Mencari Data di Blog Ini :

Friday, June 30, 2017

"Kontroversi" Pantun Idul Fitri

Telah lazim kita lihat dan dengar ungkapan berikut ini:
   Minal 'Aidin wal Faizin
   Mohon Maaf Lahir dan Batin

Ternyata sekian banyak orang tak tahu maksudnya sehingga banyak kritik diajukan, misalnya:
✅ Itu salah, arti kalimat "Minal 'Aidin wal Faizin" bukan mohon maaf lahir dan batin.
✅Kalimat tahniah (ucapan selamat idul fitri) yang benar bukanlah "Minal 'Aidin wal Faizin" tapi "Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum."

Pertanyaannya, "Benarkah kalimat itu ucapan tahniah"? Tidak.

Di sebuah spanduk/kartu lebaran ada dua (2) ucapan, yaitu ucapan tahniah dan ucapan permohonan maaf. Ucapan tahniah berbunyi "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438H." Adapun berikutnya adalah permohonan maaf, berbunyi "Minal 'Aidin wal Faizin,
Mohon Maaf Lahir dan Batin."

Lantas, mengapa ucapan permohonan maaf seperti itu? Bentuk semacam itu disebut pantun.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih). Pantun karmina (kilat) berpola a-a.

Salah satu contoh pantun versi ini yang paling terkenal adalah:
   Sudah gaharu cendana pula
   Sudah tahu bertanya pula

Dari pengertian ini jelas sudah bahwa ungkapan:
   Minal 'Aidin wal Faizin
   Mohon Maaf Lahir dan Batin
adalah sebuah pantun karmina. Baris atas disebut sampiran dan baris bawah isi pantun. Jadi isi pantun bukanlah terjemah dari sampiran.

Sebagaimana telah dipahami bersama dari hadits shahih bahwa puasa dapat menghapus dosa.

Siapa puasa Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari-Muslim)

Apakah dosa antar anak Adam juga terhapus? Ulama menjelaskan bahwa untuk dosa sesama harus dengan meminta maaf.

Dengan sastra terciptalah pantun-pantun permohonan maaf. Sebagaimana lazimnya budaya, di antara sekian banyak pantun ada satu (pantun karmina) yang terkenal (viral), yaitu:
   Minal 'Aidin wal Faizin
   Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mengapa pantun ini jadi viral?  Berikut analisis penulis:

1⃣ Kedalaman makna
Dalam membuat pantun, biasanya pembuatan isi didahulukan. Permohonan maaf di pantun ini begitu dalam karena bersifat lahir dan batin. Dalam keseharian jarang sekali bahkan tidak pernah kita jumpai orang minta maaf hingga batin ikut disebut. Hal ini menunjukkan sang pembuat pantun melakukan perenungan sungguh-sungguh hingga jadilah ungkapan "Mohon Maaf Lahir dan Batin" sebagai isi pantun.

2⃣ Kesesuaian sampiran
Sampiran yang digunakan di pantun ini juga sangat mengena yaitu berhubungan dengan kata "id". Tidak mudah mencari inspirasi kata demikian, sehingga wajar bila sampiran "Minal Aidin wal Faizin" begitu fenomenal (diapresiasi)

Sebagai bahan perbandingan berikut ini tiga contoh sampiran yang penulis buat untuk isi pantun tersebut.

Ikan Patin Dibumbu Asin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mahar Disiapin Menjelang Kawin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Biar Mahir Latihan Rutin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Kalau kita bandingkan ketiga sampiran yang penulis buat dengan sampiran "Minal 'Aidin wal Faizin" terasa jauh berbeda. Kedalaman rasa dan pertautan suasana lebih dirasakan bila sampiran berbunyi "Minal 'Aidin wal Faizin".

Silakan pembaca juga membuat sampiran lalu bandingkan dengan pantun yang sudah ada. Isilah titik-titik di bawah ini:

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Bagaimana dengan kaidah bahasa dalam sampiran "Minal 'Aidin wal Faizin"?

▪Ini sebuah pantun, jadi harus kita kritisi dari segi aturan pantun, bukan dengan nahwu.

▪Arti letterlek (letterlijk) kalimat "Minal 'Aidin wal Faizin" adalah dari golongan orang-orang yang kembali (fitrah) dan menang (atas hawa nafsu).

Di kalimat tersebut ada makna tersembunyi (mahdzuf) sehingga terjemahnya menjadi "(Semoga kita) dari golongan orang-orang yang kembali (fitrah) dan menang (atas hawa nafsu)". Ini sebuah doa.

Sesuatu yang sudah dipahami bersama tidak perlu disebut dengan lengkap. Ini disebut Majas Metonimia. Misal kita pergi ke warung lalu bilang, "Pak, gula 3." Kalimat ini sudah cukup dan penjual juga sudah mengerti maksudnya karena sudah jadi kebiasaan dan dipahami bersama. Tak perlu kita berkata lengkap, "Pak, saya beli gula pasir 3 bungkus, masing-masing bungkus 1 kg."

Dari tulisan ini penulis berharap kita jadikan momentum "kontroversi" pantun idul fitri untuk kembali belajar bahasa dan sastra. Bukankah AlQur-an juga menggunakan sastra yang jauh mengungguli para sastrawan?

Wallaahu a'lam.

Referensi:
https://pantunseribu.blogspot.co.id/2014/10/contoh-pantun-kilat-atau-karmina.html?m=1, "Contoh Pantun Kilat atau Karmina"

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pantun, "Pantun"

0 comments:

Post a Comment