Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label mati. Show all posts
Showing posts with label mati. Show all posts

Friday, May 14, 2010

Berapa Lama Kita Dikubur? (1 of 3)

Ya, itulah pertanyaannya, bukan berapa lama kita hidup. Sebuah pertanyaan yang mungkin belum pernah kita dengar. Pada bulan Agustus 2007 penulis menerima sebuah email dari seorang teman dengan subject “Berapa Lama Kita Dikubur?”. Sebuah email yang mengetuk hati dan meminta pikiran untuk merenung. Entah siapa penulis pertama email ini, karena teman penulis juga dapat dari temannya. Ya, itulah dunia internet. Semoga penulis asli email ini dan semua penyebarnya senantiasa mendapat curahan rahmat dari Allah Yang Maha Memberi Rahmat, dan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat sehingga tetap mengalir pahalanya, amin.


Email tersebut telah penulis edit seperlunya dalam hal tata tulis. Berikut ini isi email tersebut, marilah kita baca dan renungkan bersama-sama.

Awan sedikit mendung, ketika kaki-kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah di daerah Karet, Jakarta. Baju merah yang dipakainya tampak kebesaran, melambai-lambai ditiup angin. Tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali diangkatnya ke mulut untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkeram ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet. Mereka berputar sejenak ke kanan, kemudian duduk di samping seonggok nisan bertuliskan,


Hj Rajawali binti Muhammad
19-10-1915: 20-01-1965

“Nak, ini kubur nenekmu. Mari kita berdoa untuk nenekmu,” kata sang ayah.

Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas. Dia juga ikut memejamkan mata. Ia mendengarkan ayahnya berdoa untuk neneknya. Selesai berdoa, Yani bertanya pada ayahnya,

“Ayah, waktu nenek meninggal, umur nenek 50 tahun ya, Yah?”

Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, seraya memandang pusara ibunya.

“Emmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya, Yah...,” kata Yani berlagak, sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

“Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun...”

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya, ada kuburan tua berlumut. Di batu nisannya tertulis,

Muhammad Zaini
19-02-1882: 30-01-1910

“Emmm... Kalau yang itu sudah meninggal 97 tahun yang lalu ya, Yah...,” ucap Yani sambil jarinya menunjuk nisan di samping kubur neneknya.

Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.

"Memangnya kenapa ndhuk?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.

“Emmm, ayah kan semalam bilang, bahwa kalau kita mati lalu di kubur dan kita banyak dosa, kita akan disiksa,” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya.

“Iya kan, Yah?” lanjutnya.

Ayahnya tersenyum,
“Lalu?”

“Iya... Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong, Yah di kubur. Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang di kubur. Ya nggak, Yah?”

Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan pendapatnya kepada sang ayah. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut.

“Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya tadi sore.

“42 tahun, hingga sekarang. Kalau Kiamat datang 100 tahun lagi berarti 142 tahun disiksa, atau bahagia di kubur,” gumamnya dalam hati. Lalu ia menunduk, meneteskan air mata.

“Kalau aku meninggal, sedangkan aku banyak dosanya, lalu Kiamat masih 1000 tahun lagi, berarti aku akan disiksa selama 1000 tahun? Innâlillâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn,” gumamnya lagi.

Air matanya semakin banyak menetes. Ia bertanya pada dirinya, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau Kiamat 1000 tahun ke depan. Kalau 2000 tahun lagi? 3000 tahun lagi? Selama itukah ia akan disiksa di kubur?

Lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa di televisi kemarin saja, ia sudah tak tahan.

“Ya Allah,” serunya.

Ia semakin menunduk. Tangannya terangkat ke atas, bahunya naik turun tak teratur. Air matanya semakin membanjiri jenggotnya.

“Allâhumma innî as-aluka husnal khâtimah.”

Berulang kali dibacanya doa itu hingga suaranya serak. Ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu. Dibetulkannya selimut Yani. Yani tertidur pulas, tanpa tahu betapa sang ayah sangat berterima kasih padanya, karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan dan apa yang akan datang di depannya.

Di kehidupan sesudah mati, kita akan menuai apa yang telah kita lakukan di kehidupan ini. Tiada dispensasi untuk kembali ke dunia guna beramal shaleh. Allah SWT berfirman yang terjemahnya:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),


agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”(QS al-Mu’minûn [23]: 99-100)

Tulisan ini berlanjut ke : Berapa Lama Kita Dikubur? (2 of 3)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, February 12, 2010

Buat Apa Kita Hidup? (1 of 4)

Beragam pertanyaan diajukan tentang hidup. Pertanyaan ini tetap saja ada, hanya dari orang yang berbeda atau penanya adalah generasi baru yang belum pernah menerima pengajaran tentangnya.

“Kita hidup untuk bekerja ataukah bekerja untuk hidup?”

“Kita makan untuk hidup ataukah kita hidup untuk makan? Senyampang masih hidup, kita harus pernah mencicipi makanan dan minuman beraneka ragam dari berbagai daerah atau negara. Tidak perlu menanyakan halal atau haram, yang penting kita sudah pernah merasakannya. Begitukah?”

“Kita menggeluti dunia seni untuk hidup, hidup untuk seni, ataukah seni untuk seni?”

Para ulama sudah menjelaskan dengan sangat gamblang dan itu pun berulang kali, “Kita hidup untuk mengabdi kepada Allah, beribadah kepada-Nya.” Ibadah yang dimaksud adalah ibadah dalam arti seluas-luasnya, tak terbatas pada ibadah mahdhah (ibadah murni atau ritual). Dengan demikian, bekerja, belajar, berorganisasi atau apa pun bisa diniatkan—sekali lagi diniatkan—sebagai ibadah semata-mata untuk-Nya. Lebih lanjut, para ulama menjelaskan bahwa tujuan hidup ini adalah untuk hidup lagi, yaitu hidup sesungguhnya—hidup kekal abadi di surga nanti.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱْلإِنْسَ إِلاّ لِيَعْـبُدُوْنِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
(QS adz-Dzâriyât [51] : 56)

Dari ayat tersebut, Al-Qur’an menuntut agar kesudahan semua pekerjaan hendaknya menjadi ibadah kepada Allah, apa pun jenis dan bentuknya. Karena itu, Al-Qur’an memerintahkan untuk melakukan aktivitas apa pun setelah menyelesaikan ibadah ritual.

Banyak ulama mengartikan hidup makhluk sebagai Mâ bihî al-hissu wal-harakah, yakni sesuatu yang menjadikannya merasa/mengetahui dan bergerak. Yang tidak memiliki pengetahuan, tidak merasa, tidak juga dapat bergerak/menggerakkan dirinya sendiri, maka ia tidaklah dianggap hidup yang sesungguhnya. Pengetahuan atau kesadaran adalah menyadari dirinya sendiri. Semakin banyak pengetahuan dan kesadaran, serta semakin peka perasaan, maka semakin tinggi kualitas hidup. Oleh karena itu, hidup bertingkat-tingkat.

Hidup bagi manusia hendaknya tidak hanya terbatas pada hari ini atau sepanjang usia di dunia saja, tetapi harus melampaui generasinya, bahkan melampaui batas usia manusia di dunia ini. Memang, manusia tidak dapat hidup langgeng dan abadi sebagaimana Allah. Manusia juga tidak mampu melampaui batas usianya di dunia, tetapi ia dapat melanggengkan hidupnya dengan keharuman nama—khususnya setelah kematiannya—serta pada karya-karyanya yang bermanfaat, sehingga dinikmati manusia sepanjang masa.

Kelanggengan hidup manusia juga diraih melalui kekekalan hasil karya-karyanya itu di akhirat kelak, dalam bentuk ganjaran Ilahi, yakni surga nan abadi. Bagi orang kafir, tidak ada satu karya pun yang dapat langgeng sehingga mereka tidak akan menikmati kekekalan.

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS al-Furqân [25] : 23)

Al-Qur’an menilai ada orang-orang yang walaupun masih dapat menarik dan menghembuskan nafas, masih berfungsi otak dan beredar darahnya, tetapi dinilai sebagai orang mati, karena tidak mendengar dan memperkenankan panggilan Allah dan rasul-Nya.

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. (QS an-Naml [27] : 80)

Ada juga yang telah berhenti denyut jantungnya, telah terkubur jasadnya, tetapi mereka masih dinilai hidup oleh Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah yang artinya:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS al-Baqarah [2] : 154)

Apa yang akan terjadi bila nasihat ini benar-benar disadari oleh setiap orang? Apa yang akan kita saksikan bila setiap manusia mempraktekkan bahwa hidup ini untuk mengabdi kepada-Nya? Apa yang akan dilakukan oleh setiap insan jika semuanya ingin agar bisa benar-benar hidup dan tetap hidup dalam kematiannya?

Di setiap pertandingan olah raga, tidak akan pernah terjadi kekisruhan, kerusuhan dan pertengkaran. Setiap orang berniat bahwa olah raga yang dilakukan adalah untuk menjaga tubuh, karunia dan titipan dari Allah, agar tetap sehat, sehingga bisa senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya. Setiap orang berniat bahwa pertandingan adalah ajang silaturrahim. Dengannya, kita menambah eratnya persaudaraan dan kasih sayang. Semua itu demi mengabdikan diri kepada Yang Maha Memberi Perintah, Allah SWT.

Di setiap kejuaraan, tidak akan ada upaya-upaya yang tidak baik. Semua orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik dengan cara-cara yang baik (fastabiqul khayrât). Semua orang sadar bahwa tujuan utama mereka bukanlah meraih kemenangan, piala, trofi ataupun bonus berupa rumah, kendaraan atau uang. Semua orang berlomba dengan tujuan melaksanakan ibadah, semata-mata untuk Sang Pencipta, Allah SWT.

Di setiap organisasi, baik keagamaan, kemasyarakatan, kemahasiswaan, perusahaan, pemerintah, faksi/partai politik, atau apa pun—tidak akan ada gontok-gontokan, propaganda negatif, mendekat ke atasan/pimpinan agar aman, saling menonjolkan diri untuk sebuah kesombongan, saling menjatuhkan, saling jegal, saling sikut atau saling gasak-gesek-gosok. Semua orang bekerja sama dengan baik, indah, ramah, santun dan anggun. Setiap orang menundukkan hati dan jiwa, menyerahkan segalanya di hadapan Sang Penguasa Alam, Allah SWT.

Dalam urusan makan, setiap orang akan otomatis memilih dan memilah mana makanan yang halal—mana yang tidak dan mana yang baik (thayyib) bagi dirinya (termasuk kesehatannya)—mana yang tidak. Semuanya demi beribadah kepada Yang Memiliki Kehidupan, Allah SWT.

Pada setiap hobi, kreativitas maupun pekerjaan, setiap insan akan berlomba-lomba untuk meraih yang terbaik, yang paling bermanfaat bagi kemanusiaan serta bernilai ibadah tinggi.

Mengapa rasanya hal-hal di atas masih jauh dari kenyataan? Jauh panggang dari api? Atau diplesetkan menjadi “Jauh panggang dari sate”? Bukankah nasihat tentang buat apa kita hidup sudah sering disampaikan dalam setiap ceramah atau pengajian?


Daftar Pustaka :
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007


Tulisan ini berlanjut ke : Buat Apa Kita Hidup? (2 of 4)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Monday, September 15, 2008

Mengingat Mati, Perlukah? (2 of 2)

Pada tulisan sebelumnya, telas dibahas pentingnya mengingat mati. Lalu, apa langkah selanjutnya agar kita senantiasa mengingat mati?

Persiapan untuk menghadapi sesuatu, tidak dapat sempurna kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati. Sedangkan untuk selalu mengingat, tidak dapat dilakukan kecuali dengan mendengarkan dan memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengannya.

Orang yang tenggelam dalam arus dunia, cinta kepada tipu dayanya dan mencintai kenikmatannya adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian. Bahkan jika diingatkan, ia benci dan menghindar. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah :

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu lakukan.” (QS al-Jumu‘ah [62] : 8)

Adapun orang yang bertaubat, ia sering mengingat kematian untuk menumbuhkan rasa takut di dalam hatinya, lalu ia terus menyempurnakan taubat. Ciri-ciri orang ini adalah bahwa ia selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

Ibnu Umar ra. berkata, “Aku datang menemui Nabi saw. bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,

أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا ِللْمَوْتِ وَأَشَـدُّهُمْ إِسْتِعْدَادًا لَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلأَكْيَاسُ ذَهَبُوْا ِبشَرَفِ الدُّنْيَا وَكَرَامَةِ اْلآخِرَةِ

‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat’. ” (HR Ibnu Majah)

Sebagian kaum bijak menulis surat kepada salah seorang saudaranya, “Wahai Saudaraku, hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini (dunia), sebelum engkau kembali ke suatu kampung di mana engkau mengharap kematian tetapi tidak akan mendapatkannya.”

Shafiyah ra. bercerita, “Seorang wanita mengadu kepada Aisyah ra. tentang kekerasan hatinya. Lalu Aisyah memberi saran, ‘Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu akan lembut.’ Lalu wanita itu melaksanakan saran Aisyah, sehingga hatinya menjadi lembut. Kemudian ia datang berterima kasih kepada Aisyah.”

“Tidakkah kalian melihat bahwa setiap hari, kalian menyiapkan orang-orang yang pergi kepada Allah? Kalian meletakkannya di dalam lubang kubur dengan berbantalkan tanah. Dia telah meninggalkan orang yang dicintai,” pesan Umar bin Abdul Aziz.

Ibnu Mas‘ud ra. berkata, “Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain.”

Cara untuk selalu mengingat kematian adalah dengan mengosongkan hati dari segala sesuatu, selain mengingat kematian yang ada di hadapannya. Seperti orang yang ingin bepergian untuk keuntungan besar atau mengarungi lautan, sehingga ia hanya memikirkan hal itu. Jika mengingat kematian telah meresap di hatinya, maka pasti akan memengaruhinya.

Salah satu implementasi teknisnya adalah dengan mengingat orang-orang yang kita kenal apalagi dekat dengan kita, namun telah pergi mendahului kita. Kita mengingat kematian mereka dan pembaringan mereka di dalam kubur. Selain itu juga membayangkan wajah-wajah mereka ketika masih memegang berbagai jabatan dan merenungkan bagaimana sekarang tanah kuburan telah menimbun mereka.

Abu Darda’ ra. menuturkan, “Jika engkau mengingat orang-orang yang telah mati, maka anggaplah dirimu sebagai salah seorang di antara mereka.”

Kulihat tubuhku terbujur kaku
Tak ada daya 'tuk berontak
Tak ada kuasa 'tuk berteriak
Kawan, katakan padaku, apa yang terjadi?!

Ziarah kubur juga termasuk hal yang akan mengingatkan kita pada akhirat (termasuk di dalamnya kematian, sebagai pintu menuju akhirat), sebagaimana sabda Nabi saw. :

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ، فَزُوْرُوا الْقُبُوْرَ، فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فىِ الدُّنْياَ، وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ

Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah, karena hal itu akan menjadikan sikap hati-hati di dunia dan akan dapat mengingatkan pada akhirat. (HR Ahmad)

قَدْ كُنْتُ نَهَيْـتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِيْ زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُوْرُوْهَا، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ

Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian menziarahi kuburan, tetapi sekarang Muhammad telah memperoleh ijin untuk menziarahi kuburan ibunya, karena itu berziarahlah kalian; sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akhirat. (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i, sedangkan lafazh hadits ini menurut riwayat Tirmidzi)

Namun demikian, tabiat manusia adalah kalau kita sudah sering melihat atau mendengar sesuatu, maka sesuatu itu tidak akan membawa dampak besar. Misal kita sudah sering melihat orang mati, biasanya perasaan kita akan biasa-biasa saja dalam memandang kematian. Jika kita setiap hari bergaul dengan orang sakit, maka nikmat sehat tidak begitu terasa. Bahkan, jika kita melihat kemaksiatan setiap saat, hal itu akan kita anggap wajar, bukan sebuah kesalahan.

Oleh karena itu, sebaiknya kita mencari sendiri teknik yang paling cocok untuk kita. Setiap orang mempunyai kecenderungan dan kebiasaan masing-masing. Setiap orang adalah unik, tidak bisa dipukul rata. Sebuah cara yang berhasil untuk orang lain, bisa jadi tidak mempunyai efek bagi yang lain.

Dalam bait puisinya, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm al-Andalusi berpesan :

Duhai kau!
Yang suka bermain-main di dunia ini
Ingat! Kehidupan dunia tak kan abadi
Tak cukupkah bagimu segala wejangan
Hingga kauhabiskan waktumu dalam permainan
Negeri yang fana ini segeralah kautinggalkan
Karna kenikmatannya tak lebih dari permainan
Tak ada yang abadi dalam kenikmatan dunia
Semua kan sirna bila waktunya tiba

Dunia ini pinjaman yang harus kaukembalikan
Pesonanya sesaat, fana dan hanya fatamorgana
Yang berakal tak kan terkecoh kilau-kemilaunya
Karna ia tahu ada kehidupan abadi di sana
Orang beriman tak betah di negeri persinggahan
Karna, negeri persinggahan bukanlah tujuan
Dunia tak terpikir, akhiratlah yang jadi pikiran

Kematian tidak perlu ditakuti, karena hakikatnya kita pun pernah mengalaminya, yaitu saat ketiadaan wujud kita di pentas alam raya ini, sebelum kita dilahirkan. Kematian kedualah yang kita bahas di sini, yaitu kematian ketika ruh meninggalkan jasad, menuju alam barzakh, pintu menuju akhirat.

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْـتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْياَكُمْج ثُمَّ يُمِيْتـُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ إِلَيْـهِ تُرْجَعُوْنَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS al-Baqarah [2] : 28)

Orang-orang durhaka pun mengakui bahwa mereka dihidupkan Allah dua kali dan dimatikan dua kali, sesuai firman-Nya :

قَالُوْا رَبَّنَاۤ أَمَتَّنَا ٱثْنَـتَيْنِ وَأَحْيَـيْتَنَا ٱثْنَـتَيْنِ فَٱعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ إِلىٰ خُرُوْجٍ مِّنْ سَـبِيْلٍ

Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi) kami untuk keluar (dari neraka)? (QS al-Mu’min [40] : 11)

Allah mematikan kita, agar kita dapat meningkat menuju hidup yang lebih sempurna. Kesempurnaan hidup manusia hanya dapat diraih dengan iman, amal shaleh dan dengan meninggalkan dunia ini.

Ar-Raghib al-Isfahani menulis, “Kematian merupakan tangga menuju kebahagiaan abadi. Ia merupakan perpindahan dari tempat ke tempat lain, sehingga dengan demikian ia merupakan kelahiran baru bagi manusia. Manusia dalam kehidupannya di dunia ini, dan dalam kematiannya, mirip dengan keadaan telur dan anak ayam. Kesempurnaan wujud anak ayam adalah menetasnya telur tersebut dan keluarnya anak ayam tadi meninggalkan tempatnya selama di dalam telur. Demikian pula manusia, kesempurnaan hidupnya hanya dapat dicapai melalui perpindahannya dari tempat ia hidup di dunia ini, sehingga—dengan demikian—kematian itu adalah pintu menuju kesempurnaan, kebahagiaan, surga yang abadi.”

Seseorang pernah ditanya tentang kematian, dan dia menjawab dengan penuh optimisme, padahal dia adalah orang awam, bukan intelektual.
“Takutkah Anda akan mati?”
“Ke manakah aku pergi bila aku mati?” dia balik bertanya.
“Kepada Tuhan.”
“Kalau demikian, aku tidak perlu takut, karena aku menyadari bahwa segala sesuatu yang bersumber dari Tuhan adalah baik. Tuhan tidak akan memberikan kecuali yang terbaik.”

Dengan kematian, manusia akan bebas bergerak, tak perlu menempa diri, mengendalikan syahwat, melawan setan, serta tak ada lagi larangan dan perintah. Kematian merupakan hadiah sekaligus penebus dosa bagi umat Rasulullah saw.

تُحْفَةُ الْمُؤْمِنِ الْمَوْتُ
Hadiah bagi seorang mukmin adalah kematian.
(HR Ibnu Abi Dunya, Thabrani dan Hakim)

الْمَوْتُ كَفَّارُةٌ لِكُلِّ مُسْـلِمٍ
Kematian adalah kafarat (penebus dosa) bagi setiap muslim.
(HR Abu Nu‘aim, Baihaqi dan al-Khatib)

Maksud hadits tersebut yaitu, kematian akan menyucikan dosa-dosa kecil setelah seorang muslim menjauhkan diri dari dosa-dosa besar dan menunaikan segala kewajiban.

Ka‘ab berkata, “Siapa mengenal kematian, maka segala penderitaan dan kesusahan dunia menjadi ringan baginya.”

Allah mematikan kita, agar manusia lain dapat merasakan hidupnya. Betapa sempit bumi ini, jika semua yang hidup bertahan hidup. Dan, betapa jenuh kehidupan ini, jika usia berlanjut (tidak pernah mati) tetapi disertai dengan kelemahan, penyakit dan kehilangan harapan. Sungguh kematian adalah nikmat, apalagi jika disadari bahwa ia merupakan pintu menuju kebahagiaan abadi.

Bahkan, setiap hari kita sudah mengenal saudara kematian, yaitu tidur. Allah SWT berfirman :

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain (yang tidur) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (QS az-Zumar [39] : 42)

Fakhruddin ar-Razi mengatakan, “Yang pasti adalah, tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi.” Rasulullah saw. mengajarkan agar kita membaca doa pada saat bangun tidur :

اَلحْـَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ أَحْيـَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْـهِ النُّشُـوْرُ

Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami (menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak).

Seorang filosof Jerman, Schopenhauer berkata, “Mengantuk itu nikmat, tapi lebih nikmat lagi tidur. Sedangkan yang lebih nikmat daripada tidur adalah mati.”

Seorang penyair berkata :

Pernah aku bilang pada jiwa
Namun malah terbang menjadi bayangan pahlawan
Celaka engkau, kenapa tidak memperhatikan
Jika kau mohon sehari saja diundurkan dari ketetapan ajal
Tak akan dipenuhi
Bersabarlah menghadapi maut, bersabarlah
Toh tak seorang pun mampu menggapai keabadian
Pakaian kehidupan itu bukanlah pakaian kekuasaan
Karena bisa diambil dari seorang saudara yang menginginkan

‘Aidh al-Qarni memberi nasihat :

Segeralah bertaubat nasuha
Sebelum datang kematian dan dicabutnya ruh
Jangan meremehkan bentuk dosa
Segala perbuatan itu tergantung kepada akhir
Dan, siapa yang benar-benar suka bertemu dengan Allah
Maka, Allah lebih mencintai orang itu
Dan, sebaliknya orang yang membenci
Allah akan bertanya tentang rahmat-Nya
Baik yang didapat dengan mudah ataupun bersusah-payah

Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah, Dzat Yang Maha Menghidupkan (Al-Muhyî) dan Yang Maha Mematikan (Al-Mumît).

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَـاتِمَةِ وَنَعُوْذَ بِكَ مِنْ سُوْءِ الْخَـاتِمَةِ

Ya Allah, akhirilah hidup (wafatkanlah) kami dalam keadaan husnul khâtimah. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keadaan sû’ul khâtimah, amin.

Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Ibnu Hazm al-Andalusi, asy-Syaikh, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007
  • Manshur Ali Nashif, asy-Syaikh, “Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah saw. (At-Tâju al-Jâmi‘u lil-Islâmi fî Ahâdîtsi ar-Rasûli)”, CV. Sinar Baru, Cetakan pertama : 1993
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Monday, September 8, 2008

Mengingat Mati, Perlukah? (1 of 2)

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa masalah bukanlah fokus yang perlu dikuatirkan. Sikap kitalah yang harus diperhatikan. Kualitas kita ditentukan oleh bagaimana kita menyikapi masalah yang terjadi.

Adi W. Gunawan, seorang re-educator dan mind navigator, memberikan contoh yang sangat gamblang tentang sebuah masalah namun menyikapinya secara berbeda.

Jika kita berkendaraan di jalan raya, lalu tiba-tiba ada sopir angkutan umum menyalip dan berhenti agak mendadak demi mendapatkan penumpang, apa reaksi kita?

Kalau kondisi kita sedang bahagia, misalnya kita mendapat hadiah promo dari sebuah produk sebesar Rp 1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah), maka kita tidak akan marah. Kita malah akan berkata, “Kasihan sopir itu, demi mengejar uang receh, dia harus banting tulang. Menyetir pun seperti terburu-buru dengan mata selalu awas, barangkali ada penumpang yang akan menambah rejeki. Maklumlah, ekonomi lagi sulit. Ada baiknya saya menyumbangkan sedikit rejeki yang saya dapat buat bang sopir.”

Namun, jika keadaan kita sebaliknya, apalagi sedang ada masalah, pastilah kita akan tersinggung. Kita akan marah bukan kepalang, mengomel tiada henti, kurang golèk–entèk ngapèk (istilah Jawa, artinya kalau kekurangan kata, dicari sampai ke dasar otak. Jika kehabisan kata, ambil dari sana-sini supaya tetap bisa marah).

Begitu pun dengan mengingat mati. Jika kita kurang tepat menyikapinya, maka hidup akan terasa tiada guna. Kita akan menjadi malas, tidak bersemangat, ogah-ogahan, makan terasa duri, minum berasa garam, tidur tak nyenyak dan mengerjakan apa pun seolah tak ada arti.

Sebaliknya, jika pikiran kita positif menerimanya, justru efeknya sangat besar dan kita akan bersemangat.

Mengingat mati membuat kita bertekad melakukan apa pun yang sedang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya, karena kita ingin meninggalkan sesuatu yang berharga setelah kematian kita.

Mengingat mati menuntut kita untuk selalu dalam kebaikan, karena kita sadar bahwa kita bisa meninggal sewaktu-waktu

Mengingat mati menjadikan kita bersemangat dalam pelayanan kepada orang lain. Dengan berbuat baik kepada sesama, kita akan tetap hidup dalam kematian kita. Bukankah amal jariyah adalah salah satu hal yang tidak akan terputus, walaupun kita sudah berpulang ke rahmatullah?

Mengingat mati berakibat positif terhadap pola pikir dan perilaku kita. Kita akan senantiasa berpikir positif (husnuzh zhan) karena kita tahu tiada guna berpikir negatif. Kita juga akan selalu santun, anggun serta ramah terhadap sesama.

Mengingat mati akan mendorong kita semakin khusyu‘ dalam beribadah, karena kita tahu bahwa hidup kita tidak lama lagi.

Allah Subhânahû wa Ta‘âlâ berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤئِقَـةُ ٱلْمَوْتِ


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
(QS al-‘Ankabût [29] : 57)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.
(QS an-Nisâ’ [4] : 78)

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS al-Munâfiqûn [63] : 11)

Rasulullah Muhammad saw. bersabda :


أَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ – يَعْنِي الْمَـوْتَ

Perbanyaklah mengingat penghancur aneka kelezatan—maksudnya mati.
(HR Tirmidzi)


مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ. فَقَالَتْ عَاِئشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ : إِناَّ لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ. قاَلَ : لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللهِ وَكَرَمَاتِهِ فَلَيْسَ شَيْئٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، وَ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَـذَابِ اللهِ وَعُـقُوْبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْئٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَكَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

Siapa cinta berjumpa dengan Allah, maka Allah pun cinta berjumpa dengannya. Dan siapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah juga benci berjumpa dengannya. Aisyah (atau sebagian istri Nabi) berkata, “Sesungguhnya kami tidak suka akan kematian.” Rasul menjawab, “Bukan seperti itu. Akan tetapi, seorang mukmin, ketika ajal menjemput, dia digembirakan dengan keridhaan dan kemuliaan Allah. Maka, tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya selain yang ada di depannya. Dia cinta bertemu Allah dan Allah cinta bertemu dengannya. Sesungguhnya orang kafir (ketika ajal menjemput), “digembirakan” dengan azab Allah. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dibencinya selain yang ada di depannya. Dia benci bertemu Allah dan Allah benci bertemu dengannya.”
(HR Bukhari)

Orang yang kematian menjadi kepastiannya, tanah menjadi tempat pembaringannya, ulat tanah menjadi temannya, Munkar dan Nakir menjadi tamunya, kuburan menjadi tempat tinggalnya, perut bumi menjadi tempat menetapnya, Kiamat menjadi penantiannya, surga atau neraka menjadi tempat kembalinya, sepatutnya tidak memikirkan kecuali tentang kematian.

Orang ini sepantasnya tidak mengingat kecuali kepada kematian, tidak merencanakan kecuali untuknya, tidak berambisi kecuali kepadanya, tidak melakukan pendakian kecuali di atasnya, tidak punya perhatian kecuali kepadanya, tidak mengumpulkan daya kecuali untuk menghadapinya dan tidak menantikan kecuali kedatangannya.

Semestinya ia menganggap dirinya termasuk orang-orang yang sudah mati dan menjadi penghuni kubur, karena segala sesuatu yang akan datang adalah dekat, sedangkan yang jauh adalah sesuatu yang sudah lewat tidak datang sama sekali.

Secara filosofis, “tadi”, “kemarin” atau waktu yang telah berlalu adalah sesuatu yang sangat jauh, karena kita tidak mampu untuk mencapainya (kembali padanya). Sedangkan “esok”, “lusa”, “bulan depan”, “tahun depan”, “sewindu lagi” atau hal-hal yang akan datang merupakan sesuatu yang sangat dekat, karena keniscayaan bagi kita untuk menujunya.

Rasulullah saw. mengingatkan kita,

اَلْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَـهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Orang cerdas adalah orang yang (senantiasa) mengintrospeksi dirinya (bermuhâsabah) dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian.”
(HR Tirmidzi)



Daftar Pustaka :
  • Adi W. Gunawan, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
  • Muhammad Ali asy-Syafi‘i asy-Syinwani, asy-Syaikh, “Syarah Abî Jamrah”
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • Sumardi, “Metafisika Akhirat – Tafsir Tematik Ayat-Ayat Akhirat Dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Kefilsafatan”, Makalah, Badan Penerbitan Pesantren Ulumul Qur’an Surabaya, 2007

Tulisan ini berlanjut ke : "Mengingat Mati, Perlukah? (2 of 2)"
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#