Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label sakaratul maut. Show all posts
Showing posts with label sakaratul maut. Show all posts

Friday, January 21, 2011

Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (6 of 9)

Ketika sakaratul maut, sikap apa yang harus dimiliki? Dinasihatkan bahwa kita harus rajâ’ (penuh pengharapan) dan prasangka baik kepada Allah. Bila rasa takut (khawf) yang mendominasi, maka akan meresahkan hati. Sedangkan rajâ’ akan menguatkan hati dan lebih mencintai Allah, Dzat tempat kita melabuhkan segala harapan.


Siapa pun tidaklah patut meninggalkan dunia kecuali ketika dalam keadaan mencintai Allah, agar setiap orang senang ketika berjumpa dengan-Nya. Siapa yang senang berjumpa dengan Allah, maka Allah akan senang bertemu dengannya, dan rajâ’ akan melahirkan rasa cinta. Rasulullah saw. bersabda:


لاَ يَمُوْتُنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِـنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ

Hendaklah kalian sekali-kali jangan meninggal dunia kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah. (HR Muslim)

Ketika Sulaiman at-Taimi menghadapi sakaratul maut, ia berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, sebutkan macam-macam rukhshah (keringanan dalam beribadah), dan bacakan keutamaan rajâ’, agar aku meninggal dunia dengan prasangka baik kepada Allah.”


Saat Sufyan ats-Tsauri sedang “menerima” malaikat maut, berkumpullah para ulama di sekitarnya menyebutkan keutamaan-keutamaan rajâ’.


Begitu pula Ahmad bin Hanbal ketika ajal menjelang, berkata kepada anak-anaknya, “Bicaralah tentang keutamaan rajâ’ dan prasangka baik kepada Allah.”


Semoga Allah senantiasa memberi hidayah kepada kita sehingga kita bisa kembali pada-Nya tetap dalam iman dan Islam. Semoga pula kita senantiasa dibimbing oleh-Nya untuk berada di jalan-Nya dan jalan menuju surga-Nya yang abadi, amin.


Untuk meningkatkan semangat kita dalam persiapan menuju masa depan abadi, marilah kita bayangkan lagi surga yang telah dijanjikan Allah untuk para hamba yang mengabdi dengan tulus ikhlas semata-mata karena-Nya. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa berita dan cerita tentang surga sudah sering kita dengar, sehingga mungkin tidak banyak menimbulkan efek positif ketika mendengarnya. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah sego jangan, artinya sudah biasa, seperti makanan sehari-hari (sego artinya nasi, jangan berarti sayuran).


Namun demikian, kiranya tetap perlu kita ingat lagi bagaimana kenikmatan surga di akhirat kelak. Hanya saja, kali ini janganlah kita hanya membacanya, tapi marilah kita resapi dan hayati, lalu kita tumbuhkan niat yang kuat (‘azam) untuk bisa berada di dalamnya, bisa bercengkrama dengan junjungan kita Rasulullah saw. dan orang-orang shaleh lainnya, serta kenikmatan terbesar di surga, yaitu bertemu serta melihat langsung Tuhan Yang Menciptakan kita, Allah SWT.


Sebelum membahas surga yang penuh kenikmatan, tiada lagi perintah dan larangan; ada baiknya kita bahas dulu tentang dunia beserta segala keindahan di dalamnya. Sengaja penulis awali dengan kondisi dunia, karena kita hidup di dalamnya. Dengannya, kita lebih mudah memahami dan memvisualisasikan yang akan kita dapatkan. Bukankah Allah membagi rahmat dan nikmat menjadi dua bagian, 1% di dunia, sedangkan 99% di surga nanti? Bagaimana caranya kita akan membayangkan yang 99%, jika yang 1% saja belum pernah?


Barangkali kita perlu men-set up dulu gelombang otak kita ke kondisi tenang, kondisi yang bisa membayangkan sesuatu dengan santai, yaitu kisaran gelombang Alfa (bahkan Teta?). Dengan demikian kita bisa tenang membaca, merenungkan dan menanamkan cerita di bawah ini ke otak bawah sadar kita. Diharapkan, dengan kokohnya keinginan, maka setiap gerak langkah kita akan senantiasa mendapat energi positif dari impian serta kekuatan visi kita tersebut. Mari kita baca cerita berikut ini secara perlahan-lahan dan melarutkan diri di dalamnya.


. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .

Kita andaikan saja Allah melimpahkan seluruh kekayaan dunia ini kepada kita. Yang lebih enak lagi adalah semuanya halal, tak ada larangan. Kita bisa menikmati apa pun yang kita inginkan. Allah telah menganugerahkan surga dunia kepada kita.


Kapan pun kita mau, kita bisa melihat indahnya mentari tersenyum ramah di kala pagi dengan penuh ketakjuban, di sebuah pegunungan sebelah timur Indonesia, Papua. Bak seorang turis bule, dengan bibir menyungging senyum kita berujar, “Inilah sun rise terindah, the most beautiful one.” Sambil memandang indah wajah mentari yang datang dari bilik mega, kita dimanja oleh hawa yang begitu lembut dan dingin bercampur hangat, karena sapaan sang fajar.


Kehangatan suasana menjadi begitu lengkap dengan kehadiran sang kekasih, belahan jiwa dan pujaan hati di samping kita. Kekasih yang anggun memesona, halus tutur kata, santun budi bahasa, sejuk dipandang mata, cantik jelita, laksana bidadari turun dari surga. Ia seperti kilau matahari di musim semi. Harum tubuhnya ibarat bunga kesturi sedang menebar wangi. Sambil memandang parasnya yang elok, dengan suara pelan kita lantunkan bait puisi karya Habiburrahman El Shirazy,


Alangkah manisnya bidadariku ini
Bukan main elok pesonanya
Matanya berbinar-binar
Alangkah indah bibirnya
Mawar merekah di taman surga

Mendengarnya, pipi kekasih kita merona merah karena malu bercampur bahagia. Dua lesung di pipinya menambah pesona wajahnya. Kita pun jadi gemas dibuatnya. Dengan penuh kelembutan, kita melanjutkan pujian padanya dengan puisi dari Ibnu Hazm,


Selain keindahanmu, tak ada persinggahan bagi ini mata
Kau serupa pengakuan orang tentang indahnya permata
Kupendarkan pandangan mataku
Mengikuti pandanganmu
Kuikuti dirimu selalu
Seumpama manis mengikuti madu

Rupanya kekasih kita tak mau kalah. Membalas syair-syair cinta yang kita utarakan, ia pun mendendangkan puisi balasan,


Kucintai engkau dengan tanpa keraguan di dalamnya
Padahal kebanyakan cinta hanyalah fatamorgana
Ingin kukatakan padamu dengan gamblang dan tulus
Cintaku padamu terukir zhahir dan halus

Jika dalam jiwaku tertanam kebencian
Kan kucabik seluruh tabir penutupnya dan kubuang
Sungguh! Tak ada yang kuingini darimu selain cinta
Sungguh! Tak ada yang kuucapkan padamu kecuali cinta

Saat kutenggelam dalam samudera cinta
Hamparan bumi seolah kering binasa
Manusia seumpama buih-buih di lautan
Penghuni mayapada seumpama debu beterbangan
(karya Ibnu Hazm)

Duhai, betapa romantisnya. Sungguh, sebuah peristiwa yang amat mengesankan dan pasti membekas di lubuk sanubari yang paling dalam.



Daftar Pustaka:

  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Habiburrahman El Shirazy, “Ayat-Ayat Cinta [Sebuah Novel Pembangun Jiwa]”, Penerbit Republika, Cetakan XX : April 2007
  • Ibnu Hazm al-Andalusi, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007

Tulisan ini lanjutan dari : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (5 of 9)
Tulisan ini berlanjut ke : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (7 of 9)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, January 7, 2011

Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (4 of 9)

Sebagaimana sudah diajarkan oleh guru-guru kita bahwa tanda orang celaka atau sengsara ada empat, yaitu:

1. Melupakan dosa-dosa yang telah lalu sedang dosa-dosa itu dipelihara di sisi Allah.


Tentunya hal ini harus dikaitkan lagi dengan bagaimana kemampuan kita dalam menyikapi sebuah masalah. Jika kita belum bisa menyikapi hal ini dengan benar, justru kita akan semakin stres karena teringat selalu dosa-dosa kita. Kalau kita termasuk tipe ini, maka sebaiknya buku lama ditutup saja, buka lembaran baru yang bersih. Kita ingat bahwa Allah Maha Luas Ampunannya dan sesungguhnya kebaikan dapat menghapus ketidakbaikan. Dalam kasus ini rajâ’ (pengharapan untuk mendapat pengampunan dan rahmat Allah) lebih baik daripada khawf (takut kepada Allah atau kuatir jika dosa-dosa kita tidak diampuni dan ibadah kita tidak diterima).


Begitu juga dalam menyikapi hadits tentang minuman keras yang penggalannya berbunyi, “Siapa yang minum arak hingga mabuk, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.” Para ulama menjelaskan bahwa shalat tetap wajib dilakukan dalam masa empat puluh hari tersebut meskipun tidak diterima di sisi Allah. Apabila kita belum bisa menyikapinya secara positif, sebaiknya kita lupakan saja pernah mabuk, lalu taubat, dan tetap shalat dengan penuh pengharapan serta ampunan dalam empat puluh hari itu. Dikuatirkan kita malah tidak shalat dalam rentang waktu itu, karena keyakinan pasti tidak diterima. Dengannya, justru kita melakukan banyak kesalahan—sudah mabuk, tidak shalat pula. Kita harus yakin bahwa yang penting kita sudah sadar, taubat, dan hanya Allah-lah Yang Maha Menentukan diterima atau tidaknya ibadah kita. Sebuah pepatah berbunyi, “Mengingat masa kemarau di musim penghujan adalah kemarau.”


Imam al-Junaid pernah ditanya tentang taubat, lalu dijawab, “Hendaknya kamu melupakan dosamu.” Ketika bertaubat, orang yang bertaubat tidak lagi mengingat dosa-dosa, karena kehadiran keagungan Allah dan keberlangsungan dzikir kepada-Nya senantiasa mendominasi hati.


Ibnu Athaillah berpesan, “Jangan terlalu merasakan dosa-dosa yang telah engkau lakukan, sehingga dapat menghalang-halangi engkau bersangka baik kepada Allah. Sesungguhnya apabila engkau mengenal Tuhanmu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, maka engkau tidak akan terlalu membesar-besarkan dosamu di sisi Maha Rahmannya Allah. Tidak ada yang disebut dosa kecil apabila Allah menghadapkan kepadamu sifat adil-Nya, dan tidak ada dosa besar apabila Allah menghadapkan padamu sifat-Nya yang penuh anugerah.”


Lalu, bagaimana penjelasan nasihat agar kita tidak melupakan dosa-dosa kita? Maksud nasihat pada item ini yaitu jika kita bisa berpikir dan bersikap positif, maka mengingat dosa yang pernah kita lakukan akan membuat kita waspada supaya tidak tergelincir lagi (baik untuk kesalahan yang sama atau kesalahan baru) karena takut pada Allah dan terus-menerus memperbaiki diri dan berpengharapan mendapat ampunan dan rahmat-Nya. Ini artinya khawf dan rajâ’ kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, juga seimbang.


Perlu diingat lagi bahwa rajâ’ adalah kehendak yang harus diikuti dengan amal ibadah. Kalau tidak demikian, maka itu hanyalah angan-angan. Al-Hasan berkata, “Ada orang yang tertipu oleh angan-angan menginginkan ampunan sehingga mereka keluar dari dunia sedangkan mereka belum membawa kebaikan. Mereka berseru bahwa mereka telah berbaik sangka kepada Allah, akan tetapi mereka berdusta dalam pengakuan tersebut. Kalau benar mereka telah berbaik sangka kepada Allah, tentu perbuatan mereka pun lebih baik lagi.”


Selanjutnya al-Hasan berpesan, “Wahai hamba Allah, waspadalah kamu dari angan-angan palsumu, karena akan menjadi jurang kebinasaan bagimu, sebab kamu suka berlaku kurang sopan kepada Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah memberikan seseorang suatu kebaikan hanya karena angan-angan, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.”


Abu Ali ar-Rudzabari menganalogikan khawf dan rajâ’ bagaikan dua sayap burung. Apabila dua sayap itu sama (seimbang), maka burung itu akan seimbang dan terbang dengan sempurna (baik).


Tentang keseimbangan ini, diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib kw. pernah memberi nasihat kepada salah satu anaknya,


“Wahai anakku, takutlah kepada Allah, dengan menganggap bahwa Allah tidak akan menerima kebaikanmu walaupun kebaikanmu itu mencapai seluruh kebaikan penghuni bumi.


Berharaplah kepada Allah, dengan menganggap bahwa apabila dosa kamu sebesar dosa seluruh penghuni bumi dan memohon ampunan dari Allah, maka Allah akan mengampuninya.”


Agar tidak meremehkan dosa yang telah dilakukan, Ibnu Mas‘ud ra. memberikan penjelasan tentang pengaruh mengingat dosa dan melalaikan kesalahan terhadap sikap seorang muslim. Abdullah Ibnu Mas‘ud berkata:


إِنَّ الْمُؤْمِنَ مَنْ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى اَنْفِهِ، فَقَالَ بِهِ هٰـكَذَا

Seorang mukmin adalah yang melihat dosanya seperti seseorang yang sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpa dirinya. Akan tetapi orang yang durhaka (fâjir) adalah yang melihat dosanya sebesar lalat yang lewat di depan hidungnya (remeh), kemudian ia mengatakan, “begini” (ia menghalau lalat itu dengan tangannya). (HR Bukhari)


Uqbah bin Amir menceritakan, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Apakah keselamatan itu?’ Beliau menjawab,


اِحْفَظْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتَكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, perluaslah rumahmu untukmu dan menangislah atas dosa-dosamu.” (HR Tirmidzi)


Pengertian “perluaslah rumahmu untukmu” pada hadits tersebut ada dua, yaitu zhahir dan hakikat. Secara zhahir berarti rumah yang tanah dan bangunannya luas, sehingga bisa digunakan untuk beribadah, misalnya silaturrahim dan shalat. Sedangkan secara hakikat berarti rumah yang diselimuti rahmat Allah sehingga menjadi luas karena ketaatan kepada-Nya.


“Seseorang tidak akan tahu aib dirinya selama ia menganggap baik pada dirinya. Dan seseorang yang melihat aib dirinya, ia pasti dalam ‘kebingungan’ di semua keberadaannya.” Demikanlah nasihat Abu Utsman.



Daftar Pustaka:

  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu

Tulisan ini lanjutan dari : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (3 of 9)
Tulisan ini berlanjut ke : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (5 of 9)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, December 31, 2010

Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (3 of 9)

Sebaliknya, jika kita senantiasa di jalan-Nya dalam kehidupan ini, insya Allah kita akan siap ketika ajal menjemput. Adz-Dzahabi mengisahkan bahwa ketika Abu Zar‘ah dalam keadaan sakaratul maut, tiba-tiba Abu Zar‘ah pingsan. Murid-muridnya ingin mentalqinnya dengan kalimat “Lâ ilâha illallâh,” namun mereka tidak tahu bahwa gurunya pingsan. Mereka ternyata juga malu untuk mentalqin gurunya, karena Abu Zar‘ah adalah seorang syaikh imam muslimin. Akhirnya mereka menemukan cara. Mereka berkata,


“Kami ingat sanad (susunan periwayat) hadits tentang Lâ ilâha illallâh. Jika kami mengingatkannya pada sanad tersebut, maka guru kami akan mengingat isi hadits, karena beliau adalah orang yang meriwayatkan hadits dan merupakan bencana besar jika yang meriwayatkan hadits tidak tahu sanadnya.”


Maka, seorang di antara mereka berkata,


“Dikatakan kepada kami dari Fulan dari Fulan.” Lalu dia diam. Yang lain berkata,


“Dikatakan kepada kami dari Fulan dari Fulan dari Fulan,” lalu terpotong. Maka, berkatalah Abu Zar‘ah,


“Dikatakan kepada kami dari Fulan dari Fulan hingga lengkap sanadnya pada Muadz bahwa Rasulullah bersabda, ‘Siapa akhir ucapannya di dunia Lâ ilâha illallâh, maka dia masuk surga’.”


Kemudian, Abu Zar‘ah pun meninggal dunia. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah kepada kita sehingga kita bisa seperti Syaikh Abu Zar‘ah, amin.


Dari cerita di atas, apakah kita sudah menyiapkan diri kita untuk menghadapi tamu kita yang pasti datang, yaitu Malaikat maut? Sudahkah kita membiasakan diri dengan hal-hal baik? Apa kita juga sudah bersiap-siap untuk menolak tawaran Iblis, tatkala rasa haus begitu mendera? Juga mengingkari perintahnya walaupun ia menyerupai orang yang kita segani?


Kita memang bertabiat sering GR (Gede Rasa). Ketika ada pembahasan tentang kebaikan, entah dari guru, ustadz, kyai, da‘i atau buku, kita merasa diri kita sudah melakukan itu semua.
Kita merasa sudah melaksanakan semua jenis shalat selain lima waktu, yaitu Dhuha delapan rakaat, Hajat, Rawatib (Qabliyah dan Ba‘diyah), Ba‘dal Wudhu, Tahajud, Tahiyyatul Masjid, Taubat, Tasbih, Witir dan shalat Mutlak yang tak ada batasan jumlah rakaatnya.


Kita merasa sudah banyak bersedekah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.


Kita merasa sudah banyak menolong orang secara non materi, bantuan moril, dukungan atau nasihat.


Kita merasa sudah baik dalam pergaulan dengan orang lain, karena kita menerapkan prinsip simpati dan empati dalam keseharian.


Kita merasa sudah sering berpuasa sunnah, misalnya Senin-Kamis, yawm al-bîdh (tanggal 13, 14 dan 15 bulan Qamariyah), enam hari di bulan Syawal, Tasu‘a (9 Muharram), ‘Asyura (10 Muharram) dan ‘Arafah (9 Dzulhijjah).


Kita merasa sudah menjalankan puasa Ramadhan dengan sangat baik, bahkan khatam Al-Qur’an minimal sekali dalam bulan itu.


Kita merasa sudah mendapatkan lailatul qadar karena kita i‘tikaf di sepuluh hari terakhir pada malam-malam ganjil di bulan Ramadhan.


Kita merasa sudah banyak berdzikir menyebut asma Allah. Bahkan, karena bilangan dzikir kita sudah mencapai ribuan, maka kita mengganti tasbih dengan alat hitung yang bisa mencapai angka 9999.


Kita merasa sudah melaksanakan umrah berkali-kali bahkan haji juga lebih dari sekali, sehingga kita merasa haji kita adalah haji mabrur.


Kita merasa yakin bahwa hidup kita sudah baik, benar dan pasti masuk surga.


Sebaliknya, tatkala ketidakbaikan diceritakan, serta merta kita berkata pada diri sendiri bahwa pelaku ketidakbaikan itu bukanlah diri kita. Malah, kita sibuk mencari siapa yang melakukan ketidakbaikan itu. Sungguh, kita memang mudah terjangkit penyakit ‘ujub (membangga-banggakan amal ibadah sendiri). Na‘ûdzubillâh.


Abu Hamid al-Ghazali berkata, “Kita sering membawa tasbih atau sejenisnya, untuk menghitung berapa banyak dzikir yang sudah kita ucapkan. Pernahkah dengan tasbih itu, kita menghitung berapa banyak kata-kata yang tidak berguna apalagi sia-sia yang telah kita katakan?”


Sebuah nasihat yang lain berbunyi, “Kita ini memang kapitalis sejati. Kalau kita menuduh negara-negara lain sebagai kapitalis, maka yang lebih pantas mendapat menyandang gelar ‘Kapitalis Sejati’ adalah diri kita sendiri. Kita selalu hitung-hitungan dengan Allah. Kita sering sekali menghitung balasan yang akan kita dapatkan dari ibadah kita. Kalau kita membaca shalawat, berapa banyak rahmat yang akan kita peroleh? Kalau kita membaca Al-Qur’an, dosa-dosa kita sudah terhapus berapa banyak? Berapa derajat yang kita peroleh dengan melakukan shalat berjamaah? Tidakkah cukup dikatakan bahwa karena kita adalah hamba, maka kita seharusnya tunduk, patuh dan pasrah kepada Sang Pemilik hamba? Kurang ilmiahkah jika alasan kita melakukan semuanya adalah karena rasa syukur dan cinta kita kepada Dzat yang telah menciptakan kita dengan begitu sempurna? Kurangkah anugerah, karunia dan rahmat yang dicurahkan oleh Yang Memiliki Kehidupan kepada kita, hamba-Nya? Bukankah itu berarti kita berperi laku ‘kurang sopan’ terhadap Yang Memiliki kita, Allah SWT?”


Pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri sendiri adalah, “Apakah kita lupa bahwa iman itu bisa bertambah, namun juga bisa berkurang (al-îmânu yazîdu wa yanqush)? Bukankah iman itu mengalami pasang surut, tergantung situasi dan adanya sebab-musabab? Apa kita yakin bahwa ibadah kita diterima Allah 100%, tidak kurang dari itu? Yakinkah kita bahwa dosa-dosa kita telah lebur 100%, tidak ada yang tersisa; ataupun bila tersisa, itu hanya sedikit saja? Lupakah kita bahwa kualitas amal dan ibadah itu diperhitungkan? Sudah yakinkah kita bahwa kualitas ibadah kita sudah baik?”


Ibnu Athaillah berpesan, “Ketaatan kepada Allah bukanlah suatu amal yang harus dibangga-banggakan, dipamerkan atau semisalnya. Ketaatan adalah hiasan jiwa yang bertahtakan ketulusan di dalamnya. Ketaatan itu sendiri belum menjadi jaminan seseorang untuk masuk surga, karena hal ini memerlukan ujian yang sangat istimewa. Pada dasarnya ketaatan adalah karunia yang sangat mahal harganya bagi hamba Allah yang perlu mendapatkan penjagaan terus-menerus sepanjang hayatnya. Setiap karunia yang menjadi anugerah Allah berupa apa pun, terutama jiwa yang taat merupakan hidayah dari Allah.”



Daftar Pustaka:

  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”


Tulisan ini lanjutan dari : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (2 of 9)
Tulisan ini berlanjut ke : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (4 of 9)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, December 24, 2010

Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (2 of 9)

Di kitab “An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Îmâniyyah”, dijelaskan dengan detail tentang maksud ayat Al-Qur’an:


وَلاَ تَمُوْ تُنَّ إِلاَّ وَأَنْتـُمْ مُسْـلِمُوْنَ

Dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Âli ‘Imrân [3]: 102)


Di ayat tersebut, kita dipesan agar ketika meninggal dunia tetap dalam Islam, karena Nabi saw. bersabda bahwa siapa yang meninggal dalam keadaan iman dan Islam, maka masuk surga. Diriwayatkan dari Abu Dzar ra. bahwa Rasulullah bersabda,


أَتَانِيْ آتِ مِنْ رَبِّي فَأَخْبِرْنِيْ، أَوْ قَالَ بَشَّرَنِيْ، أَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لاَيُشْرِكْ بِاللهِ شَـيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Telah datang kepadaku utusan Tuhan dan memberitakan bahwa siapa meninggal dari umatku dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, pasti masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim)


Memang, pesannya hanya ketika meninggal dunia, tapi di ayat itu (QS Âli ‘Imrân [3]: 102) ada penguatan kata (tawkîd), yaitu lâ tamûtunna (janganlah sekali-kali kalian mati). Secara etimologi, kata lâ tamûtunna berasal dari kata:


لاَ تَـمُوْ تُوْا

yang berarti janganlah kalian mati. Kata itu adalah kata kerja bentuk larangan (fi‘il nahiy), kemudian dimasuki oleh dua buah nûn tawkîd untuk menguatkan larangan, yaitu nûn tawkîd tsaqîlah.

Peraturan yang berlaku adalah fi‘il (kata kerja) yang dikuatkan dengan nûn tawkid apabila bersambung kepadanya alif itsnayn (huruf alif yang menunjukkan arti dua), wau jama‘ (huruf wau yang menunjukkan makna banyak) atau ya’ mukhâthabah (huruf ya’ yang menunjukkan kata ganti orang kedua perempuan); maka huruf sebelum alif diberi harakat fathah, huruf sebelum wau diberi harakat dhammah dan huruf sebelum ya’ diberi harakat kasrah. Dhamir (kata ganti) harus dibuang apabila berupa wau atau ya’, dan dibiarkan apabila berupa alif. Sebetulnya bentuk tambahannya berbunyi:


لاَ تَـمُوْ تُوْنَنَّ

Namun, karena peraturan tersebut, maka hasil akhirnya adalah:


لاَ تَـمُوْ تُنَّ

Huruf nun dibuang karena beriringan dengan huruf yang serupa dan huruf wau dihilangkan pula karena pertemuan dua huruf sukun (wau sukun dan nun pertama dari nun yang ditasydid).


Dengan demikian, kata lâ tamûtunna menunjukkan adanya kewajiban ketika kita hidup di dunia, untuk menyiapkan diri, supaya ketika sang Malaikat maut datang menjemput, kita sudah terbiasa dengan ucapan-ucapan baik (dzikrullâh). Ketika sakaratul maut (ajal menjemput), seseorang akan melakukan sesuai kebiasaannya di dunia. Oleh karena itu, kalau kita tidak biasa berbuat baik, menjaga diri, menuntut ilmu-ilmu yang diwajibkan, shalat serta berdzikir (mengingat Allah) semasa hidup; maka ketika Izrail datang, bagaimana kita bisa tetap dalam iman dan Islam? Sedangkan kondisi setiap insan pada saat itu benar-benar payah, rasa haus yang sangat dan ada godaan setan atau Iblis. Sudah siapkah kita?


Di kitab “Syarah Daqâiq al-Akhbâr fî Dzikri al-Jannah wan-Nâr” dibahas bahwa Iblis akan datang untuk menggelincirkan orang yang sedang menghadapi maut. Setan memang tak kenal lelah menggoda kita. Dikisahkan, ketika Abu Zakaria az-Zahid datang ajal, datanglah seorang kawannya untuk membimbing dalam menghadapi sakaratul maut. Sang teman mengajarkan kepadanya,


لاَإِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Ternyata Abu Zakaria memalingkan wajah dan tidak mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut. Temannya pun mengajari untuk yang kedua kali, namun tetap saja Abu Zakaria memalingkan wajah. Ketika temannya mengajarkan untuk yang ketiga kali, Abu Zakaria malah berkata,


“Aku tidak mau mengucapkan!”


Melihat kondisi yang demikian, sang kawan dan keluarga yang hadir menjadi cemas dibuatnya.


Setelah beberapa saat, penderitaan Abu Zakaria berkurang. Dia lalu membuka matanya perlahan. Kemudian dia bertanya,


“Apakah kalian mengatakan sesuatu kepadaku?”


“Ya, telah kami ajarkan kepadamu syahadat tiga kali, namun kamu berpaling dua kali. Bahkan pada kali ketiga, kamu berkata, ‘Aku tidak mau mengucapkan’.”


Mendengar penjelasan tersebut, Abu Zakaria terdiam sejenak. Kemudian dia bercerita,


“Iblis telah datang kepadaku dengan membawa segelas air minum. Dia berdiri di sebelah kananku dengan menggerak-gerakkan gelas itu seraya berkata,


‘Katakanlah, ‘Isa al-Masih adalah anak Allah’.’


Maka aku memalingkan muka darinya. Kemudian dia datang dari arah kakiku dan berkata dengan ucapan yang sama. Pada perkataan yang ketiga, Iblis berkata,


‘Katakan, ‘Tidak ada Tuhan!’’


Lalu aku menjawab, ‘Aku tidak mau mengucapkan!’


Setelah itu Iblis mencampakkan gelasnya ke lantai dan pergi sambil berlari. Jadi, aku tadi menolak Iblis itu, bukan menolak kalian. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.”


Bahkan ada sebuah nasihat bahwa ketika seseorang sedang sakaratul maut, Iblis bisa menyerupai wajah guru, orang tua atau orang yang disegani. Iblis akan berkata, “Hai Fulan, aku ini Gurumu. Kamu tahu bahwa aku sudah mati lebih dulu, dan ternyata setelah aku cari di alam kematian ini, Tuhan itu tidak ada. Sebagai muridku yang baik dan patuh, sekarang katakanlah bahwa sesungguhnya Tuhan itu tidak ada!”


Ibnul Qayyim menceritakan tentang orang fasik ketika sakaratul maut. Dikatakan pada orang itu (ditalqin),


لاَإِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ

Orang itu ternyata mengulang lagu-lagu yang dahulu didengarnya ketika hidup masih dinikmati. Orang itu berdendang,


هَلْ رَأَى الْحُبُّ سُكٰرٰى مِثْـلَناَ

“Apakah cinta melihat orang yang mabuk seperti kami?”

Maka dia mati dengan kalimat terakhir adalah lagu itu, karena dia hidup dengannya.

Daftar Pustaka:

  • Abdullah Ba‘alawi Al-Haddad, asy-Syaikh, “An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Îmâniyyah”
  • Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi, asy-Syaikh, “Syarah Daqâiq al-Akhbâr fî Dzikri al-Jannah wan-Nâr”
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Bahrun Abu Bakar, Lc, dan Anwar Abu Bakar, Lc, “Terjemah Alfiyyah Syarah Ibnu ‘Aqil (karya Syaikh Bahauddin Abdullah Ibnu ‘Aqil) – Jilid 1 dan 2”, Penerbit Sinar Baru, Cetakan Pertama : 1992
  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Al-lu’lu’ wal-Marjân (karya Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi) – Himpunan Hadits Shahih Yang Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu

Tulisan ini lanjutan dari : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (1 of 9)
Tulisan ini berlanjut ke : Cukup Masuk Surga Tingkat Terendah? (3 of 9)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Thursday, August 21, 2008

Berdzikir Membuat Hati Tentram, Benarkah? (5 of 5)

Sekarang kita telah sampai pada pembahasan akhir tentang metode berdzikir kepada Allah. Teknik berdzikir yang terakhir, yaitu :

d. Dzikir dengan hati


Sebenarnya setiap dzikir memang harus disertai dengan hadirnya hati. Namun, yang dibahas di sini adalah teknik berdzikir bukan menggunakan anggota-anggota badan seperti disebutkan di atas, tapi di dalam hati.

Dzikir di dalam hati (tanpa melibatkan lisan) bisa dilakukan dalam setiap nafas. Kita bernafas dengan tenang dan teratur, pada saat menghirup udara berdzikir “Allâh”, sedangkan ketika mengeluarkan nafas lafazh dzikirnya “Huwa” (biasanya di-waqaf-kan, sehingga dibaca “Hû”, bacaan panjang). Seringkali bacaan panjang ini diabaikan oleh sebagian dari kita, sehingga kesannya seperti orang habis makan cabe yang sangat pedas. Bunyi dzikirnya terdengar “Hu, hu, hu, hu...”

Sebaiknya hal itu tidak kita lakukan, karena kita menyebut asma Allah Yang Maha Pemberi/Pemilik Cahaya (An-Nûr). Bukankah kita berharap agar hati kita senantiasa tercurahkan oleh cahaya-Nya? Memang dari segi hukum tetap sah, asalkan niatnya benar bahwa isim dhomir (kata ganti) “Huwa” menunjukkan Allah, hanya saja bacaannya kurang sempurna karena tidak dibaca panjang. Namun, apakah sopan apabila dengan tergesa-gesa kita menyebut Dzat yang menciptakan kita? Bukankah menyebut nama presiden saja harus dengan hormat? Apalagi menyebut asma Beliau Yang Maha Raja/Maha Berkuasa (Al-Malik). Berdzikir harus disertai sikap tawadhu‘ dan pengharapan penuh kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun (Al-Ghafûr).


Syaikh Ibnu Athaillah memberi nasihat tentang anugerah Allah berupa nafas, “Setiap tarikan nafas yang dihembuskan, di dalamnya ada ketentuan Allah. Jangan kosongkan hati dari mengingat Allah, sebab dapat memutuskan murâqabah (pengawasan) anda dari hadirat-Nya. Janganlah keheranan karena terjadinya hal-hal yang mengeruhkan jiwa, karena itu sudah menjadi sifat dunia selama anda berada di dalamnya.”


Di dalam perjalanan hidup anak Adam di permukaan bumi ini, tidaklah seorang hamba terlepas dari problema yang berlaku pula bagi manusia lainnya. Setiap tarikan nafas anak Adam menjadi pertanda bahwasanya persoalan-persoalan yang sama selalu berulang. Hal ini karena segala yang sudah, sedang dan akan terjadi berjalan di atas rencana Allah jua. Dan semua ketetapan dan rencana Allah berlaku untuk setiap orang, di mana kita berada di dalamnya. Tugas hamba Allah dalam mengikuti rencana-Nya, tidak lain adalah menaati hukum-Nya serta mengikuti takdir-Nya dengan hati ridha dan sabar, setelah bekerja keras dengan cara yang cerdas.


Bila kita menginginkan agar jumlah bilangan dzikir lafzhul Jalâlah lebih banyak, maka dzikir di di dalam hati ini bisa diselaraskan sesuai detak jantung (qalb); dengan lafazh dzikir hanya “Allâh” atau “Huwa”. Bila kita senantiasa berdzikir kepada Allah, niscaya Allah juga berdzikir (ingat) kepada kita, di dunia ini dan terutama di akhirat kelak.


فَاذْكُرُوْنِيۤ أَذْكُرْكُمْ


Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. (QS al-Baqarah [2] : 152)


KH. Asrori al-Ishaqi—pendiri Pesantren Al-Fithrah Jl. Kedinding Lor Surabaya—pernah menasihatkan agar pada saat dzikir sirri (di dalam hati), lidah kita ditekuk ke atas kemudian ditempelkan ke langit-langit rongga mulut. Ini untuk melatih kita pada saat ajal akan menjemput (sakaratul maut). Pada situasi itu, tenggorokan akan terasa sangat kering dan lidah begitu ngilu sehingga seakan tidak bisa digerakkan. Menjelang kematiannya, setiap orang akan melakukan kebiasaan selama hidup.


Supaya kita husnul khâtimah, maka harus dilatih mulai sekarang. Memang, saat kita segar-bugar, hal itu terasa ringan. Namun, akan sangat berbeda bila sang malaikat pencabut nyawa—‘Izrail—sedang berada di hadapan kita. ‘Izrail akan terlihat sangat tampan bila amal ibadah kita baik, namun sungguh mengerikan bila kita bukan orang yang bertakwa.


Agar mendapat pertolongan-Nya ketika ajal menjelang, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا ِفيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ

Ya Allah, mudahkanlah bagi kami ketika sakaratul maut, amin.

Daftar Pustaka :
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#