Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label barzah. Show all posts
Showing posts with label barzah. Show all posts

Friday, May 28, 2010

Berapa Lama Kita Dikubur? (3 of 3)

Kuburan para pimpinan dan bawahan, kuburan raja dan rakyat jelata, kuburan orang kaya dan miskin, semua sama di sisi Allah. Apakah malaikat itu datang dengan seyuman indah ke dalam kubur yang terbuat dari emas atau perak? Takutkah malaikat dengan kekayaan, kekuasaan dan pengawal yang dimiliki oleh penghuni kubur semasa hidupnya?

Ibnu Katsir menceritakan bahwa setelah melaksanakan shalat Idul Fitri bersama kaum muslimin, Umar bin Abdul Aziz melintas di pemakaman. Ia berkata kepada orang-orang yang bersamanya,

“Tunggu aku sebentar, tunggu aku sebentar!”

Para menteri, orang-orang shaleh, para pemimpin dan semuanya ikut turun dari kendaraan bighal mereka. Mereka kemudian berhenti di kuburan salah seorang khalifah Bani Umaiyah dan orang-orang kaya. Umar lalu berdiri di tepi kuburan dan berkata,

“Wahai maut, apa yang telah engkau lakukan kepada para kekasih? Wahai maut, apa yang telah engkau lakukan kepada para kekasih?”

Umar menangis dan duduk meratap, sampai otot-ototnya nyaris terkilir akibat duka yang begitu dalam. Setelah itu, ia lalu kembali kepada orang-orang yang bersamanya. Ia berkata kepada mereka,

“Apakah engkau tahu apa yang diucapkan maut?”

“Tidak,” jawab mereka.

“Maut mengatakan, ‘Aku mulai dengan kedua biji mata, aku memakan kedua mata, aku memisahkan kedua telapak tangan dari tangan, kedua bagian tangan bawah dari bagian tangan atas, lalu kedua bagian tangan atas dari pundak. Aku pun memisahkan kedua telapak kaki dari betis, kedua betis dari lutut, dan kedua lutut dari paha’,” jelas Umar kepada mereka.

Dalam khutbahnya, Umar bin Abdul Aziz berpesan, “Dunia bukanlah rumah tempat tinggal tetap bagi kalian. Allah telah menetapkan fana atas dunia ini. Allah telah menetapkan kepergian atas penghuninya. Maka, berapa banyak dari para penghuninya lenyap seketika dengan membawa sedikit saja lalu pergi? Perbaikilah diri kalian untuk meninggalkannya.”

وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوٰىجوَٱتَّقُوْنِ يٰـۤأُولىِ ٱْلأَلْبَابِ
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (QS al-Baqarah [2]: 197)

Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah berkata, “Jika engkau mendapati senja, maka jangan tangguhkan hingga padi datang. Jika engkau mendapati pagi, jangan pernah tangguhkan hingga datang senja. Gunakanlah masa sehatmu untuk menebus masa sakitmu. Dan gunakanlah hidupmu untuk membayar kematianmu.”

Seorang mukmin tidak pantas menjadikan dunia sebagai persinggahan abadi. Dunia ini seharusnya dipandang sebagai tempat yang dilalui menuju suatu titik akhir. Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَالِيْ وَلِلدُّنْيَا إِنَّمَا مِثْلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ قَامَ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهُ
Tidak ada bagiku dari dunia ini. Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia ini adalah seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon lalu pergi dan meninggalkannya. (HR Tirmidzi)

Rasulullah pernah menepuk bahu Ibnu Umar sambil berkata, “Jadilah engkau di dunia ini sebagai orang asing atau orang yang menyeberangi jalan.”

Bahkan, Isa al-Masih pernah berwasiat kepada para sahabatnya, “Arungilah dunia ini. Jangan pernah engkau tinggal di dalamnya!”

Pernah diriwayatkan pula bahwa Nabi Isa as. berkata, “Siapa mau membangun rumah tinggal di atas ombak samudra? Seperti itulah dunia. Maka, janganlah engkau jadikan dunia sebagai kelanggengan.”

Bukhari meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib kw. berkata, “Sesungguhnya dunia ini berputar untuk ditinggalkan, sedangkan akhirat berputar untuk dihadapi. Masing-masing memiliki penghuni. Maka, jadilah kalian sebagai penghuni akhirat. Jangan sekali-kali menjadi penghuni dunia. Hari ini adalah untuk berbuat, bukan untuk menghitung-hitung hasil. Sementara kelak adalah untuk menghitung hasil, bukan lagi untuk beramal.”

Al-Hasan pernah menasihatkan, “Engkau adalah ibarat hari-hari yang terkumpul. Setiap hari ada hari yang berlalu, dengan sendirinya sebagian hidupmu ikut berlalu.”

Sampai kapan kita bersandar di dunia ini? Sampai kapan kita menangguhkan taubat? Sebagai seorang mukmin, kita berkewajiban untuk bersegera dalam beramal shaleh sebelum terhalang untuk itu.

Kita tidak pernah tahu kapan sakit datang menghadang, mendadakkah atau ada tanda-tandanya.

Kita tidak pernah tahu kapan maut datang menjemput, tiba-tibakah atau memberi isyarat.

Kita tidak pernah tahu kapan manusia dan amalnya akan dipisahkan, apakah detik ini, hari ini, esok atau lusa.

Pada saat itu, kita tidak ingin menjadi golongan orang-orang yang merugi.

Pada saat itu, kita tidak ingin termasuk orang yang menyesal di kemudian hari.

Pada saat itu, kita tidak ingin seperti mereka yang berharap dihidupkan kembali untuk memperbaiki amalannya.

Pada saat itu, sungguh, sesal dan harap tiada guna.

Allah SWT berfirman yang artinya:

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,

supaya jangan ada orang yang mengatakan, “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).”

Atau supaya jangan ada yang berkata, “Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”

Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, “Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik.”

(Bukan demikian) sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.
(QS az-Zumar [39]: 54-59)

Jika ajal telah datang, maka ia tidak bisa diajukan dan dimundurkan, walau hanya satu jam. Ali bin Abi Thalib berkata:

Kapan aku harus lari dari dua hari kematianku
Hari yang telah ditentukan ataukah hari yang tidak ditentukan
Pada hari yang tidak ditentukan aku tak takut
Karena yang telah ditentukan itu tidak bisa diubah dengan kewaspadaan

Tentang keberadaan siksa kubur, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Siksa kubur itu ada dan haq.

Marilah kita bersama-sama bertaubat kepada Allah Yang Maha Menerima Taubat. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah pernah menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah menghamparkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat buruk di siang hari. Allah menghamparkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat buruk di malam hari, hingga terbit matahari dari peraduannya.

Pesan orang bijak, “Wahai anak Adam, ibumu telah melahirkanmu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa penuh rasa bahagia. Maka, beramallah untuk dirimu agar engkau menjadi orang yang tertawa penuh bahagia ketika mereka menangis pada hari kematianmu.”

Ibnu Hazm menasihati kita lewat puisinya:

Wahai yang terlena dalam kenikmatan semu
Kulihat kehancuran kehinaan mengintaimu
Ingatlah kau dengan hari pembalasan
Tak ada yang bisa disembunyikan
Semua perbuatan akan peroleh ganjaran
Sadarlah! Senyampang masih ada kesempatan
Senyampang liang lahat yang sempit belum datang
Terangi makammu dengan kebaikan

Imam al-Qusyairi berpesan:

setiap hari yang lewat
mengambil bagianku
mewariskan hati yang lelah
dan duka kemudian berlalu

sebagaimana penduduk neraka
jika telah matang kulitnya
maka akan dikembalikan seperti semula
agar mereka merasakan pedihnya siksa

tidaklah orang mati beristirahat
dengan kematiannya, tetapi kematian itu
hanyalah sebuah kematian kehidupan
sementara untuk hidup selamanya

Demi kebahagiaan di alam berikutnya, marilah kita bersama-sama bermunajat kepada Allah:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُبُوْرَنَا رَوْضَـةً مِنْ رِيَاضِ الْجِـنَانِ وَلاَ تَجْعَلْ قُبُوْرَنَا حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيْرَانِ
Ya Allah, jadikanlah kubur kami sebagai taman, bagian dari taman-taman surga. Dan janganlah Engkau jadikan kuburan kami sebagai jurang, bagian dari jurang-jurang neraka, amin.

Daftar Pustaka :
  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Ibnu Hazm al-Andalusi, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007

Tulisan ini lanjutan dari : Berapa Lama Kita Dikubur? (2 of 3)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, May 21, 2010

Berapa Lama Kita Dikubur? (2 of 3)

Sejarawan Ibnu Ishak dan lainnya meriwayatkan bahwa ketika orang-orang musyrik yang tewas dalam peperangan Badar dikuburkan dalam satu perigi (lubang kubur) oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya, beliau bertanya kepada mereka yang telah tewas itu,


“Wahai penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi‘ah, Syaibah bin Rabi‘ah, Umayyah bin Khalaf, wahai Abu Jahal bin Hisyam (seterusnya beliau menyebutkan nama-nama orang yang di dalam perigi itu satu per satu). Wahai para penghuni perigi! Adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhamu itu benar-benar ada? Aku telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhanku.”

“Wahai Rasulullah, mengapa Anda berbicara dengan orang yang sudah meninggal?” tanya para sahabat.

Rasul menjawab,
“Kamu sekalian tidak lebih mendengar dari mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawabku (mâ antum bi asma‘a limâ aqûlu minhum, walâkinnahum lâ yastathî‘ûna an-yujîbûnî)

Di dalam kubur, malam pertama tentu sangat terasa bedanya. Masa-masa awal ketika kita pindah “jalur”.

Malam itu, adalah malam pertama yang tidak semua orang menginginkan, apalagi merindukan dan mendambakannya.

Malam itu, adalah malam kesendirian, tak ada teman, sahabat, handai taulan, anak buah, relasi, kekasih, istri, anak atau harta.

Malam itu, manusia berkasur tanah, berbantal gumpalannya, berparfum debu, berselimut kesunyian dan bertirai kegelapan.

Malam itu, Munkar dan Nakir adalah sahabat yang tersenyum ramah, atau musuh yang menyeramkan.

Malam itu, adalah malam yang membuat para pemberani ketakutan olehnya, orang-orang bijak mengadu tentangnya, para ulama pun menangis karenanya.

Aku telah terpisah dari tempat tidurku satu hari
Diam (akan) pisah dariku
Kubur adalah malam pertama
Demi Allah, katakan padaku apa yang terjadi
(karya ‘Aidh al-Qarni)

Seorang ulama menasihatkan, “Demi Allah, seandainya seorang pemuda hidup seribu tahun untuk mengurusi segala keinginannya. Ia menikmati dan mencicipi semua kelezatan selama seribu tahun itu di dalam istana yang dihuninya. Tidaklah semua kenikmatan selama seribu tahun itu cukup untuk mengganti satu malam di dalam kuburnya.”

Dari semua pembahasan di atas, maka kita harus mempersiapkan pelita dalam kubur, sebelum malam itu kita alami. Dan, tidak ada satu pun yang dapat menerangi kubur kita kecuali amal shaleh yang dilakukan setelah iman kepada Allah. Uswah hasanah kita yang agung, Nabi Muhammad saw. telah mengingatkan kita dalam hadits-hadits beliau.

إِنَّمَا اْلقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضٍ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ
Kubur itu taman di antara taman-taman (yang ada di surga). Atau, lubang dari lubang-lubang yang ada di neraka. (HR Tirmidzi)

إِنْ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ. إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، و إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثُكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sesungguhnya jika seseorang di antara kalian mati, maka diperlihatkan kepadanya tempatnya tiap pagi dan sore. Jika dia ahli surga, maka diperlihatkan surga. Dan bila ia ahli neraka, maka diperlihatkan dan diberitahu, “Itulah tempatmu kelak jika Allah membangkitkanmu di hari Kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sahabat Ibnu Abbas ra. telah meriwayatkan hadits berikut ini:

مَرَّ النَِّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ مِنْ كَبِيْرٍ، ثُمَّ قَالَ: بَلَى أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيْمَةِ، وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ لاَيَسْـتَبْرِئُ مِنْ بَوْلِهِ وَفِيْ رِوَايَةٍ: لاَيَسْـتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ. قَالَ: ثُمَّ أَخَذَ عُوْدًا رَطْبًا، فَكَسَـرَهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَبْرٍ ثُمَّ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبَسَـا

Nabi saw. melewati dua kuburan lalu bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua kuburan ini benar-benar sedang diazab. Keduanya tidaklah diazab karena melakukan hal (kesalahan) besar.” Kemudian beliau melanjutkan, “Ya, adapun salah seorang di antara keduanya dahulu suka berjalan (ke sana kemari) untuk mengadu domba, sedangkan yang lainnya dahulu tidak pernah bersuci dari buang air kecil.” Menurut riwayat lain disebutkan, “Ia tidak pernah memelihara dirinya dari air seninya.” Perawi melanjutkan ceritanya, “Kemudian Nabi saw. mengambil sebatang kayu yang masih basah, lalu membelahnya menjadi dua bagian, setelah itu beliau menancapkan tiap-tiap batang kayu itu ke masing-masing kuburan. Kemudian beliau bersabda, ‘Barangkali batang kayu ini dapat meringankan keduanya selagi masih belum kering’.”
(HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Utsman bin Affan ketika mendengar jenazah tersiar, ia menangis sampai pingsan sehingga orang-orang membawanya seperti jenazah ke rumahnya. Mereka bertanya kepadanya dalam satu kesempatan,

“Apa yang terjadi padamu?”

“Aku mendengar Rasulullah bersabda,

وَالْقَبْرُ أَوَّلُ مَنْـزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ اْلآخِرَةِ
“Kuburan itu tempat pertama dari tempat-tempat akhirat.” (HR Ahmad)

Jika seorang hamba selamat darinya, maka ia sungguh sangat berbahagia. Tapi jika ia disiksa di dalam kubur, kita berlindung kepada Allah, sungguh ia telah merugi di akhirat keseluruhan.”

Dalam bait syairnya, ‘Aidh al-Qarni mengingatkan:

Kita berjalan menuju ajal setiap saat
Hari-hari kita tergulung, ia ibarat tangga
Sungguh aku belum pernah saksikan perumpamaan maut
Manakala tidak tersentuh angan, sungguh fatal akibatnya
Betapa buruk kealpaan masa lalu
Lantas bagaimana di masa tua saat uban menyala
Pergilah dari dunia dengan berbekal takwa
Umurmu adalah hari-hari yang semakin berkurang

Dalam pesannya yang lain, ia menulis

Aku mendatangi kuburan, aku kemudian memanggilnya
“Di manakah orang yang diagungkan dan orang yang dihinakan
Mereka semua musnah, tiada pemberi kabar
Mereka semua mati dan kabar itu pun mati”
Wahai orang yang bertanya kepadaku tentang orang yang telah berlalu
Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari sesuatu yang telah berlalu
Anak-anak orang kaya itu pergi dan berlalu
Maka keindahan bentuk itu pun dihapuskan


Daftar Pustaka :
‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • Manshur Ali Nashif, asy-Syaikh, “Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah saw. (At-Tâju al-Jâmi‘u lil-Islâmi fî Ahâdîtsi ar-Rasûli)”, CV. Sinar Baru, Cetakan pertama : 1993
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007


  • Tulisan ini lanjutan dari : Berapa Lama Kita Dikubur? (1 of 3)
    Tulisan ini berlanjut ke : Berapa Lama Kita Dikubur? (3 of 3)

    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

    Friday, May 14, 2010

    Berapa Lama Kita Dikubur? (1 of 3)

    Ya, itulah pertanyaannya, bukan berapa lama kita hidup. Sebuah pertanyaan yang mungkin belum pernah kita dengar. Pada bulan Agustus 2007 penulis menerima sebuah email dari seorang teman dengan subject “Berapa Lama Kita Dikubur?”. Sebuah email yang mengetuk hati dan meminta pikiran untuk merenung. Entah siapa penulis pertama email ini, karena teman penulis juga dapat dari temannya. Ya, itulah dunia internet. Semoga penulis asli email ini dan semua penyebarnya senantiasa mendapat curahan rahmat dari Allah Yang Maha Memberi Rahmat, dan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat sehingga tetap mengalir pahalanya, amin.


    Email tersebut telah penulis edit seperlunya dalam hal tata tulis. Berikut ini isi email tersebut, marilah kita baca dan renungkan bersama-sama.

    Awan sedikit mendung, ketika kaki-kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah di daerah Karet, Jakarta. Baju merah yang dipakainya tampak kebesaran, melambai-lambai ditiup angin. Tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali diangkatnya ke mulut untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkeram ikatan sabuk celana ayahnya.

    Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet. Mereka berputar sejenak ke kanan, kemudian duduk di samping seonggok nisan bertuliskan,


    Hj Rajawali binti Muhammad
    19-10-1915: 20-01-1965

    “Nak, ini kubur nenekmu. Mari kita berdoa untuk nenekmu,” kata sang ayah.

    Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas. Dia juga ikut memejamkan mata. Ia mendengarkan ayahnya berdoa untuk neneknya. Selesai berdoa, Yani bertanya pada ayahnya,

    “Ayah, waktu nenek meninggal, umur nenek 50 tahun ya, Yah?”

    Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, seraya memandang pusara ibunya.

    “Emmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya, Yah...,” kata Yani berlagak, sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

    “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun...”

    Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya, ada kuburan tua berlumut. Di batu nisannya tertulis,

    Muhammad Zaini
    19-02-1882: 30-01-1910

    “Emmm... Kalau yang itu sudah meninggal 97 tahun yang lalu ya, Yah...,” ucap Yani sambil jarinya menunjuk nisan di samping kubur neneknya.

    Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.

    "Memangnya kenapa ndhuk?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.

    “Emmm, ayah kan semalam bilang, bahwa kalau kita mati lalu di kubur dan kita banyak dosa, kita akan disiksa,” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya.

    “Iya kan, Yah?” lanjutnya.

    Ayahnya tersenyum,
    “Lalu?”

    “Iya... Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong, Yah di kubur. Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang di kubur. Ya nggak, Yah?”

    Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan pendapatnya kepada sang ayah. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut.

    “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

    Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya tadi sore.

    “42 tahun, hingga sekarang. Kalau Kiamat datang 100 tahun lagi berarti 142 tahun disiksa, atau bahagia di kubur,” gumamnya dalam hati. Lalu ia menunduk, meneteskan air mata.

    “Kalau aku meninggal, sedangkan aku banyak dosanya, lalu Kiamat masih 1000 tahun lagi, berarti aku akan disiksa selama 1000 tahun? Innâlillâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn,” gumamnya lagi.

    Air matanya semakin banyak menetes. Ia bertanya pada dirinya, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau Kiamat 1000 tahun ke depan. Kalau 2000 tahun lagi? 3000 tahun lagi? Selama itukah ia akan disiksa di kubur?

    Lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa di televisi kemarin saja, ia sudah tak tahan.

    “Ya Allah,” serunya.

    Ia semakin menunduk. Tangannya terangkat ke atas, bahunya naik turun tak teratur. Air matanya semakin membanjiri jenggotnya.

    “Allâhumma innî as-aluka husnal khâtimah.”

    Berulang kali dibacanya doa itu hingga suaranya serak. Ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

    Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu. Dibetulkannya selimut Yani. Yani tertidur pulas, tanpa tahu betapa sang ayah sangat berterima kasih padanya, karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan dan apa yang akan datang di depannya.

    Di kehidupan sesudah mati, kita akan menuai apa yang telah kita lakukan di kehidupan ini. Tiada dispensasi untuk kembali ke dunia guna beramal shaleh. Allah SWT berfirman yang terjemahnya:

    (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),


    agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”(QS al-Mu’minûn [23]: 99-100)

    Tulisan ini berlanjut ke : Berapa Lama Kita Dikubur? (2 of 3)

    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

    Monday, September 15, 2008

    Mengingat Mati, Perlukah? (2 of 2)

    Pada tulisan sebelumnya, telas dibahas pentingnya mengingat mati. Lalu, apa langkah selanjutnya agar kita senantiasa mengingat mati?

    Persiapan untuk menghadapi sesuatu, tidak dapat sempurna kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati. Sedangkan untuk selalu mengingat, tidak dapat dilakukan kecuali dengan mendengarkan dan memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengannya.

    Orang yang tenggelam dalam arus dunia, cinta kepada tipu dayanya dan mencintai kenikmatannya adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian. Bahkan jika diingatkan, ia benci dan menghindar. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah :

    Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu lakukan.” (QS al-Jumu‘ah [62] : 8)

    Adapun orang yang bertaubat, ia sering mengingat kematian untuk menumbuhkan rasa takut di dalam hatinya, lalu ia terus menyempurnakan taubat. Ciri-ciri orang ini adalah bahwa ia selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

    Ibnu Umar ra. berkata, “Aku datang menemui Nabi saw. bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,

    أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا ِللْمَوْتِ وَأَشَـدُّهُمْ إِسْتِعْدَادًا لَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلأَكْيَاسُ ذَهَبُوْا ِبشَرَفِ الدُّنْيَا وَكَرَامَةِ اْلآخِرَةِ

    ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat’. ” (HR Ibnu Majah)

    Sebagian kaum bijak menulis surat kepada salah seorang saudaranya, “Wahai Saudaraku, hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini (dunia), sebelum engkau kembali ke suatu kampung di mana engkau mengharap kematian tetapi tidak akan mendapatkannya.”

    Shafiyah ra. bercerita, “Seorang wanita mengadu kepada Aisyah ra. tentang kekerasan hatinya. Lalu Aisyah memberi saran, ‘Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu akan lembut.’ Lalu wanita itu melaksanakan saran Aisyah, sehingga hatinya menjadi lembut. Kemudian ia datang berterima kasih kepada Aisyah.”

    “Tidakkah kalian melihat bahwa setiap hari, kalian menyiapkan orang-orang yang pergi kepada Allah? Kalian meletakkannya di dalam lubang kubur dengan berbantalkan tanah. Dia telah meninggalkan orang yang dicintai,” pesan Umar bin Abdul Aziz.

    Ibnu Mas‘ud ra. berkata, “Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain.”

    Cara untuk selalu mengingat kematian adalah dengan mengosongkan hati dari segala sesuatu, selain mengingat kematian yang ada di hadapannya. Seperti orang yang ingin bepergian untuk keuntungan besar atau mengarungi lautan, sehingga ia hanya memikirkan hal itu. Jika mengingat kematian telah meresap di hatinya, maka pasti akan memengaruhinya.

    Salah satu implementasi teknisnya adalah dengan mengingat orang-orang yang kita kenal apalagi dekat dengan kita, namun telah pergi mendahului kita. Kita mengingat kematian mereka dan pembaringan mereka di dalam kubur. Selain itu juga membayangkan wajah-wajah mereka ketika masih memegang berbagai jabatan dan merenungkan bagaimana sekarang tanah kuburan telah menimbun mereka.

    Abu Darda’ ra. menuturkan, “Jika engkau mengingat orang-orang yang telah mati, maka anggaplah dirimu sebagai salah seorang di antara mereka.”

    Kulihat tubuhku terbujur kaku
    Tak ada daya 'tuk berontak
    Tak ada kuasa 'tuk berteriak
    Kawan, katakan padaku, apa yang terjadi?!

    Ziarah kubur juga termasuk hal yang akan mengingatkan kita pada akhirat (termasuk di dalamnya kematian, sebagai pintu menuju akhirat), sebagaimana sabda Nabi saw. :

    كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ، فَزُوْرُوا الْقُبُوْرَ، فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فىِ الدُّنْياَ، وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ

    Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah, karena hal itu akan menjadikan sikap hati-hati di dunia dan akan dapat mengingatkan pada akhirat. (HR Ahmad)

    قَدْ كُنْتُ نَهَيْـتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِيْ زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُوْرُوْهَا، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ

    Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian menziarahi kuburan, tetapi sekarang Muhammad telah memperoleh ijin untuk menziarahi kuburan ibunya, karena itu berziarahlah kalian; sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akhirat. (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i, sedangkan lafazh hadits ini menurut riwayat Tirmidzi)

    Namun demikian, tabiat manusia adalah kalau kita sudah sering melihat atau mendengar sesuatu, maka sesuatu itu tidak akan membawa dampak besar. Misal kita sudah sering melihat orang mati, biasanya perasaan kita akan biasa-biasa saja dalam memandang kematian. Jika kita setiap hari bergaul dengan orang sakit, maka nikmat sehat tidak begitu terasa. Bahkan, jika kita melihat kemaksiatan setiap saat, hal itu akan kita anggap wajar, bukan sebuah kesalahan.

    Oleh karena itu, sebaiknya kita mencari sendiri teknik yang paling cocok untuk kita. Setiap orang mempunyai kecenderungan dan kebiasaan masing-masing. Setiap orang adalah unik, tidak bisa dipukul rata. Sebuah cara yang berhasil untuk orang lain, bisa jadi tidak mempunyai efek bagi yang lain.

    Dalam bait puisinya, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm al-Andalusi berpesan :

    Duhai kau!
    Yang suka bermain-main di dunia ini
    Ingat! Kehidupan dunia tak kan abadi
    Tak cukupkah bagimu segala wejangan
    Hingga kauhabiskan waktumu dalam permainan
    Negeri yang fana ini segeralah kautinggalkan
    Karna kenikmatannya tak lebih dari permainan
    Tak ada yang abadi dalam kenikmatan dunia
    Semua kan sirna bila waktunya tiba

    Dunia ini pinjaman yang harus kaukembalikan
    Pesonanya sesaat, fana dan hanya fatamorgana
    Yang berakal tak kan terkecoh kilau-kemilaunya
    Karna ia tahu ada kehidupan abadi di sana
    Orang beriman tak betah di negeri persinggahan
    Karna, negeri persinggahan bukanlah tujuan
    Dunia tak terpikir, akhiratlah yang jadi pikiran

    Kematian tidak perlu ditakuti, karena hakikatnya kita pun pernah mengalaminya, yaitu saat ketiadaan wujud kita di pentas alam raya ini, sebelum kita dilahirkan. Kematian kedualah yang kita bahas di sini, yaitu kematian ketika ruh meninggalkan jasad, menuju alam barzakh, pintu menuju akhirat.

    كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْـتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْياَكُمْج ثُمَّ يُمِيْتـُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ إِلَيْـهِ تُرْجَعُوْنَ

    Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS al-Baqarah [2] : 28)

    Orang-orang durhaka pun mengakui bahwa mereka dihidupkan Allah dua kali dan dimatikan dua kali, sesuai firman-Nya :

    قَالُوْا رَبَّنَاۤ أَمَتَّنَا ٱثْنَـتَيْنِ وَأَحْيَـيْتَنَا ٱثْنَـتَيْنِ فَٱعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ إِلىٰ خُرُوْجٍ مِّنْ سَـبِيْلٍ

    Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi) kami untuk keluar (dari neraka)? (QS al-Mu’min [40] : 11)

    Allah mematikan kita, agar kita dapat meningkat menuju hidup yang lebih sempurna. Kesempurnaan hidup manusia hanya dapat diraih dengan iman, amal shaleh dan dengan meninggalkan dunia ini.

    Ar-Raghib al-Isfahani menulis, “Kematian merupakan tangga menuju kebahagiaan abadi. Ia merupakan perpindahan dari tempat ke tempat lain, sehingga dengan demikian ia merupakan kelahiran baru bagi manusia. Manusia dalam kehidupannya di dunia ini, dan dalam kematiannya, mirip dengan keadaan telur dan anak ayam. Kesempurnaan wujud anak ayam adalah menetasnya telur tersebut dan keluarnya anak ayam tadi meninggalkan tempatnya selama di dalam telur. Demikian pula manusia, kesempurnaan hidupnya hanya dapat dicapai melalui perpindahannya dari tempat ia hidup di dunia ini, sehingga—dengan demikian—kematian itu adalah pintu menuju kesempurnaan, kebahagiaan, surga yang abadi.”

    Seseorang pernah ditanya tentang kematian, dan dia menjawab dengan penuh optimisme, padahal dia adalah orang awam, bukan intelektual.
    “Takutkah Anda akan mati?”
    “Ke manakah aku pergi bila aku mati?” dia balik bertanya.
    “Kepada Tuhan.”
    “Kalau demikian, aku tidak perlu takut, karena aku menyadari bahwa segala sesuatu yang bersumber dari Tuhan adalah baik. Tuhan tidak akan memberikan kecuali yang terbaik.”

    Dengan kematian, manusia akan bebas bergerak, tak perlu menempa diri, mengendalikan syahwat, melawan setan, serta tak ada lagi larangan dan perintah. Kematian merupakan hadiah sekaligus penebus dosa bagi umat Rasulullah saw.

    تُحْفَةُ الْمُؤْمِنِ الْمَوْتُ
    Hadiah bagi seorang mukmin adalah kematian.
    (HR Ibnu Abi Dunya, Thabrani dan Hakim)

    الْمَوْتُ كَفَّارُةٌ لِكُلِّ مُسْـلِمٍ
    Kematian adalah kafarat (penebus dosa) bagi setiap muslim.
    (HR Abu Nu‘aim, Baihaqi dan al-Khatib)

    Maksud hadits tersebut yaitu, kematian akan menyucikan dosa-dosa kecil setelah seorang muslim menjauhkan diri dari dosa-dosa besar dan menunaikan segala kewajiban.

    Ka‘ab berkata, “Siapa mengenal kematian, maka segala penderitaan dan kesusahan dunia menjadi ringan baginya.”

    Allah mematikan kita, agar manusia lain dapat merasakan hidupnya. Betapa sempit bumi ini, jika semua yang hidup bertahan hidup. Dan, betapa jenuh kehidupan ini, jika usia berlanjut (tidak pernah mati) tetapi disertai dengan kelemahan, penyakit dan kehilangan harapan. Sungguh kematian adalah nikmat, apalagi jika disadari bahwa ia merupakan pintu menuju kebahagiaan abadi.

    Bahkan, setiap hari kita sudah mengenal saudara kematian, yaitu tidur. Allah SWT berfirman :

    Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain (yang tidur) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (QS az-Zumar [39] : 42)

    Fakhruddin ar-Razi mengatakan, “Yang pasti adalah, tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi.” Rasulullah saw. mengajarkan agar kita membaca doa pada saat bangun tidur :

    اَلحْـَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ أَحْيـَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْـهِ النُّشُـوْرُ

    Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami (menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak).

    Seorang filosof Jerman, Schopenhauer berkata, “Mengantuk itu nikmat, tapi lebih nikmat lagi tidur. Sedangkan yang lebih nikmat daripada tidur adalah mati.”

    Seorang penyair berkata :

    Pernah aku bilang pada jiwa
    Namun malah terbang menjadi bayangan pahlawan
    Celaka engkau, kenapa tidak memperhatikan
    Jika kau mohon sehari saja diundurkan dari ketetapan ajal
    Tak akan dipenuhi
    Bersabarlah menghadapi maut, bersabarlah
    Toh tak seorang pun mampu menggapai keabadian
    Pakaian kehidupan itu bukanlah pakaian kekuasaan
    Karena bisa diambil dari seorang saudara yang menginginkan

    ‘Aidh al-Qarni memberi nasihat :

    Segeralah bertaubat nasuha
    Sebelum datang kematian dan dicabutnya ruh
    Jangan meremehkan bentuk dosa
    Segala perbuatan itu tergantung kepada akhir
    Dan, siapa yang benar-benar suka bertemu dengan Allah
    Maka, Allah lebih mencintai orang itu
    Dan, sebaliknya orang yang membenci
    Allah akan bertanya tentang rahmat-Nya
    Baik yang didapat dengan mudah ataupun bersusah-payah

    Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah, Dzat Yang Maha Menghidupkan (Al-Muhyî) dan Yang Maha Mematikan (Al-Mumît).

    اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَـاتِمَةِ وَنَعُوْذَ بِكَ مِنْ سُوْءِ الْخَـاتِمَةِ

    Ya Allah, akhirilah hidup (wafatkanlah) kami dalam keadaan husnul khâtimah. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keadaan sû’ul khâtimah, amin.

    Daftar Pustaka :
    • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
    • Ibnu Hazm al-Andalusi, asy-Syaikh, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007
    • Manshur Ali Nashif, asy-Syaikh, “Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah saw. (At-Tâju al-Jâmi‘u lil-Islâmi fî Ahâdîtsi ar-Rasûli)”, CV. Sinar Baru, Cetakan pertama : 1993
    • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007
    • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
    • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

    Monday, September 8, 2008

    Mengingat Mati, Perlukah? (1 of 2)

    Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa masalah bukanlah fokus yang perlu dikuatirkan. Sikap kitalah yang harus diperhatikan. Kualitas kita ditentukan oleh bagaimana kita menyikapi masalah yang terjadi.

    Adi W. Gunawan, seorang re-educator dan mind navigator, memberikan contoh yang sangat gamblang tentang sebuah masalah namun menyikapinya secara berbeda.

    Jika kita berkendaraan di jalan raya, lalu tiba-tiba ada sopir angkutan umum menyalip dan berhenti agak mendadak demi mendapatkan penumpang, apa reaksi kita?

    Kalau kondisi kita sedang bahagia, misalnya kita mendapat hadiah promo dari sebuah produk sebesar Rp 1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah), maka kita tidak akan marah. Kita malah akan berkata, “Kasihan sopir itu, demi mengejar uang receh, dia harus banting tulang. Menyetir pun seperti terburu-buru dengan mata selalu awas, barangkali ada penumpang yang akan menambah rejeki. Maklumlah, ekonomi lagi sulit. Ada baiknya saya menyumbangkan sedikit rejeki yang saya dapat buat bang sopir.”

    Namun, jika keadaan kita sebaliknya, apalagi sedang ada masalah, pastilah kita akan tersinggung. Kita akan marah bukan kepalang, mengomel tiada henti, kurang golèk–entèk ngapèk (istilah Jawa, artinya kalau kekurangan kata, dicari sampai ke dasar otak. Jika kehabisan kata, ambil dari sana-sini supaya tetap bisa marah).

    Begitu pun dengan mengingat mati. Jika kita kurang tepat menyikapinya, maka hidup akan terasa tiada guna. Kita akan menjadi malas, tidak bersemangat, ogah-ogahan, makan terasa duri, minum berasa garam, tidur tak nyenyak dan mengerjakan apa pun seolah tak ada arti.

    Sebaliknya, jika pikiran kita positif menerimanya, justru efeknya sangat besar dan kita akan bersemangat.

    Mengingat mati membuat kita bertekad melakukan apa pun yang sedang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya, karena kita ingin meninggalkan sesuatu yang berharga setelah kematian kita.

    Mengingat mati menuntut kita untuk selalu dalam kebaikan, karena kita sadar bahwa kita bisa meninggal sewaktu-waktu

    Mengingat mati menjadikan kita bersemangat dalam pelayanan kepada orang lain. Dengan berbuat baik kepada sesama, kita akan tetap hidup dalam kematian kita. Bukankah amal jariyah adalah salah satu hal yang tidak akan terputus, walaupun kita sudah berpulang ke rahmatullah?

    Mengingat mati berakibat positif terhadap pola pikir dan perilaku kita. Kita akan senantiasa berpikir positif (husnuzh zhan) karena kita tahu tiada guna berpikir negatif. Kita juga akan selalu santun, anggun serta ramah terhadap sesama.

    Mengingat mati akan mendorong kita semakin khusyu‘ dalam beribadah, karena kita tahu bahwa hidup kita tidak lama lagi.

    Allah Subhânahû wa Ta‘âlâ berfirman :

    كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤئِقَـةُ ٱلْمَوْتِ


    Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
    (QS al-‘Ankabût [29] : 57)

    Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.
    (QS an-Nisâ’ [4] : 78)

    Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
    (QS al-Munâfiqûn [63] : 11)

    Rasulullah Muhammad saw. bersabda :


    أَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ – يَعْنِي الْمَـوْتَ

    Perbanyaklah mengingat penghancur aneka kelezatan—maksudnya mati.
    (HR Tirmidzi)


    مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ. فَقَالَتْ عَاِئشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ : إِناَّ لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ. قاَلَ : لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللهِ وَكَرَمَاتِهِ فَلَيْسَ شَيْئٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، وَ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَـذَابِ اللهِ وَعُـقُوْبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْئٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَكَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

    Siapa cinta berjumpa dengan Allah, maka Allah pun cinta berjumpa dengannya. Dan siapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah juga benci berjumpa dengannya. Aisyah (atau sebagian istri Nabi) berkata, “Sesungguhnya kami tidak suka akan kematian.” Rasul menjawab, “Bukan seperti itu. Akan tetapi, seorang mukmin, ketika ajal menjemput, dia digembirakan dengan keridhaan dan kemuliaan Allah. Maka, tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya selain yang ada di depannya. Dia cinta bertemu Allah dan Allah cinta bertemu dengannya. Sesungguhnya orang kafir (ketika ajal menjemput), “digembirakan” dengan azab Allah. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dibencinya selain yang ada di depannya. Dia benci bertemu Allah dan Allah benci bertemu dengannya.”
    (HR Bukhari)

    Orang yang kematian menjadi kepastiannya, tanah menjadi tempat pembaringannya, ulat tanah menjadi temannya, Munkar dan Nakir menjadi tamunya, kuburan menjadi tempat tinggalnya, perut bumi menjadi tempat menetapnya, Kiamat menjadi penantiannya, surga atau neraka menjadi tempat kembalinya, sepatutnya tidak memikirkan kecuali tentang kematian.

    Orang ini sepantasnya tidak mengingat kecuali kepada kematian, tidak merencanakan kecuali untuknya, tidak berambisi kecuali kepadanya, tidak melakukan pendakian kecuali di atasnya, tidak punya perhatian kecuali kepadanya, tidak mengumpulkan daya kecuali untuk menghadapinya dan tidak menantikan kecuali kedatangannya.

    Semestinya ia menganggap dirinya termasuk orang-orang yang sudah mati dan menjadi penghuni kubur, karena segala sesuatu yang akan datang adalah dekat, sedangkan yang jauh adalah sesuatu yang sudah lewat tidak datang sama sekali.

    Secara filosofis, “tadi”, “kemarin” atau waktu yang telah berlalu adalah sesuatu yang sangat jauh, karena kita tidak mampu untuk mencapainya (kembali padanya). Sedangkan “esok”, “lusa”, “bulan depan”, “tahun depan”, “sewindu lagi” atau hal-hal yang akan datang merupakan sesuatu yang sangat dekat, karena keniscayaan bagi kita untuk menujunya.

    Rasulullah saw. mengingatkan kita,

    اَلْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَـهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

    Orang cerdas adalah orang yang (senantiasa) mengintrospeksi dirinya (bermuhâsabah) dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian.”
    (HR Tirmidzi)



    Daftar Pustaka :
    • Adi W. Gunawan, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
    • Muhammad Ali asy-Syafi‘i asy-Syinwani, asy-Syaikh, “Syarah Abî Jamrah”
    • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
    • Sumardi, “Metafisika Akhirat – Tafsir Tematik Ayat-Ayat Akhirat Dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Kefilsafatan”, Makalah, Badan Penerbitan Pesantren Ulumul Qur’an Surabaya, 2007

    Tulisan ini berlanjut ke : "Mengingat Mati, Perlukah? (2 of 2)"
    #Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#