Mencari Data di Blog Ini :

Showing posts with label ilmu pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label ilmu pengetahuan. Show all posts

Friday, April 9, 2010

Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (4 of 8)

Tiada bacaan seperti Al-Qur’an yang pemberitaan-pemberitaan gaibnya telah terbukti nyata. Fir‘aun yang mengejar-ngejar Nabi Musa as, diceritakan dalam QS Yûnus [10]: 92 bahwa badannya diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran bagi generasi berikut. Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena peristiwa itu telah terjadi sekitar 1200 tahun sebelum masehi. Ternyata, pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, seorang ahli purbakala, Loret menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir sebuah mumi. Dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir‘aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa as. Pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat ijin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut mayat Fir‘aun. Yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Qur’an.


فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةً وَإِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنْ ءَايٰتِنَا لَغٰـفِلُوْنَ

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS Yûnus [10]: 92)


Tiada bacaan sehebat Al-Qur’an yang telah mengemukakan isyarat-isyarat ilmiah pada zaman yang sama sekali belum mengenal istilah ilmiah. Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Qur’an dan terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu dan pengetahuan. Beberapa contohnya yaitu:

  • Diisyaratkannya bahwa “Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari” sebagaimana terdapat di QS Yûnus [10]: 5. Di ayat tersebut, untuk matahari digunakan kata dhiyâ’ (bersinar, yang bersumber dari dirinya sendiri), sedangkan untuk bulan kata yang dipakai adalah nûran (bercahaya, yang tidak berasal dari dirinya).

    هُوَ ٱلَّذِيْ جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَـۤاءً وَٱلْقَمَرَ نُوْرًا وَقَدَّرَهُ ُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ ٱلسِّـنِيْنَ وَٱلْحِسَابِ

    Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). (QS Yûnus [10]: 5)

  • Di dalam QS adz-Dzâriyât [51]: 47 berhubungan dengan Teori Expanding Universe (kosmos yang mengembang).
    Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (QS adz-Dzâriyât [51]: 47)

  • QS an-Naml [27]: 88 tentang pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan.
    Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (QS an-Naml [27]: 88)

  • QS Yâsîn [36]: 80 menerangkan tentang zat hijau daun (klorofil), yang berperanan dalam mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses fotosintesis sehingga menghasilkan energi.
    yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu (pohon) yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. (QS Yâsîn [36]: 80)

  • QS Yâsîn [36]: 38 menerangkan bahwa matahari pun juga bergerak mengelilingi pusat galaksi.
    Dan matahari itu beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS Yâsîn [36]: 38)

Tiada bacaan semenakjubkan Al-Qur’an yang keseluruhan isinya adalah kebaikan dan mengundang kekaguman. Dalam ayat-ayatnya terkandung keharmonisan, kesesuaian irama dan keindahan tak terlukiskan. Setiap surah adalah momentum dan pesan khusus yang berbeda dengan surah-surah lainnya. Keajaiban juga tampak dari cara penyajiannya yang dapat menembus tembok jiwa, mengguncangkan hati dan mendominasi wilayah-wilayah yang memengaruhi nurani.


إِنَّا سَمِعْنـَا قُرْءَانًا عَجَبًا

Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Qur’an yang menakjubkan. (QS al-Jin [72]: 1)

Mengulang-ulang membaca ayat Al-Qur’an menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang “membaca” alam raya, membuka tabir rahasianya dan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir. Ayat Al-Qur’an yang kita baca dewasa ini tak sedikit pun berbeda dengan ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasul dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian. Namun, pemahaman, penemuan rahasianya serta limpahan kesejahteraan-Nya terus berkembang.


Daftar Pustaka :

  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007

Tulisan ini lanjutan dari : Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (3 of 8)
Tulisan ini berlanjut ke : Meragukan Al-Qur’an? Na‘ûdzubillâh (5 of 8)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

Friday, March 20, 2009

Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (3 of 12)

Salah satu murid Imam Malik, yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i, juga demikian rendah hati. Imam Syafi‘i berkata, “Jika engkau menjawab pertanyaan dengan jawaban ‘aku tidak tahu’, maka jawabanmu benar adanya.”

Beberapa huffâzh (orang yang hapal minimal seratus ribu hadits) bercerita,
“Kami melihat Imam Ahmad bin Hanbal (di Indonesia masyhur dengan sebutan Imam Hambali, salah satu imam madzhab) turun ke pasar Baghdad dan membeli tali pengikat kayu bakar lalu memikulnya di punggungnya. Tatkala orang tahu, para penjual meninggalkan jualannya, para pedagang meninggalkan dagangannya dan orang yang berlalu berhenti untuk memberi salam kepadanya. Mereka berkata,

‘Kami bawakan kayu bakarmu.’

Tangannya pun bergetar, mukanya memerah dan matanya menangis. Dia berkata,

‘Kita adalah kaum miskin, kalaulah bukan karena Allah niscaya terungkap aib kita’.”

Abdullah, putra Imam Ahmad bercerita, “Terompah ayahku dipakainya selama delapan belas tahun. Setiap kali berlubang, dia sendiri yang menambalnya, sedangkan dia adalah imam dunia.”

Betapa rendah hati beliau, padahal beliau hapal Al-Qur’an dan sejuta hadits. Imam Ahmad juga menulis al-Musnad dari hapalannya—dua puluh tujuh ribuan hadits—termasuk salah satu musnad terbesar. Imam Syafi‘i, guru beliau pun pernah berkata, “Aku keluar dari Baghdad dan penduduknya waktu itu dua juta jiwa. Demi Allah, aku tidak menemui orang paling tahu tentang Allah, paling zuhud, paling alim dan paling mencintaiku selain Ahmad bin Hanbal.”

Ibnu Athaillah berpesan, “Orang yang menghormatimu, sebenarnya ia hanya menghormati keindahan tutup yang diberikan Allah untuk (menutupi aib)-mu. Maka, yang wajib dipuji adalah Dzat yang menutupi (aib)-mu.” Manusia itu tempat salah dan aib. Apabila ada orang memuji kita, itu bukanlah karena kehormatan yang ada pada diri kita, akan tetapi karena Allah menutupi aib kita dengan menampakkan kebaikan kita. Itu semua berkat penutup yang sangat indah dari Allah Jalla Jalâluh. Karunia Allah dan penutup indah ini hendaklah disyukuri, bukan untuk disombongkan.

Untuk menjaga agar tetap rendah hati, mari kita renungkan bersama terjemah firman-firman Allah berikut ini :

Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan) (QS an-Nahl [16] : 78)

وَمَاۤ أُوْتِيْتـُمْ مِنَ ٱلْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً

Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit
(QS al-Isrâ’ [17] : 85)

Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
(QS al-Kahfi [18] : 109)

Al-Qur’an menggarisbawahi bahwa rahasia ilmu Allah hanya tercurah kepada mereka yang tidak menyombongkan diri.

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.
(QS al-A‘râf [7] : 146)

Rasulullah Muhammad saw. juga mengingatkan kita :

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ

Siapa menuntut ilmu untuk mendebat ulama (karena riya’ dan harga diri), atau untuk mempecundangi orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan muka orang-orang ke arah dirinya (sehingga namanya terkenal sebagai orang alim), maka niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Imam Syafi‘i pernah menggubah kata-kata bersayap, “Aku mengeluh pada guruku tentang kelemahan hapalanku, maka dituntunnya aku agar meninggalkan kemaksiatan. Diajarkannya kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, sedang cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada si durhaka.”

Ja‘far ash-Shadiq menuturkan, “Pengetahuan bukanlah apa yang diperoleh melalui proses belajar-mengajar, tetapi cahaya yang ditampakkan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya.”

Dalam kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim”, Syaikh Hammad bin Ibrahim al-Anshari membacakan sebuah syair kepada Syaikh az-Zarnuji tentang bagaimana harus menuntut ilmu.

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ * فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِ
فَيَا لِخُسْرَانِ طاَلِبِـيْهِ * لِنَيْلِ فَضْلٍ مِنَ الْعِـبَادِ

Siapa mencari ilmu karena akhirat
Maka ia mendapat keutamaan dari Yang Maha Pemberi Petunjuk

Maka lihatlah kerugian orang yang mencari ilmu
Karena mencari keutamaan dari sesama hamba

Marilah kita sadari bersama bahwa kita adalah makhluk bodoh, tiada berilmu jika tidak dikaruniai-Nya. Cobalah kita renungkan dan hayati lagi penyesalan para malaikat atas perasaan mereka bahwa mereka memiliki banyak ilmu sehingga awalnya mereka berkeberatan jika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, padahal Allah Maha Mengetahui segalanya.

قاَلُوْا سُبْحٰـنَكَ لاَعِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَاعَلَّمْتَنَاۤ إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْعَلِيْمُ ٱلْحَكِيْمُ

Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS al-Baqarah [2] : 32)

Alangkah baiknya bila kita juga melantunkan syair sekaligus doa yang begitu menyentuh relung-relung hati, buah karya ‘Aidh al-Qarni.

Wahai Yang Mengetahui saat nyamuk melebarkan sayapnya
dalam gelap malam yang hitam dan pekat
Dan Yang Maha Mengetahui jaringan keringat dalam tubuhnya
dan otak dalam tulang kecilnya
Ampunilah hamba yang bertaubat dari kekhilafannya
atas segala dosa yang ada

Agar selalu berada di jalan keilmuan dan ketakwaan, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فَهْمَ النَّبِيِّـيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْـنِنَا بِالْعِلْمِ وَزَيِّنَا بِالْحِلْمِ وَاكْرِمْناَ بِالتَّقْوَى وَجَمِّلْناَ بِالْعَافِيَةِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, kami bermohon kepada-Mu pemahaman yang Engkau anugerahkan kepada para nabi dan daya hapal yang Engkau berikan kepada para rasul. Ya Allah, perkayalah kami dengan ilmu, hiasilah kami dengan kelapangan dada, muliakanlah kami dengan takwa, serta perindahlah kami dengan afiat, demi rahmat-Mu wahai Allah Yang Maha Pengasih di atas segala pengasih, amin.

Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
  • Az-Zarnuji, asy-Syaikh, “Ta‘lîm al-Muta‘allim”
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan ini lanjutan dari : Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (2 of 12)
Tulisan ini berlanjut ke :
Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (4 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#

Friday, March 13, 2009

Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (2 of 12)

b. Ilmu

Ilmu yang kita miliki bisa menjadi fitnah, membuat diri kita menyombongkan diri di hadapan manusia, meremehkan mereka, seolah tidak ada orang berilmu seperti kita.

Kita akan berkata, “Sudah sewajarnya kalau saya memandang diri lebih tinggi dari orang lain. Saya sudah lulus pendidikan S1, S2, S3 bahkan Profesor. Saya seorang pakar, juga memperoleh banyak gelar profesional—CCIE, MCT, SCNA, SCJP, RHCE dan masih banyak lagi. Siapa yang lebih tinggi ilmunya dibandingkan saya?”

Bagi kita yang pernah menjadi santri di pesantren, bisa jadi kalimatnya seperti ini, “Saya sudah mondok di pesantren hampir 25 tahun. Saya pantas menyandang gelar al-‘Âlim, al-Fahmu (orang yang paham akan banyak hal), bahkan al-‘Allâmah (orang yang sangat tinggi ilmunya). Bagi mereka yang baru mondok 6 tahun masih dikategorikan anak TK. Mereka belajar agama baru pada tahap kulit, belum sampai kepada isi.”

Jika kita mengenyam pendidikan di luar negeri, mungkin dengan angkuhnya kita akan berucap, “Tidak ada orang secerdas saya. Saya ini paling rasional. Apa itu ulama-ulama zaman dulu, mereka orang-orang kuno, primitif dan tak layak lagi pemikirannya dipakai. Kitabnya saja kitab kuning, itu kan artinya kitab bulukan, lebih pantas dimakan rayap. Kita harus menggunakan metode baru yang lebih sistematis, ilmiah, aktual, intelek dan modern.”

Apakah sah kalau kita melakukan hal seperti itu? Tidakkah kita sadari bahwa di atas langit ada langit? Tidak mengertikah kita bahwa ilmu yang kita kuasai kita tidak sampai 1% dari keseluruhan disiplin ilmu yang saat ini sudah diketahui? Apalagi jikalau kita juga menghitung ilmu-ilmu yang masih dalam penelitian atau belum ditemukan, bisakah mencapai 0,1%-nya?

Bukankah tidak ada seorang dokter pun yang menguasai seluruh ilmu kedokteran? Setiap dokter punya spesialisasi sendiri-sendiri, misalnya spesialis tulang, penyakit dalam, anak, mata, kulit dan kelamin, neuro immunolog serta masih banyak lagi. Di bidang Teknologi Informasi juga masih dipilah-pilah, ada system administrator, network administrator, database administrator, programmer (2-Tier dan 3-Tier), desain grafis dan teknisi. Santri-santri di pondok pesantren pun terbagi-bagi, ada yang menekuni fiqh, bahasa dan sastra, tafsir, hadits dan sebagainya. Disiplin ilmu yang lain juga punya spesialisasi seperti itu.

Bila kita mengaku modern dan anti orang-orang lama, di manakah kita ketika para guru sekolah mengajarkan tentang Albert Einstein, Alessandro Volta, Alexander Fleming, Archimedes, Aristoteles, Daniel Bernoulli, James Clerk Maxwell, James Prescott Joule, James Watt, Michael Faraday, Michelangelo, Nicolaus Copernicus, Plato, Sir Isaac Newton, Socrates dan masih banyak lagi orang-orang seperti mereka yang notabene kuno menurut kita? Mengapa saat ini teori-teori kuno tersebut masih dipelajari bahkan digunakan? Lalu mengapa kita menolak mentah-mentah kitab-kitab yang disusun ulama-ulama zaman dulu? Masihkah kita merasa ilmu kita begitu tinggi dan hebat sehingga berhak merendahkan yang lain? Seorang penyair pernah berkata :

Katakan pada orang yang mengaku memiliki ilmu melimpah
Kau tahu satu hal namun banyak hal yang tidak kau ketahui

Barangkali kita akan berargumen, “Tapi kan, saya membandingkan diri saya dengan sesama manusia, bukan dengan Allah. Tidak ada orang yang berilmu seperti saya.”

Memang betul kita membandingkannya orang lain, tapi sekali lagi, sifat sombong hanya berhak disandang oleh Allah Yang Maha Mengetahui (Al-‘Alîm) serta Maha Luas Rahmat dan Ilmunya (Al-Wâsi‘).

Iblis (la‘natullâh ‘alayh) saja terusir dari sorga karena kesombongannya. Siapa sebenarnya Iblis? Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Iblis adalah makhluk paling berilmu, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan membuatnya pongah, sombong dan berbangga diri.”

Dalam beberapa riwayat, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dan ahli tafsir lainnya, konon Iblis adalah raja di langit dunia. Dia diberi wewenang di sana. Oleh sebab kekuasaannya, Iblis enggan bersujud ketika Allah berfirman kepada para malaikat untuk bersujud. Penolakan Iblis untuk bersujud merupakan bentuk keangkuhan. Kalimat-kalimat yang diucapkannya adalah awal dari nestapa, laknat dan penderitaan.

Lupakah kita bahwa kita bisa saja lupa semua yang telah dipelajari bila terkena penyakit, misalnya amnesia? Atau mengalami kecelakaan sehingga gegar otak? Bisa juga tekanan darah naik sehingga terserang stroke? Na‘ûdzubillâh.

Umar bin Khaththab ra. memberi nasihat, “Jangan pelajari suatu ilmu karena tiga tujuan dan jangan pula meninggalkan ilmu karena tiga tujuan. Yakni, jangan pelajari ilmu dengan tujuan untuk berdebat, membanggakan diri dan pamer. Jangan tinggalkan ilmu (tidak mau belajar) karena malu mempelajarinya, merasa cukup berilmu dan pasrah karena kebodohan.”

Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Athaillah berpesan, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memancarkan cahaya di dalam dada dan menyingkap katup hati.” Ilmu harus dapat membentuk diri orang yang berilmu dengan akhlak dan jiwa mulia, serta dapat membentuk anggota masyarakat sesuai dengan tuntunan Ilahi.

Hakikat ilmu adalah yang membawa seseorang mengenal Tuhannya dan timbulnya rasa takut (khasy-yah) kepada Allah. Yang dimaksud rasa takut adalah mengamalkan ilmu yang dianugerahkan Allah untuk menghambakan diri kepada-Nya sebagai ciri-ciri orang berilmu. Ilmu menjadi pendorong dan penguat jiwa untuk makin dekat kepada Allah, melebihi orang yang tidak berilmu.

Kalbu adalah wadah ilmu pengetahuan. Membersihkan kalbu merupakan hal yang sangat dianjurkan guna memperoleh pengetahuan yang jernih. Al-Ghazali menjelaskan, “Kalau kita membayangkan suatu kolam yang digali di tanah, maka untuk mengisinya dapat dilakukan dengan mengalirkan air sungai dari atas ke dalam kolam itu. Bisa juga dengan menggali tanah sehingga muncul mata air. Air akan mengalir dari bawah ke atas untuk memenuhi kolam, dan air itu jauh lebih jernih daripada air sungai yang mengalir dari atas. Kolam seumpama kalbu, air ibarat pengetahuan, sedangkan sungai laksana panca indera dan eksperimen.”

Ulama-ulama salaf, walaupun sangat dalam ilmunya, tetaplah rendah hati. Seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 40 (empat puluh) macam persoalan, tapi beliau hanya menjawab 8 (delapan) buah di antaranya dan diam dalam 32 (tiga puluh dua) masalah yang tersisa. Semua itu demi kehati-hatian, agar tidak salah dalam berfatwa.

Si penanya sampai berkata, “Engkau sungguh mengherankan, wahai Malik. Sedemikian inikah ilmu yang kau miliki? Kami bersusah payah datang mengendarai unta dari Irak dan kamu mengatakan tidak tahu!”

Imam Malik menjawab, “Pergilah kepada orang-orang dan katakan pada mereka, ‘Malik bin Anas tidak tahu apa-apa!’ ”

Imam Malik mengingatkan, “Ilmu itu bukan sekadar kepandaian atau banyak meriwayatkan hadits Nabi saw, akan tetapi ia merupakan nur yang bercahaya dalam hati. Manfaat ilmu akan mendekatkan manusia kepada Allah serta menjauhkannya dari kesombongan.”

Itulah Imam Malik, padahal Imam Syafi‘i pernah menyatakan, “Jika disebut ulama, maka Imam Malik-lah bintangnya.” Khalifah Abu Ja‘far al-Manshur berkata, “Di antara keajaiban dunia adalah otak Imam Malik.” Imam Malik memiliki keistimewaan dibandingkan ulama lain dari segi pengetahuan tentang sunnah Nabi saw. dan kecerdasan akal.


Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Tahzan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus) – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006

Tulisan ini lanjutan dari : Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (1 of 12)
Tulisan ini berlanjut ke : Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (3 of 12)

#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#