, “Kasihan sopir itu, demi mengejar uang receh, dia harus banting tulang. Menyetir pun seperti terburu-buru dengan mata selalu awas, barangkali ada penumpang yang akan menambah rejeki. Maklumlah, ekonomi lagi sulit. Ada baiknya saya menyumbangkan sedikit rejeki yang saya dapat buat bang sopir.”

Namun, jika keadaan kita sebaliknya, apalagi sedang ada masalah, pastilah kita akan tersinggung. Kita akan marah bukan kepalang, mengomel tiada henti, kurang golèk–entèk ngapèk (istilah Jawa, artinya kalau kekurangan kata, dicari sampai ke dasar otak. Jika kehabisan kata, ambil dari sana-sini supaya tetap bisa marah).

Begitu pun dengan mengingat mati. Jika kita kurang tepat menyikapinya, maka hidup akan terasa tiada guna. Kita akan menjadi malas, tidak bersemangat, ogah-ogahan, makan terasa duri, minum berasa garam, tidur tak nyenyak dan mengerjakan apa pun seolah tak ada arti.

Sebaliknya, jika pikiran kita positif menerimanya, justru efeknya sangat besar dan kita akan bersemangat.

Mengingat mati membuat kita bertekad melakukan apa pun yang sedang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya, karena kita ingin meninggalkan sesuatu yang berharga setelah kematian kita.

Mengingat mati menuntut kita untuk selalu dalam kebaikan, karena kita sadar bahwa kita bisa meninggal sewaktu-waktu

Mengingat mati menjadikan kita bersemangat dalam pelayanan kepada orang lain. Dengan berbuat baik kepada sesama, kita akan tetap hidup dalam kematian kita. Bukankah amal jariyah adalah salah satu hal yang tidak akan terputus, walaupun kita sudah berpulang ke rahmatullah?

Mengingat mati berakibat positif terhadap pola pikir dan perilaku kita. Kita akan senantiasa berpikir positif (husnuzh zhan) karena kita tahu tiada guna berpikir negatif. Kita juga akan selalu santun, anggun serta ramah terhadap sesama.

Mengingat mati akan mendorong kita semakin khusyu‘ dalam beribadah, karena kita tahu bahwa hidup kita tidak lama lagi.

Allah Subhânahû wa Ta‘âlâ berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤئِقَـةُ ٱلْمَوْتِ


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
(QS al-‘Ankabût [29] : 57)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.
(QS an-Nisâ’ [4] : 78)

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS al-Munâfiqûn [63] : 11)

Rasulullah Muhammad saw. bersabda :


أَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ – يَعْنِي الْمَـوْتَ

Perbanyaklah mengingat penghancur aneka kelezatan—maksudnya mati.
(HR Tirmidzi)


مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ. فَقَالَتْ عَاِئشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ : إِناَّ لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ. قاَلَ : لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللهِ وَكَرَمَاتِهِ فَلَيْسَ شَيْئٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، وَ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَـذَابِ اللهِ وَعُـقُوْبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْئٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَكَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

Siapa cinta berjumpa dengan Allah, maka Allah pun cinta berjumpa dengannya. Dan siapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah juga benci berjumpa dengannya. Aisyah (atau sebagian istri Nabi) berkata, “Sesungguhnya kami tidak suka akan kematian.” Rasul menjawab, “Bukan seperti itu. Akan tetapi, seorang mukmin, ketika ajal menjemput, dia digembirakan dengan keridhaan dan kemuliaan Allah. Maka, tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya selain yang ada di depannya. Dia cinta bertemu Allah dan Allah cinta bertemu dengannya. Sesungguhnya orang kafir (ketika ajal menjemput), “digembirakan” dengan azab Allah. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dibencinya selain yang ada di depannya. Dia benci bertemu Allah dan Allah benci bertemu dengannya.”
(HR Bukhari)

Orang yang kematian menjadi kepastiannya, tanah menjadi tempat pembaringannya, ulat tanah menjadi temannya, Munkar dan Nakir menjadi tamunya, kuburan menjadi tempat tinggalnya, perut bumi menjadi tempat menetapnya, Kiamat menjadi penantiannya, surga atau neraka menjadi tempat kembalinya, sepatutnya tidak memikirkan kecuali tentang kematian.

Orang ini sepantasnya tidak mengingat kecuali kepada kematian, tidak merencanakan kecuali untuknya, tidak berambisi kecuali kepadanya, tidak melakukan pendakian kecuali di atasnya, tidak punya perhatian kecuali kepadanya, tidak mengumpulkan daya kecuali untuk menghadapinya dan tidak menantikan kecuali kedatangannya.

Semestinya ia menganggap dirinya termasuk orang-orang yang sudah mati dan menjadi penghuni kubur, karena segala sesuatu yang akan datang adalah dekat, sedangkan yang jauh adalah sesuatu yang sudah lewat tidak datang sama sekali.

Secara filosofis, “tadi”, “kemarin” atau waktu yang telah berlalu adalah sesuatu yang sangat jauh, karena kita tidak mampu untuk mencapainya (kembali padanya). Sedangkan “esok”, “lusa”, “bulan depan”, “tahun depan”, “sewindu lagi” atau hal-hal yang akan datang merupakan sesuatu yang sangat dekat, karena keniscayaan bagi kita untuk menujunya.

Rasulullah saw. mengingatkan kita,

اَلْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَـهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Orang cerdas adalah orang yang (senantiasa) mengintrospeksi dirinya (bermuhâsabah) dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian.”
(HR Tirmidzi)



Daftar Pustaka :
  • Adi W. Gunawan, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
  • Muhammad Ali asy-Syafi‘i asy-Syinwani, asy-Syaikh, “Syarah Abî Jamrah”
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • Sumardi, “Metafisika Akhirat – Tafsir Tematik Ayat-Ayat Akhirat Dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Kefilsafatan”, Makalah, Badan Penerbitan Pesantren Ulumul Qur’an Surabaya, 2007

Tulisan ini berlanjut ke : "Mengingat Mati, Perlukah? (2 of 2)"
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

41 comments:

  1. Assalamualaikum sdr Faisol. Terima kasih juga kerana sudi kunjung lig saya...agama menyatukan negara, bangsa dan seluruh hati-hati manusia..
    Indah Hairani

    ReplyDelete
  2. wa'alaykumus salam, saudariku Indah Hairani yg baik...

    amin...

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum wr wb bpk faisol. Weewwww tak ku sangka ada dosen yg nyasar di blog kusuTz ku. he...he...hew....
    Thanks tlah berkunjung....ho...ho...ho. Makacih lagee pengetahuannya dr bpk.
    Wassalam

    ReplyDelete
  4. Terima kasih saudara Faisol kerana mengunjungi blog saya...semoga terus istiqamah di jalan dakwah...

    ReplyDelete
  5. Salam Faisol...

    Terima kasih ya atas komen kamu di blog saya.
    Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

    ReplyDelete
  6. salam dek faisol...

    terimakasih atas kunjungan mu ke blog mama....mudah2an ALLAH merahmati adek dalam menyampaikan dakwah dan artikal2 yang akan bisa membuka hati2 yg masih tertutup rapat..kembali ke jalan ALLAH...terus kan perjuangan ini....mang sedikit kaget kerna ini adalah kunjungan pertama dari blogger dr tetangga di indonesia..makasih ya dek...

    ReplyDelete
  7. Assalamualaikum...
    terima kasih kerana sudi mengunjungi blog saya...semoga Allah membantu saudara dalam kerja-kerja kebajikan yang saudara lakukan...

    ReplyDelete
  8. Assalamualaikum...
    terima kasih kerana abang faisol sudi mengunjungi blog saye
    semoga terkabullah doa agar Allah melembutkan hati para manusia....
    Alluhakbar!!!

    ReplyDelete
  9. terima kasih sharing info
    bersama-sama teamgis
    semoga dapat menambahkanlagi
    ilmu dan kesedaran bagi setiap umat manusia

    ReplyDelete
  10. Mengingat mati berarti juga menambah iman kita terhadap adanya hari Akhir

    ReplyDelete
  11. Ass. Terma kasih juga infonya. Tulisannya berbobot, bisa nambah pengetahuan dan smoga Allah melembutkan qalbu kita. O ya sering2 juga mampir ke xgrafiti.blogspot.com yo pak? Masih gali2 info ben apik.

    ReplyDelete
  12. saudariku Karya Lukisan Islam Bu Guru yg baik,

    doa sampean saya amini... kalau boleh, saya sedikit memberi saran:
    sebaiknya jangan menulis "Ass", tapi sampean tulis saja "Assalamu'alaykum..."

    seorang teman berpesan agar menghindarinya, krn kata "Ass" dlm bhs Inggris artinya tdk pas banget sbg pengganti salam...

    begitu dulu, saudariku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  13. Sdr Faisol, semoga Allah melembutkan hati kita. Amin.
    Tulisan anda menggairahkan, dan boleh membesarkan hati orang yang takut kematian.
    "Jangan takut mati, krn hakikatnya mati itu indah" mungkin ini juga yang dipesankan oleh sufi seperti al-hallaj dan syekh siti jenar. Dengan kematian orang-orang itu menjadi lega karena tidak ada lagi yang boleh menghalanginya untuk selalu berjumpa dengan Tuhannya.
    Wassalam

    ReplyDelete
  14. Assalamu'alaikum

    Syukron ya Pak, tulisannya udah membuat tergetar hati saya, mampir juga ke www.mjieschool.blogspot.com

    ReplyDelete
  15. Assalamu'alaykum wa rahmatullah.

    Jazakallah sudah mampir ke bloh FSI Al Kaun.

    Mengingat mati amatlah perlu. Karena dengan hal itu kita bisa terjaga dalam melakukan sesuatu di atas bumi ini...

    Walahu a'lam

    ReplyDelete
  16. saudaraku kang kolis yg baik,

    kenyataan di lapangan menunjukkan cukup banyak orang lebih mencintai kematian drpd menjawab tantangan kehidupan... sebagian orang lebih memilih kematian drpd menghadapi persoalan hidup... tentu bukan ini yg kita inginkan...

    Pak Mario Teguh, salah seorang guru saya, menasihatkan agar permadani kehidupan harus kita rajut menggunakan serat-serat keberanian & kecerdasan kita...

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  17. Assalamualikum,
    Terima kasih sudah mau mampir ke Blog saya. Tulisan-tulisannya mudah2an bisa menjadi oase ditengah keringnya jiwa/hati dan hubudz dunya sbgian besar masyarakat kita.
    Jazakallahu Khoiron.
    wassalam.

    ReplyDelete
  18. lengkap banget ni tulisannya..
    salam kenal

    ReplyDelete
  19. salam perkenalan
    salam perjuangan
    salam jiwa pemuda islam yang mantap

    moga perjuangan ini sentiasa dlm redhaNYA

    MOGA FAISOL dan keluarga dlm keadaan sihat2 saja. amin3x
    bagus komentarnya

    "berikan aku 10 pemuda, maka akan ku gegarkan dunia ini" kata Sukarno

    dr.fendi
    fendicenter.blogspot.com

    ReplyDelete
  20. emang kita itu harus inget mati..,,

    ReplyDelete
  21. "Assalamu'alaykum...Pak Faisol

    terima kasih kerana melewati laman blog saya..moga dibulan yg penuh keberkatan ini kita akn dilimpahi rahmat dari NYA..saya link di laman saya ya...terima kasih..

    ReplyDelete
  22. Assalamualaikum Pak, terima kasih kerana lawati blog saya, moga Allah Taala satukan hati umat Islam seluruhnya. Selamat berkenalan.

    ReplyDelete
  23. Assalamu'alaikum.sukron jazakallah atas ilmunya.
    silahkan sering2 kunjungi blog kami di www.ibnukhaldun.co.cc

    ReplyDelete
  24. saudara/i-ku Haryanto, cahpesisiran, dr.fendi, DiMaS giLaNg, Zuridan Mohd Daud, widodo & Mama Ju yg baik... wa'alaykumus salam... semoga bs jd ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahala (MLP) bg kita semua, amin...

    terima kasih atas komentar, saran & nasihatnya...

    ReplyDelete
  25. assalamu'alaikum wr.wb. Mas Faisol terima kasih atas infonya tentang etikanet... insya allah ana akan perbaiki... dan untuk judul di atas ana sangat setuju dan nampaknya kalo kita mengingat mati memang sebaiknya tambah semangat untuk hidup dalam artian hidup yang kekal sehingga kita akan siapkan modal kita untuk bekal pertanggung jawaban kelak..semoga tambah terus tulisannya sehingga ana dapat tambah ilmu ..jazakumullah khairan katsiiran ..wassalamu'alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  26. Alhamdulillah, ader mesej yang baik hendak disampaikan oleh saudara. Orang yang berbuat baik akan dibalas baik. Insya Allah

    Ziarahlah ke blog saya lagik, walaupun blog saya campur2 mcm rojak. Tapi saya ader juga selit2kan tazkirah utk saya dan sahabat2 saya beramal.

    ReplyDelete
  27. ini ada pilihan lagi :
    MAU PAKE KOIN, KERIKIL ATAU BATU???

    Dikisahkan, seorang mandor bangunan yang sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat, suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Mandor ini berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di lantai bawahnya, agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang bising, tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya tidak dapat mendengar panggilan dari sang Mandor. Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja. Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas. Tiba-tiba mandor itu mendapatkan ide lain, ia kemudian mengambil batu kecil yang ada di depannya dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada dibawahnya. Karena merasa sakit kejatuhan batu, pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja dilantai bawahnya. Sahabat yang baik, untuk menarik perhatian kita manusia sebagai hambaNya, Allah seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, maupun kadangkala dengan pengalaman-pengalam an yang menyakitkan. Allah seringkali menjatuhkan "koin uang" atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah kepada kita manusia, agar mau mendongak keatas, mengingatNya, menyembah-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan lebih banyak bersyukur atas rahmat-Nya. Tuhan seringkali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan kenikmatan setiap harinya kepada kita manusia, agar kita mau menengadah kepada-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya. Namun, sayangnya seringkali hal itu tidak cukup membuat kita manusia untuk mau mendongak keatas, mengingat kebesaran-Nya, menengadah kepada-Nya, mengagungkan nama-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya. Karena itu, kadang-kadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalam an menyakitkan, seperti musibah, kegagalan, rasa sakit, kelaparan dan berbagai pengalaman menyakitkan lainnya untuk menarik perhatian manusia agar mau mendongak keatas. Menarik perhatian untuk mau menengadah kepada-Nya, menyembah kepada-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya. Dengan demikian, pengalaman-pengalam an menyakitkan yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan untuk menarik perhatian kita. Hendaknya hal itu membuat kita semakin mempererat hubungan dengan Allah atau "habl min Allah." Hendaknya hal itu mengajarkan kita untuk mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah, dan menyadarkan kita adalah makhluk-Nya yang sangat lemah dan tidak berdaya. Sahabat yang baik, sudah begitu banyaknya rahmat dan berkah Allah senantiasa mengalir setiap detiknya kepada kita semua manusia. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, memiliki kesehatan yang kita rasakan, kelengkapan panca indra yang menopang kehidupan kita, mendapatkan rejeki yang kita nikmati setiap hari, keluarga yang bahagia yang kita miliki dan lain sebagainya. Semua itu sesungguhnya adalah rahmat dan berkah dari Allah SWT yang tak ternilai harganya. Kini apakah Anda akan segera menengadahkan wajah kepada-Nya, ataukah menunggu Allah menjatuhkan "batu" kepada kita ?. SEMOGA BERMANFAT !

    ReplyDelete
  28. Ketika yang kita hadapi permasalahan dunia ingatlah kita akan hidup selamanya sehingga semangat akan menjadi berlipat akan tetapi ketika kita sedang beribadah untuk urusan akherat ingat kita akan mati sebentar lagi niscaya akan menambah kekhusukan kita dalam beribadah, salam

    ReplyDelete
  29. saudaraku ekspresi.hati yg baik,

    sampean menulis,
    "Ketika yang kita hadapi permasalahan dunia ingatlah kita akan hidup selamanya sehingga semangat akan menjadi berlipat..."

    saudaraku,
    konsep ini pun harus disertai dengan mengingat mati, agar kita tidak lalai dalam menjalankan tugas...

    dikuatirkan, jika kita merasa hidup selamanya, berarti bisa berbuat apa saja walaupun terlarang dlm agama, toh hidup kita masih lama... tentu bukan hal spt ini yg kita inginkan...

    begitu dulu, saudaraku... terima kasih saya haturkan atas masukannya...

    semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  30. Terima kasih atas kunjungannya, semoga dengan tinta kita menjadikan kita ummat yang saling membangun dan tidak terpecah belah di satu sisi yang mengakibatkan hilangnya kewibawaan ummat islam di mata musuh-musuh kita.
    Mari kita berdakwah dengan dengan cara kita. semoga bacaan kita dan yang kita suarakan menjadikan kita dan orang-orang di sekitar kita melihat dan menyadari kebesaran Allah. Amiin... .

    www.mashudimansda.blogspot.com

    ReplyDelete
  31. saudaraku mashudi yg baik,

    terima kasih juga saya haturkan... amin...

    ReplyDelete
  32. Mas Faisol, artikel yang menarik dan memberikan pencerahan batin. Banyak yang bisa saya dapat dari blog ini. Saya jadi minder nih.

    ReplyDelete
  33. mengingat kematian adalah sesuatu yg sangat perlu dilakukan. karena dengan demikian kita dapat merenung arti kematian dan mempersiapkan bekal yg cukup untuk kehidupan setelah mati

    ReplyDelete
  34. kunjungan balik nich... ternyata blog ente cukup mengesankan, kalo bisa backgroundnya diganti, biar agak bagus...

    ReplyDelete
  35. ass. terima kasih atas kunjungan blognya!!! q sepakat sekali dengan postingan anda yang satu ini. semoga bisa bermanfaat buat orang banyak !!!
    saya mau promosi blog baru cayoo!!!a-nhien.blogspot.com

    ReplyDelete
  36. Ass. Jazakallah Khair atas kunjungan blognya. Silaturahmi akan betul-betul melembutkan hati umat ini. Dan yang terutama tentunya label-label di blog ini: Akhirat, barzakh, kubur, mati. Semoga bisa terus berkarya dan mengingatkan kita. Jazakallah

    ReplyDelete
  37. Assalamualaikum saudara Faisol; 'Terima kasih kerana sampean sudi mamper neng belog ku'.Bagus sekali tulisan anda kerana penuh dengan nasihat dan ilmu. Boleh kami jadikan rujukan dan panduan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Terima kasih. Alhamadulillah. Untuk sesiapa yang ada di sini sudi-sudikanlah mamper di belog www.nanirostam.blogspot.com.

    ReplyDelete
  38. bodreg a.k.a bdg koolNovember 8, 2008 at 8:10 PM

    iya mas!
    makasih!

    meskipun kita berbeda sudut pandang, berbeda kepercayaan, apalah itu!
    kita tetap saling menghargai!

    salam,

    bodreg

    ReplyDelete
  39. makasih juga saya haturkan, saudaraku bodreg yg baik...

    ReplyDelete
  40. Manusia yang pintar adalah mengingat mati dan mempersiapkan bekal apa yang bakal di bawa untuk menemui Kekasihnya....

    ReplyDelete