Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label neraka. Show all posts
Showing posts with label neraka. Show all posts

Friday, January 27, 2012

Walau Sedikit, yang Penting Ikhlas?! (2 of 4)

Kadang kita keliru memahami makna ikhlas. Misal kita sebenarnya bisa sedekah Rp 20.000,-. Tapi, kita berpikir, “Ah Rp 5.000,- saja cukup. Kan yang penting ikhlas.”
Peristiwa ini sebenarnya bukan tentang keikhlasan. Kejadian ini menunjukkan kita pelit tapi dengan dalih keikhlasan. Ini menunjukkan kita belum mengerti apa yang disebut ikhlas.
Berbeda kasus bila memang karena keperluan sehingga kita bisanya Rp 5.000,-. Maka, menyumbang Rp 5.000,- sudah cukup dan tidak perlu berkata apa-apa lagi. Bila ada yang menyindir kita kok hanya menyumbang sedikit, tak perlu ditanggapi apalagi membela diri, “Yang penting kan ikhlas!”
Komentar seperti ini justru menunjukkan kita masih terpengaruh adanya pujian atau sindiran dalam kebajikan. Ini berarti kita belum ikhlas beramal.
Lantas, bagaimana dengan kasus kita bisa sedekah Rp 20.000,- tapi hanya sedekah Rp 5.000,-?
Yang harus kita lakukan adalah menyadari kelemahan kita, yaitu kita masih memiliki sifat kikir. Ini penting, karena kesadaran akan membawa kita menuju kebaikan.
Langkah selanjutnya, kita tetap sedekah Rp 5.000,- tanpa berdalih apa pun, sambil senantiasa memohon kepada Allah agar menerima amal kita dan menjauhkan kita dari sifat pelit.
Dengan istiqamah beramal walau sedikit disertai doa, insya Allah akan membuat diri kita semakin hari semakin banyak beramal.
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap ragu-ragu untuk bertindak dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lemah bertindak (pesimis/putus asa) dan malas. Dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan (tindak semena-mena) orang-orang kepadaku.
(HR Abu Daud)
Lebih lanjut tentang ikhlas, Imam Nawawi al-Bantani membagi keikhlasan menjadi tiga tingkatan:

a. Beribadah Agar Terhindar dari Neraka

Di kitab “Qawâ‘id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm” pasal “Penjelasan Ikhlas dalam Ibadah dan Jenis-Jenis Ketaatan” Imam ‘Izzuddin bin Abdus Salam juga menerangkan bahwa tingkatan pertama orang beribadah adalah karena takut siksa.
مِنْهَا أَنْ يَفْعَلَهَا خَوْفًا مِنْ عَذَابٍ
Di tingkat ini kita diibaratkan seperti budak yang bekerja demi menjalankan perintah tuannya agar tidak dihukum. Untuk diketahui, di zaman Jahiliah, yang dimaksud budak adalah seseorang yang tidak memiliki apa pun. Ia hak milik mutlak tuannya. Bila ia punya uang, otomatis menjadi milik tuannya. Bahkan dirinya sendiri dimiliki tuannya.
Dengan kondisi ini, seorang budak tidak mendapat upah atas kerja keras yang dilakukan. Ia melaksanakan semua pekerjaan demi menghindari hukuman dari sang pemilik.
Bila kita beramal/beribadah semata-mata agar terhindar dari neraka, kemungkinan—sekali lagi kemungkinan, karena pada prinsipnya tergantung pribadi masing-masing—ibadah yang kita lakukan sebatas memenuhi syarat dan rukun sehingga gugur kewajiban (tidak berdosa). Ini terlihat dari enggannya kita memperbaiki kualitas ibadah wajib. Kita merasa yang penting sudah shalat walau sendirian (tidak berjamaah). Kita juga kurang gairah memperbanyak ibadah-ibadah sunnah.
Di buku “Ushul Fiqih” Prof. Muhammad Abu Zahrah mengutip pendapat Imam Syathibi bahwa ibadah-ibadah sunnah merupakan latihan jiwa yang dapat mendorong melaksanakan ibadah fardhu.
Siapa mau mengerjakan ibadah sunnah secara kontinyu, pasti ia akan mau menjalankan ibadah fardhu yang wajib dikerjakan secara kontinyu. Sebaliknya, orang yang malas mengerjakan ibadah sunnah, hal itu menunjukkan kemalasan dalam menjalankan ibadah fardhu.
Beberapa pertanyaan sederhana berikut ini bisa dijadikan salah satu tolok ukur apakah kita termasuk di level ini atau tidak:
“Apakah kita sudah fasih membaca Al-Qur’an? Bila belum, apa kita masih tetap mengaji saat ini guna mencapai kefasihan dalam membaca kalam Ilahi?”
“Apakah kita berusaha semampu kita menjalankan shalat sunnah rawatib (Qabliyah/Ba’diyah) serta shalat sunnah lainnya?”
“Apakah kita senantiasa mengikuti pengajian rutin dalam rangka memperdalam keilmuan? Dan di pengajian tersebut, kita bukan hanya mendengar pasif, tapi juga membawa kitab dan mencatat layaknya seorang santri di pesantren atau siswa di sekolah?”

b. Beribadah Supaya Masuk Surga

Di posisi ini kita berlaku bak seorang pegawai yang bekerja demi mendapat gaji/upah. Mari kita perhatikan bagaimana sikap pegawai.
Seorang pegawai mau diperintah melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan karena ada imbalan (gaji) yang sudah disepakati. Apabila ada hal-hal lain yang harus dikerjakan di luar kebiasaan, misalnya lembur, harus ada upah tambahan.
“Kalau tidak ada uang lembur, itu namanya kerja bakti!” Demikian ungkapan yang sering kita dengar.
Jika kita beramal/beribadah semata-mata supaya masuk surga, biasanya—sekali lagi biasanya, karena pada prinsipnya tergantung pribadi masing-masing—ibadah wajib telah kita lakukan dengan lebih baik, misalnya dengan shalat berjamaah. Begitu pula dengan ibadah sunnah, kita sudah melaksanakan shalat-shalat nafilah dan lainnya.
Hanya saja ibadah sunnah yang kita lakukan mengikuti prinsip “secukupnya”. Misal kita sudah baca Al-Qur’an satu/dua maqra’ setiap hari. Kita merasa sudah cukup baik dengan kondisi ini sehingga semangat untuk meningkatkan kurang bahkan mungkin tidak ada. Alasan kita toh itu sudah baik apalagi dibandingkan orang lain dan kita juga telah bersedekah serta ibadah-ibadah sunnah lainnya.

Daftar Pustaka

Achmad Faisol, “Muhâsabah (Introspeksi Diri)—Apakah Implementasi Keberagamaan (Islam) Kita Ada yang Kurang?!”, Ebook, April 2011/ Jumadal Ula 1432 H
Misbahus Surur, “Dahsyatnya Shalat Tasbih”, Qultum Media, 2009
M. Ma’shum Zainy Al-Hasyimiy, Drs. MA, “Pengantar Memahami Nadzom Al-Faroidul Bahiyyah—Juz 1”, Penerbit Darul Hikmah, Cetakan Pertama: Januari 2010

Software:
Maktabah Syamilah al-Ishdâr ats-Tsâlits


#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# 

Friday, June 19, 2009

Hitam dan Putih, di Manakah Warna Lainnya? (2 of 2)

Di kitab “Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”, pada saat membasuh wajah ketika berwudhu, kita pun diajarkan untuk membaca doa,

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

“Ya Allah, putihkanlah wajah hamba pada hari ketika wajah-wajah tampak putih bersinar dan ada pula wajah-wajah yang terlihat hitam muram.”

Peribahasa juga mengatakan, “Hitam-hitam bendi, putih-putih sadah” yang artinya yang hina tetap hina meskipun kaya, sedangkan yang mulia tetap mulia walaupun miskin.

Karena perumpamaan-perumpamaan seperti di tulisan sebelumnya, peribahasa dan doa di ataslah maka analogi kebaikan dan kejahatan adalah warna putih dan hitam. Selain itu, warna putih disepakati sebagai lambang kesucian dan hitam adalah kegelapan. Bukankah warna bendera kita adalah Merah-Putih, adapun warna putih tersebut melambangkan kesucian?

Mungkin teman penulis terlalu kreatif, sehingga dia benar-benar menyandingkan semua warna dengan kebaikan atau tidak. Kalau memang warna putih adalah kebaikan, sedangkan hitam adalah kegelapan; lantas warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu (me-ji-ku-hi-bi-ni-u) itu diibaratkan apa? Apa yang bisa mewakili warna-warna tersebut dalam kehidupan? Kalau hanya ada hitam dan putih, lalu buat apa Tuhan menciptakan warna? Apakah kita tidak mengetahui bahwa banyaknya warna adalah sebuah keindahan?

“Bukankah warna putih dihasilkan dari perpaduan tujuh warna pelangi?,” tulis Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA pada saat menjabat Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di sebuah surat kabar tentang training ESQ untuk mahasiswa baru ITS.

Jadi, kita tidak perlu merisaukan lagi di mana warna-warna yang lain, bukan? Warna-warna itu telah menyatu membentuk warna putih. Warna putih tidaklah berdiri sendiri, ia tercipta oleh kesatuan yang indah dari sekian banyak warna. Semua perilaku atau pekerjaan yang kita niatkan sebagai ibadah adalah warna-warna pembentuk warna putih. Semuanya tampak indah, karena sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Indah dan menyukai keindahan (Innallâha Jamîlun yuhibbul jamâl).

Dunia ini banyak pilihan, penuh rupa dan banyak warna. Tentang dongeng kepada anak-cucu, kiranya banyak sekali cerita kebaikan dan hikmah yang bisa kita kisahkan. Dan, sepanjang usia kita yang cuma sebentar, kisah-kisah itu tidak akan pernah habis diceritakan. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mengetahui semua kisah baik dan bermanfaat. Semua itu karena keterbatasan hidup kita di negeri fana ini.

Jika kita bangga pada kemaksiatan yang pernah kita lakukan, lalu sekarang kita merasa sudah bertaubat, apakah kita yakin bahwa kita pasti masuk surga? Bukankah kita memang diciptakan untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya? Apakah ada perintah bahwa bertaubat itu kalau sudah tua? Sudah diberitahukah kita tentang kapan datangnya maut?

Janganlah kita mengejek orang yang berusaha lurus-lurus saja dalam hidup ini. Semua yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri. Kalau Allah mau, Allah bisa saja menjadikan semua manusia sebagai satu umat, dan semuanya taat kepada-Nya. Atau, Allah menjadikan semua yang ada halal, tidak ada larangan dan perintah untuk berbakti kepada-Nya. Namun, bila itu yang terjadi, lantas buat apa ada akhirat? Kenapa Allah menciptakan surga dan neraka? Mengapa surga bertingkat-tingkat?

Allah menghendaki dunia ini sebagai tempat bertemunya dua hal yang saling berlawanan, dua jenis yang saling bertolak belakang, dua kubu yang saling berseberangan—yakni baik dan buruk. Setelah itu, Allah akan mengumpulkan semua kebaikan, kebagusan dan kebahagiaan di surga. Adapun yang buruk akan dikumpulkan di neraka.

Ada juga sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik—entah serius atau sekadar guyonan, “Jika nanti wajah-wajah berubah putih, bukankah menyeramkan? Jadi aneh, kan?”

Jawaban penulis sederhana saja, “Kalau kita ke warung atau rumah makan lalu pesan air putih, apakah kita dikasih air susu yang berwarna putih ataukah air bening?” Hakekat sesungguhnya makna wajah menjadi putih hanya Allah Yang Maha Tahu. Namun, secara umum bisa disimpulkan bahwa wajah menjadi berseri-seri dan bercahaya.

Sebagai penutup, supaya selalu di jalan-Nya yang lurus, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :

اللَّهُمَّ أَرِناَ الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْـتِنَابَهُ

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan berilah kekuatan kepada kami untuk menjauhinya, amin.


Daftar Pustaka :
  • Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, “Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”
  • Aditya Bagus Pratama, “5079 Peribahasa Indonesia”, Pustaka Media, Cetakan II, 2004
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Bahrun Abu Bakar, Lc, dan Anwar Abu Bakar, Lc, “Khasiat Zikir dan Doa – Terjemah Kitab Al-Adzkaarun Nawawiyyah”, Penerbit Sinar Baru Algensindo, Cetakan I : Rabiul Awal 1416/Agustus 1995

Tulisan lanjutan dari : Hitam dan Putih, di Manakah Warna Lainnya? (1 of 2)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Thursday, August 21, 2008

Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya...?

Pada waktu duduk di bangku SMAN 16 Surabaya, penulis pernah bertanya pada diri sendiri :
  • Mengapa Allah tidak mewujudkan pahala berupa harta? Kenapa harus menunggu Hari Akhirat? Allah kan Maha Kuasa (Al-Qâdir), Maha Kaya (Al-Ghaniyy) dan Maha Pengasih (Ar-Rahmân).
  • Tidakkah lebih enak dan bersemangat bila setelah shalat, di hadapan kita langsung terbentang untaian mutiara sebagai ganjaran shalat kita?
  • Bukankah asa untuk beramal akan meningkat kalau kita sedekah Rp 10.000,- maka serta merta kita mendapat balasan Rp 100.000,- (bila dilipatgandakan 10x) sampai dengan Rp 7.000.000,- (bila diganjar 700x) bahkan lebih?

    Hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2] : 261)
  • Kalau kita waqaf untuk masjid, otomatis menjadi istana megah yang menjulang tinggi serta bertahtakan intan, berlian, zamrud dan yaqut.
  • Jika kita mendapat cobaan misalnya sakit, maka setelah sembuh, Allah langsung memberi kita hadiah mobil BMW, Mercy, Ferrari dan Rolls-Royce. Andaikata seperti ini yang kita alami, insya Allah kita akan senantiasa sabar dalam menghadapi dan menjalani segala bentuk cobaan.
  • Tatkala seorang anak berbakti kepada orang tuanya, serta merta semua nilai ujiannya mendapat nilai 100 bagi pelajar/mahasiswa dan menerima penghargaan, baik award (piagam/sertifikat) maupun reward (uang/emas batangan).
  • Bagi pelajar/mahasiswa/santri, setelah belajar ilmu apa pun, karena diniati ibadah, maka Allah langsung menyediakan segebok (setumpuk) uang di hadapannya.
  • Ketika seorang istri taat kepada suaminya, secara kontan Allah memberi karunia berupa sutra, perhiasan dan kemewahan lainnya.
  • Selain itu, nanti di akhirat tetap mendapat surga. Amboi, betapa nikmatnya !
Mungkin pertanyaan itu bisa dikatakan agak mirip dengan slogan anak muda sekarang, “Kecil manja, muda foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk surga.”

Lama sekali penulis mencari jawaban yang bisa memuaskan diri (bukan hanya teoritis, karena anak muda butuh yang masuk akal juga). Penulis mengaji kitab, membaca buku, mendengarkan ceramah, seminar, konsultasi tentang keislaman dan bertanya dari berbagai sumber. Setelah bertahun-tahun, berikut ini jawaban yang menurut penulis bisa memuaskan, baik dari segi ilmu maupun akal :
  • Syaikh Ibnu Athaillah menerangkan bahwa jika pahala diberikan Allah dalam wujud uang, permata, mobil, saham, obligasi dan sejenisnya, maka dunia tidak akan mampu menampung seluruh pahala yang ada. Dunia ini terlalu sempit untuk menampung semua ganjaran tersebut. Itu kenapa akhirat—yang seluas langit dan bumi—dipilih sebagai tempat membalas semua ibadah yang kita lakukan.

  • Syaikh Ahmad Athaillah berkata lagi, “Demikian juga karena Allah menyayangi kita, sehingga tidak memberi hasil jerih payah kita di tempat yang tidak kekal ini.”

  • M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa jika pahala diberikan Allah di dunia dalam wujud harta kekayaan, maka Allah sungguh tidak adil. Kenapa? Karena Allah memberikan ganjaran yang bersifat fana (tidak kekal). Uang bisa habis dibelanjakan, rusak, hilang bahkan dicuri atau dirampok orang. Sedangkan balasan berupa surga berlaku abadi—selama-lamanya. Itulah bukti bahwa Allah Maha Penyayang (Ar-Rahîm) dan Maha Adil (Al-‘Adl).


    Bukankah kita ingin agar yang kita miliki tidak hilang/musnah? Bukankah sifat dasar manusia adalah menginginkan kepemilikan tetap bahkan selama-lamanya? Itulah kenapa baru di surga semua balasan diberikan.

  • Kalau diinginkan agar di dunia mendapat balasan uang atau perhiasan, sedangkan di akhirat tetap mendapat surga, berarti dunia bukanlah ujian. Padahal, dunia diciptakan sebagai ladang (kebun atau sawah) untuk ditanam, yang dipanen di akhirat kelak.

    ٱلَّذِيْ خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
    Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS al-Mulk [67] : 2)
    Abu Bakar Muhammad bin Ali al-Kattani mengatakan, “Dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan, dan akhirat diciptakan agar manusia bertakwa.”

    Dan, bila tidak ada ujian di dunia ini, sungguh manusia bertabiat mudah bosan dan jenuh serta mendambakan tantangan dan persaingan. Misalkan di sekolah atau kuliah tidak ada ujian. Yang pandai maupun yang bodoh, rajin atau malas, cerdas maupun tidak; semuanya diperlakukan sama yaitu mendapat nilai 100 dan lulus 100%. Apakah itu sebuah keadilan dan bentuk kasih sayang? Pastilah banyak yang akan protes.

  • Semua ibadah yang kita lakukan, sebenarnya untuk diri kita sendiri, bukan untuk kepentingan Allah.

    Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah berpesan, “Ketaatanmu tidak bermanfaat bagi Allah, dan kemaksiatanmu tidak membahayakan-Nya. Sesungguhnya Allah memerintahmu berbuat taat, dan melarangmu berbuat maksiat, karena setiap perbuatan kembalinya kepadamu juga.”

    Dalam pesannya yang lain, Ibnu Athaillah menuturkan, “Tidaklah bertambah kemuliaan Allah karena orang yang datang membawa ketaatan, dan tidak mengurangi kemuliaan Allah orang yang menjauhkan diri dan berpaling dari-Nya.”

    Andaikata semua makhluk bertakwa kepada Allah, itu semua tidak akan menambah sedikit pun keagungan-Nya. Jika seluruh alam semesta durhaka kepada-Nya, hal itu juga tidak akan mengurangi sedikit pun dari kekuasaan-Nya. Kalau Allah menginginkan, maka Allah Maha Kuasa menjadikan manusia umat yang satu dan semuanya bertakwa.

    Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. (QS Yûnus [10] : 99)

    Sekiranya Allah menghendaki, kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
    (QS al-Mâidah [5] : 48)


  • Kalau pahala diwujudkan di dunia ini dalam bentuk harta, maka dosa pun harus diwujudkan. Itulah yang disebut adil.

    Allah akan membalas perbuatan dosa saat pertama kali kita melakukannya. Bukankah sungguh berat hidup seperti itu? Semua aib akan terbuka. Padahal, tidak mungkin manusia tidak berbuat dosa, karena ada hawa nafsu dan bujukan setan. Kecuali Nabi tentunya, yang memang terjaga dari kesalahan atau dosa (ma‘shûm). Namun, karena rahmat-Nya, Allah membiarkannya beberapa waktu, dengan harapan kita akan bertaubat dan kembali, juga agar kita malu kepada-Nya. Rasulullah bersabda :

    كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّائُوْنَ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ الْمُسْـتَغْفِرُوْنَ

    Setiap manusia melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat dan memohon ampun (istighfar). (HR Tirmidzi)

    لمَـَّا قَضَى اللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فىِ كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ، إِنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ
    Ketika Allah telah selesai mencipta semua makhluk, maka Allah menulis dalam ketetapannya yang ada di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku.” (HR Bukhari dan Muslim)

    وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

    Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman jiwa-Nya, jika kalian tidak berdosa pasti Allah akan mencabut kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa hingga mereka memohon ampunan Allah, lalu Dia pun mengampuni mereka.
    (HR Muslim)
Pertanyaan selanjutnya adalah, “Mengapa kita masih didera rasa malas untuk beribadah?” Misalnya :
  • Tiap hari baca Al-Qur'an 1 ruku' (1 maqra')
  • Tiap hari shalat Dhuha 2 rakaat saja
Mengapa kita selalu mengajukan argumentasi untuk tidak melaksanakannya? Apakah karena kita merasa diri pandai berdebat sehingga kita pun berani “mendebat” Allah dan para Malaikat-Nya?

Kenapa kita tidak mau bersabar sejenak untuk menunggu balasan pahala kita? Apakah kita mengira bahwa beribadah hanya membuang-buang waktu, tidak efisien dan sia-sia belaka? Lupakah kita bahwa uang, emas, perhiasan, untaian mutiara, mobil, istana yang menjulang tinggi dan bidadari akan kita dapatkan? Tidak ingatkah kita bahwa semua itu tidak hilang, hanya menunggu waktu saja?

Mari kita merenung sejenak. Ketika kita mulai bekerja (misal usia 23 tahun), biasanya perusahaan akan menawari program tabungan pensiun. Tabungan baru bisa diambil ketika kita pensiun. Itu berarti kita harus menunggu selama 32 tahun karena kita baru akan pensiun usia 55 tahun. Kenapa kita mau bersabar menunggu selama itu tanpa bisa menikmatinya segera? Mengapa kita mau menabung tiap bulan demi pensiun kita?

Berdasarkan data, rata-rata usia harapan hidup (UHH) penduduk Indonesia mencapai usia 69,87 tahun. Untuk laki-laki, harapan hidupnya mencapai usia 67,42 tahun dan untuk perempuan mencapai 72,45 tahun. Kalau kita pensiun usia 55 tahun, berarti hanya +/- 15 tahun kemudian kita akan meninggal.

Nah, kalau kita mau menabung demi pensiun, lalu mengapa kita bermalas-malas diri menabung untuk masa depan kita nan abadi? Apa alasan kita menunda-nunda berbakti kepada Beliau Yang Telah Menciptakan kita?
Kita hanya perlu bersabar sedikit untuk menikmati hasil jerih payah kita dalam beribadah. Tidakkah kita mau melakukannya? Tidakkah kita mau menikmati tabungan akhirat dengan keuntungan 700% bahkan lebih?

Daftar Pustaka :
  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=288756&kat_id=253
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#