Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label taat. Show all posts
Showing posts with label taat. Show all posts

Friday, December 31, 2010

Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (3 of 9)

Sebaliknya, jika kita senantiasa di jalan-Nya dalam kehidupan ini, insya Allah kita akan siap ketika ajal menjemput. Adz-Dzahabi mengisahkan bahwa ketika Abu Zar‘ah dalam keadaan sakaratul maut, tiba-tiba Abu Zar‘ah pingsan. Murid-muridnya ingin mentalqinnya dengan kalimat “Lâ ilâha illallâh,” namun mereka tidak tahu bahwa gurunya pingsan. Mereka ternyata juga malu untuk mentalqin gurunya, karena Abu Zar‘ah adalah seorang syaikh imam muslimin. Akhirnya mereka menemukan cara. Mereka berkata,


“Kami ingat sanad (susunan periwayat) hadits tentang Lâ ilâha illallâh. Jika kami mengingatkannya pada sanad tersebut, maka guru kami akan mengingat isi hadits, karena beliau adalah orang yang meriwayatkan hadits dan merupakan bencana besar jika yang meriwayatkan hadits tidak tahu sanadnya.”


Maka, seorang di antara mereka berkata,


“Dikatakan kepada kami dari Fulan dari Fulan.” Lalu dia diam. Yang lain berkata,


“Dikatakan kepada kami dari Fulan dari Fulan dari Fulan,” lalu terpotong. Maka, berkatalah Abu Zar‘ah,


“Dikatakan kepada kami dari Fulan dari Fulan hingga lengkap sanadnya pada Muadz bahwa Rasulullah bersabda, ‘Siapa akhir ucapannya di dunia Lâ ilâha illallâh, maka dia masuk surga’.”


Kemudian, Abu Zar‘ah pun meninggal dunia. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah kepada kita sehingga kita bisa seperti Syaikh Abu Zar‘ah, amin.


Dari cerita di atas, apakah kita sudah menyiapkan diri kita untuk menghadapi tamu kita yang pasti datang, yaitu Malaikat maut? Sudahkah kita membiasakan diri dengan hal-hal baik? Apa kita juga sudah bersiap-siap untuk menolak tawaran Iblis, tatkala rasa haus begitu mendera? Juga mengingkari perintahnya walaupun ia menyerupai orang yang kita segani?


Kita memang bertabiat sering GR (Gede Rasa). Ketika ada pembahasan tentang kebaikan, entah dari guru, ustadz, kyai, da‘i atau buku, kita merasa diri kita sudah melakukan itu semua.
Kita merasa sudah melaksanakan semua jenis shalat selain lima waktu, yaitu Dhuha delapan rakaat, Hajat, Rawatib (Qabliyah dan Ba‘diyah), Ba‘dal Wudhu, Tahajud, Tahiyyatul Masjid, Taubat, Tasbih, Witir dan shalat Mutlak yang tak ada batasan jumlah rakaatnya.


Kita merasa sudah banyak bersedekah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.


Kita merasa sudah banyak menolong orang secara non materi, bantuan moril, dukungan atau nasihat.


Kita merasa sudah baik dalam pergaulan dengan orang lain, karena kita menerapkan prinsip simpati dan empati dalam keseharian.


Kita merasa sudah sering berpuasa sunnah, misalnya Senin-Kamis, yawm al-bîdh (tanggal 13, 14 dan 15 bulan Qamariyah), enam hari di bulan Syawal, Tasu‘a (9 Muharram), ‘Asyura (10 Muharram) dan ‘Arafah (9 Dzulhijjah).


Kita merasa sudah menjalankan puasa Ramadhan dengan sangat baik, bahkan khatam Al-Qur’an minimal sekali dalam bulan itu.


Kita merasa sudah mendapatkan lailatul qadar karena kita i‘tikaf di sepuluh hari terakhir pada malam-malam ganjil di bulan Ramadhan.


Kita merasa sudah banyak berdzikir menyebut asma Allah. Bahkan, karena bilangan dzikir kita sudah mencapai ribuan, maka kita mengganti tasbih dengan alat hitung yang bisa mencapai angka 9999.


Kita merasa sudah melaksanakan umrah berkali-kali bahkan haji juga lebih dari sekali, sehingga kita merasa haji kita adalah haji mabrur.


Kita merasa yakin bahwa hidup kita sudah baik, benar dan pasti masuk surga.


Sebaliknya, tatkala ketidakbaikan diceritakan, serta merta kita berkata pada diri sendiri bahwa pelaku ketidakbaikan itu bukanlah diri kita. Malah, kita sibuk mencari siapa yang melakukan ketidakbaikan itu. Sungguh, kita memang mudah terjangkit penyakit ‘ujub (membangga-banggakan amal ibadah sendiri). Na‘ûdzubillâh.


Abu Hamid al-Ghazali berkata, “Kita sering membawa tasbih atau sejenisnya, untuk menghitung berapa banyak dzikir yang sudah kita ucapkan. Pernahkah dengan tasbih itu, kita menghitung berapa banyak kata-kata yang tidak berguna apalagi sia-sia yang telah kita katakan?”


Sebuah nasihat yang lain berbunyi, “Kita ini memang kapitalis sejati. Kalau kita menuduh negara-negara lain sebagai kapitalis, maka yang lebih pantas mendapat menyandang gelar ‘Kapitalis Sejati’ adalah diri kita sendiri. Kita selalu hitung-hitungan dengan Allah. Kita sering sekali menghitung balasan yang akan kita dapatkan dari ibadah kita. Kalau kita membaca shalawat, berapa banyak rahmat yang akan kita peroleh? Kalau kita membaca Al-Qur’an, dosa-dosa kita sudah terhapus berapa banyak? Berapa derajat yang kita peroleh dengan melakukan shalat berjamaah? Tidakkah cukup dikatakan bahwa karena kita adalah hamba, maka kita seharusnya tunduk, patuh dan pasrah kepada Sang Pemilik hamba? Kurang ilmiahkah jika alasan kita melakukan semuanya adalah karena rasa syukur dan cinta kita kepada Dzat yang telah menciptakan kita dengan begitu sempurna? Kurangkah anugerah, karunia dan rahmat yang dicurahkan oleh Yang Memiliki Kehidupan kepada kita, hamba-Nya? Bukankah itu berarti kita berperi laku ‘kurang sopan’ terhadap Yang Memiliki kita, Allah SWT?”


Pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri sendiri adalah, “Apakah kita lupa bahwa iman itu bisa bertambah, namun juga bisa berkurang (al-îmânu yazîdu wa yanqush)? Bukankah iman itu mengalami pasang surut, tergantung situasi dan adanya sebab-musabab? Apa kita yakin bahwa ibadah kita diterima Allah 100%, tidak kurang dari itu? Yakinkah kita bahwa dosa-dosa kita telah lebur 100%, tidak ada yang tersisa; ataupun bila tersisa, itu hanya sedikit saja? Lupakah kita bahwa kualitas amal dan ibadah itu diperhitungkan? Sudah yakinkah kita bahwa kualitas ibadah kita sudah baik?”


Ibnu Athaillah berpesan, “Ketaatan kepada Allah bukanlah suatu amal yang harus dibangga-banggakan, dipamerkan atau semisalnya. Ketaatan adalah hiasan jiwa yang bertahtakan ketulusan di dalamnya. Ketaatan itu sendiri belum menjadi jaminan seseorang untuk masuk surga, karena hal ini memerlukan ujian yang sangat istimewa. Pada dasarnya ketaatan adalah karunia yang sangat mahal harganya bagi hamba Allah yang perlu mendapatkan penjagaan terus-menerus sepanjang hayatnya. Setiap karunia yang menjadi anugerah Allah berupa apa pun, terutama jiwa yang taat merupakan hidayah dari Allah.”



Daftar Pustaka:

  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”


Tulisan ini lanjutan dari : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (2 of 9)
Tulisan ini berlanjut ke : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (4 of 9)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, September 17, 2010

Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (12 of 12)

Lalu, mengapa di dalam doa kita menggunakan fi‘il amr? Apakah ada doa yang tidak menggunakan fi‘il amr?


Perlu kita ingat lagi bahwa hidup ini antara kita dengan Allah. Karena Allah memberi contoh seperti itu, maka kita pun menggunakannya. Itu berarti bahwa kita mematuhi perintah Allah, bukan sebaliknya—kita memerintah Allah. Tidak semua doa menggunakan fi‘il amr. Berikut ini contoh-contohnya:


رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِـيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah (QS al-Baqarah [2]: 286)


رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنْفُسَـنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَاسِرِيْنَ

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS al-A‘râf [7]: 23)


اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فىِ الدِّيْنِ

Ya Allah, kami bermohon kepada-Mu keselamatan dalam (urusan) agama


اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Ya Allah, hamba berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan neraka


أََسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ

Hamba memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung


رَحِمَهُ اللهُ

Semoga Allah mengasihinya


رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Semoga Allah meridhoinya


عَلَيْهِ السَّلاَمُ

Semoga salam tetap atas beliau


صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Semoga shalawat dan salam tetap atas beliau


Bahkan, doa yang paling utama adalah alhamdulillâh, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:


أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ ِللهِ

Seutama-utama doa adalah alhamdulillâh. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Adapun contoh doa yang menggunakan alhamdulillâh diantaranya yaitu doa setelah makan, sesudah bangun tidur, keluar dari kamar kecil dan setiap kita berdoa pasti membaca hamdalah.


Memperbanyak doa bukan berarti kita tidak menggunakan karunia Allah berupa otak, justru Allah senang sekali kalau kita berdoa. Doa adalah ibadah. Doa adalah munajat dan dzikir kepada Allah.


Lantas, permohonan apa yang paling utama untuk dimintakan kepada Allah?


Ibnu Athaillah menerangkan, “Sebagus-bagusnya permohonan yang patut disampaikan kepada Allah adalah semua yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan.”


Jika ada yang patut diminta kepada Allah sebagai hamba, maka yang paling pantas ialah mengharap kepada Allah agar meneguhkan iman dan keyakinan dengan kemantapan hati yang sungguh-sungguh (istiqamah) kepada ajaran Islam dengan persembahan ibadah. Itulah yang paling bagus dan paling bergengsi bagi hamba yang memohon kepada Allah. Permohonan istiqamah dalam Islam itu sudah termasuk kepentingan dunia dan akhirat.


Sangat baik apabila seorang hamba memohon kepada Allah agar bisa senantiasa menaati-Nya, melaksanakan ibadah tanpa halangan, dan agar Allah memudahkan segala yang berkaitan dengan urusan Islam dan umat Islam. Demikian juga memohon kepada Allah agar terlepas dan tidak tergelincir pada perbuatan maksiat dan dosa, serta diberi kekuatan untuk melaksanakan semua ketaatan. Tak lupa memohon agar selalu dalam keadaan dzikir dan senantiasa berada dalam suasana tentram dalam mengingat Allah SWT.


Demi terkabulnya semua doa, marilah kita bersama-sama memohon kepada Allah:


رَبَّناَ تَقَبَّلْ دُعَـاءَنَا إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَـوَاتِ. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Ya Tuhan kami, terimalah doa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, Maha Mengabulkan doa-doa (hamba-Mu). Semoga shalawat/rahmat dan kasih sayang tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan sahabat beliau, amin.


Daftar Pustaka :

  • Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, “Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”
  • A. Hanafi, MA, “Usul Fiqh”, Penerbit Widjaya Jakarta, Cetakan kesebelas, 1989
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin, asy-Syaikh, “Al-Ushûl min ‘Ilmil Ushûl”
  • Zeid Husein Alhamid, “Terjemah Al-Adzkar Annawawi (Intisari Ibadah dan Amal)”, Cetakan Pertama : Pebruari 1994/Sya‘ban 1414

Tulisan ini lanjutan dari : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (11 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, July 9, 2010

Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (3 of 12)

Tentang karamah para wali, sebagian dari kita mempunyai persepsi kurang tepat, ada yang terlalu mengagungkan dan ada pula yang mencibir. Yang mencibir beralasan bahwa hal itu mustahil terjadi karena tidak sesuai dengan sunnatullah. Cerita yang kita dengar selama ini dianggap hanya bualan, dibesar-besarkan dan cenderung hiperbolik. Karamah para wali dianggap sebagai sebuah pengkultusan individu, karena itu harus dikarang cerita di mana sang wali bisa melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Semua hal harus sesuai hukum alam, dan karamah bertentangan dengannya.



Lebih mengherankan lagi, ada pula yang berkata bahwa mukjizat para nabi pun tidak mungkin terjadi, karena tidak sesuai dengan hukum alam dan logika. Dengan alasan seperti ini, dikatakan perlu penafsiran ulang yang dilakukan secara logis dan tidak melanggar hukum alam; agar tidak ada penafsiran yang mengundang khurafat, klenik dan tahayul. Demikianlah pendapat orang yang menafikan karamah para wali, bahkan mukjizat para nabi atau rasul.


Mengagung-agungkan karamah tidak boleh terjadi. Perlu kita ketahui bahwa bagi wali Allah, memiliki kemampuan di luar kebiasaan manusia saat sang wali hidup (khâriq al-‘âdat), hanyalah hiasan atau permainan semata. Misalnya seorang wali bisa berjalan di atas air atau di udara, melipat bumi (pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dalam sekejap), menembus dinding, menyembuhkan orang sakit parah atau yang lain. Jadi, seorang wali Allah, walaupun tidak mempunyai kemampuan di atas, tetaplah wali Allah karena kedekatan dengan-Nya. Setan atau Iblis, meskipun bisa pergi dari masyriq (ujung timur bumi) ke maghrib (pojok barat dunia) dalam sekejap, tetaplah mal‘ûn (terlaknat).


Ada juga wali yang memohon kepada Allah agar tidak dikaruniai hiasan-hiasan. Namun, karena memang tujuan perjalanannya adalah Al-Haqq, maka biasanya (boleh tidak) hiasan itu menempel dengan sendirinya. Hal ini juga sebagai ujian baginya. Kalau ia terpesona dan terjebak dengan permainan-permainan seperti itu, maka ia tidak akan pernah sampai kepada Al-Haqq, Allah SWT.


Di kitab “Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf” dijelaskan bahwa karamah terbesar yang dimiliki oleh seorang wali yaitu selalu mendapat pertolongan untuk taat dan terjaga (mahfûzh) dari kemaksiatan dan pertentangan. Jadi, bukan permainan-permainan seperti tersebut di atas.


Abul Abbas al-Mursi berkata, “Orang yang karamah bukan karena ia bisa melipat dunia, lalu dalam waktu singkat ia telah berada di Mekah atau negeri lain. Orang yang karamah adalah orang yang mampu melipat hawa nafsunya sehingga ia terhindar dari maksiat dan langsung berhadapan secara ihsan dengan Allah SWT.”


Sahal bin Abdullah mengingatkan, “Sebesar-besar karamah adalah perubahan akhlak tidak baik (madzmûmah) menjadi akhlak terpuji (mahmûdah).”


Abu Yazid al-Busthami berpesan, “Jika kamu melihat seseorang yang telah diberi karamah sampai ia bisa terbang di udara sekalipun, maka janganlah tertipu dengannya, sehingga kamu dapat menilai kesungguhannya dalam melaksanakan perintah dan larangan Allah, dalam menjaga batas-batas hukum Allah, dan dalam melaksanakan syariat Allah.”


Rabi‘ah al-‘Adawiyah pernah memberi nasihat, “Kalau bisa terbang disebut istimewa dan kita bangga sekali mempunyai kemampuan itu, berarti derajat kita lebih rendah daripada seekor lalat. Kemampuan kita terbang masih belum secanggih lalat, sedangkan Allah menciptakan kita dengan sempurna, tidak seperti lalat. Apakah itu tidak berarti bahwa lalat lebih mulia daripada kita, jika memang kemuliaan hanya dipandang dari permainan-permainan semacam itu? Begitu pun dengan jalan di atas air. Bukankah ikan dan makhluk-makhluk Allah di sungai dan lautan tidak hanya berjalan di atas air, tetapi hidup di dalamnya?”


Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa karamah para wali dapat dibenarkan dengan dua syarat. Pertama, karamah tersebut berasal dari orang yang mengamalkan Kitab dan Sunnah. Kedua, karamah tersebut menguatkan Al-Qur’an dan Sunnah; dalam pengertian bahwa karamah yang didapat seorang wali dipergunakan untuk meninggikan panji Islam dan dakwah kepada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa.


Bagi yang menafikan, janganlah ekstrim seperti itu, hanya karena kekurangpahaman kita akan mukjizat atau karamah. Bukankah kita harus senantiasa husnuzh zhan serta berpikir positif? Boleh bertanya, tapi jangan menuduh sembarangan. Bertanya pun harus dengan niat yang baik. Jangan bertanya namun tujuannya untuk mengejek.


Seorang teman pernah bertanya, “Apakah mungkin kita bisa bisa pergi ke Mekah dalam waktu singkat (melipat bumi)? Logika dan penjelasan ilmiahnya bagaimana? Tidakkah itu mengada-ada?” Saat ini memang belum ada rumusan ilmiah yang tepat sama untuk menjelaskannya. Hal itu masih dalam penelitian. Secara logika ilmiah sederhana bisa dijelaskan seperti berikut ini.

Misalnya kita punya sebuah kertas seperti gambar di bawah ini. Bagaimana cara tercepat dari titik A menuju D?


Untuk menuju D dari A, ada beberapa cara, yaitu:



  • A – B – D

  • A – C – D

  • A – D (sesuai garis diagonal berdasarkan rumus Pitagoras, c^2=a^2+b^2; dimana c adalah panjang garis diagonal, sedangkan a dan b masing-masing adalah panjang sisi-sisi pembentuk sudut siku segitiga ABD atau ACD). Cara inilah yang tercepat karena jarak tempuhnya lebih pendek.

Saat ini, lagi diuji cara tercepat dari A menuju D dengan melipat kertas, mempertemukan titik A dengan D. Dengan demikian jarak tempuh limit mendekati 0 (nol) cm, sehingga waktu yang dibutuhkan pun limit mendekati 0 (nol) detik. Kapan percobaan ini bisa diimplementasikan? Belum bisa dipastikan. Kita tunggu saja tanggal mainnya :).


Banyak sekali percobaan ilmiah yang menjelaskan hal-hal yang menurut kita aneh (khâriq al-‘âdat), sehingga nantinya semua orang bisa melakukannya. Bukankah semua fasilitas yang kita nikmati di zaman modern ini adalah hal yang mustahil, tidak sesuai dengan hukum alam yang diketahui waktu itu, serta di luar kebiasaan masyarakat ketika masih dalam penelitian?


Namun, setelah seluruhnya dibuktikan, mengapa semua ikut menyetujui bahwa hal itu tidak bertentangan dengan hukum alam? Di manakah mereka yang mengatakan bahwa semua percobaan yang dulu dilakukan adalah mengada-ada, tidak mungkin dan tidak masuk akal? Ke manakah orang-orang yang mengatakan bahwa para peneliti adalah orang yang tidak menggunakan pikiran yang sehat, karena mencoba melakukan sesuatu di luar kesepakatan masyarakat? Lupakah kita bagaimana hukuman yang harus diterima oleh para peneliti karena meyakini hal di luar nalar orang-orang saat itu? Dan, kitalah yang menikmatinya. Menikmati hasil penelitian sesuatu yang di luar kebiasaan (khâriq al-‘âdat).


Saat ini, semua orang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, dengan menggunakan kapal laut dan pesawat terbang. Kita pun bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh orang yang berada jauh dari kita, dengan adanya siaran langsung televisi, kamera CCTV untuk keamanan atau web cam lewat jalur internet.


Bahkan sekarang, HT dari beberapa frekuensi (misal HT Polisi dan HT ambulans yang awalnya tidak bisa saling berhubungan karena beda frekuensi), handphone dan komputer sudah bisa saling berkomunikasi secara audio. Kalau saja penulis tidak menyaksikan sendiri demonya, mungkin penulis tidak akan percaya. Untunglah penulis pernah mengikuti sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Cisco Systems Indonesia. Waktu itu, salah satu hal yang didemokan adalah Unified Communications, integrasi komunikasi dari berbagai teknologi.


Mungkin kita akan berkilah, “Hal-hal di atas wajar saja terjadi. Itu semua karena perkembangan ilmu dan teknologi. Jadi, semuanya sesuai dengan logika dan sunnatullah.” Baiklah, kalau memang kita termasuk orang yang keras kepala, susah menerima kebenaran dan hanya ingin mencari pembenaran pendapat pribadi.


Daftar Pustaka :

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419

Tulisan ini lanjutan dari : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (2 of 12)
Tulisan ini berlanjut ke : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (4 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, July 2, 2010

Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (2 of 12)

b. Doa adalah visi dan misi

Dengan berdoa berarti kita menetapkan visi dan misi dalam kehidupan kita. Kita harus memiliki keinginan yang kuat (‘azam) untuk mewujudkan permohonan visi dan misi itu.

“Seseorang yang memiliki cita-cita, akan dengan senang hati tidur lebih akhir dan bangun lebih awal untuk mewujudkannya. Dia juga tidak akan membiarkan tubuh meminta istirahat sebelum waktunya. Dia akan memastikan tubuhnya patuh pada pikirannya dan tidak sebaliknya.” Demikianlah nasihat seorang motivator, Mario Teguh.


Kita adalah hamba Allah dengan derajat umum, bukan khusus. Jika kita mengharapkan kesejahteraan hidup, janganlah mengira tiba-tiba akan turun dari langit, satu peti berisi emas berkilauan, intan, berlian, zamrud dan permata. Semua itu harus sesuai dengan sunnatullah yang berlaku untuk kita, yang oleh kebanyakan orang diterjemahkan sebagai hukum alam. Menurut Prof. M. Quraish Shihab, adalah salah kaprah jika sunnatullah diartikan hukum alam. Apa pun itu, kita tidak akan memperdebatkannya. Anggap saja bahwa apa yang terjadi di alam ini memang ada hukumnya.

Dan ternyata, sebagian mukjizat para Nabi dan karamah para wali juga bisa dijelaskan sesuai hukum yang berlaku, walaupun tidak sesempurna karunia Allah untuk para kekasih-Nya.

Mukjizat Nabi Isa as. yang bisa menyembuhkan orang sakit lepra atau orang buta, saat ini sudah dapat dilakukan oleh para dokter. Penyakit lepra sudah bisa diobati. Untuk orang buta, memang dengan transplantasi mata, tidak bisa langsung sembuh seketika seperti yang dilakukan Nabi Isa atas ijin Allah SWT.

Bagaimana Nabi saw. menuju ke Masjid al-Aqsha di Palestina dari Masjid al-Haram di Mekah dalam waktu yang singkat, bisa dijelaskan dengan adanya pesawat terbang atau roket.

Mukjizat lain yang dimiliki Nabi Muhammad saw. yaitu dari tangan beliau bisa keluar aliran air yang cukup deras. Mukjizat ini terdapat di sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik ra.. Anas berkata, “Saya telah melihat Rasulullah saw. ketika tiba waktu shalat ashar, sedang orang-orang mencari air untuk wudhu dan tidak dapat. Kemudian dibawakanlah kepada Nabi saw. air wudhu sedikit dalam bejana. Lalu Nabi saw. meletakkan tangannya di dalam bejana, dan menyuruh orang-orang supaya wudhu dari air itu.”


Anas melanjutkan lagi, “Aku melihat air yang menyumber dari bawah jari-jari Nabi saw. sehingga semuanya selesai wudhu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sebagaimana tercantum dalam kitab “Al-Lu’lu’ wal-Marjân – fî mâ Ittafaqa ‘Alayhi asy-Syaykhân”. Hadits dengan muatan yang sama tercantum juga dalam kitab “Mukhtashar Shahîh al-Bukhârî”.

Hukum alam sudah menjelaskan bahwa jika udara didinginkan, maka akan mengembun, sehingga menjadi air. Itulah yang menjelaskan kenapa es batu di dalam gelas bisa menghasilkan embun (air) yang menempel di luar gelas. Hal yang sama terjadi dengan AC (Air Conditioner), yang akan menghasilkan air sebagai akibat dari pendinginan yang terjadi. Berarti, bisa jadi waktu itu tangan Rasulullah menjadi dingin sehingga udara mengembun. Namun, karena yang beliau miliki adalah mukjizat, maka air memancar dengan deras. Wallâhu a‘lam. Sampai saat ini, derasnya pancaran air dari tangan Nabi belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Ini menunjukkan bahwa kita adalah hamba Allah yang bodoh, yang hanya mempunyai ilmu sedikit sekali.

Ada orang sakit diobati dengan lantaran air yang telah dibacakan doa. Dr. Masaru Emoto telah menguji dan membuktikan bahwa air yang dibacakan doa membentuk struktur molekul yang sangat bagus dan kokoh. Itulah hukum alamnya.

Jika ada yang shalat istisqa’ kemudian Allah menurunkan hujan, hal ini juga bisa diimplementasikan dengan konsep hujan buatan.

Cerita tentang Sahabat Ali bin Abi Thalib yang terkena panah, kemudian anak panah itu dicabut saat beliau shalat dan tidak terasa sakit; dalam dunia kedokteran sudah terbukti secara ilmiah. Pembiusan (anestesi) bisa dilakukan tidak hanya dengan obat-obat kimiawi. Rasa senang, bahagia dan cinta juga bisa digunakan untuk pembiusan. Bukankah kalau kita sedang bahagia melakukan sesuatu, waktu pun terasa begitu cepat berlalu? Tubuh juga tidak terasa lelah? Dicubit orang yang kita cintai juga tidak akan terasa sakit, malah minta dicubit lagi J. Beda sekali kalau dicubit oleh orang lain yang tidak kita kasihi, apalagi jika orang itu kita benci. Itulah anestesi non kimiawi, berdasarkan penjelasan Prof. Dr. Moh. Sholeh, PNI (PsychoNeuroImmunolog).

Bahkan, sekarang telah ditemukan sebuah cara atau terapi agar para ibu tidak sakit ketika melahirkan sang jabang bayi, buah hati yang didamba-dambakan. Salah satu caranya dengan hipnosis/hipnoterapi (orang yang ahli hipnosis disebut hipnotis), yang memanfaatkan gelombang otak, biasanya pada gelombang Teta. Dan ini ilmiah, bukan khurafat atau klenik. Jadi, cerita Ali bin Abi Thalib kw. di atas semakin masuk akal.

Timbul pertanyaan baru, “Apakah ini berarti kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tua, terutama sang ibu jadi berkurang? Toh, sang ibu tidak lagi merasakan kesakitan yang sangat, seperti perjuangan antara hidup dan mati.”

Sebaiknya kita ingat lagi bahwa hidup ini antara kita dengan Allah, antara hamba dengan sang Pemilik Kehidupan. Allah telah memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua, dan hadits Rasulullah telah menjelaskan bahwa nama ibu disebut tiga kali dibandingkan sang ayah. Dengan demikian, apa pun perkembangan ilmu dan teknologi, hal itu tidak mengubah kewajiban kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, baik mengurangi apalagi menghapusnya. Bukankah sebelum terapi itu ditemukan, sudah ada operasi cesar yang notabene tidak sesakit seperti melahirkan normal?

Barangkali kita akan bertanya, “Kalau memang hidup ini antara kita dengan Allah, apakah kita tidak wajib menaati orang tua jika Allah memerintahkan demikian?”

Ya. Allah telah memerintahkan kita untuk tidak taat kepada orang tua apabila orang tua kita memerintahkan untuk bermaksiat kepada-Nya. Tentunya tetap dengan cara yang baik dan santun. Dan, itu berlaku bukan hanya kepada orang tua, tapi kepada siapa pun.

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فىِ مَعْصِـيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Al-Khâliq (Allah).

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Ummu Sa‘d berkata kepada anaknya, “Bukankah Allah menyuruh engkau berbuat baik kepada ibu-bapakmu? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga mati, atau engkau kufur (kepada Muhammad).” Maka turunlah ayat yang artinya:


Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS al-‘Ankabût [29]: 8)

Perlu kita ingat lagi, janganlah kita durhaka kepada orang tua. Berikut ini sebuah syair dari seseorang yang disakiti anaknya. Orang itu mengadu kepada Rasulullah, lalu Rasulullah bertanya, “Apakah engkau akan membacakan syair tentang anakmu?” Hal ini karena orang Arab terbiasa menghilangkan duka dengan syair. Orang itu berkata,

Aku memberimu makan saat engkau masih bayi
dan aku penuhi kebutuhanmu saat engkau remaja
Engkau makan dengan apa yang kubawakan untukmu dan minum
Jika malam datang membawa penyakit aku terjaga
Hanya bisa mengeluh dan bergelimpangan oleh sakitmu
Rasanya diriku yang menderita, bukan kamu
Oleh derita itu, dan air mataku meleleh
Saat engkau menginjak usia dan batas yang
Aku bisa menaruh padamu harap
Engkau jadikan balasan untukku sikapmu yang kasar dan kejam
Seolah engkau yang memberi dan menganugerahi
Andaikata dirimu, jika engkau tak menjunjung tinggi hak orang tuamu
Maka engkau telah berbuat seperti tetangga dekatmu melakukannya
(HR Thabrani)

Ketika berbicara tentang bakti kepada ibu-bapak, Al-Qur’an menggunakan kata penghubung bi, misalnya wa bi al-wâlidayni ihsânâ (QS al-Baqarah [2]: 83). Sebenarnya, bahasa membenarkan penggunaan li yang berarti “untuk” dan ilâ yang berarti “kepada” sebagai penghubung kata ihsân di atas.

Menurut pakar-pakar bahasa, kata ilâ mengandung makna “jarak”, sedang Allah tidak menghendaki adanya jarak walau sedikit dalam hubungan antara anak dan orang tuanya. Anak harus selalu mendekat dan merasa dekat kepada ibu-bapaknya, bahkan kalau bisa ia melekat kepadanya. Oleh karena itu digunakan kata bi yang mengandung arti ilshâq, yakni kelekatan. Itu pula sebabnya tidak dipilih kata penghubung li yang mengandung makna peruntukan itu.


Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
  • Mohammad Sholeh, Dr., “Terapi Salat Tahajud – Menyembuhkan Berbagai Penyakit”, Hikmah Populer, Cetakan I : Maret 2006/Safar 1427
  • Mohammad Sholeh, Prof., “Pelatihan Sholat Khusyuk”, Makalah, April 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Qamaruddin Shaleh dan A. Dahlan, Kyai, “Asbâbun Nuzûl (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an) – Edisi Kedua”, Penerbit Diponegoro, Cetakan Ke-10 : 2001
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Al-lu’lu’ wal-Marjân (karya Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi) – Himpunan Hadits Shahih Yang Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu
  • Zainuddin Ahmad bin Abdul Lathif Az-Zabîdî, asy-Syaikh, “Ringkasan Shahîh Al-Bukhârî (Al-Tajrîd as-Sharîh li Ahâdîts al-Jâmi‘ as-Shahîh)”, Penerbit Mizan, Cetakan III : Dzulhijjah 1419/April 1999
Tulisan ini lanjutan dari : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (1 of 12)
Tulisan ini berlanjut ke : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (3 of 12)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#