Mencari Data di Blog Ini :

Monday, September 1, 2008

Benarkah Kita Hamba Allah? (1 of 2)

Dalam banyak kesempatan, kita menyatakan diri sebagai hamba Allah. Dulu, jika orang mau menyumbang tapi tak ingin diketahui namanya, ditulis dengan NN (No Name). Saat ini, kita menggantinya dengan “hamba Allah”. Tujuan awalnya memang untuk menghindari riya’.
Tapi, perkataan seperti itu bisa membuat diri kita pamer kepada orang lain bahwa kita ini orang shaleh. Kalau kita menyumbang ke suatu badan amal, yayasan atau yang lain, kita bisa tergoda untuk mengatakan dengan sefasih dan semantap mungkin, “Nama saya tidak perlu ditulis. Tulis saja dari hamba Allah.”
Berdasarkan ilmu tajwid, lafazh “Allah” dibaca tafkhîm (tebal) karena lam Jalâlah didahului fathah. Kalau memang itu yang kita lakukan—kita mengucapkan lafazh “Allah” semantap mungkin supaya terlihat seperti orang alim—apakah benar kita ini hamba-Nya? Marilah kita lihat apakah kita memang hamba Allah atau bukan.


Katakanlah kita mempunyai seorang tetangga sekaligus teman, yang dari segi harta dan pekerjaan tidak seberuntung kita. Karena dia teman kita, jika dia minta pertolongan, seketika itu juga kita membantunya. Bahkan kadang kala kita menawarkan diri untuk sedikit meringankan tugas dia, jika dia terlihat tidak bisa menyelesaikannya. Semua itu kita lakukan tanpa pamrih, kita benar-benar mengikhlaskan semuanya.

Dua tahun berlalu dan selama itu pula kita selalu melakukan yang dimintanya. Suatu hari, kendaraan kita sedang bermasalah. Karena buru-buru ingin ke kantor mengingat jam sudah menunjukkan pukul 07.30, kita minta diantarkan dia yang kebetulan sedang mendapat jadwal shift sore (15.00–23.00) di pabriknya. Kala itu dia sedang santai minum kopi hangat sambil membaca koran dan menikmati pisang goreng.

Ternyata, dia tidak mau mengantarkan kita. Dia malah berkata, “Kamu ini mengganggu orang saja. Tidak lihat apa, aku sedang menikmati sejuknya pagi. Minggu ini kan aku shift sore, jadi aku masih ingin istirahat. Kamu kan punya uang, naik taxi saja!”

Nah, apakah di dalam hati, kita tidak akan mengingat-ingat pertolongan kita padanya selama ini? Ataukah, kita berkata pada diri sendiri, “Dasar orang tidak tahu membalas budi! Awas, ya… Jangan harap aku akan menolongmu lagi!”

Jika kita masih mengingat kebaikan kita padanya, atau meminta balas budi darinya, apakah pantas kalau kita menyebut diri sebagai hamba Allah? Sedangkan pengertian hamba adalah orang yang melakukan sesuatu semata-mata untuk tuannya, tak ada urusan dengan orang lain.

Penulis pernah mendengar di sebuah acara radio, ada seseorang mengadukan keadaannya pada nara sumber. Dua tahun sebelumnya, ada pegawai baru di departemennya. Karena ingin berbuat baik, maka pegawai baru ini dibimbing, diberi arahan dan selalu dibantu. Memang dasarnya anak cerdas, pegawai baru tersebut naik pangkat dengan cepat. Masalahnya, sekarang ini jadi saingan, bahkan tega menjatuhkan sang mentor (penelpon) yang telah membimbingnya. Pegawai baru itu sekarang jadi musuh si penelpon. Si penelpon merasa sakit hati karena dulu dialah yang menolong. ‘Aidh al-Qarni menggambarkan peristiwa seperti ini dalam bait syairnya :

Tetapi sifat ini kadang kala justru terbalik, sahabat dijadikan musuh!
Aku ajari dia memanah setiap hari
Ketika lengannya menjadi kuat, ia malah memukulku
Betapa banyak aku ajarkan padanya bait-bait syair
Ketika ia mampu membuat syair, ia menyerangku

Nah, kalau kita berada di posisi si penelpon, apakah kita juga sakit hati? Kalau benar kita sakit hati karenanya, berarti kita tidak ikhlas menolongnya. Dalam hati, sebenarnya kita berharap agar suatu saat pegawai baru itu menolong kita. Apakah pantas kalau kita menolong orang lain, lalu kita berharap suatu saat dia juga membantu kita, kemudian dengan keyakinan penuh kita mengatakan bahwa kita hamba Allah?

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).

(QS az-Zumar [39] : 2-3)


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.
(QS al-Bayyinah [98] : 5)


Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
(QS al-Insân [76] : 9-10)

Rasulullah saw. bersabda :

ثَلاَثٌ لاَيَغُلُّ عَلَيْهِمْ قَلْبُ مُسْلِمٍ : إِخْلاَصُ الْعَمَلِ ِللهِ تَعَالَى، وَمُنَاصَحَةُ وُلاَةِ اْلأُمُوْرِ، وَلُزُوْمُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ


Tiga perkara yang tidak bisa dikhianati hati seorang muslim, yaitu keikhlasan amal karena Allah SWT, saling menasihati dalam penguasaan masalah dan tetapnya jamaah umat Islam. (HR Ahmad)

Semua benda berpotensi dapat ternoda oleh benda lainnya. Jika benda itu bersih serta terhindar dari kotoran dan noda, maka disebut dengan khâlish (benda yang bersih) dan pekerjaan untuk membersihkannya disebut ikhlâshan. Bersihnya (khulush) susu dari hewan ternak adalah apabila tidak dicampuri oleh darah, kotoran atau sesuatu yang dapat mencampurinya.

Ikhlas adalah penjernihan perbuatan dari campuran semua makhluk atau pemeliharaan sikap dari pengaruh-pengaruh pribadi. Ikhlas adalah ruh amal, dan amal menunjukkan tegaknya iman.

Syaikh Ibnu Athaillah menuturkan, “Siapa menyembah Allah karena mengharapkan sesuatu yang lain, atau karena menolak bahaya yang akan menimpa dirinya, maka ia belum menunaikan tugasnya terhadap Allah sesuai dengan sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Ada beraneka ragam jenis amal menurut situasi dan kondisi yang masuk ke dalam hati manusia. Kerangkanya adalah perbuatan yang jelas, sedangkan ruhnya adalah ikhlas.”

Imam Al-Qusyairi menasihatkan, “Ikhlas adalah penunggalan (peng-Esa-an) Al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan. Ketaatan harus dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata, tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukan untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian manusia atau makna yang lain selain pendekatan diri pada Allah.”

Dzun Nun al-Mishri menjelaskan, “Ikhlas tidak akan sempurna kecuali dengan kebenaran (shidiq) dan sabar di dalam ikhlas. Shidiq tidak akan sempurna kecuali dengan ikhlas dan terus-menerus di dalam ikhlas.”

Lebih lanjut, al-Mishri menerangkan, “Ada tiga alamat yang menunjukkan keikhlasan seseorang, yaitu ketiadaan perbedaan antara pujian dan celaan, lupa memandang amal perbuatannya, dan lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya—bahkan di kampung akhirat nanti.”

Abu Ya‘qub as-Susi membahas ikhlas lebih dalam lagi. Dia berkata, “Kapan saja seseorang masih memandang ikhlas dalam keikhlasannya, maka keikhlasannya membutuhkan keikhlasan.” Artinya, kita tidak boleh memandang amal kita dengan pandangan apa pun. Seringkali kita berkata, “Saya melakukan ini dengan ikhlas, koq.” Perkataan ini menurut Abu Ya‘qub as-Susi bisa dikategorikan belum ikhlas.

‘Aidh al-Qarni berpesan, “Jangan mengharap terima kasih dari seseorang. Tabiat untuk mengingkari, membangkang dan meremehkan suatu kenikmatan adalah penyakit yang lazim menimpa jiwa manusia. Karena itu, Anda tak perlu heran dan resah bila mendapatkan mereka mengingkari kebaikan yang pernah Anda berikan, juga mencampakkan budi baik yang telah Anda tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah Anda persembahkan. Bahkan, tak usah resah bila mereka sampai memusuhi Anda dengan sangat keji dan membenci Anda sampai mendarah daging, dan semua itu mereka lakukan setelah Anda berbuat baik kepada mereka.”

“Anda tidak perlu terkejut manakala menghadiahkan sebatang pena kepada orang bebal, lalu ia memakai pena itu untuk menulis cemoohan kepada Anda. Anda juga tak usah kaget bila orang yang Anda beri tongkat untuk menggiring domba gembalaannya justru memukulkan tongkat itu ke kepala Anda. Jangan pernah resah dan gundah ketika ‘tangan putih’ yang Anda ulurkan dibalas dengan tamparan menyakitkan. Itu semua adalah watak dasar manusia yang selalu mengingkari dan tak pernah bersyukur kepada Penciptanya sendiri Yang Maha Agung nan Mulia. Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang dan mengingkari, apalagi kepada saya dan Anda.” Demikianlah kata ‘Aidh al-Qarni melanjutkan nasihatnya.

Daftar Pustaka :
  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • Muhammad Basori Alwi Murtadho, Kyai, “Pokok-Pokok Ilmu Tajwid”, Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Malang, Cetakan XVII : September 1993
Tulisan ini berlanjut ke : "Benarkah Kita Hamba Allah? (2 of 2)"
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

57 comments:

  1. Sebagian orang-orang ma'rifah berkata, "Sesungguhnya Allah menyintai hamba-hamba yang dicintaiNya. Mereka merasa tenteram kepadaNya”. Mereka tidak menyesal seditkitpun jika sesuatu yang dimilikinya hilang.Mereka tidak sibuk mengurusi kepentingan dan keuntungan pribadi.

    “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, "Ya Tuhan kami, tiada Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. " QS. A1 Imran 191.

    “Allah mencintai mereka dan mereka menyintai Allah “ QS. Al-Maidah 54

    ”Dan orang-orang yang beriman itu lebih kuat cintanya kepada Allah” QS. Al Baqarah 165.

    Makna ucapan 'laa ilaaha illalaahu', artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah dan dicintai, kecuali Dia. Setiap disembah itu dicintai. Dan sesungguhnya hambalah yang mengikat dan yang disembah itu yang terikat dengannya. Karena itu setiap yang menyintai, maka ia terikat dengan yang dicintai. Allah berfirman, "Jelaskanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya." QS. Al Furqaan 43
    Nabi bersabda, BaranQsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, tidak ada Tuhan kecuali Allah dengan ikhlas, pasti ia masuk surga. "

    Ikhlas yang dimaksudkan ialah mengikhlaskan hati hanya untuk Allah. Di dalam hati tidak ada sedikit pun kemusyrikan (sekutu). Hanya Allahlah yang dicintai dalam hati, yang disembah dalam hati, dan yang dituju oleh hati. Jika seseorang sudah demikian, maka ia merasa bahwa dunia adalah penjara baginya. Sebab dunia itu merupakan penghalang baginya dalam bermusyahadah kepada Allah, Tuhan yang dicintainya.

    Di antara tanda-tanda cinta kepada Allah ialah bahwa seseorang itu senang berdzikir. Lidahnya tidak bosan-bosannya menyebut nama Allah dan hatinya tidak pernah sepi dari semua itu. Ini logis, karena seseorang yang menyintai sesuatu maka is seringkali"menyebut-nyebut kekasihnya. Cinta kepada Allah pun demikian, namun diwujudkan de¬ngan berdzikir.

    ReplyDelete
  2. subhanAllah..tulisan antum bagus pak..seperti menelisik jauh kesanubari ane..mengingatkan diri yang sering khilaf..jazakallah.

    ReplyDelete
  3. Boleh saya tahu apa definisi tuhan?
    Sehingga kita bertanya apa kita hamba Allah.

    ReplyDelete
  4. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    saya bukanlah orang yg mendalami teologi...
    saya lebih memilih bidang yg sesuai kapasitas saya...

    saya kira bahasan ttg Tuhan sudah sangat jelas... jd tdk perlu dibicarakan lg secara panjang-lebar hanya u/ memuaskan akal...

    bila sampean ingin penjelasan scr mendetail, silakan sampean baca Bab ttg Tuhan di :

    M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007

    atau kunjungi saja link ini :
    http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Tuhan1.html

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  5. lempar batu sembunyi tangan donx...

    gpp.

    ReplyDelete
  6. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    bukankah sudah sangat jelas kalimat :
    "jika sesuatu diserahkan bukan pada ahlinya, tunggu saatnya kehancuran..."

    adakah saya harus menjawab sesuatu yg memang saya tidak menguasai...?

    kalau siapa pun mau mengatakan bhw saya ini kurang ilmu, bodoh, tidak bisa apa-apa dll... memang begitulah saya, tdk bisa apa-apa...

    saya hanya menjalankan ajaran Rasul saw. u/ menyampaikan yg saya bisa...

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  7. salam
    terima kasih atas kunjungan saudara faisol ke dlm laman sya ini.sgt menghargai ^___^

    saya suda meneliti secara kritis penulisan anda dan ternyata bagus dan menarik
    Alhamdulillah nice post

    memang ternyata mmpu melafazkn kalimah ikhlas tu dgn mudah..namun penghayatannya?sgt kurang...
    bg saya keikhlasan itu meliputi segala aspek dalam kehidupan ini. dan setiap aspek itu merujuk kepada suatu perkara yg pasti iaitu ALLAh
    Jika kita mula ikhlas kepada Allah, nescaya segala perkara selanjutnya juga akan membuahkan keikhlasan..amin..

    salam perkenalan
    afiq sayuti
    http://tonicsnail.blogspot.com

    ReplyDelete
  8. Akhi,... syukron untuk kunjungan antum ke blog ana; di http:al-firqotunnajiyyah.blogspot.com.

    ana liat blog antum asyik juga dan kayaknya antum rajin juga nulisnya.

    dan semoga kita menjadi jembatan bagi dakwah islam dan menjadi perantara bagi manusia dalam memperoleh hidayah Islam.

    semoga kita selalu istiqomah di atas Ash-Shirat, seperti telah istiqomah para sahabat dan orang-orang shaleh dalam mengikuti Nabi SAW. dan kita berharap agar dapat berjumpa dengan Beliau SAW di Telaga (Haudh) amin.

    ReplyDelete
  9. saudaraku Abu Hasan yg baik,

    amin...

    ReplyDelete
  10. Salam...
    Trima kasih kerana melawat blog ana. ilmu saudara faisol pun hebat. Banyak ilmu baru dan muhasabah diri yang ana dapat..

    ReplyDelete
  11. assalaamu'alaykum wr wb, akh. Sy tidak tahu, apakah akh ini yg juga berkunjung ke blog K'Agus al-Muhajir atau bukan. But anyway, syukran jazilan sdh berkunjung. Tulisan antm ini bener-bener ngingetin saya. Meski ada kesetidakpahaman tapi bukan hal yang sangat urgent kok. Tulisan berikutnya blm sy baca, insyaALLAH nanti dilanjut. Perbanyak doa Rabithah.
    Semoga ALLAH menyatukan hati kita semua. Amin.
    Barakallah fik wa ahlik.
    Wassalaamu'alaykum wr wb.

    ReplyDelete
  12. tulisannya ilmiah dengan analisa

    ReplyDelete
  13. Salam di Blog.
    Payah menjadi hamba lebih payah merasai diri Hamba..

    ReplyDelete
  14. salam ziarah....
    blog anda indah sekali.....bahkan cukup indah sekali dengan pelbagai mutiara ilmu yang sangat berguna buat diri saya yang sering lupa....terima kasih memperkenalkan saya dengan laman informasi anda ini.Saya pasti berkunjung lagi ...InsyaAllah

    ReplyDelete
  15. saudaraku mmxecutioner, rIcKy, agas & ummuhanah yg baik,

    terima kasih saya haturkan... semoga bisa menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahala (MLP) bg kita semua, amin...

    saudaraku epugi yg baik,
    terima kasih nasihatnya... kalau ada kritik, dg senang hati saya menerimanya...

    saudara2ku sekalian,
    bârakallâhu lakum, amin...

    ReplyDelete
  16. terimakasih sdr faisol yang sudi mengunjungi ke wongmbanjar.wordpress.com walaupun blog saya masih baru n acak-acakan namun saya merasa dihargai dengan kunjungan n komentarnya.

    ReplyDelete
  17. Seseorang itu baik dia kafir, musyrik, zholim dia tetaplah hamba Allah. Seluruh makhluk adalah hamba Allah. Di dunia ini hanya ada 2 hal yaitu Ar Rabb dan Makhluk.

    Tak mungkin Allah tidak mengakui seseorang sebagai hamba-Nya. Kalau memang Allah tidak mengakui orang-orang kafir sebagai hamba-Nya, maka saya ingin tahu siapa yang bilang demikian?

    ReplyDelete
  18. Assalamualaikum Wr Wb,
    Mas Faisol, saya setuju. Semoga Allah menyatukan kita dan melembutkan hati kita. Bagus blognya mas Faisol. Terima kasih telah mampir di blog saya. Salam damai dan persatuan.
    Wassalam dari mr. dayson (http://hidup-sesudah-mati.blogspot.com)

    ReplyDelete
  19. wa'alaykumus salam, saudaraku mr.dayson...

    amin... terima kasih juga saya haturkan...

    ReplyDelete
  20. saudaraku Abu Aisyah Al Atsari yang sangat kritis,

    Allah telah berfirman dlm surah al-Fajr[89] yang terjemahannya sbb:

    27. Hai jiwa yang tenang.
    28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
    29. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,
    30. dan masuklah ke dalam surga-Ku.

    Kalau memang sampean ingin menyanggah, dengan senang hati saya menerima semua pencerahan... tolong sampean tunjukkan ayat yang menerangkan bahwa Allah menyebut orang-orang musyrik dengan panggilan :
    => ‘Abdiy atau ‘Ibâdiy atau ‘Ibâdallâh

    bukankah Allah senantiasa menyebut semua umat manusia dengan "Nâs"...?

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  21. intinya, itu semua melahirkan sbuah pertanyaan bombastis! Dilema mana yang harus dimenangkan? Kadang perasaan bisa dibohongi oleh kenyataan, tp ap hrs membohongi kenyataan demi perasaan?

    ReplyDelete
  22. saudariku ayu_drs yg baik,

    di blog ini, saya menekankan pada muhasabah (introspeksi) diri... jd, blog ini u/ introspeksi diri saya pribadi & pembaca masing-masing... bukankah tugas kita adalah memperbaiki diri sendiri dulu...?

    sudahkah diri kita sesuai dg perkataan kita bhw kita adalah hamba Allah...?

    ReplyDelete
  23. ass.
    Jzk4JJI telah mengingatkan kami(103:3).

    2:271, 2:274, 14:31, 35:29, 2:263, 2:264, 13:22, 16:75, 16:90
    .......
    6:162, 34:11, 39:10

    Iklas=dalam hati= hanya 4JJI SWT dan hati nurai kita yang tau. Khusnudzon itu lebih terjaga dari fitnah.

    Regard.
    Skimater.

    ReplyDelete
  24. Alhamdulillah...
    diingatkan kepada makna penghambaan kepada Allah... Diingatkan lagi kepada makna syahadatain....
    jazakallah khoir...

    yupz.. yang bisa kita lakukan adalah melakukan kebaikan yang berguna untuk kebaikan lainnya... Dan itu diniatkan untuk Allah. biarkan Allah saja yang menilai dan membalasnya

    ReplyDelete
  25. Alhamdulillah, kunjungan sahabat kehalaman aku diterima dengan senang hati, sesungguhnya ana hanya mencoba menyebarluaskan apa yang baik demi Izzah Islam dan mencoba meresapinya untuk memperbaiki diri sendiri. Sahabat, antum mempunyai talent yang sangat luar biasa dalam mengurai pengetahuan dan pemahaman sahabat tentang Islam. Teruslah berkarya demi kemajuan dan perdamaian seluruh umat Islam...jazakallah khoir.

    ReplyDelete
  26. Bagus, tulisan yg didasari ilmu agama yg kuat. Terimakasih telah mengunjungi blog saya, salam kenal dan senang bisa menemukan blog Anda.

    ReplyDelete
  27. semoga syahadat saya senantiasa diperbarui dengan wujud yang lebih baik

    ReplyDelete
  28. Assalamualaikum.. Salam Ukhuwwah.. Salam Taaruf.. Salam Muhibah...trims atas pencerahannya; dari http://rizkyp13.multiply.com/

    ReplyDelete
  29. Mir Hazil Azran RamliSeptember 15, 2008 at 11:00 AM

    Salam...

    Pertama kali ke sini.. Alhamdulillah, luas ilmu yang dapat dititip disini. Semoga terus makmur serta dilimpah kurnia kudrah untuk terus berkongsi.

    Salam Penuh Kedamaian...

    ReplyDelete
  30. Bagaimana kaisar2 dinasti china mencari obat awet muda sampai ke negri nan jauh di mato ?
    Bagaimana segala upaya untuk mengencangkan kulit yang keriput dengan high tech ?
    Bagaimana phobia yang extra ordinary tehadap maut membooming di jagad raya ?
    Bagimana euphoria penyakit wahn mengalir pada darah pemuda muslim ?
    Bagaimana si fakir jalanan mencari sebulir nasi untuk menganjal perut buat menyambung hidup ?
    Bagaiamana temen mahasiswa mogok makan, etc. dan menantang maut dengan suatu harapan ?
    Bagaiamana pemanjat tebing, gedung tanpa pengaman dan penantang maut lain dianulirkan ?
    Bagaiaman teroris mengeluarkan ruh dari jiwa yang tak berdosa dibiarkan?
    Bagaiamana jihad disalah interpretasikan dengan mati sebagai final project ?
    Beagaiamana pengaku miskin antri di depan gerbang bazar zakat demi Rp. 30 ribu dengan tiket ajal (pasuruan case)?
    dan..dan..deelel

    Beranikah kita hidup didunia ini?
    Berani pulakah kita mati detik ini?

    For review:

    2:154, 3:157, 3:169, 3:170-171, 3:195, 4:69, 4:74, 9:111, 47:4-6, 22:58.

    "Siapa yang tak suka bersua Allah, maka Allah pun tak suka bersua dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).

    Hamid Al-Qushairy berkata, "Setiap orang di antara kita yakin akan datangnya kematian, sementara kita tidak melihat seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu. Setiap orang di antara kita yakin adanya surga, sementara kita tidak melihat ada yang berbuat agar bisa masuk surga. Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka, sementara kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka. Untuk apa kalian bersenang-senang? Apa yang sedang kalian tunggu? Tiada lain adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan ataukah keburukan. Maka hampirilah Allah dengan cara yang baik.

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati." (HR Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).
    Al-Hasan Al-Bashry berkata, "Kematian melecehkan dunia dan tidak menyisakan kesenangan bagi orang yang berakal. Selagi seseorang mengharuskan hatinya untuk mengingat mati, maka dunia terasa kecil di matanya dan segala apa yang ada di dalamnya menjadi remeh.
    Jika Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ingat mati, maka dia menggigil seperti burung yang sedang menggigil. Setiap malam dia mengumpulkan para fuqaha, lalu mereka saling mengingatkan kematian dan hari kiamat, lalu mereka semua menangis, seakan-akan di hadapan mereka ada mayat.
    Syumaith bin Ajlan berkata, "Siapa yang menjadikan kematian pusat perhatiannya, maka dia tidak lagi peduli terhadap kesempitan dunia dan kelapangannya."
    Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata, "Orang yang berbahagia ialah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain."
    Abu Darda' berkata, "Jika engkau mengingat orang-orang yang sudah meninggal, maka jadikanlah dirimu termasuk mereka yang sudah meninggal."
    Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memegangi kedua pundakku lalu beliau bersabda, "Jadilah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau seorang pelancong." (HR Bukhary dan Ahmad).
    Ibnu Umar berkata, "Jika engkau berada pada sore hari, maka janganlah menunggu sore hariny. Pergunakanlah kesehatanmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu."
    Dari Al-Hasan, dia berkata, "Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam bertanya kepada para sahabat, "Apakah setiap orang di antara kalian ingin masuk surga?" Mereka menjawab, "Benar wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Pendekkanlah angan-angan, buatlah ajal kalian ada di depan mata kalian dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." (Diriwayatkan Ibnu Abid-Dunya)
    Dari Abu Zakaria At-Taimy, dia berkata, "Tatkala Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis: Wahai anak Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi dan engkau tidak akan terlalu berambisi. Penyesalanmu akan muncul jika kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan. Saat itu engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai penyesalan dan kerugian

    Regard.
    @_pararaja
    From :Skimater cc: www.smk3ae.wordpress.com

    ReplyDelete
  31. For compare 'n review:
    MATI adalah satu kejadian yang paling hebat, paling menakutkan dan paling mengerikan. Satu kejadian yang pasti akan dihadapi dan dialami oleh setiap manusia, satu kejadian yang tak dapat dihindari dengan cara bagaimanapun jua. Para Nabi dan Rasul, Jin dan Malaikat sekalipun tidak dapat menghindarkan diri dari mati.
    Bila mati dikatakan satu peristiwa paling hebat, yang pasti terjadi atas diri tiap-tiap manusia. maka melupakan mati, atau tidak mengingat akan mati, adalah benar-benar satu kebodohan, satu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
    Mengingati satu peristiwa yang hebat yang pasti akan dialami setiap manusia, bukankah satu kebodohan, tetapi adalah berupakan satu kesadaran, satu pengertian tentang diri dan tentang hidup.
    Seorang manusia yang 100% melupakan mati, sedang dia pasti akan mengalami mati, berarti yang ia akan menempuh satu kejadian hebat. iaitu mati secara membuta tuli. la adalah ibarat seorang musafir yang akan menempuh satu daerah yang tak pernah dipelajari dan difikirkannya, dalam keadaan, gelap-gulita pula. Sudah pasti dia tidak akan dapat melangkah satu langkah pun di alam yang gelap itu, sudah pasti dia akan dihinggapi oleh perasaan getir dan takut, bingung tak tahu apa yang harus dilakukan.
    Begitulah keadaan roh seorang manusia yang sudah mati, yang tak pernah mengingat-ingat akan mati, dan tak pernah mempelajari masalah mati, atau keadaan sesudah mati. Dalam keadaan gelap-gulita, takut, getir dan bingung terus-menerus, bukan dalam sehari dua hari, tetapi terusmenerus dalam masa berabad-abad sampai Hari Kiamat.
    Untuk menghindarkan nasib yang demikian itu, maka Agama Islam menganjurkan kepada manusia semasa hidup supaya jangan lupa mati, agar mempelajari pula hakikat mati itu, agar dapat menempuh mati yang hebat itu denoan penuh pengertian dan kesadaran.
    Orang yang mengerti akan hakikat mati, iaitu orang yang mempunyai kepercayaan dan keyakinan-keyakinan tentang masalah mati, berarti orang itu mengerti akan hakikat hidup, dan ia akan menjalani masa hidupnya dengan tindakan dan sikap yang sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya itu.
    Alangkah sempit dan entengnya hidup tanpa kepercayaan dan keyakinan. Hidup tanpa kepercayaan dan keyakinan, adalah ibarat sebuah kapal yang mati mesinnya di tengah-tengah samudera dan dia tidak mempunyai sauh ataujangkar. Pastilah kapal itu akan terkatung-katung, bergerak menurut tempaan ombak atau arus yang datang menyerang. Atau ibarat layangan putus talinya, terkatung-katung di udara, tak tahu ke mana arah dan di daerah manajatuhnya.
    Memang mengingat mati tanpa pengerban akan menyebabkan penderitaan batin yang amat berbahaya.,Tetapi mengingat akan mati, dengan penuh pengertian dan kepercayaan tentang hidup sesudah mati, bukanlah menyebabkan kesengsaraan batin, tetapi menimbulkan rasa bahagia dan keberanian. Sekalipun masih disertai dengan perasaan ngeri dan takut, tetapi perasaan ngeri dan takut yang terietak di atas dasar kesadaran dan pengertian, kepercayaan dan keyakinan. Seperti perasaan ngeri dan takut yang dirasakan oleh seorang mahasiswa menghadapi ujian atau tentamen, sedang dia sudah mahir dan hafal semua masalah kuliah yang akan diujikan itu. taitu satu perasaan ngeri dan takut yang disertai dengan harapan-lulus yang sepenuh-penuhnya.
    Orang yang beriman itu akan menghadapi mati bukan dengan perasaan putus harapari, tetapi dengan penuh harapan, dengan pegangan batin yang amat teguh dan kokoh. Sebagai seorang paracutis (pasukan payung), dia melompat meninggalkan pesawat terbangnya dari angkasa yang amat tinggi, dengan kepercayaan dan keyakinan penuh, bahwa paracut (payungnya) akan terkembang, yang akan dapat menyelamatkanjiwanya. Hanya beberapa saat saja dia sedikit berdebar dan terkatung-katung di angkasa tinggi, dan akhirnya dia dapat berinjak di tanah kembali dengan kedua kakinya dengan tak kurang suatu apa.
    Dengan keterangan ini nyata sekaii, bahwa mengingat-ingat mati bukanlah menakut-nakuti diri yang menyebabkan kesengsaraan batin.
    Malah sebaliknya, mengingati mati akan menghiiangkan rasa takut dan ngeri dan memperkuat jiwa dan menambah ketabahan, persis seperti berbagai-bagai latihan Yang dilakukan pasukan paracut sebelum meloncat dengan payung dari udara Yang tinggi. lnilah satu guna dan faedah mengingati mati.
    Karena perasaan dekat mati itu, maka tempoh hidupnya Yang pendek itu akan dipergunakannya sebaik-baiknya. Dia tidak akan membuangbuang waktu dan tempoh dalam hidupnya. Setiap detik dan menit, apalagi jam, hari dan minggu, amat berharga baginya. Setiap detik dan menit,jam dan hari itu akan dipergunakannya sebaik-baiknya untuk menghasilkan suatu Yang berguna bagi dirinya, bagi anak dan isterinya, bagi bangsa dan agamanya.
    Orang Yang ingat akan mati, tidak mungkin akan hidup secara bermalas-malasan, tidak mungkin dia akan membuang-buang waktu, hidup berpoya-poya dan bermain-main. Pasti ia akan bekerja dengan giat dan gesit. Dia ingin dapat meninggalkan apa-apa untuk anak dan isterinya, untuk bangsa dan tanahairnya. untuk agama Yang dianutinya.
    Ingat akan mati menyebabkan orang giat bekerja untuk diri, keluarga dan masyarakat. Ingat akan mati akan menjadikan masyarakat akan lebih pesat majunya.
    Sebaliknya orang-orang Yang lupa akan mati itu, akan hidup bermalasmalas, hidup berpoya-poya dan bermain-main. Dan inilah Yang menyebabkan lambatnya kemajuan dalam masyarakat, lambatnya kemajuan dalam bernegara dan beragama.
    Demikianlah faedahnya mengingati mati bagi kemajuan masyarakat dan negara serta agama. Guna dan faedah Yang terpenting dan terbesar dari mengingati mati, ialah bahwa setiap orang Yang ingat akan mati, akan lebih giat dan taat menjalankan ibadat-ibadat Yang diperintahkan Tuhannya, sebab mati berar-ti kembali menghadap kepada Tuhan.
    Karenanya orang-orang Yang sering mengingati mati, pasti akhlak dan budipekertinya lebih baik. dia akan terhindar dari sifat loba-tamak dan serakah, dia akan terhindar dari sifat congkak, sombong dan takabbur.
    Kalau setiap orang selalu sadar Yang ia pasti akan mati. maka setiap orang akan bersifat tenang, hormat dan sopan, terhadap sanak keluaraganya dan terhadap orang lainjuga. Perasaan cinta dan kasihnya terhadap anak dan isterinya akan bertambah, sebab dia yakin Yang ia tak lama lagi akan meninggalkan anak isterinya itu. Atau anak dan isterinya itu akan meninggalkah dia.
    Ingat akan mati akan menjadikan seseorang hidup secara sederhana, tidak serakah, tidak suka mewah. Sebab untuk apa dia hidup serakah atau mewah, tokh ia akan mati meninggalkan semua harta dan hak miliknya. Sebab itu dia cari kekayaan dan harta dengan secara tidak serakah, secara tidak bernafsu, dengan syarat-syarat tertentu, iaitu, dengan secara haial. Dia akan menjauhi penghasilan secara haram, secara tidak sah.
    Sebab itu ingat akan mati akan mengurangi sangat bahaya-bahaya korupsi, sogok, dan lain-lain cara immoral dalam dunia perekonomian dan perdagangan.
    Bahaya korupsi., wang suap atau sogok, dan lain-lain cara yang tak haial akan dapat dikurangi dalam masyarakat dan negara, bila kepada semua penjabat dan penguasa selalu diingat-ingatkan soal mati, soal hidup sesudah mati, soal Akhirat di mana semua manusia akan diminta pertanggungjawabnya tentang segala harta, pangkat dan tindak-tanduknya selama hidup di dunia ini.
    BEGITU besar faedah dan gunanya mengingati mati bagi membentuk budi pekerti dan diri peribadi setiap orang dalam menempuh hidup di dunia sekarang ini. Sebab itu marilah kita sering-sering mengingati mati. Mati dapat diingati secara bermenung dan berkhayal di kala duduk seorang diri di tempat sunyi. Tetapi cara yang demikian itu kurang efektif. kurang berkesan, malah mungkin menyebabkan banyak ngelamun yang dapat mengakibatkan lemah jiwa atau ingatan.
    Cara yang sangat praktis untuk mengingati mati menurut ajaran Allah dan Rasul-Nya dengan Agama Islam, ialah agar sering-sering menjenguk sanak keluarga atau teman, sahabat dan kenalan yang sedang menderita sakit di rumahnya masing-masing atau di rumah-rumah sakit. Lalu sering datang menyaksikan orang menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sering datang berta'ziah ke rumah orang yang sudah mati, mengunjungi keluarga yang ditinggalkannya. Sering turut mengurus jenazah, memandikannya, menyembahyangkannya, mengantarkan jenazah itu ke kuburan, menyaksikan jenazah itu dimasukkan ke liang lahad atau kubur. Dan sering mendoakan terhadap orang-orang yang sudah mati. Lebih-lebih terhadap ibu-bapa sendiri.

    Adopted by @_pararaja from www.geocities.com

    ReplyDelete
  32. tulisan yang sangat menarik.
    salam

    ReplyDelete
  33. assalamu'alaikum...

    tulisan yang penuh makna dan manfaat
    salam kenal

    ReplyDelete
  34. Saudaraku Abu Aisyah Al Atsari yang sangat kritis,

    Allah telah berfirman dlm surah al-Fajr[89] yang terjemahannya sbb:

    27. Hai jiwa yang tenang.
    28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
    29. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,
    30. dan masuklah ke dalam surga-Ku.

    Kalau memang sampean ingin menyanggah, dengan senang hati saya menerima semua pencerahan... tolong sampean tunjukkan ayat yang menerangkan bahwa Allah menyebut orang-orang musyrik dengan panggilan :
    => ‘Abdiy atau ‘Ibâdiy atau ‘Ibâdallâh

    bukankah Allah senantiasa menyebut semua umat manusia dengan "Nâs"...?

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...


    Allah ketika menyebut seseorang sebagai "abdun" artinya menyebut orang-orang yang beriman. Adapun disebut "abdun" atau hamba adalah karena mereka ta'abud kepada Allah.

    Maka ada 3 hal yang mendasari seseorang dalam ibadah, yaitu:
    1. Ta'at kepada Allah.
    2. Mengakui bahwa tiada hukum melainkan hukum Allah.
    3. Tidak membenci dan mencintai karena Allah.

    Kemudian apakah orang-orang kafir disebut sebagai hamba? Jawabnya ya.

    Hamba itu ada 2, yaitu Al Mu'minun dan Al Kafirun. Yaitu hamba yang beriman dan hamba yang kafir.

    Coba masnya buka surat An Naml ayat 15, artinya: Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman."

    kata-kata min 'ibaadihil Mu'minuun artinya daripada hamba-hamba yang beriman. Kalau memang sebutan abdi khusus untuk orang beriman, maka Allah tidak akan menyebut Al Mu'minun, cukup Abdihi saja.

    Kemudian coba lihat juga di surat Ash Shaffaat ayat 81. Artinya, "Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman"

    Lihat firman-Nya lagi di surat Asy Syura ayat 27, artinya: "Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat."

    Dari ayat-ayat yang saya paparkan sudah jelas, bahwa hamba itu ada 2 yaitu hamba yang beriman, dan hamba yang kufur. Dan Allah menyebut hamba pada orang-orang yang kufur terhadapnya di surat Asy Syuraa ayat 27.

    Sekarang apakah anda sudah faham apa itu yang dimaksud dengan hamba?

    ReplyDelete
  35. saudaraku Abu Aisyah Al Atsari yg sangat kritis,

    terima kasih saya haturkan atas semua penjelasan sampean...

    saudaraku,
    yang saya tulis adalah, "Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?"

    saudaraku,
    sampean pernah menulis,
    "Kalau memang Allah tidak mengakui orang-orang kafir sebagai hamba-Nya, maka saya ingin tahu siapa yang bilang demikian?"

    sekarang sampean menulis,
    "Allah ketika menyebut seseorang sebagai "abdun" artinya menyebut orang-orang yang beriman. Adapun disebut "abdun" atau hamba adalah karena mereka ta'abud kepada Allah."

    saudaraku,
    bukankah sdh sampean jawab sendiri bhw ketika Allah menyebut seseorang sbg "'abdun", artinya orang-orang yg beriman...?

    sampean menulis lagi,
    "Dan Allah menyebut hamba pada orang-orang yang kufur terhadapnya di surat Asy Syuraa ayat 27."

    saudaraku,
    penjelasan ayat tsb. berdasarkan tafsir Ibnu Katsir-> bukan untuk orang-orang kafir. Berikut ini keterangannya :


    وقوله: { وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأرْضِ } أي: لو أعطاهم فوق حاجتهم من الرزق، لحملهم ذلك على البغي والطغيان من بعضهم على بعض، أشرا وبطرا.

    وقال قتادة: كان يقال: خير العيش ما لا يلهيك ولا يطغيك. وذكر قتادة حديث: "إنما أخاف عليكم ما يخرج الله من زهرة الحياة الدنيا" وسؤال السائل: أيأتي الخير بالشر؟ الحديث.
    وقوله: { وَلَكِنْ يُنزلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ } أي: ولكن يرزقهم من الرزق ما يختاره مما فيه صلاحهم، وهو أعلم بذلك فيغني من يستحق الغنى، ويفقر من يستحق الفقر. كما جاء في الحديث المروي: "إن من عبادي لمن لا يصلحه إلا الغنى، ولو أفقرته لأفسدت عليه دينه، وإن من عبادي لمن لا يصلحه إلا الفقر، ولو أغنيته لأفسدت عليه دينه"


    begitu dulu, saudaraku... senang sekali berdiskusi dengan sampean... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  36. Nice blog..
    Syukron dah ngigetin..
    Jazakallah..

    ReplyDelete
  37. Salam.
    Jazakallah khair saudara atas peringatan yang diberikan.
    Sesungguhnya manusia sentiasa perlukan peringatan dan pesanan.
    Teruskan mencari redha Allah dalam pengkaryaan.
    Rasa tenang dengan gaya penulisan dan bahasa saudara faisol yang lembut tetapi menusuk di ruang hati dan menggegar benak fikir.
    Salam mujahadah di penghujung ramadhan.

    ReplyDelete
  38. mati itu mudah bukan suatu kejadian yang luar biasa kalau kita melihat secara wajar.
    Emangnya kita pernah bertemu dengan Allah SWT dan Allah SWT mendeklarasikan bahwa kita itu hambanya?

    keputusan akhir aja belum dijatuhkan atas diri kita bukan....

    Kita memang ciptaannya tapi Allah SWT belum menyatakan kita sebagai hambanya jadi g usah ke-pd-an menganggap kita hambanya tapi ibadah aja terus semoga Allah SWT melihat ketulusan kita dan menggangkat kita sebagai hambanya di hari akhir....

    ReplyDelete
  39. saudaraku kandagalante yg sangat kritis,

    Di dalam Al-Qur'an, Allah memanggil hamba bagi orang-orang beriman atau orang-orang yg berdosa tapi bertaubat...

    saya setuju denga sampean ... semoga kita termasuk hamba Allah & mendapat pengakuan resmi di hari akhir nanti...

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  40. afwan mas,ana liat komentar mas telat.
    karena komentar mas,dianggap sbg spam.
    bagus banget mas.
    saya setuju dengan mas.
    semoga kita selalu mendapat rohmatNya

    ReplyDelete
  41. Assalamu'alaikum..
    Salam kenal pak, terimakasih telah mapir di blog saya.

    ReplyDelete
  42. Assalamu'alaikum

    bagus sekali tulisannya mas. Beramal dengan ikhlas memang sangat berat. Berusahalah berbuat ikhlas sedapat mungkin agar amal tak sia-sia. Ujub, riya, takabur dan mengharapkan sesuatu selain ridho-Nya merupakan lawan dari ikhlas. Terkadang tanpa sadar kita terperangkap melakukannya. Mudah2an kita semua terlindung dari penyakit2 itu semua. aamin..

    ReplyDelete
  43. jazakallahu khairan katsiraan

    ReplyDelete
  44. Saya sangat cetek keilmuan tentang agama. Dalam banyak-banyak hal berkaitan agama, saya kira yang sangat sukar adalah "IKHLAS". Syabas kerana saudara membicarakan topik ini. Menurut al-Ghazali, tingkat ikhlas itu ada beberapa tingkat, ada baiknya kita mengoreksi diri masing-masing, buat menilai di tingkat manakah kita. InsyaAllah, jika kita berusaha, mampu kita meningkat dari satu tingkat ke tingkatan yang lain...

    ReplyDelete
  45. Akh Fillah,
    Semoga Allah menetapkan hati kita dalam menegakkan agama-Nya. Saat ini di negara kita yang ber-notabene mayoritas muslim terbesar di Indonesia sedang mengalami krisis penyatuan. Semoga Allah SWT mengabulkan motto antum itu. Aaaminn

    ReplyDelete
  46. saudaraku Arif Aditiya yg baik,

    amin...

    ReplyDelete
  47. wah subhanallah...

    trims jg udah sharing :)

    saya jg kykx blm pantas disebut sbg hamba Allah..

    coz akhir2 ini sy srg ga ikhlas...

    srg sedih tiba2...

    kdg ga menepati janji...

    kdg lbh memilih tdr ketimbang b'aktivitas...

    kdg m'akhirkan waktu sholat...

    kdg menyakiti hati org lain...


    do'anya ya...agar saya bisa mjd hamba Allah...
    hamba Allah yg sholehah...

    wassalaamu'alaykum....

    ReplyDelete
  48. wa'alaykumus salam wr. wb, saudariku Bunga Mardhotillah yg baik,

    amin... saya pun sama dengan sampean... u/ itu mari kita saling mendoakan...

    ReplyDelete
  49. view blog saya ya:

    http://mardhotillah-islamic-deepfeeling.blogspot.com


    ditunggu masukan & komentarnyaa...

    ReplyDelete
  50. salam akh..

    posting yg sgt menyentuh jiwa.mohon dimuatkan dalam blog saya.

    ReplyDelete
  51. wa'alaykumus salam wr. wb, saudariku azuwa choh yg baik...

    monggo2 (silakan) saja... semoga menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahala(MLP) bg kita semua, amin...

    ReplyDelete
  52. Kehambaan manusia ada dua macam.
    Pertama,hamba yang seluruh kejadian hidupnya diatur dan ditentukan. Hidup, mati, rezeki, dan suka dukanya diatur oleh Sang Pencipta kehidupan.
    Kedua, hamba yang selalu menjalankan perintah dan larangan Allah yang menurunkan syariah melalui Nabi-Nya.
    Semua makhluk adalah hamba, dalam kategori pertama. Tapi untuk menyempurnakan kategori kedua, tidak semua makhluk mau atau mampu.

    ReplyDelete
  53. setelah sy baca2 ternyata semua itu ajaran tasawuf yang sangat dalam,

    ReplyDelete
  54. ada sekelompok jamaah yang mengatakan bahwa tasawuf itu tidak ada dalam islam ,apa benar ?trims

    ReplyDelete
  55. saudaraku Najmul Fatah yg baik,

    tasawuf itu gampangnya sebuah disiplin spt fiqh, nahwu, sharaf dll...

    tasawuf ditekankan pada aspek ruhani, misal tazkiyatun nafs, adab kpd Allah ketika dzikir, shalat dll...

    sebenarnya, secara otomatis kita sdh mempraktekkannya, hanya saja kedalaman masing2 orang yg berbeda...

    begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    ReplyDelete
  56. Kita tidak mampu untuk menjadi hamba Allah.
    Ditempat kerja yang dibayar gajipun, kita bersugut jika diberi kerja lebih.

    ReplyDelete
  57. didalam pengenalan diri sebenar diri perlu susuli Adab Nya diri itu sendiri .... membersihkan segala Syirik yang ada pada diri .

    lihat pada kisah nabi ALLAH iaitu nabi ADAM... di awal penciptaanNya sehingga di berikan kehidupan...

    sujud pertama....yang di lakukan oleh para malaikat..
    dan sujud kedua di lakukan para malaikat....
    sambil berkata AKU LAH HAMBA MU YANG TAAT.

    persoalannya banyak dikali di bincangkan.... sebab itu hal demikian perlu bercerita pada yang faham iaitu ahli ahli yang telah dapat membersihkan jiwa daripada sebarang syirik...

    *hamba sebenar hamba dan
    *hamba sebenar DIRI.

    berbalik pada sifat 20 yang wajib di amati...
    kunci bagi pengenalan ilmu Diri .

    pecahan pecahan dan huraian amat halus dan halus..
    jika yang ingin mempelajari nya seelok nya berguru pada yang sudah mencapai maksudNya...

    pesan yang di riwayatkan...
    jika berguru dengan kitab tanpa merujuk kepada guru yang lebih mengetahui...awal awal lagi IBLIS sudah menipu...

    harap kalian semua mengerti maksud hadiths tersebut...

    sejahtera HendakNya.

    ReplyDelete