Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label ibadah. Show all posts
Showing posts with label ibadah. Show all posts

Friday, April 1, 2011

Tidak Ada Amalan Sepele

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS az-Zalzalah [99]:7)


Prof. M. Quraish Shihab menerangkan bahwa tidak ada amal kecil di akhirat nanti. Amal sekecil apa pun menurut kita di dunia ini akan menjadi berita besar (Naba’). Oleh karena itu arti kata “Nabi” adalah pembawa berita besar.

عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ . عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita besar (QS an-Naba' [78]: 1-2)

Di tafsir Ibnu Jarir ath-Thabary, ada beberapa pendapat mufassir tentang maksud “Berita besar,” yaitu:

1. Al-Qur'an: أريد به القرآن

2. Kebangkitan setelah mati: وهو البعث بعد الموت

3. Hari Kiamat: يوم القيامة


Berikut ini hal-hal yang menunjukkan bahwa amal sekecil apa pun menurut kita, mempunyai dampak yang sangat besar:


1. Kisah wanita tuna susila yang diampuni dosanya karena memberi minum anjing yang sedang kehausan.


غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ

Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, "Anjing ini hampir mati kehausan". Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari)


أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِي يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنْ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا


Pada suatu hari yang sangat panas seorang wanita tuna susila melihat seekor anjing, anjing tersebut mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan, maka kemudian wanita tersebut mencopot sepatunya dan memberi minum anjing tersebut. Allah pun kemudian mengampuni dosa-dosanya. (HR Muslim)


2. Kisah di kitab “Al-Mawâ‘izh al-‘Ushfûriyyah” karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar tentang Sahabat Umar bin Khattab ra. dan seorang anak kecil.

Suatu hari Sahabat Umar Bin Khattab ra. berjalan menyusuri lorong-lorong Madinah. Sampailah beliau di suatu tempat di mana ada seorang anak sedang memegang seekor burung emprit (‘ushfûri) dan memainkannya.

Sahabat Umar ra. tak tega melihat kondisi burung yang nampak ingin terbang bebas tanpa himpitan tangan si anak. Oleh karena rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah, maka dibelilah burung itu, lalu dilepaskan.

Suatu ketika—setelah Sayyidina Umar bin Khattab meninggalkan dunia fana ini—banyak ulama bermimpi bertemu beliau. Para ulama bertanya tentang keadaan beliau,

“Apa yang telah Allah perbuat padamu, wahai Sahabat Umar?”

“Allah telah mengampuniku dan mengesampingkan siksaan untukku,” jawab Sahabat Umar.

“Hal apakah yang membuatmu diperlakukan demikian? Apakah karena kedermawananmu? Atau karena keadilanmu? Ataukah karena kezuhudanmu?”

“Ketika kalian meletakkan aku ke dalam liang lahat, menutupinya dengan tanah, lalu meninggalkan aku sendiri, datanglah dua malaikat yang membuatku ketakutan. Mereka memegangku, mendudukkanku kemudian hendak menanyaiku. Tiba-tiba aku mendengar Allah berseru kepada para malaikat,

‘Janganlah kalian membuat takut hamba-Ku karena Aku meyayanginya. Sesungguhnya ia telah menyayangi burung emprit tatkala di dunia, maka rahmat-Ku terlimpah kepadanya.’”


Wallâhu a‘lam bish shawâb.

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Allah menyanyangi orang-orang penyayang. Sayangilah seluruh makhluk di muka bumi, niscaya seluruh penghuni langit akan menyayangimu. (HR Abu Daud, Ibnu Abi Syaibah, Thabrani dan Tirmidzi)


3. Prof. Quraish Shihab menceritakan bahwa suatu ketika Imam Ghazali ketika menulis, lalu ada lalat meminum tinta beliau. Beliau bersyukur karena peristiwa ini terjadi. Beliau menyatakan bahwa mungkin amal inilah yang akan menyelamatkan beliau di alam berikutnya.

Al-Ghazali menasihatkan dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, “Janganlah engkau menghina ketaatan sekecil apa pun hingga membuat engkau tidak mengerjakannya, dan kemaksiatan sekecil apa pun hingga membuat engkau tidak meninggalkannya. Seperti wanita pemintal yang malas untuk memintal benang, karena ia hanya mampu mengerjakan satu benang saja dalam satu jam, dan ia berkata, ‘Apa manfaatnya satu benang itu? Kapan akan dapat menghasilkan satu baju?’ Ia tidak menyadari bahwa seluruh baju di dunia ini diciptakan dari satu benang dengan benang lainnya, dan seluruh dunia yang luas ini disusun dari atom-atom kecil. Maka, berdoa dengan menangis dan istighfar dengan hati adalah kebaikan yang tidak akan sia-sia di sisi Allah SWT.”


Dalam keseharian, berikut ini contoh ibadah yang terlihat kecil/sederhana bagi kita sehingga sering terabaikan:

1. Bila lampu lalu lintas berwarna merah, maka kita harus berhenti. Bahkan ada yang menerangkan bahwa saat lampu kuning kita siap-siap berhenti, bukan melaju kendaraan sekencang mungkin.

Janganlah kita memotong hak orang lain Mungkin ada yang sedang tergesa-gesa, misalnya ada keluarga yang sakit, memenuhi undangan penting, menuju bandara atau lainnya.

2. Kalau ada mobil/motor hendak belok kanan kemudian menyalakan lampu riting/sein kanan, kita lewat sebelah kirinya bila ingin melewati/mendahului, bukan menyalip lewat kanan, karena mobil/motor tersebut mau belok kanan.

Kejadian ini beberapa kali penulis alami. Saat penulis mau belok kanan sambil menyalakan lampu sein kanan, ternyata pengendara motor di belakang penulis malah menyalip dari kanan. Kondisi ini tentu menyulitkan kedua belah pihak. Anehnya, pengendara tersebut marah-marah kepada penulis. Sungguh, pemahaman bahwa sesama muslim bersaudara, agar kita menghormati orang lain dan sejenisnya hanya ada di masjid dan pengajian. Adakah pemahaman tersebut masih ada di jalan raya?!

3. Di toilet umum, bila ada yang buang air kecil tapi belum disiram, kita siram saja supaya orang lain tidak terganggu. Tidak perlu mengomel, cukup tindakan. Tapi, bila kita yang buang air, jangan lupa disiram.

4. Membuang sampah di tempat yang disediakan.

Penulis yakin kita bisa menambah daftar tersebut sampai berpuluh-puluh baris.

Mungkin kita membantah dengan beragumen, “Tapi kan, saya sudah shalat wajib, shalat tahajud, puasa, baca Al-Qur'an, sedekah dan berbagai ibadah lain. Cukuplah itu semua untuk tabungan di akhirat nanti. Jadi wajar kalau amal-amal kecil seperti yang dicontohkan tidak saya kerjakan.”

Coba kita jawab pertanyaan berikut ini:

“Apakah malaikat pernah mengabari kita bahwa semua ibadah kita diterima oleh Allah?”
“Apakah malaikat pernah memberi tahu kita bahwa dosa kita telah diampuni-Nya?”


Tidak ada yang tahu apakah segala macam ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Allah atau sebaliknya.
Tidak ada yang tahu mana di antara amal ibadah kita yang akan menyelamatkan kita.


Jika memang amal yang terlihat remeh-temeh menurut kita tak perlu dikerjakan, lantas buat apakah Allah berfirman seperti di QS az-Zalzalah [99]:7? Buat apakah Imam Ghazali memberi nasihat agar jangan meremehkan amal sekecil apapun sehingga kita tidak melaksanakannya? Buat apa para ulama melakukan amal-amal yang tampak kecil sedangkan beliau-beliau senantiasa menunaikan ibadah-ibadah wajib dan sunnah secara istiqamah?


Dengan kenyataan ini, apakah kita masih meremehkan amal-amal yang terlihat kecil menurut kita?


Daftar Pustaka:

  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits
  • Muhammad bin Abu Bakar, asy-Syaikh, “Al-Mawâ‘izh al-‘Ushfûriyyah”

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, February 25, 2011

Kala Semangat Ibadah Menurun (2 of 2)

3. Bila kita mimpi bertemu Rasulullah saw.


مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَخَيَّلُ بِي
Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma sepertiku. (HR Bukhari dan Muslim. Adapun lafazh hadits menurut riwayat Imam Bukhari)

Bagaimana bila kita mimpi bertemu Rasulullah saw. dan beliau bertanya tentang keseharian kita? Apa yang akan kita katakan?

Tidakkah kita malu bila kondisi kita malas beribadah?
Tidakkah kita malu jika keadaan kita jauh sekali dari yang beliau harapkan?
Tidakkah kita malu kalau mushaf Al-Qur’an di rumah kita hanya sebagai pajangan?
Tidakkah kita malu jikalau hari demi hari kita lalui tanpa aktivitas berarti?
Tidakkah kita malu?!


4. Berkumpul dengan orang-orang yang punya semangat ibadah tinggi

Ketika baterei melemah, sudah semestinya di-charge. Kita butuh energi untuk menguatkan kondisi keimanan diri, salah satunya berkumpul dengan orang-orang yang memiliki semangat ibadah tinggi.

Tidaklah mengherankan saat berada di masjid kita jadi alim.
Tidaklah mengagetkan jika di pesantren para santri tekun shalat berjamaah.
Tidaklah aneh waktu di ruang kelas siswa-siswi rajin belajar.
Tidaklah memukau saat di sasana seluruh atlet giat berlatih.
Tidaklah mengagumkan kala di padepokan silat semua calon pendekar senantiasa mengolah jurus.

Berkaca pada kejadian nyata, maka berada di tengah-tengah orang/perkumpulan yang semangat ibadahnya tinggi akan mengembalikan energi kita dalam mengabdi kepada Allah.

Berada di tengah-tengah orang/perkumpulan yang semangat ibadahnya tinggi akan membuat kita tahu bahwa ibadah kita masih jauh dari harapan.

Berada di tengah-tengah orang/perkumpulan yang semangat ibadahnya tinggi akan menjadikan diri kita memiliki rasa malu karena ibadah yang tak seberapa.

Berada di tengah-tengah orang/perkumpulan yang semangat ibadahnya tinggi dapat menjadi pelecut semangat, penguat asa dan penjaga stabilitas jiwa dalam beribadah.
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang mengikuti agama kawannya. Karena itu, lihatlah olehmu siapakah yang menjadi kawannya. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ قَالُوْا بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ الَّذِيْنَ إِذَا رُءُوْا ذُكِرَ اللهُ تَعَالَىَ


Maukah kalian kukabari tentang orang-orang pilihan (terbaik)? Sahabat menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau lalu berkata, “Yaitu orang-orang yang jika dilihat, diingat (pula) Allah Ta‘âla.” (HR Ahmad. Imam al-Haitsami juga mencantumkannya di “Majma‘ az-Zawâid”)

5. Semua kegiatan diniati ibadah


Rumus sederhana saat semangat ibadah tinggi adalah, “Selain mengerjakan ibadah wajib & amalan sunnah yang istiqamah kita lakukan, sapu (lakukan) semua amal ibadah sunnah yang bisa atau sempat kita kerjakan.”

Adapun ketika semangat ibadah turun yaitu, ”Kerjakan ibadah wajib & amalan sunnah yang istiqamah kita lakukan (menjadi andalan). Misal kita senantiasa shalat Dhuha 2 rakaat setiap hari. Di kondisi apa pun, jangan sampai amalan ini kita tinggalkan.”
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُِئلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ


Bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, “Amal apakah yang paling disukai Allah?” Jawab beliau, “Yang paling mudawamah (terus-menerus atau istiqamah) sekalipun sedikit.” (HR Muslim)

Janganlah juga kita lupakan bahwa setiap kegiatan bisa bernilai ibadah, tergantung niat kita. Oleh karena itu, sertakan niat ibadah dalam keseharian.

Bekerja diniati ibadah untuk memberi nafkah keluarga, membeli pakaian untuk shalat, melaksanakan zakat, menunaikan haji dan sebagainya.

Sekolah, kuliah, kursus atau training diniati ibadah guna menuntut ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan orang lain.
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR al-Qudha‘i – hadits hasan)

أَحَبُّ النَّاسِ إِلىَ اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat. (HR Thabrani – hadits hasan lighayrih)

Banyak hal, bahkan yang bersifat mubah berubah menjadi ibadah bila disertai niat karena Allah.

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya setiap amal tergantung niat dan Sesungguhnya bagi setiap orang apa yang telah menjadi niatnya. (Muttafaq ‘alayh)

Di kitab Tawdhîhul Ahkâm–syarah Bulughul Maram, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam menerangkan bahwa hadits tentang niat inilah yang menjadi landasan salah satu kaidah fiqh, “Setiap urusan/perkara tergantung maksud/niatnya.”
القاعدة الأولى من القواعد الكبرى: الأمور بمقاصدها
دليلها: قوله صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات

Ke-5 tips praktis yang dikemukakan di artikel ini berdasarkan ilmu dan pengalaman penulis. Setiap kita bisa menambahkan tips-tips praktis lainnya, yang mungkin lebih sesuai dan tepat untuk pribadi masing-masing.

Semoga Allah senantiasa menolong dan memberi hidayah kepada kita sehingga kita selalu dalam keadaan berbakti kepada-Nya, amin.



Daftar Pustaka:
  • Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, asy-Syaikh, “Tawdhîhul Ahkâm min Bulûghil Marâm”

  • Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, “Riyâdhush Shâlihîn”

  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006

  • Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits

  • Salim Bahreisy, “Tarjamah Riadhus Shalihin I dan II (karya Syaikh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi)”, PT Alma‘arif

Tulisan ini lanjutan dari : Kala Semangat Ibadah Menurun (1 of 2)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, June 25, 2010

Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (1 of 12)

“Saat ini kita sering membaca doa, tapi sebenarnya kita tidak berdoa. Oleh karena itu, terkabulnya doa kita juga susah, karena memang kita tidak pernah berdoa.” Itulah pesan seorang Ibu Nyai dari Gresik dalam salah satu mau‘izhah (ceramah)-nya.


Ya, memang itulah kenyataan yang terjadi. Jika doa yang akan kita panjatkan berbahasa Arab, maka kita hanya terpaku pada bagaimana membacanya dengan baik dan benar sesuai tajwid, serta lagu yang indah. Sedangkan hati kita amat jauh dari syarat seorang hamba berdoa kepada Tuhannya. Begitu pun jika kita berdoa dalam bahasa Indonesia. Seharusnya kita bisa lebih menghayatinya, namun kita sering tergesa-gesa untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, doa hanyalah sebagai syarat saja, dan hakikatnya memang kita tidak berdoa, tapi membaca doa.


Kita juga sering memandang doa dengan kurang tepat. Kita menganalogikan doa seorang hamba kepada Allah seperti permintaan seorang anak kepada orang tuanya. Apakah berbeda? Ya. Sebelum kita bahas lebih detail tentang hakikat doa, marilah kita perhatikan bagaimana seorang anak meminta sesuatu kepada orang tuanya.


Seorang anak akan malu kalau sering meminta kepada orang tuanya. Ada pula yang merasa diri sudah mandiri, karena itu merasa tidak perlu bahkan tidak pantas kalau masih meminta. Jika ada anak meminta pada orang tua, setelah berkali-kali meminta namun tidak diberi, maka biasanya ada tiga kemungkinan sikap yang akan diambil sang anak.


Sikap pertama, dia jadi tidak bersemangat lagi meminta karena dianggap tidak ada gunanya. Bisa jadi akhirnya dia tidak pernah lagi meminta karena trauma dengan kondisi sebelumnya. Sikap kedua, dia marah pada orang tuanya karena sudah berulang kali meminta namun tidak dikasih juga. Karena marahnya, dia bisa melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh orang tuanya. Sikap terakhir yaitu masa bodoh. Dia kadang meminta, kadang juga tidak. Kalau meminta, dia juga tidak terlalu berharap akan dikabulkan karena dia tahu bahwa orang tuanya tidak mempunyai sikap yang jelas.


Kedudukan doa tidak bisa disamakan dengan permintaan seorang anak kepada orang tuanya. Oleh karena itu, marilah kita pelajari bersama-sama kedudukan dan hakikat doa. Dengannya, semoga kita menjadi hamba yang ridha dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, amin.



a. Doa adalah ibadah


Doa dalam Islam termasuk ibadah. Bacaan-bacaan shalat mengandung banyak sekali doa. Doa juga dibaca saat akan makan dan sesudahnya, sebelum tidur dan setelah bangun, ketika mau masuk kamar kecil dan tatkala keluar darinya, serta masih banyak lagi.


Di kitab “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm” terdapat hadits ke-1576 yang menerangkan tentang doa. Dari Nu‘man bin Basyir, Nabi Muhammad saw. bersabda,


إِنَّ الدُّعَـاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Sesungguhnya doa adalah ibadah.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

Bahkan, doa adalah saripati ibadah (mukh al-‘ibâdah), sebagaimana sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:


الدُّعَـاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

Doa adalah intisari/saripati/otak ibadah. (HR Tirmidzi)

Dengan demikian, doa bukan hanya permintaan kita kepada Allah, namun perintah kepada umat Islam. Dengannya, kita memenuhi perintah Allah dan rasul-Nya, dan yang pasti berpahala jika mengerjakannya.


Katakanlah! Tuhanku tidak menghiraukan kamu seandainya tidak ada doamu. (QS al-Furqân [25]: 77)


Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS al-Mu’min [40]: 60)


Karena doa adalah ibadah, bahkan intisarinya, maka memperbanyak doa berarti memperbanyak ibadah. Semakin banyak berdoa bukanlah berarti kita tidak mandiri, justru Allah akan senang sekali jika kita banyak memohon. Itu menunjukkan kehambaan kita kepada Allah. Jika memang berdoa layaknya permintaan seseorang kepada seseorang yang lain, mengapakah Rasulullah mengajarkan doa untuk setiap hal atau kegiatan? Kenapa di dalam shalat terdapat begitu banyak doa? Bukankah seseorang akan jengah jika terus-menerus dimintai bantuan? Hal ini tidaklah sama dengan Allah Yang Maha Kaya (Al-Ghaniyy).


Memang, kaum sufi rata-rata malu berdoa. Namun, itu hanya doa-doa yang berhubungan dengan hajat keduniaan. Mereka merasa sudah cukup, bersyukur, ridha terhadap apa pun pemberian Allah Yang Maha Pemberi Rejeki (Ar-Razzâq) kepada mereka. Sedangkan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. tetaplah mereka lakukan. Sebagian di antara mereka tetap berdoa, apa pun isi doanya, karena mereka mengetahui bahwa itu diperintahkan—dan itu berarti mereka melakukan ibadah, untuk menjalankan ajaran Rasulullah dan mengabdi kepada Allah Yang Maha Pencipta (Al-Khâliq).


Di antara rasa malu karena takut dianggap tidak bersyukur serta tidak ridha atas karunia yang diterima dan kewajiban berdoa karena diperintahkan, akhirnya diambil jalan tengah oleh para sufi. Jika dalam suatu kondisi, dengan berdoa dirasa lebih utama, maka mereka berdoa. Hal ini tidak menggugurkan maqam ridha. Namun, apabila berada di situasi yang dianggap diam lebih baik, maka mereka berdiam diri, bersyukur dan ridha atas apa pun yang dianugerahkan oleh Allah. Ini berarti, mereka tetaplah berdoa kepada Allah, karena doa adalah ibadah.


Doa adalah cara seorang hamba melahirkan isi hatinya di hadapan Allah, karena si hamba memerlukan Allah dan tahu akan kekurangan serta kelemahannya. Di sini hamba menempatkan dirinya sebagai ‘âbid (penyembah) di hadapan Ma‘bûd (Yang disembah). Si hamba mengadukan persoalannya dan menuturkan ketidakmampuannya.


Ibnu Athaillah berpesan, “Jangan sampai permohonanmu kepada Allah hanya sebagai alat untuk mendapatkan pemberian-Nya, karena perbuatan seperti itu berarti engkau tidak memahami kedudukanmu terhadap-Nya. Bermohonlah dengan melahirkan dirimu sebagai hamba, karena kewajibanmu terhadap Tuhanmu.”


Abu Nasr as-Saraji menuturkan bahwa ia telah menanyakan kepada para Syaikh tentang orang berdoa dengan seluruh penyerahan diri kepada Allah. Mereka menjawab, “Berdoa kepada Allah ada dua maksud. Pertama sebagai hiasan lahiriah si hamba dengan doa yang dikehendakinya, karena doa adalah tanda khidmatnya hamba kepada Tuhannya. Sebab khidmat itu, si hamba berkehendak agar seluruh anggota lahirnya terhias. Kedua, bahwasanya doa itu adalah perintah Allah, dan si hamba menaati perintah itu.” Dalam hal ini ada seorang penyair yang mengatakan:


Jika air Nil tidak lagi mengalir,
aku tidak akan memohonnya dari uluran telapak tangan-Mu,
kalau saja Engkau tidak mengajariku berdoa

Abu Hasan menjelaskan, “Jangan sampai yang menjadi tujuan doamu itu hanya tercapainya permintaan dan hajatmu. Sebab, apabila cara itu yang engkau lakukan, maka terhijablah (terpisah oleh ”tirai” penutup) engkau dengan Allah. Yang benar, jadikanlah doa-doamu itu munajat (bisikan jiwa) antara engkau dengan Tuhanmu.”


Ibnul Qayyim menerangkan:


إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ ذِكْرٌ لِلْمَدْعُوْ سُبْحَانَهُ

Sesungguhnya doa adalah dzikir kepada Yang dimohon, yaitu Allah Subhânahû wa Ta‘âlâ.

Oleh karena doa adalah ibadah dan doa juga bisa dikategorikan sebagai dzikir untuk mengingat Allah, maka tidak ada alasan untuk malas berdoa, marah karena doa belum dikabulkan, acuh tak acuh terhadap doa dan hal-hal lain yang membuat kita enggan berdoa. Apa pun yang terjadi, doa harus tetap dipanjatkan dengan penuh keyakinan pada Allah Jalla Jalâluh.


Allah senang jika engkau memohon pada-Nya
Sedangkan engkau melihat manusia marah jika ia dipinta
Jangan pernah memohon pada sesama manusia sesuatu pun kebutuhan
Tapi mohonlah pada Yang pintu-Nya tak pernah terhalang
(buah karya ‘Aidh al-Qarni)


Sebagai bukti bahwa Allah senang terhadap para hamba yang memohon kepada-Nya, di dalam Al-Qur’an, Allah memuji sebagian hamba-Nya yang berdoa.


Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‘ kepada Kami. (QS al-Anbiyâ’ [21]: 90)


Di kitab “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm” tercantum hadits ke-1578 yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia merafa‘kannya.


لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَـاءِ

Tidak ada satupun (amal hati) yang lebih mulia dalam pandangan Allah dibandingkan doa. (HR Ibnu Hibban dan Hakim)


Daftar Pustaka :

  • A. Hassan, “Tarjamah Bulughul Maram”, Penerbit Diponegoro, Cetakan XXIII, Oktober 1999
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Hâfizh, “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm”
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan ini berlanjut ke : Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (2 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, February 19, 2010

Buat Apa Kita Hidup? (2 of 4)

Dalam kehidupan sehari-hari, secara sadar atau tidak, sebenarnya kita telah melupakan bahwa kita hidup untuk beribadah kepada-Nya. Kita memberi informasi pada otak bawah sadar kita bahwa “menyembah” berarti ibadah ritual, sesuatu yang hukumnya wajib (fardhu) atau sunnah. Kegiatan sehari-hari kita anggap hukumnya mubah—dilaksanakan tidak berpahala, ditinggalkan pun tidak berdosa—jadi tidak termasuk ibadah. Untuk mengetahui keadaan diri, coba kita jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  • Kalau kita adalah murid sekolah atau mahasiswa, apa tujuan kita pergi ke sekolah, kuliah atau mengikuti bimbingan belajar?
  • Jika kita adalah pegawai dan suatu saat mengikuti kursus atau training, apa tujuan kita?
  • Sebagai orang yang sudah bekerja, buat apa kita bekerja?
  • Apabila ada tamu bertandang ke rumah, kemudian kita suguhkan sekadar makanan ringan, apa niat kita saat menyajikannya?
  • Tatkala kita akan mengikuti rapat, musyawarah, konferensi, muktamar atau sejenisnya, adakah yang kita niatkan dari rumah?
  • Jikalau kita membersihkan kamar kos, rumah, lingkungan atau sekolah (bagi para siswa), apa yang kita katakan di dalam hati sebelum melaksanakannya?
  • Saat kita membeli pakaian, kendaraan, rumah atau yang lain, apa niat kita?
Apakah dalam jawaban-jawaban tersebut, kita menyebut asma Allah? Apakah lafazh “Allah” terkandung di dalamnya? Jika tidak, mengapa?

Para ulama (terutama masa lampau) telah mengajarkan kepada kita agar berniat ketika melaksanakan sesuatu semata-mata karena Allah meski asalnya berstatus mubah, misal makan dan minum. Saat makan kita berniat agar kuat menjalankan ibadah lain, seperti membaca Al-Qur’an dan shalat. Ketika menyuguhkan hidangan untuk tamu, contoh niatnya adalah, “Saya niat menghormati dan memuliakan tamu karena Allah Ta‘âlâ.”

Waktu cepat berlalu. Zaman telah berubah, kebiasaan pun mengikutinya. Kandungan lafazh “Allah” dalam setiap niat dihilangkan demi mempersingkat kalimat, mempercepat waktu dan praktisnya kegiatan. Pada awalnya, walaupun lafazh “Allah” dihilangkan dari niat, tetaplah pada diri setiap insan selalu ingat bahwa itu semua untuk Allah. Dalam konteks bahasa, hal ini disebut Majas Metonimia.

Majas Metonimia adalah majas yang mengungkapkan sesuatu dengan menyebutkan sebagian dari orang atau barang yang dimaksud. Contoh penggunaannya adalah, “Saya suka membaca Chairil Anwar”. Yang dimaksud adalah, “Saya suka membaca puisi karya Chairil Anwar.” Contoh lain yang sering kita gunakan dalam keseharian yaitu, “Saya ingin membeli lima dos Aqua, Ades, Cheers, Vit dan Club.” Semua itu nama merk air minum dalam kemasan. Tanpa disebutkan “air minum dalam kemasan”, semua orang sudah mengerti maksudnya.

Bumi terus berotasi dan berevolusi. Waktu terasa lebih cepat berlalu. Zaman sudah modern, perbuatan pun tunduk padanya. Bagi sebagian orang, 24 jam sehari terasa sangat kurang untuk menjalankan beragam aktivitas. Di era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau dalam bahasa Inggris disebut Information and Communication Technology (ICT) ini, berniat sudah dianggap membuang-buang waktu. Akhirnya setiap kegiatan dilakukan tanpa niat. Pokoknya, tahu sama tahu, sama seperti kemarin—idem.

Seperti kita pahami bersama, kita dibentuk oleh kebiasaan yang kita lakukan. Sebagai manusia, kita pun mempunyai sifat lupa. Sifat lupa ini sebenarnya banyak sisi positifnya. Andaikan ada seseorang tidak pernah lupa, tentu ia tidak akan bisa istirahat, apalagi tidur. Ia akan teringat akan masa lalunya yang bisa saja tidak menyenangkan. Apakah ia tidak akan trauma? Di sisi lain, karena kita terbiasa menghilangkan niat, maka kita akan lupa bahwa niat harus ada. Karena kita meniadakan lafazh “Allah” dalam niat, kita juga dibuat lupa bahwa harus ada Dzat sebagai tujuan kita.

Sebagai hasilnya, kita tidak merasa bahwa segala yang kita lakukan adalah ibadah kepada Allah. Ibadah-ibadah ritual sajalah yang benar-benar kita niatkan untuk-Nya. Itu pun karena niat termasuk rukun dalam ibadah tersebut, dan batal/tidak sah jika tidak melakukannya. Dan, kebiasaan-kebiasaan seperti itulah yang membuat kita merasakan kedekatan diri dengan Allah hanya saat di dalam masjid, sedangkan di luar masjid, semua kegiatan kita tidak ada urusan dengan Allah. Begitulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih “menakjubkan” lagi, jika pada masa kini ada seseorang yang tetap menjaga niat dalam setiap kegiatan, banyak orang akan menyebutnya ketinggalan zaman, tidak praktis, atau lebih parah lagi, “sok alim”.

“Sok alim”, sebuah mantra yang bisa menggoyahkan keinginan untuk senantiasa dalam kebaikan.

“Sok suci”, sebuah mantra lain yang bisa menghancurleburkan semangat untuk meninggalkan perbuatan tidak baik.

Perlu kita pahami lagi bahwa hidup ini antara kita dengan Allah. Janganlah kita sibuk mengurusi kekurangan orang lain, meremehkan apalagi mencemoohnya. Sebaliknya, jika ingin beribadah, jangan pula kita dipusingkan oleh ungkapan-ungkapan yang kurang enak didengar. Kita beribadah untuk mengabdi kepada-Nya, bukan untuk sebutan alim, shaleh atau sejenisnya.
Jadi, kalau dikatakan “sok alim”, jawab saja bahwa kita bukan orang alim. Jika disindir “sok suci”, katakan saja bahwa kita ini banyak dosa, tidak ada orang suci, kecuali para nabi dan rasul. Dengan menyadari dan mengakui kekurangan diri, kita tidak akan terbebani dengan sebutan-sebutan di atas. Terkadang, kalau sindiran tidak ditanggapi, atau hanya dibalas dengan senyuman, maka lama-kelamaan akan hilang sendiri. Tentang respons yang tepat, memang kondisional. Tugas kita adalah mencari cara untuk tetap berhubungan baik dengan siapa pun—karena itu juga ibadah, dan istiqamah melakukan kebaikan lainnya demi mengabdi kepada Allah.

Allah menganugerahkan umur sebagai simpanan kita. Dalam pandangan Allah, umur kita adalah umur yang pendek, bagai awan lalu. Jika kita mempergunakannya dengan baik, maka kita menjadi penghuni kenikmatan, surga nan abadi. Sebaliknya, apabila umur kita salah gunakan, maka neraka telah siap menanti.

Maka, wajib bagi kita untuk bersegera melaksanakan perbuatan shaleh sebelum tidak dapat melaksanakannya, sebelum dihalangi oleh pekerjaan, penyakit atau kematian. Rasulullah saw. bersabda:

اِغْـتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Jagalah (manfaatkanlah) lima perkara sebelum datang lima perkara : masa mudamu sebelum tua, waktu sehatmu sebelum jatuh sakit, masa kayamu sebelum jatuh miskin, waktu luangmu sebelum kau sibuk dan hidupmu sebleum matimu. (HR Hakim dan Baihaqi)

نِعْمَتَانِ مَغْـبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ : اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua nikmat yang membuat banyak orang tertipu, (yaitu) kesehatan dan waktu luang. (HR Bukhari)
Daftar Pustaka:
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
http://id.wikipedia.org/wiki/Majas

Tulisan ini lanjutan dari : Buat Apa Kita Hidup? (1 of 4)
Tulisan ini berlanjut ke : Buat Apa Kita Hidup? (3 of 4)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, February 12, 2010

Buat Apa Kita Hidup? (1 of 4)

Beragam pertanyaan diajukan tentang hidup. Pertanyaan ini tetap saja ada, hanya dari orang yang berbeda atau penanya adalah generasi baru yang belum pernah menerima pengajaran tentangnya.

“Kita hidup untuk bekerja ataukah bekerja untuk hidup?”

“Kita makan untuk hidup ataukah kita hidup untuk makan? Senyampang masih hidup, kita harus pernah mencicipi makanan dan minuman beraneka ragam dari berbagai daerah atau negara. Tidak perlu menanyakan halal atau haram, yang penting kita sudah pernah merasakannya. Begitukah?”

“Kita menggeluti dunia seni untuk hidup, hidup untuk seni, ataukah seni untuk seni?”

Para ulama sudah menjelaskan dengan sangat gamblang dan itu pun berulang kali, “Kita hidup untuk mengabdi kepada Allah, beribadah kepada-Nya.” Ibadah yang dimaksud adalah ibadah dalam arti seluas-luasnya, tak terbatas pada ibadah mahdhah (ibadah murni atau ritual). Dengan demikian, bekerja, belajar, berorganisasi atau apa pun bisa diniatkan—sekali lagi diniatkan—sebagai ibadah semata-mata untuk-Nya. Lebih lanjut, para ulama menjelaskan bahwa tujuan hidup ini adalah untuk hidup lagi, yaitu hidup sesungguhnya—hidup kekal abadi di surga nanti.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱْلإِنْسَ إِلاّ لِيَعْـبُدُوْنِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
(QS adz-Dzâriyât [51] : 56)

Dari ayat tersebut, Al-Qur’an menuntut agar kesudahan semua pekerjaan hendaknya menjadi ibadah kepada Allah, apa pun jenis dan bentuknya. Karena itu, Al-Qur’an memerintahkan untuk melakukan aktivitas apa pun setelah menyelesaikan ibadah ritual.

Banyak ulama mengartikan hidup makhluk sebagai Mâ bihî al-hissu wal-harakah, yakni sesuatu yang menjadikannya merasa/mengetahui dan bergerak. Yang tidak memiliki pengetahuan, tidak merasa, tidak juga dapat bergerak/menggerakkan dirinya sendiri, maka ia tidaklah dianggap hidup yang sesungguhnya. Pengetahuan atau kesadaran adalah menyadari dirinya sendiri. Semakin banyak pengetahuan dan kesadaran, serta semakin peka perasaan, maka semakin tinggi kualitas hidup. Oleh karena itu, hidup bertingkat-tingkat.

Hidup bagi manusia hendaknya tidak hanya terbatas pada hari ini atau sepanjang usia di dunia saja, tetapi harus melampaui generasinya, bahkan melampaui batas usia manusia di dunia ini. Memang, manusia tidak dapat hidup langgeng dan abadi sebagaimana Allah. Manusia juga tidak mampu melampaui batas usianya di dunia, tetapi ia dapat melanggengkan hidupnya dengan keharuman nama—khususnya setelah kematiannya—serta pada karya-karyanya yang bermanfaat, sehingga dinikmati manusia sepanjang masa.

Kelanggengan hidup manusia juga diraih melalui kekekalan hasil karya-karyanya itu di akhirat kelak, dalam bentuk ganjaran Ilahi, yakni surga nan abadi. Bagi orang kafir, tidak ada satu karya pun yang dapat langgeng sehingga mereka tidak akan menikmati kekekalan.

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS al-Furqân [25] : 23)

Al-Qur’an menilai ada orang-orang yang walaupun masih dapat menarik dan menghembuskan nafas, masih berfungsi otak dan beredar darahnya, tetapi dinilai sebagai orang mati, karena tidak mendengar dan memperkenankan panggilan Allah dan rasul-Nya.

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. (QS an-Naml [27] : 80)

Ada juga yang telah berhenti denyut jantungnya, telah terkubur jasadnya, tetapi mereka masih dinilai hidup oleh Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah yang artinya:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS al-Baqarah [2] : 154)

Apa yang akan terjadi bila nasihat ini benar-benar disadari oleh setiap orang? Apa yang akan kita saksikan bila setiap manusia mempraktekkan bahwa hidup ini untuk mengabdi kepada-Nya? Apa yang akan dilakukan oleh setiap insan jika semuanya ingin agar bisa benar-benar hidup dan tetap hidup dalam kematiannya?

Di setiap pertandingan olah raga, tidak akan pernah terjadi kekisruhan, kerusuhan dan pertengkaran. Setiap orang berniat bahwa olah raga yang dilakukan adalah untuk menjaga tubuh, karunia dan titipan dari Allah, agar tetap sehat, sehingga bisa senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya. Setiap orang berniat bahwa pertandingan adalah ajang silaturrahim. Dengannya, kita menambah eratnya persaudaraan dan kasih sayang. Semua itu demi mengabdikan diri kepada Yang Maha Memberi Perintah, Allah SWT.

Di setiap kejuaraan, tidak akan ada upaya-upaya yang tidak baik. Semua orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik dengan cara-cara yang baik (fastabiqul khayrât). Semua orang sadar bahwa tujuan utama mereka bukanlah meraih kemenangan, piala, trofi ataupun bonus berupa rumah, kendaraan atau uang. Semua orang berlomba dengan tujuan melaksanakan ibadah, semata-mata untuk Sang Pencipta, Allah SWT.

Di setiap organisasi, baik keagamaan, kemasyarakatan, kemahasiswaan, perusahaan, pemerintah, faksi/partai politik, atau apa pun—tidak akan ada gontok-gontokan, propaganda negatif, mendekat ke atasan/pimpinan agar aman, saling menonjolkan diri untuk sebuah kesombongan, saling menjatuhkan, saling jegal, saling sikut atau saling gasak-gesek-gosok. Semua orang bekerja sama dengan baik, indah, ramah, santun dan anggun. Setiap orang menundukkan hati dan jiwa, menyerahkan segalanya di hadapan Sang Penguasa Alam, Allah SWT.

Dalam urusan makan, setiap orang akan otomatis memilih dan memilah mana makanan yang halal—mana yang tidak dan mana yang baik (thayyib) bagi dirinya (termasuk kesehatannya)—mana yang tidak. Semuanya demi beribadah kepada Yang Memiliki Kehidupan, Allah SWT.

Pada setiap hobi, kreativitas maupun pekerjaan, setiap insan akan berlomba-lomba untuk meraih yang terbaik, yang paling bermanfaat bagi kemanusiaan serta bernilai ibadah tinggi.

Mengapa rasanya hal-hal di atas masih jauh dari kenyataan? Jauh panggang dari api? Atau diplesetkan menjadi “Jauh panggang dari sate”? Bukankah nasihat tentang buat apa kita hidup sudah sering disampaikan dalam setiap ceramah atau pengajian?


Daftar Pustaka :
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007


Tulisan ini berlanjut ke : Buat Apa Kita Hidup? (2 of 4)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, December 11, 2009

Shalat Rajin Tapi Malas Bekerja (3 of 3)

Di sebuah pointer yang berjudul “MT Morning Talk – The Relevance of Religion in Business”, Mario Teguh menasihatkan bahwa agama sangat relevan dalam bisnis.


Kita membutuhkan orang-orang yang bisa dipercaya. Untuk ketenangan berusaha, kita membutuhkan organisasi yang bisa dipercaya untuk tetap jujur, bahkan tanpa pengawasan. Dan “pengawasan” terkuat yang diketahui kemanusiaan, yang bisa membuat orang bersikap dan berlaku baik walaupun tidak diawasi adalah keyakinan kepada Beliau Yang Maha Melihat.

Kita semua menuntut perlakuan adil (fair) kepada diri kita, karena semua perkiraan dan perhitungan akan meleset bila orang tidak berlaku adil kepada kita. Semua studi kelayakan (feasibility study) adalah asumsi bahwa pasar akan berlaku fair kepada kita. Kita membutuhkan orang-orang yang takut untuk berlaku tidak adil, karena mereka meyakini perhitungan yang adil dan pasti atas tindakan mereka. Kita membutuhkan orang-orang shaleh, yang taat kepada agama apa pun yang dianutnya.

Bahkan seorang yang paling jahat, yang tidak mengenal kebaikan dan menolak melakukan kebaikan bagi siapa pun, tetap menuntut orang lain untuk tidak melakukan kejahatan kepadanya.

Mereka yang paling menolak agama adalah justru orang-orang yang paling kejam menghukum orang lain yang melakukan kepada mereka, hal-hal yang bertentangan dengan aturan kebaikan agama. Orang yang meragukan agama masih menuntut orang lain berlaku kepadanya dengan cara-cara orang beriman.

Kedua belah pihak, yang beragama dan yang belum mengakui membutuhkan agama, sama-sama sangat tidak menyukai orang munafik, yaitu orang buruk hati yang tampil dengan wajah shaleh. Orang yang kalau berbicara dia berbohong, kalau berjanji ia mengingkari dan kalau dipercaya dia berkhianat.

Memang, adakalanya kita jenuh di tempat kerja. Itu wajar dan manusiawi. Kondisi ini tidak berhubungan dengan rajin atau tidaknya seseorang dalam menjalankan shalat. Kadang kala suatu hari kita mengalami kelelahan, entah lelah fisik, lelah pikiran bahkan keduanya. Orang lelah cenderung melakukan kesalahan, lamban dan kurang efektif. Produktivitas kerja akan turun.

Robert K. Cooper, Ph.D dan Ayman Sawaf memberikan saran bahwa pada saat-saat seperti itu, kita harus menemukan cara kita sendiri yang terbaik untuk bangkit dan memperbarui diri. Mungkin cara kita adalah dengan berolah raga, menghirup udara segar di luar serta menikmati pemandangan, menyantap makanan ringan yang sehat, minum secangkir teh atau kopi hangat, guyon (berbincang humor) dengan rekan kerja atau berdzikir. Bukankah sudah dibahas sebelumnya bahwa berdzikir membuat hati tentram? Pilihan-pilihan tersebut berguna agar kita selalu dapat lebih mampu menyesuaikan diri waktu punggung terasa pegal atau waktu kita mulai merasa lelah/tegang dan untuk memperbarui diri secara teratur sepanjang hidup.

Seorang motivator mengingatkan bahwa segala sesuatu bermula dari pikiran kita sendiri. Rasa bosan, suntuk atau apa pun adalah hasil dari pikiran. Selalu mempunyai pikiran yang positif (positive thinking) adalah tips utama dalam menghadapi segala peristiwa atau kejadian. Untuk mengatasi rasa bosan atau suntuk di tempat kerja bisa dengan cara merubah rutinitas kerja, misalnya dengan merubah urutan kerja sehari-hari atau dengan menambahkan hal atau kegiatan baru dalam rutinitas tersebut. Melakukan lagi kegiatan ketika masih kecil juga dapat membuat pikiran menjadi tenang dan hati menjadi riang gembira.

Rhenald Kasali memberi tips agar seseorang betah di tempat kerja sebagaimana dia betah berada di rumah. Ada perbedaan antara house dan home, yang dalam bahasa Indonesia kedua-duanya diterjemahkan menjadi rumah. House lebih ditekankan pada bangunan fisik, sedangkan home pada suasana rumah. Orang betah di rumah, karena merasakan rumah sebagai tempat yang teduh dan menenangkan jiwa. Dengan demikian suasana home harus ada di kantor sehingga orang tetap semangat dalam bekerja. Work hard (bekerja dengan keras) harus dibarengi dengan work heart (bekerja dengan hati). Bekerja dengan hati membuat seseorang merasakan kantor sebagai home kedua. Orang tidak akan merasakan pekerjaan sebagai sebuah beban, tapi sebagai sesuatu yang menyenangkan laksana melakukan pekerjaan rumah, seperti berkebun.

Mario Teguh menasihatkan kalau kita melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri, biasanya akan sering muncul kejenuhan. Begitu pun di dunia kerja. Tapi, kalau kita bekerja untuk kebaikan orang lain, misalnya anak-anak kita tercinta, suami atau istri terkasih dan anggota keluarga lain yang anggun, maka kita akan selalu mendapatkan inspirasi sehingga tidak mudah bosan. Intinya, niatkanlah agar semuanya untuk memuliakan, melayani dan memberi keuntungan kepada orang lain.

Tokoh agama pun mengingatkan kita untuk meluruskan niat dalam bekerja. Bekerja hakikatnya adalah ibadah, bukan sekadar mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja harus diniati untuk mengabdi kepada Tuhan dan mengharapkan ridha-Nya. Hasil kerja bisa untuk membeli pakaian yang digunakan untuk menutup aurat dan shalat, mengeluarkan sedekah dan zakat, membantu anak yatim atau korban bencana, memberikan sedikit oleh-oleh untuk orang tua, menyekolahkan anak, pergi umrah dan haji serta ibadah-ibadah lainnya yang sulit kita lakukan bila tidak ada uang. Dengan begitu, semangat dalam bekerja berarti sama dengan semangat dalam mengabdi kepada-Nya.

Bekerja keras dengan memanfaatkan semua karunia, anugerah dan nikmat yang dilimpahkan oleh Allah sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya termasuk salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah, sebagaimana firman-Nya,

ٱعْمَلُوْاۤ ا ٰلَ دَاوُ ُدَ شُكْرًا، وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS Saba’ [34] : 13)

Supaya senantiasa dalam inayah-Nya, marilah kita bersama-sama bermunajat kepada Allah :

اللَّهُمَّ إِناَّ نَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari lemah bertindak (pesimis/putus asa) dan malas, amin.

Daftar Pustaka :
  • Mario Teguh, “MT Morning Talk – The Relevance of Religion in Business”, Mei 2005
  • Robert K. Cooper, Ph.D dan Ayman Sawaf, “Executive EQ – Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi”, PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Keempat : Januari 2001
Tulisan ini lanjutan dari : Shalat Rajin Tapi Malas Bekerja (2 of 3)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, September 25, 2009

Renungan Idul Fitri : Antara Ketulusan, Tradisi dan Basa-Basi (2 of 2)

Ketulusan adalah bahasa kalbu yang tertanam (ter-install) dalam fitrah manusia.

Ketulusan adalah bahasa universal yang dapat menembus batas gender, usia, suku dan wilayah.

Ketulusan adalah bahasa yang bisa dimengerti orang awam, dipahami cerdik cendekia, didengar si tuna rungu, dilihat sang tuna netra dan dirasakan setiap jiwa.

Ketulusan adalah hiasan indah, namun beribu sayang kita sering membuang serta mengabaikannya seolah sepatu usang.

Ketulusan tak kan lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas, dan tak kan menua karena usia zaman.

Ketulusan itu sejernih tetes embun, sehangat dekapan ibu, seindah lukisan alam dan seharum wewangian surga.

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لاَ نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلاَ شُكُوْرًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS al-Insân [76] : 9)

Tak peduli dengan jatuhnya gengsi, permintaan maaf harus kita haturkan bila memang kita bersalah, tanpa perlu berbelit-belit membuat argumentasi pembenaran perilaku diri.

Tak peduli apa pun sikap orang lain—apakah mereka minta maaf atau tidak—pemberian maaf seharusnya kita curahkan kepada siapa pun. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa sepanjang penelitiannya, beliau tidak pernah menemukan dalam Al-Qur’an perintah meminta maaf. Ayat-ayat yang ditemukan adalah perintah atau permohonan agar memberikan maaf.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (QS. al-A‘râf [7]: 199)

Ketiadaan perintah meminta maaf, bukan berarti yang bersalah tidak diperintahkan meminta maaf, bahkan ia wajib memintanya, tetapi yang lebih perlu adalah menuntun manusia agar berbudi luhur sehingga tidak menunggu atau membiarkan yang bersalah datang mengeruhkan air mukanya dengan suatu permintaan—walaupun permintaan itu adalah pemaafan.

Tak peduli apa pun perbuatan orang terhadap kita setelah lebaran, perbaikan diri harus kita lakukan dengan mengabaikan persepsi keliru yang berkembang di tengah masyarakat, yaitu “Setelah meminta dan memberi maaf berarti 0-0 sehingga sesudah Idul Fitri saatnya berbuat dosa lagi. ”

Idul Fitri hakekatnya sebuah rangkaian peristiwa dan waktu dalam perjalanan kita menuju Allah. Adakah kita hendak mengisi perjalanan tersebut dengan permainan-permainan (sesuatu) yang tidak diridhai Allah?

Idul Fitri hakekatnya sebuah momen bagi setiap muslim untuk meningkatkan amal dan ibadah, bukan malah bersantai-santai dengan dalih menikmati masa rehat setelah berbagai aktivitas ibadah Ramadhan. Hal ini selaras dengan nama bulan saat Idul Fitri, yaitu Syawal (dalam bahasa Arab disebut Syawwâl).

Syawwâl (شَوَّالْ) berasal dari kata syawala (شَوَلَ). Menurut ilmu sharaf, syawala termasuk Binâ’ Ajwaf Wâwi karena ‘ain fi‘il berupa wawu (salah satu dari tiga huruf ‘illat, yakni wawu, alif dan ya’). Pada Binâ’ Ajwaf, huruf alif selalu digunakan sebagai pengganti huruf wawu bila Binâ’ Ajwaf Wâwi dan pengganti huruf ya’ bila Binâ’ Ajwaf Yâ’i. Dengan demikian syawala (شَوَلَ) berubah menjadi syâla (شَالَ).

Untuk mempermudah pemahaman, penulis sajikan dua contoh lain Binâ’ Ajwaf Wâwi yang lazim kita dengar, yaitu kata qawala (قَوَلَ) berubah menjadi qâla (قَالَ) dan kata shawama (صَوَمَ) berubah menjadi shâma (صَامَ).

Di Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia, syâla berarti naik, oleh karena itu syawwâl berarti peningkatan. Jadi bulan Syawal adalah bulan peningkatan amal kebajikan, baik kuantitas maupun kualitas.

“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” adalah ucapan indah yang setiap orang bisa melafalkannya.

“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” adalah kalimat sarat makna yang setiap pelajar dapat menuliskannya.

“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” adalah retorika bermutu tinggi yang setiap insan dapat meneriakkannya.

Namun,

“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” hanyalah sebuah slogan kampanye bila kita tidak terus memonitor ibadah harian diri.

“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” hanyalah sebuah janji politik kita terhadap diri sendiri bila tanpa bukti nyata. Anehnya, mengapa kita tidak menagih janji itu ketika kita malas dalam beribadah? Mengapa kita rajin menuntut orang lain memenuhi janjinya tapi enggan menuntut diri sendiri?
Sebagai penutup, mari kita tanamkan benar-benar sebuah cambuk jiwa, pelecut asa dan penguat semangat berikut ini :
مَنْ كاَنَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْـبُوْنٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرّاً مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ
Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka ia orang beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia tertipu dan siapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin maka ia orang terlaknat.


Daftar Pustaka :

  • Ahmad Warson Munawwir, “Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia Terlengkap”, Pustaka Progressif, Edisi Kedua–Cetakan Keempat belas 1997
  • M. Abdul Manaf Hamid, “Pengantar Ilmu Shorof Ishthilahi—Lughowi”, P.P Fathul Mubtadin—Prambon, Nganjuk, Jawa Timur, Edisi Revisi
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#